NovelToon NovelToon
Midori High School

Midori High School

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:15.5k
Nilai: 4.8
Nama Author: Yoru Akira

Dear,
Diriku yang kelak berusia 27 tahun.

Aku tak tahu akan jadi apa engkau kelak. Tapi aku akan mempersiapkan engkau menjadi perempuan tangguh yang memperjuangkan cita-citanya. Bukankah engkau masih ingin menjadi seperti Najwa Shihab - salah satu perempuan hebat yang dimiliki negeri ini?

Jika memang itu keinginanmu, maka hal pertama yang harus kulakukan adalah berhasil lulus tes dan bergabung dalam Midori Magz. Engkau tahu 'kan, majalah sekolah itu memiliki banyak penggemar. Bukan hanya dari kalangan Midori High School saja, melainkan menjadi idola anak muda seantero kota ini.

Hei diriku yang kelak akan berusia 27 tahun, kau harus tahu bagaimana perjuanganku untuk mewujudkan mimpimu, mimpiku, mimpi kita.

Salam sayang,
Darimu yang berusia 16 tahun

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoru Akira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 09 : Tawaran

Semesta Arata

"Haruto, jangan lupa siapkan perlengkapan untuk akhir pekan. Aku bakal cek peserta yang udah daftar dan menghubungi mereka," pinta Metha membuat Arata menghela napas.

Senin yang sibuk. Akhir pekan nanti kegiatan photography tour and camp dilaksanakan, tapi masih banyak hal yang belum selesai. Termasuk menyiapkan perlengkapan kemah dan lain sebagainya karena memang tidak ada villa di tempat yang akan dituju nanti.

"Surat pinjam alat udah kamu sampaikan ke ekskul pecinta alam, Tha," balas Anugrah memastikan hal krusial tak terlewatkan.

"Udah."

"Kira-kira perlu apalagi nih?" Boris menimpali.

"Eh kita cari logistik kapan nih, itu 17 orang mau dikasih makan apa?" Pertanyaan Metha membuat ketiga makhluk cowok di ruangan itu menoleh ke arahnya.

"Serius yang ikut 17 orang? Gila, nggak nyangka ide Haruto berpengaruh juga."

Anugrah yang paling semangat mengetahui jumlah peserta yang akan ikut kegiatan photography tour and camp. Sedang Boris kembali sibuk dengan hitungan pengeluaran di depannya. Meski begitu telinganya masih menangkap pembicaraan Metha dan Anugrah.

"Jangan berharap, paling yang bertahan cuma segelintir orang begitu kegiatan selesai."

Metha tak bermaksud mengendorkan semangat anggotanya. Hanya saja dia tahu diri apa alasan sesungguhnya peserta photography tour and camp - yang didominasi cewek, ikut kegiatan mereka. Sudah pasti alasannya karena ada Arata. Kalau saja tanpa kehadiran cowok itu dan mereka mengadakan hal serupa, belum tentu akan seramai ini peminatnya.

“Setidaknya kalau itu udah memenuhi syarat utama biar ekskul kita nggak dibubarkan, kukira nggak masalah.”

“Benar juga kata Boris tuh. Yes, masih bisa digunakan. Cuma baterainya aja yang habis tadi tuh,” teriakan Metha lagi-lagi membuat ketiga makhluk cowok itu berpaling ke arahnya.

“Kubilang juga apa. Hibahan dari Kak Aditya tuh, mana mungkin udah rusak ‘kan. Cuma jarang kepakai aja. Palingan juga kakak kelas yang sering pakai.” Anugrah menimpali pernyataan Metha yang masih mencoba bergelut dengan Nikon DLSR di tangannya.

“Kak Aditya?” tanya Arata penasaran saat Anugrah menyebut nama Aditya. Mungkinkah nama yang sama dengan orang yang dikenalnya?

“Yups, dia alumni sini. Ini dia yang kasih pas lulus sekitar enam tahun lalu. Sekarang udah kerja sih, punya studi foto sendiri. Kita undang dia juga buat jadi pemateri nanti.” Metha menjawab pertanyaan Arata tanpa berpaling dari kamera di tangannya.

“Dia sebenarnya spesialis foto micro, tapi model juga bagus hasilnya. Kalau kamu mau tahu kepoin akun medsosnya deh. Banyak hasil potretnya yang dipajang di akunnya.”

“Kemarin waktu ke rumahnya dia bilang kalau punya adik yang sekolah di sini. Angkatan baru katanya. Kamu kenal, Tha?” Bahkan Boris yang sibuk dengan hitungan pengeluarannya pun kini ikut nimbrung dengan pembicaraan soal Aditya yang dimaksud Anugrah.

Jelas sudah, Arata kenal siapa orang yang kini menjadi bahan pembicaraan.

“Kak, aku masuk kelas ya. Bagianku udah beres,” kata Arata menginterupsi pembicaraan tentang Aditya yang semakin menarik. Metha melirik rak tempat penyimpanan kamera di belakangnya. Terlihat bersih seperti kata Arata.

“Oke, ah ya bisa sekalian titip surat buat Midori Magz?”

