SEASON 1
Tentang Azzahra yang memiliki kehidupan rumit dan dicintai banyak laki-laki sampai hampir kehilangan nyawa.
SEASON 2
Tentang kehidupan Azzahra setelah menikah dan kehidupan kakaknya yang telah mendapatkan jodohnya masing-masing. Juga cerita laki-laki yang mendapat cinta tulus dari wanita lain setelah patah hati karena Azzahra.
SEASON 3
Tentang perjuangan cinta Azam dan Aisha dengan anak-anak dari sahabat orangtua mereka.
Penuh suka duka, juga perjuangan yang kuat dan tangguh dari mereka.
***
Ig. Karlina_sulaiman
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karlina Sulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Azzahra melirik ke arah kakaknya, Azzahra melihat kakaknya sedang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa Kak Arvie sangat menyebalkan."
"Apakah kakek saya benar-benar sudah sembuh total Dok?" Farhan mencoba mencari topik untuk bahan mengobrol.
"InsyaAllah," jawab Azzahra.
"Berapa usia Anda Dokter?" tanya Farhan.
"20 tahun," jawab Azzahra singkat.
"Usia Anda lebih muda empat tahun dariku." Farhan tersenyum.
"Benarkah?" tanya Azzahra.
"Tentu," jawab Farhan tersenyum
Kenapa pria ini jadi sering tersenyum sih? Apa dia kerasukan? Aku bahkan masih ingat saat mamanya memperkenalkan ku tadi dia bersikap acuh bahkan hanya menjawab hmmm.
"Saya berarti sudah tidak sopan, karena memanggil Anda hanya nama saja."
"Tidak masalah, karena aku yang memintanya."
Azzahra bingung harus menanggapi lelaki di depannya ini bagaimana, jujur Azzahra sekarang merasa sangat tidak nyaman. Azzahra menoleh kepada Kak Arvie
Kak Arvie yang melihat Azzahra hanya mengakat kedua bahunya sambil tersenyum.
"Ah Kak Arvie benar-benar sangat menyebalkan."
"Haha, pasti Azzahra sekarang sangat kebingungan."
"Dokter Azzahra, kenapa Anda diam saja?" tanya Farhan.
"Tidak apa-apa, Kak," ucap Azzahra.
"Bukankah aku menyuruhmu memanggilku Farhan, kenapa jadi Kak?" tanya Farhan lagi.
Ya Allah bantulah hambamu ini menghadapi laki-laki ini, kenapa dia sangat merepotkan sekali sih, aku kira dia pria yang dingin dan cuek aku sempat kagum dengan sifatnya. Tapi kenapa sifatnya malah seperti ini, oh Tuhan aku benar-benar merasa risih.
"Saya lebih nyaman dengan panggilan itu," jawab Azzahra mulai jenuh.
"Apakah Dokter Azzahra sudah mempunyai seorang kekasih?" ucap Farhan yang membuat Azzahra semakin mati gaya.
Beruntungnya Azzahra tidak perlu menjawab pertanyaan itu, karena pesanan mereka sudah siap.
"Ini pesanan Anda Tuan, selamat menikmati Tuan dan Nona," ucap pelayan yang mengantarkan makanan.
"Terima-kasih," jawab Azzahra sedangkan Farhan hanya menganggukan kepalanya.
Azzahra dan Farhan menikmati hidangan yang telah tersaji, sesekali Farhan melirik ke arah Azzahra.
Azzahra memergoki Farhan yang memperhatikan dirinya.
"Kenapa Anda melihat saya?" tanya Azzahra.
"Ma-maaf saya tidak bermaksud apa-apa,"
jawab Farhan gugup.
"Kak, karena sudah selesai makannya, saya sekarang akan pamit." Azzahra berdiri dari kursinya kemudian mengambil beberapa lembar uang dan meninggalkaanya di meja.
"Dokter, biar saya yang mengantarkan Anda pulang," pinta Farhan.
"Tidak perlu Tuan. Karena Azzahra akan pulang bersama saya." Kak Arvie yang menjawab. Lalu Kak Arvie menggandeng tangan Azzahra layaknya seorang kekasih.
"Ayo honey kita pulang!" ucap Kak Arvie. Kemudian menganggukkan kepalanya kepada Farhan."Kami duluan, Tuan," ucap Kak Arvie lagi.
"Permisi Tuan." Azzahra pamit lagi.
Azzahra yang melihat kakaknya bersikap romantis, tertawa kecil saat mereka sudah jauh dari Farhan.
"Haha, Kak Arvie, Azzahra yakin pasti dia mengira kalau kita adalah pasangan," ucap Azzahra.
"Memang itu tujuan kakak." Kak Arvie tersenyum lalu membukakan pintu mobil untuk adik kesayangannya itu.
