NovelToon NovelToon
Remember Today

Remember Today

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:62.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tata Tetott

Lily terjebak dalam sebuah pernikahan yang tidak bahagia. Dante tidak pernah mencintainya. Dante menikahi Lily hanya untuk membayar hutang Budi orang tuanya kepada orang tua Lily.

Namun sebuah kecelakaan membuat keadaan berubah. Dante didiagnosa menderita cedera otak parah yang membuatnya kehilangan ingatan jangka pendek.

Dante hanya mengingat apa yang terjadi hari ini, lalu setelah dia tertidur dia akan melupakan semua. Begitu setiap harinya.

Inilah kesempatan bagi Lily untuk membuat suaminya bisa menerima dan mencintainya sepenuh hati.

Inilah kesempatan bagi Dante untuk memperbaiki kesalahan besar yang telah dia perbuat.

Namun, kehidupan tidak semudah itu untuk memberi mereka kebahagiaan.

berhasilkah mereka membangun Rumah tangga bahagia atau bahkan perceraian adalah jalan terbaik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tata Tetott, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Lily : Anterograde Amnesia

Aku melangkah menuju ruangan Mas Dante selepas dari ruang dokter. Ayah mertuaku bergegas menuju kantornya. Sekaran sudah pukul sepuluh pagi, lewat sedikit. Kurasa beliau sudah sangat terlambat untuk pergi ke kantor. Tidak masalah, beliau Bosnya. Ibu mertuaku bilang ingin pergi ke swalayan sebentar yang terletak tidak jauh dari Rumah sakit ini.

Jadi, hanya aku di sini, terpaku sejenak di depan kamat perawatan Mas Dante. Iya, Mas dante sudah tidak di ruang ICCU lagi, dia sudah di pindahkan ke Ruang perawatan, secara umum, kesehatan Mas dante mulai membaik, tunggal sedikit lagi penyembuhan pada beberapa luka yg masih basah, dan beberapa terapi untuk mengembalikan lagi fungsi otot-ototnya yang sempat tidak berfungsi selama dia terbaring tak sadarkan diri selama sepuluh hari. Yah itu secara umum,  secara khusus, otaknya lebih tepatnya, sepertinya masih jauh dari kata sembuh.

Pelan kudorong pintu berat yg menjadi jalan masuk ke ruang. Mas Dante berpaling ke arahku, dia sudah bangun, dan sekarang dia sedang di bantu seorang perawat untuk sarapan, posisinya berbaring, bersandar pada kepala kasur yang ditinggikan. Aku tidak sabar untuk melihat responnya terhadapku hari ini.

"Sedang sarapan?" tanyaku, basa-basi sekali, padahal itu sudah jelas.

"Ya," jawabnya dengan ekspresi bingung.

"Aku boleh masuk?" tanyaku untuk meminta izin, walau kenyataanya aku tetap masuk sebelum dia memberikan izin.

Aku berjalan mendekat padanya, berbisik pada perawat yang sedang memegang mangkuk buburnya, "biar saya yang teruskan, terimakasih."

Perawat itu setengah terpaksa memberikan mangkuk bubur padaku. Kadang aku merasa heran, ini perasaanku saja atau memang benar, rata-rata perawat perempuan di agak sedikit sensi padaku.

Selepas perawat itu menghilang dari balik pintu,  aku memulai sendokkan pertama untuk menyuapi Mas Dante. Bibirnya tidak  terbuka saat sendok bubur sudah ku sodorkan di depan mulutnya. Matanya menatapku penuh kebingungan.

Jelas, dia tidak mengingatku, lagi.

"Makanlah," pintaku.

Dia menggerakkan sedikit bibirnya, bukan untuk menerima suapan dari sendok yang ku sodorkan, melainkan sebuah gerakan untuk membentuk beberapa suku kata.

"Maaf, anda siapa?" tanyanya dengan hati-hati.

Ku tatik tanganku yang sejak tadi menggantung di udara seraya memegangi sendok. Kuletakkan kembali sendok ke dalam mangkuk bubur fan mengambil nafas dalam sebelum berucap, "aku Lily."

Dia mengulurkan tangan padaku, seperti uluran tangan untuk berjabat. Dia ingin berjabat tangan denganku?

"Salam kenal. Aku Dante," ucapnya.

Dia sudah mengingat namanya sendiri itu bagus.

Aku menjabat tangannya, dingin. "Sebenarnya kita sudah saling mengenal."

"Benarkah. Maaf. Aku ... em ... Sedang dalam keadaan buruk. Perawat tadi mengatakan kalau aku kecelakaan ... entahlah, aku sendiri tidak yakin. Kurasa aku kehilangan ingatan." Dia menatapku, "Jadi maaf kalau aku tidak ingat padamu. Kuharap kamu tidak tersinggung."

"Tidak. Tentu tidak. Tenang saja." Aku tertawa canggung, "kemarin kamu juga menanyakan hal yang sama saat melihatku."