"Undangan untuk Midori Magz, buat apa?" tanya Arata saat menerima surat dari Metha. Dia curiga cewek itu akan berbuat ulah seperti yang pernah dikatakan dulu.

"Publikasi lah. Biar kita juga punya jejak."

Arata tak memedulikan penjelasan Anugrah. Fokusnya hanya tertuju pada Metha yang kini menyimpan kamera dalam tas dan menaruhnya di rak kaca. Arata tahu, itu satu-satunya cara Metha menghindari tatapan matanya. Meski terlihat normal sepanjang waktu istirahat, Arata tak sepenuhnya yakin Metha tak memiliki rencana dengan melibatkan Midori Magz.

“Boreh aku bicara sebentar?” tanya Arata tertuju pada Metha.

Cewek itu hanya mengendikkan bahu dan keluar dari ruang ekskul fotografi. Mereka berjalan ke arah taman yang cukup sepi di depan deretan ruangan ekskul.

“Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?”

“Ini, kamu tidak sedang merencanakan sesuatu ‘kan?” tanya Arata to the point sambil menunjukkan surat yang dititipkan Metha untuk Midori Magz. Dia tidak suka berbelit-belit menghadapi Metha. Cewek itu tersenyum remeh.

“Kalau menurutmu aku cuma memikirkan hal-hal remeh, kamu salah besar. Kenapa, kamu khawatir dengan sahabatmu itu? Kalau memang iya, kenapa nggak kamu suruh keluar dari Midori Magz aja? Oh ya, tapi itu juga nggak akan jamin keselamatannya selama dia masih dekat dengan Ardian.”

Senyum manis yang terkesan dipaksakan lagi-lagi menghiasi wajah Metha. Hal itu membuat Arata menyadari seperti apa lawan yang ia hadapi sekarang.

“Ah ya, gimana kalau aku kasih kamu tawaran sebagai jaminan keselamatan temanmu.”

“Apa?”

Jantung Arata berdetak lebih cepat saat Metha menyerang sisi terlemahnya. Jika menyangkut Ayyara, dia rela melakukan apa pun.

Namun, bukannya menjawab pertanyaan Arata, Metha yang kini duduk di bangku beton justru tertawa terbahak. Jenis tawa yang baru pertama kali dilihat oleh Arata. Semakin menunjukkan sisi lain cewek itu.

“Aku terharu, ternyata sebegitu pedulinya kamu sama dia. Oke, aku akan pertimbangkan berapa harga yang pantas kudapatkan demi kamu bisa melindungi temanmu itu.”

Metha berdiri dan menepuk seragam abu-abunya. Dia tersenyum manis sebelum meninggalkan Arata sendirian. Sedangkan cowok itu berdiri limbung. Merasa telah dipermainkan.

***

Kelas X-B mendadak ramai saat seorang kakak kelas di jam istirahat terakhir menghampiri meja Arata. Meski tak cukup populer di kalangan cowok-cowok MHS, tapi paras cantik berbingkai kacamata minus itu berhasil menarik perhatian kaum lelaki di kelas Arata. Bahkan beberapa ada yang jelas-jelas menggodanya.

Cewek itu hanya tersenyum simpul saat menjadi pusat perhatian. Sedangkan beberapa cewek di kelas Arata menatapnya tidak suka. Terutama Adelia yang sejak awal ingin sekali menjegal kaki kakak kelasnya itu.

“Hei, bisa minta waktunya sebentar,” sapanya pada Arata yang masih berkutat dengan materi Fisika yang baru saja diberikan guru.

“Ada perlu apa?” tanya Arata tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku catatan.

“Hai Ra, apa kabar? Masih sering ngobrol sama Ardian?”

Bukannya menjawab pertanyaan Arata, cewek itu justru tanpa sungkan bertanya pada Ayyara yang duduk di samping Arata. Gadis itu hanya tersenyum masam menjawab pertanyaan kakak kelasnya. Di bangkunya, Adelia mencibir basa-basi Metha yang terkesan dipaksakan. Adelia tahu, dari nada suaranya Metha hanya ingin mencari gara-gara dengan Ayyara. Bodohnya, Ayyara tak bisa membaca situasinya yang berada dalam sarang naga.

“Baik, Kak Metha. Ya ‘kan satu organisasi, udah pasti sering ngobrol lah. Kakak mau titip salam buat dia?” tantang Ayyara membuat Arata dan Adelia menoleh bersamaan.

Mereka saling bertatapan seolah menyiratkan, mengapa ada manusia sepolos Ayyara yang tidak menyadari posisinya saat ini. Sedang Metha tertawa menanggapi pertanyaan Ayyara. Meski terlihat jelas tatapan tidak suka dari matanya.

“Duh, perutku sakit. Ayyara, aku sama dia satu kelas, ngapain sih mau kamu salamkan segala. Kamu itu lucu ya.”

“Ya kan siapa tahu kalian nggak saling sapa, jadi Kak Metha repot-repot tanya sama aku. Atau ada hal lain yang Kakak rencanakan?” Ayyara semakin berani menanggapi pernyataan kakak kelasnya itu. Ia tak peduli, jika ancamannya pada Arata benar-benar akan dilakukan.

