Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.
Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.
***
Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.
Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?
~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"
"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Kandidat
Menikah...
Ta'aruf...
Solusi terbaik selain dari itu?
Lova masih sekolah.
Jaman sudah ngeri.
Ada hal dan pelajaran yang ngga bisa ayah juga bunda ajarkan pada Lova. Bahkan terbatas....
Apa Lova sudah siap?
Siapa calonnya?
Ayah dan bunda masih berdebat pasal itu.
Ayah lantas mencari waktu untuk bertemu dengan seseorang.
Lova turun dari kamarnya dengan pakaian seragam lengkap. Masih dengan wajah malas sedikit muramnya, Lova meraih punggung tangan ayah dan bunda untuk ia kecup.
"Pagi, yah...bun..." sapanya, ia duduk dalam kediaman dan memilih menikmati saja apa yang sudah disajikan di depannya. Meski tak begitu kentara, bahkan menurut Lova, ia sudah baik-baik saja saat ini. Namun lain cerita dengan pengamatan ayah dan bunda.
Hal pertama yang ayah dan bunda lakukan justru saling pandang dengan interaksi yang tak dapat dijabarkan selain dari kebingungan dengan perubahan Lova yang biasanya akan heboh di meja makan.
Lantas bunda hanya mengambil sikap menggenggam tangan Lova saat anak gadisnya itu tengah mengunyah, "kapan mulai try out-try outnya nak? Kok bunda belum dapet info dari Lova, cuma kemaren...umi Khotijah bilang, anak bungsunya udah mulai milih-milih kampus. Emangnya ini bulan apa sih?" liriknya pada sang suami, bergantian pada Lova.
Sejauh ini ayah mengangguk setuju dengan keputusan bunda untuk mengajak Lova berbicara, setidaknya obrolan tentang try out, ujian, kelulusan dan kuliah bisa mengalihkan perhatian sang putri dari masalahnya. Lagi pula, ia cukup greget saja....cuma masalah patah hati, putrinya itu membuat ibunya geger dan dirinya ikut-ikutan parno.
"Masih lama kayanya bun." Jawab ayah dan Lova mengangguk, "masih lama bun. Lova belum kepikiran sampe situ, masih----" Lova menelan kembali ucapannya seraya menggeleng dan menggantung itu di bibir tanpa berniat melanjutkannya, ia lebih memilih makan saja dengan khusyuk, padahal ayah dan bunda sudah menunggunya bicara.
Kembali, ayah dan bunda saling melempar tatapan ketika itu terjadi.
"Lova,"
Lova mendongak saat bunda memanggil namanya lirih, ia hanya menatap intens saat bunda justru melempar tatapannya pada ayah, membuat Lova ikut menatap ayahnya, "kenapa bun?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
\_Afif\_
"Afif..."
Pria ini baru saja keluar dari gedung kampus saat matanya jatuh tertumbuk ke arah dua sosok lelaki yang berdiri bersender di kap sebuah mobil Pajero hitam, dimana pohon rindang dekat anjungan tunai mandiri parkiran kampusnya---masih tertanam kokoh memberikan keteduhan---dan salah satu diantara mereka rupanya adalah sang abi.
Abi Insan datang bersama ayah Agas, keduanya sudah menunggu Afif di parkiran sejak 10 menit yang lalu. Dimana dosen fakultas adab dan humaniora itu cukup terkejut dibuatnya.
Sekitar pukul 10 tadi, abinya tiba-tiba menghubungi Afif dan memintanya untuk bergabung dalam obrolan siang nanti bersama om Agas. Namun ia tak menyangka jika keduanya sampai bela-belain menyusul ke kampus, itu artinya...ada sesuatu hal yang penting dan tak bisa ditunda-tunda.
Semalam, selepas mengganggu waktu istirahat Abi Insan dan istri hanya untuk berkeluh kesah serta meminta saran, akhirnya ayah Agas dan abi Insan membuat janji bertemu siang ini, setelah Afif selesai mengajar.
"Abi, om," lirihnya mempercepat langkah. Tak jarang Afif juga menebar anggukan dan senyum singkat saat beberapa mahasiswanya berpapasan dengannya.
*Pak Afif*,
*Pak*.
Ia berjalan menghampiri abi dan ayah dari Lova itu, cukup penasaran dengan hal penting yang ingin abi dan temannya itu obrolkan, kenapa harus melibatkannya, apa tentang perkembangan mengaji Lova?
"Loh, bi...Afif kira mau janjian di tempat. Kenapa mesti sampe nyusul kesini?" ia menyalami kedua ayah itu, yang keduanya menatap Afif dengan senyuman.
