NovelToon NovelToon
LAST STAND

LAST STAND

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi / Zombie / Epik Petualangan / Hari Kiamat / Evolusi dan Mutasi / Sci-Fi
Popularitas:23.4k
Nilai: 5
Nama Author: KURORYU

Hari dimana umat manusia menyaksikan sebuah meteor menhancurkan sebuah desa di kaki gunung Tasikmalaya yang menyebabkan tercemarnya aliran air dan juga menjadi sebuah wabah terjangkitnya yang di sebut "Inang" sebutan bagi manusia yang terjangkit di karenakan mereka bertingkah monster yang memakan manusia dan menginfeksi korban mereka, Mampukah manusia bertahan atau "inang" yang menang dalam wabah ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KURORYU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. NO CHOICE

"Silakan masuk, Mas... Mbak... jangan sungkan!" sambut pria paruh baya itu dengan ramah. "Yang ini, Mas siapa namanya?" Dia mengulurkan tangan, Gilang menyambutnya, lalu memperkenalkan diri dan Ismira yang berdiri di belakangnya.

"Saya Pak Herdiansyah, panggil saja Pak Herdi. Kalian suami istri?" tanya Pak Herdi. Ismira menjawab lembut, "Bukan, Pak, cuma barengan aja."

"Oalah... pacaran toh, pantesan kompak!" sahut Pak Herdi sambil senyum. "Ayo sini masuk," katanya, mempersilakan mereka duduk. Setelah bilang terima kasih, anak Pak Herdi datang sambil bawa drone-nya. Dia langsung ke dapur, balik bawa gelas sama teko buat disuguhkan.

"Silakan diminum airnya, jangan sungkan-sungkan," Pak Herdi nawarin, sambil nuangin air ke gelas. Gilang sama Ismira agak ragu, soalnya tadi mereka baru lihat orang dibunuh di depan mata.

"Pasti kalian khawatir ya sama airnya? Takut kena virus kan?" Pak Herdi ketawa kecil, terus langsung minum airnya buat buktiin kalau air itu aman.

Gilang tanpa pikir panjang langsung ngikut minum, dan Ismira juga akhirnya minum.

"Sini, Neng, kenalan sama Kak Gilang sama Kak Ismira!" Pak Herdi melambai ke anaknya.

"Kenalin, saya Yukky... biasa dipanggil Dek Yukky," kata anak itu imut sambil ngumpet di balik pundak ayahnya karena malu.

"Adek sini yuk, sama Kak Ismi," Ismira senyum, nepuk-nepuk tempat di sampingnya biar Yukky mau duduk di situ.

"Kak Ismi... Kak Ismi, serem enggak di luar sana?" tanya Yukky polos. Ismira senyum.

"Enggak kok... Cuma di luar gelap. Enggak ada lampu," kata Ismira ramah, berusaha nutupin betapa ngerinya keadaan di luar.

"Pak, mohon maaf... Kenapa Bapak nyelamatin kami? Padahal kita enggak pernah ketemu?" Ismira nanya, pertanyaan yang sama yang Gilang lontarin ke dia sebelumnya.

"Pasti kalian bingung ya? Wajar sih..." jawab Pak Herdi sambil nyalain rokok, terus nawarin Gilang rokok juga.

"Kalian kayaknya bukan orang jahat, kelihatan dari cara kalian saling jaga satu sama lain," jelas Pak Herdi, ngasih tahu alasan dia nolongin mereka.

Mereka pun ngobrol panjang lebar, ngomongin keadaan di luar yang udah serem banget, sama bahaya yang bisa datang kapan aja.

Kehangatan Keluarga dan Rencana Malam

Enggak kerasa, hari udah sore mau malam. Pak Herdi nyuruh anaknya masak. Ismira langsung nawarin diri buat bantu masak. Mereka berdua pun masak di dapur, ninggalin Gilang ngobrol sama Pak Herdi di ruang tengah.

Setelah masakan mateng, mereka langsung makan. Habis itu, Yukky sama Ismira mutusin buat tidur, karena diajak Yukky tidur di kamarnya.

Enggak lama setelah dua cewek itu masuk kamar, Pak Herdi datang bawa dua cangkir kopi, lalu naruh satu di depan Gilang.