"Kemarin?" tangannya.

"Dan hari sebelum kemarin," tegasku.

Ya, lima hari sejak Mas Dante siuman, setiap hari dia kebingungan, bertanya tentang diriku. Aku jelaskan semuanya berulang-ulang. Terkadang dia mengerti dan percaya, terkadang tidak percaya sama sekali, malah cenderung seperti waspada padaku.

Kemarin, dia bersikap manis padaku, dia hampir menggenggam tanganku sepanjang waktu, dia memintaku bercerita banyak hal. Dia bilang dia suka melihatku bicara. Berbeda lagi dengan sehari sebelumnya, dia menarik tangannya saat aku mencoba menyentuhnya, dia tidak menatapku, dia tidak bicara padaku dia seakan tidak peduli dengan keberadaanku,  hari itu, saat dia terbangun, ponselku sedang mati, aku tidak dapat menunjukan foto pernikahan kami padanya, jadi kurasa  hari itu dia tidak percaya kalau aku adalah istrinya, makanya dia agak berwaspada padaku.

"Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" tanyanya.

"Akan ku jelaskan nanti, makanlah dulu," pintaku sambil menyodorkan sendokkan bubur lagi ke depan bibirnya.

Dia membuka mulutnya, menerima suapan dariku, pelan dia melakukan gerakan mengunyah hingga gerakan menelan yang juga dilakukannya dengan sangat pelan.

"Jadi, siapa dirimu? Maksudku, siapa kmu di kehidupanku. Apa kita cukup dekat?

Apa kami cukup dekat? Tidak. Kurasa tidak.

Aku tidak menjawab. Aku mengambil mendekat berikutnya dan menyodorkannya lagi pada Mas Dante. Dia  mengunyah, menelan dengan pelan lagi.

"Kita berteman. Atau punya hubungan lebih, kamu pacarku?" tanyanya.

"Aku istrimu."

Napak sekali keterkejutan dan ketidak percayaan di mata Mas Dante. Sejujurnya kadang aku merasa lucu melihat dia begitu, aku ingin tertawa, namun kutahan demi menjaga agar Mas Dante tidak tersinggung. Jadi aku menunduk membiarkan rambut-rambutku tergerai di sekeliling wajahku untuk menyembunyikan wajahku yang menahan senyum.

"Kamu pasti tidak percaya, kan?" tanyaku setelah berhasil mengendalikan diri.

"Kata siapa?" dia balik bertanya.

"Kelihatan dari ekspresimu."

"Oh ya?"

"Ya, kemarin lusa kau bahkan sangat berwaspada padaku, saking tidak percayanya kalau kita adalah suami-istri."

"Begitu kah?"

"Ya. Makanlah, aku berjanji setelah sarapanmu habis aku akan menjelaskan semuanya."

Dia menurut i baper minta aku, dia menghabiskan sisa makanannya tanpa banyak bicara lagi. Memakan waktu sedikit lebih lama karena memang pergerakan mengunyah dan menelannya sedikit lebih lama. Padahal ini cuma bubur, bisa kubayangkan berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk memakan sepiring nasi, atau setangkup roti lapis seperti makanannya ada saat normal.

"Sudah selesai, terima kasih sudah mau bekerja sama menghabiskan makananmu."

"Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu mau bersabar menyuapiku."

"Itulah gunanya istri,"

Dia tersenyum canggung, "bisa ceritakan sekarang tentang apa yang sebenarnya terjadi?"

Aku berdeham sebelum memulai cerita. Kumulai dari informasi yang kudapat baru saja tentang diagnosa dokter tentang keadaan Mas Dante. Ku jelaskan itu dengan bahasa yang lebih simpel. Ku katakan padanya bahwa kejadian seperti ini—seperti saat aku menjelaskan ini— kemungkinan akan berulang lagi besok hari, lusa dan seterusnya.

Kuminta dia untuk bersabar, aku juga berjanji akan bersabar untuk tetap bisa mengulang-ulang penjelasan ini besok, lusa dan seterusnya.

Aku juga menjelaskan padanya tentang pernikahan kami, sama seperti yang ku jelaskan di hari-hari sebelumnya. Tentu saja tidak akan ku ceritakan tentang bagian terburuk dari kisah pernikahan kami, hanya yang indah-indah saja. Memangnya ada bagian indah yang dari hubungan pernikahan kami? Mungkin orang yang tahu semua kisah lengkapnya menganggapnya akan mengatakan, "tidak. Tidak ada bagun yang Indah dari pernikahan kalian." tapi, bagiku tetap ada.

Aku juga memperlihatkan foto pernikahan kami yang tersimpan di galeri ponselku padanya. Untuk meyakinkannya. Aku tidak ingin kejadian kemari lusa terulang kembali.

"Maafkan aku," ucapnya akhirnya setelah mendengarkan penjelasanku yang panjang lebar tanpa dia sela sedikitpun.