"Baru keluar ya, Fif? Waduh, kayanya kita kecepetan Mas San? Maaf, ya Fif...saking excitednya nih..." ujar tak enak ayah Agas digelengi abi Insan.
"Ndak papa. Toh Afif juga sudah selesai." Ujar bapak berwajah teduh itu, meski kerutan tak dapat lagi tersamarkan, janggutnya masih hitam, belum memutih seluruhnya.
Kini pandangannya beralih pada sang putra sulung, "iya to Fif?"
"Njih, bi. Kebetulan ngajarnya sedikit santai hari ini, om. Cuma ngisi 2 kelas saja. Mau ngobrol dimana, om, abi? Mau sambil ngopi atau makan si...ang tepatnya?" tanya Afif sambil menatap arloji yang telah menunjukan waktu lewat dzuhur.
"Cocok. Makan aja lah, yuk! Biar nanti bisa berpikir jernih, sambil liat air kobokan..." kelakar ayah Agas menunjuk ke arah mobil.
"Boleh om, boleh. Gimana, bi?" angguknya beralih ke arah abi, "iya. Sambil makan siang saja." Namun kemudian Afif pamit untuk mengendarai mobil pribadinya saja, sementara abi dan om Agas berada di mobil milik om Agas.
"Om atau abi yang pilih tempat, saya ikut di belakang..."
"Waduhhh, saya kurang tau rumah makan enak daerah sini.." kembali pandangannya beralih pada Insan, "mas, kamu tau?"
"Saya jarang jajan di luar, Gas, lebih senang masakan uminya anak-anak...biar Afif saja yang pilih, Fif...kamu aja yang pilih." Pinta abi pada Afif.
Mau tak mau Afif mengangguk, sebagai tuan rumah di kawasan ini, ia cukup familiar dengan warung makan sekitar kampus. Meskipun ia tak tau apakah akan sesuai selera om Agas atau tidak, beda cerita dengan sang abi yang memang doyannya ikan.
Sebuah rumah makan yang tak terlalu besar tapi tak kecil juga, dengan makanan rekomendasinya ikan gurame terbang dan sambal cibiuknya menjadi pilihan Afif siang itu.
Cuaca sedikit mendung, padahal kondisi hati ayah Agas sudah berkabut sejak tadi!
Wajah Afif begitu teduh, tenang nan kalem begitu pula dengan abi Insan.
Beberapa kali ayah Agas mencuri pandang melihat putra dari sahabatnya itu. Yang sudah sejak lama--ia mengagumi anak-anak dari mas Insan itu. Didikan Insan pada kedua putranya sungguh luar biasa, baik Afif maupun Uqi.
Seorang pramusaji membawa segelas es teh manis dan dua gelas es kopi terlebih dahulu. Pandangan ayah, abi serta Afif mengikuti gerakan pramusaji dengan mengarahkan gelas masing-masing, seperti detik-detik slow motion begitu...
"Saya selalu kagum sama cara mendidik mas Insan terhadap Afif sama Uqi. Yang bahkan, jika dibandingkan dengan saya, yang cuma punya satu anak saja, rasanya jauhhh sekali, mas..." ujar ayah Agas lirih memancing Afif untuk menyimak dan abi Insan tertawa renyah, "bisa saja kamu, Gas. Ya sama saja seperti orangtua lain. Saya kepengen yang terbaik untuk anak."
Afif mengurai senyum, "cara om juga sudah benar. Jaman sekarang anak remaja banyak yang kurang dibekali ilmu agama. Yang dikejar dan dijejali hanya akademik duniawinya saja. Dan berimbas pada akhlak mereka..." balas Afif menyedot es kopinya di kerongkongan yang terasa kering.
Abi Insan mengangguk setuju, "apalagi anak gadis, saya salut sama kamu Gas, kamu begitu sayang pada Dealova."
Ayah Agas jelas hanya mengehkeh sumbang, "dan untuk itu pun Afif yang mengajarkan Lova, mas. Karena saya akui, saya dan istri belum se-paham mas Insan dan keluarga...selain saya hanya percaya kamu, Fif...kalau kamu pasti mampu menggantikan peran saya nantinya."
Afif mulai mengernyit dengan ucapan om Agas yang dirasa mulai mengarah pada topik ambigu itu, hanya saja ia tak sampai hati untuk menerka-nerka.
Om Agas sempat menelan salivanya sulit demi bicara hal penting ini dan ia memandang abi Insan demi mendapati ekspresi Afif seolah sedang meminta pendapat.
Anggukan yang diiringi senyuman abi Insan rupanya mampu memberikan kekuatan untuk ayah Agas bicara selanjutnya.