"Bapak temenin ngopi ya," katanya sambil nyalain rokok. Mereka mulai ngobrolin gimana semua ini bisa terjadi. Mereka juga cerita kehidupan pribadi masing-masing. Ternyata, istri Pak Herdi enggak berhasil pulang pas belanja di supermarket waktu wabah ini mulai.

Setelah lama ngobrol, mereka mutusin buat istirahat. Pak Herdi pun pamit buat tidur di kamarnya.

Enggak kerasa, udah beberapa hari mereka di rumah itu. Sampai akhirnya, hal paling nakutin terjadi: stok makanan habis. Itu artinya, mereka harus keluar lagi, nyari makanan ke toko-toko dekat situ.

"Lang... besok kita harus nyari bahan makanan ke luar rumah! Ini makan malam kita yang terakhir!" ucap Pak Herdi, minta Gilang nemenin dia keluar rumah, siap taruhan nyawa lagi.

"Aku ikut ya, Pak... Cuma Dek Yukky gimana?" Ismira langsung nyaut, pengen ikut tapi agak ragu ninggalin anak belasan tahun itu sendirian di rumah.

"Pergi aja, Kak... Dek Yukky udah biasa kok di rumah sendiri. Kemarin-kemarin juga pas Papah cari stok makanan keluar, Dek Yukky bantuin nunjukkin jalan pakai drone..." kata anak itu, ngejelasin kalau dia cukup berani sendirian.

"Ya udah... sekarang makan aja dulu. Besok kita berangkat pagi-pagi banget!" ucap Pak Herdi, nyuruh mereka bertiga makan.

Setelah selesai makan, mereka langsung mutusin istirahat dan siap-siap buat besok.

Tapi beda sama Gilang. Dia enggak bisa tidur. Pikirannya muter terus, gimana caranya biar tetap hidup dan balik selamat. Dia bangkit dari tidurnya, pengen ngerokok, tapi rokoknya udah habis. Enggak lama, ada tangan nyodorin rokok sama korek. Ternyata Pak Herdi.

"Nih, Lang... ada sebatang lagi!" tawar Pak Herdi sambil duduk di samping Gilang. Mereka pun mulai ngobrol, ngerencanain gimana caranya bisa masuk dan keluar dari tempat itu dengan selamat.

"Pak, besok kalau terjadi hal buruk, tinggalin aja kita berdua. Kita enggak mau Dek Yukky kehilangan orang berharga buat kedua kalinya!" Gilang bilang gitu, permintaannya sepihak banget.

Tapi Pak Herdi enggak mikir gitu. "Kita datang bertiga, pulang juga harus bertiga! Tapi kalau hal buruk terjadi, nitip si Neng Yukky ya... Bapak tahu kamu orang yang kuat sama baik." Pak Herdi nepuk-nepuk pundak Gilang.

Gilang jadi ragu dan bimbang. Tapi, dia juga enggak punya pilihan lain selain diem aja. Mereka sama-sama enggak mau kehilangan orang berharga lagi. Pak Herdi ngasih Gilang beberapa botol plastik bertuliskan 'asap', sama speaker yang udah dirangkai sama handphone, dan sebuah katana.

"Ini bom asap buatan Bapak, udah tahu pasti gunanya buat apa, sama ini speaker buat ngalihin perhatian mereka. Kamu yang bawa ya, Lang!" jelas Pak Herdi tentang fungsi alat-alat itu.

Enggak lama, alarm jam nunjukkin jam lima subuh. Artinya mereka harus siap-siap keluar. Gilang langsung ngetuk pintu kamar Ismira sama Yukky buat bangunin Ismira.

Setelah semua siap dan ngumpul di ruang tengah, mereka berpelukan kayak keluarga, saling nyemangatin biar tegar dan kuat. Yukky langsung naik ke lantai dua, nerbangin dronenya buat ngecek ada makhluk atau monster di area itu.

Setelah aman, dia nurunin dronenya dan ngasih isyarat pakai lampu baling-balingnya yang berubah jadi hijau. Aman, berarti. Gilang langsung buka garasi, terus nutup lagi pintu garasi itu, berharap bisa balik selamat.

