IG : margaretraegis 😎follow yak
SEASON 1 🛑 THE GEISHA AND MOMIJI DREAM
SEASON 2 🛑 NON POSSO VIVERE SENZA DI TE
SEASON 3 🛑 LOVE ME OR KILL ME
SEASON 4 🛑 YOUR SUGAR BABY WANNA BE
😘 JANGAN KEDER AMA PART BANYAK karena sebenarnya cuma 60-70rb word per season
Berlatar belakang keluarga Mafia dunia, Yakuza dan Triad Asia, Cosa Nostra Italian, dan Galician Spanish Family.
Series ini akan berisi 3 cerita dengan detail dunia yang berbeda.
Setsuko dipaksa menjadi Geisha diumurnya yang 17 tahun oleh Bibinya. Tak ada yang bisa dilakukannya, Ayahnya terbunuh dengan tragis di perkelahian Geng Yakuza.
Saat dia berada di titik terendahnya, seorang datang padanya, memberi sedikit kata-kata penyemangat untuknya dibawah guguran daun Momiji yang menguning dibawah kakinya.
Mungkin dia tidak tahu tapi saat dia bertemu lagi di Gion, laki-laki itu masih mengingat namanya. Dan tak dia-nya Setsuko menyukai kebaikan yang berbekas di hatinya itu.
Apakah mereka akan bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Margaret R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
THE GEISHA AND MOMIJI DREAM Part 9. Derrick Tan
Dalam pembicaraan kami tadi aku berhasil mengumpulkan informasi soal kehidupan pribadinya, pria 43 tahun itu tampaknya sedang sendiri. Entah apa yang terjadi tapi aku menyimpulkan dari sebuah kalimat Hisao.
"Lain kali bawalah satu gadis kerumah brother, supaya kau tak sendirian lagi. Kau masih muda belum renta, atau biarkan Setsuko menjodohkanmu di Gion."
"Ternyata Tuan Derrick ini sedang sendiri sekarang? Tuan Derrick orang semenarik Anda, wanita mana yang menolak Anda?" Aku bercanda, tapi sebenarnya aku sedang mengorek supaya dia bercerita, belum pernah aku sepenasaran ini mengorek seseorang, mungkin karena dia matang, masih terlihat muda dan terutama aku menganggapnya orang yang baik.
Dia tertawa kecil.
"Saya hanya sedang perlu waktu buat diri saya sendiri." Perlu waktu untuk dirinya sendiri, hmm... itu membuatku berpikir banyak hal.
Dia tidak mengumbar kehidupan pribadinya. Pancinganku tak berhasil. Jadi sekarang aku tambah penasaran padanya.
Aku mengengam ponselku, bolak balik antara mau menelepon atau tidak. Ini belum terlalu malam apa sopan menelepon nya, sudah malam mungkin dia sudah istirahat?
Apa aku lebih sopan mengirimkan pesan saja, menjelaskan kenapa jika bisa aku mengundangnya makan malam. Aku hanya ingin bisa bicara padanya lagi... Hanya bicara harusnya tak apa bukan.
Mungkin lebih baik mengirim pesan saja dulu... Daripada lansung meneleponnya, bisa saja dia tak mau menggangkat telepon dari orang yang tak dia kenal. Aku memutuskan kemudian.
'Tuan Derrick Tan, saya Setsuko Takahashi, Anda pernah memberi saya nomor telepon Anda jika Anda tak keberatan bisakah saya menelepon.'
Aku menunggu jawabannya dengan berdebar. Beberapa lama tak ada jawaban. Jika tak ada jawaban aku tak akan berani menelepon sekarang.
Layarku berkedip dengan pesan darinya.
"Sure." Bisa, aku hampir meloncat kegirangan.
Aku menekan tanda call. Dan berdebar menunggu nada sambungku diangkat.
"Hallo..." Suara baritonnya membuatku sedikit berdebar.
"Tuan Derrick, selamat malam. Saya harap saya tidak menggangu."
"Setsuko-san, tentu tidak. Apa ada yang bisa kubantu untukmu?"
"Ahh sebenarnya saya bukan mau meminta bantuan, jika boleh saya ingin mengajak Tuan Derrick makan malam besok. Saya belum pernah punya kesempatan mengucapkan terima kasih..."
"Ohhh terima kasih untuk apa?" Dia tidak merasa melakukan apapun, padahal sepuluh tahun yang lalu perkataannya membuatku bisa melewati hidup lebih baik.
"Mungkin kenyataan bahwa sepuluh tahun lalu karena ada seseorang yang mengenal Ayah dan menghargainya, saya merasa kata-kata Tuan saat itu sangat berarti..."
Dia diam sebentar, mungkin dia merasa tidak yakin apa yang kukatakan dan tidak merasa melakukan sesuatu yang signifikan saat itu.
"Saya sebenarnya tidak yakin apa yang saya katakan saat itu. Mungkin karena saya juga punya pengalaman hidup telah ditinggal orang tua sejak muda saya mengerti posisi Anda. Tapi Anda tidak pernah berhutang apapun pada saya , entah bagaimana saya yang merasa perjalanan saya saat itu adalah perjalanan yang juga menyedihkan buat saya..."
"Aku mengerti apa yang Tuan katakan. Saya hanya ingin bisa bicara lebih banyak, tapi sudut pandang kita berbeda ... Anggap saja saya merasa sedikit membalas kebaikan Tuan saat itu. Saya harap Tuan tidak menolaknya, saya punya waktu terbatas, dan mungkin dimasa depan kita akan sangat jarang punya kesempatan bertemu."
Dia tampaknya menimbang perkataanku. Aku berdebar-debar menantikan apa perkataannya selanjutnya.