"Silahkan masuk, Tuan Putri." Kak Arvie membungkukkan badannya dan menaruh tangan kanannya di dada layaknya seorang pengawal.
"Lebay," ucap Azzahra setelah duduk di dalam mobil.
Kak Arvie segera masuk ke dalam mobil kemudian melajukan mobilnya meninggalkan restoran.
"Apakah laki-laki tadi kekasih Dokter Azzahra?" Farhan berbicara pada dirinya sendiri.
Kenapa aku menjadi seperti bukan diriku sih, dimana sifat ku yang dingin dan cuek, kenapa di depan Dokter Azzahra aku menjadi sangat bodoh, pasti Azzahra ilfeel dengan ku, dasar Farhan bodoh... bodoh, ini sangat memalukan. Farhan mengutuki dirinya sendiri.
***
Mobil kini melaju semakin jauh dari restoran. Saat mobil melewati jalan yang lumayan sepi, ada segerombolan motor yang mengikuti mobil mereka.
Merasa di ikuti, Kak Arvie kini menambah kecepatan mobilnya.
"Sepertinya gerombolan motor itu mengikuti kita, sepertinya mereka ini geng motor jalanan yang sering meresahkan warga."
"Jangan hiraukan mereka Kak, fokus saja menyetir," ucap Azzahra.
Merasa target telah sadar jika mereka ikuti, mereka juga menambah kecepatan motornya sehingga kini terjadilah aksi kejar-kejaran, ada beberapa motor yang berhasil menyalip mobil mereka.
"Azzahra bagaiman ini, kita tidak mungkin kalau harus meladeni mereka," ucap Kak Arvie.
"Kak Arvie hentikan mobilnya sekarang juga," perintah Azzahra.
"Apa kau sudah gila, jika kita berhenti, mereka akan menyerang kita," tolak Kak Arvie.
Gerombolan geng motor yang berhasil menyalip mereka kini menghadang mobil mereka.
Salah satu dari mereka turun dari motornya dan terlihat membawa sebuah belati.
Kak Arvie terpaksa menghentikan mobil nya.
"Buka pintunya," teriak orang itu.
"Azzahra bagaiman ini? mereka membawa senjatanya tajam," ucap Kak Arvie panik.
Azzahra tidak menjawab perkataan kakaknya. Azzahra sekarang sedang menghitung ada berapa orang yang mengepung mereka.
Sepuluh orang, itu lawan yang kecil.
Azzahra akan keluar dari mobil, namun Kak Arvie melarangnya.
"Jangan bodoh, Azzahra. Mereka membawa senjata tajam, kakak tidak ingin terjadi apa-apa denganmu," cegah Kak Arvie.
"Lebih baik sekarang Kakak telephone polisi, dan jangan mengkhawatirkan Azzahra, Azzahra akan baik-baik saja percayalah," bujuk Azzahra.
"Hei cepat keluar, atau kami pecahkan kaca mobil ini," ancam salah satu anggota geng motor.
"Kak kita tidak punya pilihan lain, cepat telephone polisi, biar Azzahra yang menangani mereka."
"Tapi-"
"Tidak ada tapi-tapian, Kak."
Suara teriakan anggota geng motor itu semakin ribut, bahkan kini kesepuluh anggota itu sudah mengepung mobil mereka.
Azzahra berdoa sebelum keluar dari mobil.
Setelah itu Azzahra mengikat baju tunicnya di samping pinggang kemudian keluar dari mobil.
"Apa mau kalian?" tanya Azzahra santai.
Melihat seorang wanita cantik turun dari mobil, mereka semakin menjadi-jadi.
"Bos lihat, cewe ini lumayan juga, bagaimana kalau nanti kita nikmati ramai-ramai," ucap salah satu anggota.
"Benar Bos. Pasti sangat menyenangkan," ucap anggota yang lain.
"Haha ide kalian boleh juga, Hei gadis manis, ayo ikut Abang, kita akan bersenang-senang malam ini," ucap seorang yang di panggil bos itu.
Azzahra yang mendengar perkataan mereka hanya tersenyum mengejek.
"Jangan harap," jawab Azzahra.
"Haha, berani juga kau," ucap seorang yang di panggil bos itu.
"Bos Aldo, hajar saja gadis lemah ini."
Di dalam mobil Kak Arvie sudah menelepone, polisi. Kak Arvie yang mendengar perkataan menjijikkan dari orang-orang itu geram karena mereka berencana melecehkan adiknya.
"Siapa takut," ucap Azzahra , kemudian menendang orang yang di panggil Aldo itu.
Aldo yang mendapat serangan mendadak jatuh tersungkur.
"Sial, dasar wanita mu*****, serang wanita itu," perintahnya kepada anak buahnya.