Pertarungan di Toko dan Ancaman Baru

Selama perjalanan, mereka hati-hati ngikutin arahan drone dari Yukky yang nunjukkin jalan. Setelah setengah jam jalan, drone Yukky berhenti, mungkin udah sampai batas jangkauannya. Pak Herdi cepat-cepat ngeluarin secarik kertas bertuliskan 'kita pamit dulu neng'.

Sambil nyuruh Gilang sama Ismira lanjut jalan, Pak Herdi ngasih kertas itu ke drone, terus drone-nya terbang balik. Pak Herdi jalan nyusul mereka berdua.

Setelah sekian lama jalan, mereka berhasil nemuin sebuah toko. Tapi, ada satu makhluk di depan pintu masuk.

Mereka langsung sembunyi di balik mobil yang parkir enggak jauh dari pintu.

"Kalian tunggu di sini... biar Gilang lawan!" Gilang ngomong gitu, sambil ngehunus katana dan keluar dari persembunyian.

Enggak lama, Gilang keluar sambil ngegesek katananya ke jalan, terus sesekali mukulin ujung katananya ke benda di sekitar. Makhluk itu langsung lari tunggang langgang ke arah Gilang.

Gilang langsung ngangkat katananya, sambil lari ke arah makhluk itu terus nebas lehernya. Anehnya, katana itu kayak enggak mempan. Gilang langsung nendang makhluk itu sekuat mungkin biar menjauh.

Makhluk itu terpental dan nabrak motor yang parkir di depan toko. Itu jadi kesempatan Gilang buat nusuk dada monster itu pakai katana, terus coba ngebakar makhluk itu pakai korek api. Enggak lama, api gede banget nyala di badan makhluk itu.

Gilang cepat-cepat nyabut katananya dan ngasih isyarat aman buat masuk. Setelah mereka masuk toko yang gelap, mereka langsung ke tempat bahan makanan dan ambil sebanyak-banyaknya. Setelah selesai ambil stok makanan, mereka balik ngumpul dan mutusin buat pulang.

"Udah semua kan... cepat kita pulang lagi," ucap Pak Herdi sambil merhatiin sekitar. Setelah mereka keluar toko dan jalan, tiba-tiba Ismira dipukul dari belakang sampai pingsan.

"Heh...! Beraninya lu bawa stok di gudang kita!" kata orang yang mukul Ismira, sambil ngacungin tongkat baseball yang ada noda darah.

"Anjing lu!" Gilang langsung lari ke arah orang itu, tapi dia kena panah di betis. Langsung tersungkur.

Pas Gilang mau berdiri, dia berhenti. Katananya sekarang ngarah ke lehernya. "Nah... bisa diam akhirnya lu, manusia sok jago!" kata salah satu pria yang entah datang dari mana.

"Bangsat lu!" Gilang ngeludahin muka orang di depannya.

"Berani juga ya lu?!" bentak pria itu, sambil nendang dagu Gilang sampai tersungkur. Lalu dia nyetrum Gilang pakai alat kejut listrik biar pingsan.

1
Mitt²🍒⃞⃟🦅
semangat 👍
Mitt²🍒⃞⃟🦅
saat dialog setelah tanda petik huruf pertama kapital kak 🙏
Mitt²🍒⃞⃟🦅: sama saya juga kak 🙏, mampir kak kalau berkenan
total 2 replies
➳ᴹᴿ᭄✍ ₑₖₐ ⱼᵤₙₕₐₜₐ✎㎡
Karya yang luar biasa
mia sarfi
zombie bucin
mia sarfi
semoga selamet
Anisa Fitria
bencana tingkat kota
Anisa Fitria
baru nyoba baca novel zombi sih
Anisa Fitria
semangat kakak
mey
lanjut Thor kalo gak lanjut di tampol setiap detik. 😁
OGLOST: bjir :v
total 1 replies
OGLOST
semangat
OGLOST
nice plot
RSL
sebenarnya ga ada salahnyakan setiap awal cerita dimulai dengan alarm, MCnya kesiangan, lari terburu-buru berangkat sekolah. thanks japan mana 🙏
tintakering
jadi bencana nasional😁
tintakering
salam kenal thor. cerita yg menarik👍
OGLOST: makasih kakak
total 1 replies
EMB tri.g
lanjut thor, semngat
OGLOST: iya sama sama ka :)
total 2 replies
OGLOST
nice novel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!