Ziel Alexander, pewaris satu-satunya Keluarga Alexander, terpaksa menikah dengan seorang wanita akibat perjodohan yang disiapkan oleh sang kakek, Romano Alexander.
Athena Beatrice Greene, wanita cantik yang dijodohkan dengan Ziel. Ia menerima perjodohan itu untuk membahagiakan kedua orang tuanya.
Pertemuan pertama antara Ziel dan Athena, membuat Athena tak ragu menerima perjodohan itu juga. Namun, ia tak menyangka sikap dan sifat Ziel langsung berubah setelah pernikahan mereka.
Penderitaan bertubi-tubi mulai dirasakan oleh Athena. Namun rasa yang telah timbul membuat ia menerima semuanya. Hingga suatu ketika ia menemukan dan mengetahui sesuatu yang membuatnya jatuh dan sakit tak terkira.
Ia pun bertekad untuk membuat Ziel menyesal dan merasakan sakit seperti yang ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pansy Miracle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#9
Athena membereskan pakaiannya ke dalam koper. Hubungannya dengan Ziel telah selesai. Pernikahan yang ia anggap akan bahagia pada awalnya, malah menjadi duri yang setiap hari terasa menusuk hatinya.
Ia meninggalkan Ziel di restoran tadi bersama Grandpa Roman dan juga kedua orang tuanya. Ia bahkan tak mempedulikan panggilan Ziel yang seakan meminta bantuannya untuk menjelaskan.
“Selesai! Ya, semuanya sudah selesai. Tak ada yang perlu disesali lagi. Kini hidupku hanya milikku. Aku tak akan membiarkan siapapun lagi mengganggu dan mengaturnya,” gumam Athena.
Brakkk
Pintu kamar Athena terbuka dan menampakkan sosok Ziel di sana. Wajah Ziel terlihat penuh amarah. Namun kini tak ada lagi ketakutan di wajah Athena. Ia terus saja memasukkan pakaian dan barang-barangnya ke dalam koper.
Ziel langsung menarik lengan Athena, hingga membuat wanita itu berdiri. Athena sedikit meringis karena Ziel mencengkeramnya dengan keras.
“Kamu tak bisa menceraikanku!” teriak Ziel dengan nyalang.
“Tentu saja aku bisa, buktinya sudah ada kan?” kata Athena dengan percaya diri.
“Kamu istriku! Kamu tak bisa bercerai denganku begitu saja.”
“Istri?! Aku ini hanya pelampiasan hassratmu saja. Pergilah! Sekarang kamu sudah bebas seperti keinginanmu … dan aku yakin Tuan Romano akan memberikan Perusahaan Alexander padamu. Perjanjian kalian hanya 1 tahun kan?”
Deggg
Ziel mendadak bisu. Ia ingin tahu dari mana Athena mengetahui semua itu, padahal perjanjian itu hanya diketahui oleh dirinya dan juga Grandpa Roman.
Athena mendekati koper miliknya dan menutupnya. Ia melihat ke arah Ziel, kemudian menaikkan tangannya, mengajak Ziel berjabat tangan.
“Seharusnya kamu berterima kasih padaku karena telah membuatmu menjadi pewaris Keluarga Alexander, dan … Terima kasih juga telah memberiku pil penunda kehamilan sehingga membuatku tak bisa memiliki anak. Karena mungkin jika ada anak di antara kita, aku akan terus bertahan demi memberikan keluarga yang utuh baginya.”
Ziel mematung, bahkan Athena juga tahu bahwa ia memberikan pil penunda kehamilan, “Aku pergi. Oya, aku lupa.”
Athena menarik cincin yang ada di jari manisnya kemudian berbalik. Ia membuka telapak tangan Ziel dan meletakkan cincin itu di sana, kemudian menutupnya.
“Selamat tinggal. Aku harap kamu bahagia dengan kekasihmu itu dan aku harap kita tak akan pernah bertemu lagi.”
Blammm
Athena menutup pintu dan segera meninggalkan Kediaman mereka. Ziel diam, lidahnya seakan kelu. Ia mengepalkan tangannya dan merasakan cincin yang ada di dalam genggamannya. Ia sendiri tak pernah mengenakan cincin pernikahan mereka.
Ziel tersadar, kemudian keluar. Namun ia sudah terlambat karena Athena sudah pergi dengan menggunakan sebuah taksi online yang memang sengaja dipesannya tadi.
“Anna!!”