"Fif, bolehlah saya mengutarakan keluh kesah saya dan istri belakangan ini?"
(..)
Santap siang pesanan mereka bahkan baru sampai, namun mendadak perut Afif sudah kenyang dengan obrolan berat siang ini. Demi apa? Telinganya itu tidak salah dengar? Om Agas dan istri akan menjodohkan Lova? Melakukan ta'aruf di saat usia Lova masihlah seorang pelajar, yahhh meskipun gadis itu memang sebentar lagi lulus sekolah? Tapi yang benar saja, kedewasaan Lova bahkan patut dipertanyakan.
Abi Insan berdehem demi menanggapi ucapan ayah Agas.
"Niatmu sudah baik, Gas. Tapi apa ini sudah dipikirkan matang-matang? Melakukan ta'aruf untuk Lova di usianya? Yakin kamu?"
Kini pandangan ayah Agas terasa lebih sendu, abi Insan dapat merasakan kekhawatiran, kekalutan dan ketakutan seorang ayah di mata Agas. Sementara Afif, ia hanya tak habis fikir saja dengan pikiran om Agas.
"Mas Insan pasti tau dan paham dengan apa yang saya rasakan. Akhir-akhir ini Lova...."
Ayah Agas menjelaskan kondisi Lova belakangan ini pada keduanya. Dan Afif kini paham akan alasan yang membuat Lova begitu, "oh, jadi karena patah hati, Lova jadi begitu om?"
Ayah Agas mengangguk, "kamu juga tau kan, Fif?"
"Saya dan istri hanya takut Lova...." ia tak melanjutkan ucapannya, semua ketakutan yang ada di otaknya itu, bahkan tak ingin ia kemukakan.
"Saya paham," angguk abi Insan.
"Saya dan istri ingin Lova mendapatkan pasangan yang soleh. Mampu membimbingnya, mengayomi...sama-sama berjuang untuk ridho Allah, mas."
Mendadak suasana yang semula dihiasi kelakar dan candaan itu berubah jadi sendu, "saya akan sangat bahagia, jika sudah bisa mengantarkan putri saya pada seorang calon imam yang mampu membawanya meraih jannah Allah, tunai rasanya tugas saya...jikalau esok atau lusa saya dan istri tak bernafas lagi. Lagi pula ada pelajaran hidup, yang terbatas untuk saya dan istri ajarkan terhadap Lova...anggaplah ini adalah bentuk kasih sayang saya dan istri untuk Lova."
Entahlah, jika membicarakan Lova...ayah Agas selalu merasa khawatir. Afif hanya bisa menanggapinya dengan anggukan saja.
"Saya tau, mas Insan pernah melakukan itu. Menjadi jembatan untuk ta'aruf beberapa kawan di pesantren. Kali ini, saya yang mau minta tolong...barangkali Afif pun punya beberapa kandidat untuk Lova, sebagai seorang yang saya percaya?" kini tatapan memohon ayah Agas jatuh pada Afif.
Seolah menjadi beban besar, permintaan ayah Agas cukup membuat Afif dilema, "waduh om...saya belum pernah..."
"InsyaAllah..." jawab abi Insan, "beberapa cv nanti saya siapkan. Hanya saja mungkin...."
Afif menoleh pada abinya, "abi yakin? Mau bantu om Agas? Tapi Lova..."
"Selama itu niatan baik, abi akan bantu..."
"Maaf om, menurut Afif...sebaiknya diurungkan saja. Mengingat Lova masihlah seorang pelajar, saya juga sangat paham bagaimana sifat Lova, sudah pasti dia akan menolak. Anak muda jaman sekarang beda dengan anak muda di jaman para syuhada."
"Sepertinya kamu lebih memahami Lova dibanding siapapun, Fif?" kini abi berbalik menatap Afif membuat ayah Agas ikut menatapnya dengan senyuman, sorotan matanya menyiratkan harapan besar pada Afif.
Sadar akan tatapan kedua ayah itu padanya, Afif mengatupkan mulutnya. Sejenak, ia memandang embun yang berjatuhan dari gelas es kopi miliknya, dimana isinya hanya tinggal setengah.
"Saya belum punya rekomendasi calon untuk Lova, bi...om." Singkatnya.
"Atau justru kamu mau mencalonkan diri, Fif?" tembak abi cepat, praktis Afif menoleh cepat pada abi dan om Agas.
.
.
.
.
.
jgn bikin ambyaaarrrr teh sin
pas Afif tau tentang Afnan
jujur kpn va tentang Afnan ny
Va bukan dibuang ajj sih kertas ny