"Tidak masalah. Percayalah,"

Dia mengambil tanganku, menggenggam, mengusapkan jempolnya pada punggung tanganku. Rasanya tetap seperti sebuah sengatan listrik saat kulitku dan kulitnya bersentuhan.

"Terima kasih." ucapnya.

"My pleasure."

Kemudian tercipta jeda diam yang canggung saat dia melepaskan genggaman tanganku. Hingga akhirnya aku teringat akan sesuatu yang sebelumnya terbersit di kepalaku.

"Boleh aku bertanya?" tanyaku.

"Sure," dia mengangguk.

"Menurutmu sekarang tahun berapa?" Aku sudah memikirkan pertanyaan ini. Ada beberapa informasi dari ingatan Mas Dante  yang harus ku gali melalui pertanyaan ini.

"Sekarang?" Dia namak berpikir beberapa detik saat akhirnya berkata dengan nada tidak yakin. "2016?"

2016? Mas Dante mengira sekarang tahun 2016? Berarti ingatan Mas Dante mundur keempat tahun yang lalu. Menurut informasi yang kudapatkan Mas Dante berpacaran dengan Laura sekitar 3 tahun lebih-lebih beberapa bulan.

Dapat kusimpulkan bahwa kemungkinan besar Laura tidak ada dalam Ingatan Mas Dante, kalaupun ada, sepertinya Mas Dante tidak akan mengingatnya sebagai pacar.

Kesimpulan yang ku buat sendiri ini tanpa kuduga membuatku merasa sedikit merasakan gelitik kebahagian. Bibirku tertarik tanpa bisa ku kendalikan.

"Kenapa?" tanya Mas Dante.

Aku tersikap, gelagapan, kemudian berdeham untuk menetralkan ekspresi wajahku. "Apa lagi yang Mas Dante ingat?"

"Entahlah, sepertinya aku baru saja pindah ke Apartemenku sendiri."

Apartemen itu sekarang yang di tempati Laura. Tiba-tiba aku kesal.

"Sebenarnya kita tidak sedang berada di tahun 2016. Dan Mas dante sudah tidak tinggal di Apartemen itu lagi."

Bola mata mas Dante bergerak-gerak kekiri dan kekanan, kurasa dia bingung.

"Sekarang sudah tahun 2020, dan kita tinggal bersama di sebuah rumah besar di salah satu real estate milik keluarga Mas Dante."

Dia diam saja, masih dengan raut wajah kebingungan. Tidak apa-apa, aku mengerti.

Segini saja sudah membuatku cukup tenang. Aku dan Laura sama-sama tidak ada dalam ingatan Mas Dante. Tapi saat ini,  sekarang ini dan besok dan seterusnya, aku yang akan selalu ada di samping Mas Dante. Mengingatkannya tentang siapa diriku. Laura tidak ada, tidak akan pernah ada lagi selamanya dalam ingatan Mas Dante.

Semoga.

1
Annisa Rahma
kak sehat2 kah?
al juna kai ruby azzam
Give up...🥀
Juwita Sisamhadhi
ditunggu kak
Anonymous
duh....pliss thor jangan gantung ya.....berharap cerita ini sampe tamat
Annisa Rahma
alhamdulillah akhirnya up juga... selalu ditunggu kak lanjutannya ❤❤❤❤❤❤❤❤
Wahidah Wahidah
Akhirnya Dante-Lily kembali,mksh Thor, 👍
Wahidah Wahidah
tahun telah berganti tp Dante dan Lili belum muncul jg ?????
Anonymous
desember akan segera berakhir....lili ma dante blom nongol2......
Siti Jamrah
Dantenya kemana? udah ditungguin nih 😄
Annisa Rahma
kak udah awal Desember dante sama. lily nya mana kak? 🤭🤭🤭
Wahidah Wahidah
tetap ditunggu Author, smg ketulusan lili bisa menyadarkan Dante, dari manusia jahat, jd manusia yg tahu pengorbanan pasangannya. berharap ada part Dante yg mengejar cintanya pd Lili, tetap bahagia lili-Dante 🙏🙏🙏
Annisa Rahma
whoooaaa kaget pas lihat notif ada up dari mas dante dan lily... selalu ditungguin kak updatenya... semangat selalu ya kak... ❤❤❤❤❤❤❤❤
Aqua Star: betul banget kaget juga
total 1 replies
Annisa Rahma
kak kangen mas dante🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Anonymous
wah mana nih mas dante.....katanya mau sering2 up date dan udah janji mau sampe tamat nih thor...
Annisa Rahma
kak belum up ya!
Wahidah Wahidah
lama tdk up...
Anonymous
semakin kesini.semakin romantis tapi kok jd deg2an....gmn kl ingatan dante kembali ya....
Aqua Star
yuhuuu Lily Dante Miss youu
Wahidah Wahidah
Alhamdulillah, up, terima kasih Thor... smg Lily dan Dante selalu bahagia
punya nama
semangat thor, semoga gk ketularan tetangga seberang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!