"Baik, Bos," ucap mereka dan mulai menyerang Azzahra.
Kak Arvie yang ikut turun kini juga berkelahi dengan mereka.
"Bugh... plak... bugh... bugh." Baku hantam terjadi.
"Hya..." Azzahra mendaratkan tentangan di perut dua orang sekaligus, mereka jatuh dan tidak bisa berdiri lagi.
"Set.. sat... set ...," bunyi senjata yang mereka gunakan.
Kak Arvie dan Azzahra dengan mudah menangkis serangan mereka. Satu persatu dari mereka telah jatuh kalah.
Kini tinggal dua orang yang masih bertarung dengan Azzahra. Orang yang ada di belakang Azzahra akan menusukkan belati dari arah belakang, dengan sigap Azzahra menghindar.
Azzahra tampak sangat marah,dengan orang itu.
"Kurang ajar ... rasakan ini... bugh, plak.. bugh.. bugh."
Azzahra menghajar lawannya tanpa ampun, mereka yang tadi berusaha bangkit telah Kak Arvie hajar juga, hingga kini mereka benar-benar kalah.
"Bangun kalian," teriak Azzahra ," ayo lawan aku!" imbuhnya.
Anggota geng motor itu hanya bisa diam sambil meringis dan merintih kesakitan.
"Kenapa diam, Ayo lawan aku," ucap Kak Arvie.
"Ampun... ampuni kami, Tuan. Kami mengaku kalah tolong jangan hajar kami lagi," ucap Aldo sang ketua.
"Ampun kalian bilang, tidak semudah itu kami mengampuni kalian, kalian bahkan berniat jahat kepada adikku," ucap Kak Arvie dengan kemarahannya.
"Aldo, sebaiknya kamu merubah sikap berandalan kamu itu, berbuatlah baik bukan bersikap kurang ajar seperti ini, ajari anggotamu itu, kalau sampai aku lihat kalian berulah lagi, aku tidak segan-segan akan menghabisi kalian," ancam Azzahra, walaupun Azzahra tidak serius dengan ucapannya.
"Ma-ma-maaf, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
"Bagus, tapi kalian tetap harus mendapatkan hukuman atas perbuatan kalian."
Salah satu dari anggota itu masih tidak Terima dengan kekalahannya. Dia menggenggam erat pisau miliknya kemudian berdiri dan langsung berlari ke arah Azzahra.
"Rasakan ini," teriak orang itu semakin mendekati Azzahra.
"Crasssss." Pisau itu mengenai lengan Azzahra karena Azzahra dengan sigap menghindar tadi sehingga pisau itu tidak menusuknya.
"Arrrggghhh," rintih Azzahra merasakan perih di lengannya.
Aldo yang melihat anak buahnya nekat langsung menghajarnya.
"Breng***, Lo Pram, udah mending nih cewe nggak buat lo ma**, Lo malah mau nyelakai dia," ucap Aldo setelah Ipram kalah darinya.
"Bos jangan bodoh, Lo , gara-gara gadis itu, Lo, mukul gue, kurang ajar, Lo, Do." Ipram masih saja tidak terima.
Ipram mengambil belati yang tadi sempat terlepas dari tangannya dan langsung menusuk perut Aldo.
"Rasain." Ucap Ipram saat menusuk Aldo.
"Arrrggghhh." Aldo merintih sambil memegangi perutnya yang kini mengeluarkan banyak darah.
Anggota yang lain yang melihat itu di buat marah akan sikap Ipram. Mereka hendak menghajar Ipram namun...
"Wiuuuu... wiuuuu... " bunyi sirine mobil Polisi terdengar.
"Angkat tangan kalian!" ucap pemimpin Polisi.
Semua yang ada disana mengangkat tangan mereka kecuali Kak Arvie, Azzahra, dan Aldo yang sekarang tidak sadarkan diri.
"Maaf, Bro, gue terlambat," ucap Aldi pemimpin Polisi yang ternyata salah sahabat Kak Arvie.
"Nggak papa, sekarang kamu urus mereka dulu, kecuali dia." Kak Arvie menunjuk Aldo.
"Dia akan gue bawa ke rumah sakit." ucap Kak Arvie lagi.
Azzahra kini sibuk menghentikan pendarahan di perut Aldo. Karena dia seorang Dokter jadi dia tau bagaimana cara menangani luka pasien.
"Cepat kita bawa dia ke rumah sakit Kak." pinta Azzahra.
Kini semua anggota di bawa oleh Polisi kecuali Aldo, karena Aldo sekarang di bawa ke rumah sakit oleh Kak Arvie dan juga Azzahra menggunakan mobil mereka.
Sedangkan motor mereka di amankan oleh Polisi.