“Wah menarik nih. Ternyata kamu bisa juga ya nangkap pikiran aku. Kalau gitu kamu juga tahu dong apa yang harusnya dilakukan?”

Metha tersenyum manis saat mengucapkan kalimatnya yang penuh penekanan. Ayyara bergidik ngeri. Tidak menyangka jika cewek di depannya itu bisa melakukan hal manis tapi menakutkan secara bersamaan.

“Kita bicara di ruar,” kata Arata sebelum Ayyara mengeluarkan semua kekonyolannya dan membuat Metha semakin terbakar amarah.

Arata bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan keluar kelas dan mencari tempat yang lumayan sepi untuk berbicara dengan Metha.

“Cepat tanggap juga ya kamu.”

“Apa maumu?” tanya Arata tegas saat mereka berada di tempat yang sepi. Metha menyeringai mendengar kalimat tegas Arata.

“Buat peserta yang ikut photography tour and camp tetap bergabung di Polaroid Island. Nggak sulit ‘kan.”

Mustahil. Arata tahu pasti, kebanyakan dari peserta yang mengikuti acara mereka hanya ingin melepas penat atau mencari spot swafoto menarik untuk diunggah ke akun media sosial mereka. Terlebih dari 17 peserta yang bergabung, udah banyak yang terang-terangan menggodanya. Tantangan Arata tak akan mudah dalam hal ini.

Mungkin dia bisa meminta beberapa untuk tetap tinggal, meski tidak ada jaminan mereka benar-benar tertarik dengan fotografi. Setidaknya jika ada keinginan belajar tentu tak sulit baginya untuk mengarahkan. Namun apakah itu benar yang mereka inginkan? Belum tentang seleksi yang akan dilakukan sekolah jika ada siswa yang tak berpotensi dalam suatu ekskul.

“Ya kalau kamu keberatan, aku sih nggak bakal jamin Ayyara akan baik-baik aja,” ancam Metha membuat Arata menatap tajam ke arahnya. “Tahu sendiri ‘kan, dia justru menantangku dengan bilang apa adanya tentang hubungannya dengan Ardian. Menurutmu apa aku bisa diam aja?”

Arata menghela napas panjang. Posisinya kini terjebak dalam permainan Metha. Dia tak bisa mundur jika tak ingin Ayyara terluka. Maju pun akan membuat posisinya semakin sulit. Arata tak menyangka jika Metha pandai mengambil kesempatan.

“Kupikir kamu tak punya kesempatan lain. So, aku anggap diammu itu berarti setuju,” simpul Metha sebelum meninggalkan Arata.

Cowok itu hanya mengacak-acak rambutnya hingga berantakan. Ia kesal karena tak sanggup berbuat banyak hal. Terlebih dalam melindungi Ayyara dari ulah keterlaluan Metha. Lagipula, bukannya dia dan Ardian sudah putus? Kenapa masih overprotektif sama mantannya? Arata tak mengerti, mengapa kehidupan SMA-nya mendadak begitu rumit.

1
Icha Akim
kapan dilanjut lagi
Keisya ayu wandira
g sabar nunggu lanjutannya..ganbatte kudasai kak yoru
Jasmine
asiiiikkkkk up ny stlh sekian purnama.
semangaaattttt
Icha Akim
😍😍💐💐💐💐💐💐💐
Icha Akim
alhamdulillah ....semoga sehat terus biar bisa lanjutin MHS dan PULANG💪💪💪💪
Jasmine
ceritany kerreeennn.
dtunggu up ny thor.
semangatttt
Zullya dewi Suryani
tulisan Yoru tu keren2 tp knp yg like sedikit
Zullya dewi Suryani
aku selalu suka tulisan Yoru
Sri Dinar
setia menantimu thor
Icha Akim
masih sabar menunggu
Icha Akim
kapan up lagi thor
rayya oey
like
cinta sejati tidak akan pernah pudar hanya karena terhalang oleh jarak dan waktu.tapi cinta sejati itu akan bersemi karena rasa saling percaya dan kesetiaan
Araya n Ayyara...Miss you all...
cinta sejati tidak akan pernah pudar hanya karena terhalang oleh jarak dan waktu.tapi cinta sejati itu akan bersemi karena rasa saling percaya dan kesetiaan
kpn up LG kak Yoru??aq tungguin....
Ari Eka
semangat up nya thor
bagus cerita2 nya
Jingege54
humm mantap thor 😆 lanjut terooosss jangan patah semangat 💙💪 kutunggu terus kelanjutannya thor 😉 up up up lagi crasy up!

feedback ya thor ke novelku Pendekar Wanita Dari Masa Depan 💙 gege tunggu di sana😆
rayya oey
like
writer in box
salam dari iya dia istriku kisah ketulusan seorang suami yang merawat istrinya yang menderita ganguan jiwa/skizofrenia. Boom like dari iya dia Iya dia istriku💪💪🥰🥰🥰
Rindu F.
jadi inget masa SMA thor. aktif kegiatan ini itu. 😢
Sivia
Thor, Ayyara gak mungkin sama Jo, kan? Duh, plis Thor biarin Ayyara sama Arata aja deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!