**
“An …, are you okay?” tanya Bastian.
Ia bisa melihat saat ini wanita itu sedang dalam kondisi yang tidak baik. Matanya kosong dan pikirannya ntah berkelana ke mana.
Bastian menyediakan apartemen miliknya untuk ditempati oleh Athena karena wanita itu tak mau kembali ke kediaman orang tuanya. Bahkan di depan matanya, keluarganya seakan tak malu meminta tambahan investasi pada Keluarga Alexander.
“I’m okay. Thank you, Bas,” Athena tersenyum pada Bastian, meskipun terkesan dipaksakan.
“Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu ya,” Bastian mengusap pucuk kepala Athena, “dan jangan biarkan siapapun masuk.”
“Aku mengerti, Bas. Terima kasih karena mau menampungku.”
Bastian terkekeh melihat Athena. Sebelum keluar dari apartemen, Bastian kembali berbalik, kemudian sedikit membungkuk di hadapan Athena yang sedang duduk.
“Bagaimana kalau kita berlibur?” tanya Bastian.
“Liburan?!” Seketika mata Athena membulat. Sepertinya sudah lama ia tak berlibur dan ia memerlukan itu. Ia perlu menyegarkan pikirannya agar ia bisa kembali menata hidup selanjutnya.
Sementara itu di sebuah klub, Ziel tampak tak bisa membendung rasa kesalnya. Ia yang adalah pewaris Keluarga Alexander, diceraikan begitu saja.
“Ziel,” panggil Evan.
“Hmm …”
“Kita pulang sekarang.”
“Dia menceraikanku, Van. Bagaimana bisa? Seharusnya aku yang melakukannya, bukan dia!” Ziel kembali menegak minuman di dalam gelasnya.
Ponsel Evan bergetar dan mau tak mau ia menjawab panggilan itu.
“Baik, Grandpa. Aku akan segera membawa Ziel pulang,” setelahnya Evan memutus panggilan tersebut.
“Ziel, ayo kita pulang. Grandpa memintamu pulang ke rumah utama,” kata Evan.
“Aku tak mau! Aku mau di sini. Untuk apa aku pulang, hah?! Dia sudah tak ada lagi. Ia tak ada di rumah. Ia sudah menceraikanku,” kata Ziel dengan sedikit tersedu.
“Bukankah memang itu keinginanmu? Tenanglah, kamu masih punya Sylvie,” ujar Evan, yang sedikit kesal pada Ziel karena menyia-nyiakan wanita secantik Athena. Kalau saja Grandpa Roman menjodohkannya dengan Athena, pasti ia akan mengurung wanita itu di dalam kamar agar tidak ada seorang pria pun yang berani meliriknya.
**
Di kediaman Ziel, beberapa orang berpakaian hitam kini masuk ke dalam rumah. Mereka datang atas perintah dari Grandpa Roman.
Ia tak menyangka bahwa cucunya berani membawa seorang wanita ke dalam rumah tangganya. Ia sampai menggelengkan kepalanya pening.
“Hei, hentikan!” teriak Sylvie yang tidak terima karena koper miliknya dilempar begitu saja ke halaman rumah.
“Sebaiknya anda segera keluar dari sini, atau kami akan memggunakan kekerasan untuk mengusir anda,” kata salah seorang pria berbaju hitam.
“Kalian tidak bisa seenaknya. Aku ini kekasih Ziel dan sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya di rumah ini!” teriak Sylvie tak terima.
“Kalau begitu, saya patut berbangga hati karena mendapat kesempatan untuk mengusir calon Nyonya rumah ini sekarang,” kata salah seorang pria yang ternyata diperintah oleh Grandpa Roman.
“Aku tidak mau keluar!!”
Para pria berbaju hitam itu pun kini melemparkan semua barang milik Sylvie ke jalan. Grandpa Roman masih berbaik hati tak mengusirnya semalam.
Salah seorang pria berbaju hitam itu pun mendekati Sylvie, kemudian menggendongnya bagai karung beras, kemudian menurunkannya saat mereka sudah berada di luar pagar.
“Sialannn kalian semua!! Aku pastikan Ziel akan memecat kalian semua!”
“Kami akan menunggu saat itu tiba,” kata pria itu, kemudian langsung menutup pagar, membiarkan Sylvie di luar pagar dengan barang yang berhamburan ke mana-mana.
“Arghhhh!!!”
🌹🌹🌹
👍👍👍👍❤️❤️❤️❤️😍😍😍😍