Hidup adalah perjuangan, begitupun dengan cinta. Khanaya
Jika Cinta kita berakhir, maka berjuanglah untuk memulai semuanya dari awal lagi. Adrian
Sepasang kekasih yang menjalani hubungan mereka dengan suka cita. Namun semuanya harus terhalang oleh masa lalu si pria yang membuat Dia harus meninggalkan kekasihnya.
Namun, siapa sangka kesalah fahaman semakin terjadi saat si pria berada jauh dari pemilik hatinya. Kesalah fahaman ini membuat cinta mereka berakhir. Sampai suatu saat mereka di pertemukan kembali dan memulai semuanya dari awal lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 7
Setahun lamanya, Arnold baru bisa menemukan Maria dan anaknya. Tapi sayang, lagi lagi Dia tidak bisa berkutik dengan permintaan Ibunya. Bahkan untuk menemuinya saja, Arnold tak berani. Terlalu malu untuk berhadapan dengan wanita yang telah di sakitnya.
Katakanlah Dia bodoh, memang itu kenyataannya. Arnold yang tidak mau membantah perkataan Ibunya, juga tidak mau membuat Ibunya kecewa. Kepatuhan Arnold inilah yang di manfaatkan Ibunya untuk membodohinya.
Arnold harus menikah dengan wanita pilihan Ibunya. Jika Arnold menolak maka Ibunya mengancam akan menghancurkan kehidupan Maria dan anaknya. Di situlah Arnold tahu bagaimana sifat asli Ibunya. Entah apa yang telah merasuki Ibunya hingga bisa berbuat setega itu.
"Maria...." lirih Arnold, rasanya semua kata yang ingin Dia ucapkan tercekat di tenggorokan nya.
"Cukup Arnold!! Aku tidak akan memberikan anaku sama kamu sampai kapanpun" tegas Maria
"Aku mohon, izinkan aku menemuinya. Izinkan Dia tahu kebenaran nya. Aku hanya ingin melihatnya, kau tahukan kalau aku tidak punya anak lagi selain Adrian. Jika Adrian tinggal bersamaku, kau masih punya dua anak lagi. Sementara aku tidak puny......"
"Cukup... Punya atau tidaknya aku anak lain, aku tetap tidak akan melepaskan Adrian kepada mu" tegas Maria memotong ucapan Arnold
"Kau harusnya mengerti Maria, selama ini kalian tidak bisa memenuhi keinginan Adrian. Jika bukan karna atm dan black card dariku, semua keinginan Adrian tidak akan terpenuhi"
Terpaksa Arnold harus berkata seperti itu, Dia tidak berniat merendahkan Maria ataupun Deni. Tapi, ini adalah cara terakhir supaya Maria mau membiarkan Adrian tinggal bersamanya.
"Kau benar benar ayah tidak punya malu ya. Jika memang semua fasilitas yang kau berikan untuk Adrian itu mmebuatmu harus mengambil Adrian dariku. Maka ambil saja semuanya, aku masih bisa menghidupi putraku tanpa bantuanmu" tegas Maria
"Maria ku mohon, setidaknya izinkan aku bertemu dengan putraku. Izinkan Dia mengetahui semuanya. Akulah ayah kandungnya, jadi aku juga berhak atas Dia" kata Arnold
"Kenapa baru sekarang? Selama ini kau kemana saja Hah?" Tanya Maria sinis
Arnold menunduk, Dia sadar atas semua kesalahan nya dulu "Maafkan aku Maria, aku sadar aku lelaki bodoh yang dapat di bohongi begitu saja oleh Ibu. Tapi, percayalah sekarang aku sudah tidak bisa lagi di atur oleh Ibuku"
"Aku akan menyayanginya dan menebus segala kesalahanku selama ini. Ku mohon izinkan aku menemuinya Maria"
"Tuan" Sang asisten yang dari tadi hanya diam saja kini bereaksi saat melihat Arnold berlutut di hadapan Maria.
Bagas Julian, asisten dan juga sepupu Arnold ini tahu betul bagaimana kisah cinta mereka yang kandas karna kelicikan Ibu mertua juga kebodohan sang suami.
"Aku mohon, Maria izinkan aku bertemu dengan anaku. Izinkan aku memeluknya dan meminta maaf langsung padanya" mohon Arnold
Laki laki tangguh yang selalu berdiri tegap dengan tatapan dingin dan sikap tegasnya kini harus bertekuk lutut pada seorang wanita yang sangat di cintainya, dulu, sekarang dan seterusnya.
"Bangunlah Arnold, aku tidak mau di cap kejam oleh mantan adik iparku itu" kata Maria melirik pada Bagas
Meski Bagas hanya sepupu Arnold, tapi Dia sudah tidak memiliki orang tua lagi. Jadi, Dia sudah d angap sebagai adik kandung Arnold sendiri.
"Aku tidak peduli, saat ini aku hanya ingin kamu memaafkan atas semua kesalahanku selama ini. Aku mohon Maria" kata Arnold menatap sayu pada mata Maria
"Bangunlah, aku sudah memaafkanmu" kata Maria
Sebisa mungkin Maria untuk membenci mantan suaminya ini. Tapi, hatinya tidak bisa membenci Arnold. Terlalu banyak kenangan indah di antara mereka, meski semuanya harus berakhir dengan kesalah fahaman.
Arnold menatap dalam mata indah pemilik hatinya sampai saat ini. Maria masih bertahta di hatinya, tidak ada yang bisa menggantikannya termasuk istrinya.
"Bangunlah" kata Maria lagi
Bagas membantu Arnold berdiri dan kembali duduk di tempatnya tadi "Terimakasih karna sudah memaafkanku Maria. Tapi, apakah kamu masih bisa membantuku untuk bisa bertemu dengan Adrian"
Maria menghela nafas berat, Dia sadar mau bagaimana pun keadaannya Adrian tetaplah anaknya Arnold.
Meskipun dulu Arnold sempat meragukan anak yang di kandung olehnya. Namun, pada akhirnya kebenaran tetap akan terungkap.
"Baiklah, tapi kau bisa menemui Adrian nanti saat kelulusannya. Sekitar 7 bulanan lagi" kata Maria
Semoga keputusanku adalah yang terbaik untuk Adrian. Cepat atau lambat Adrian juga harus tahu siapa ayah kandungnya.
"Terimakasih Mar, aku benar benar sangat berterimakasih atas kebaikan mu. Aku janji akan menemui putraku saat kelulusan nya" kata Arnold. Maria hanya tersenyum
Aku masih ingat, dulu Adrian pernah berkata kalau Dia ingin melanjutkan kuliahnya di Ibu kota. Apapun keputusannya asal Dia bahagia aku akan mendukungnya. Maria
...🐦🐦🐦🐦🐦🐦...
"Ayo" Adrian menggandeng tangan Naya, mereka berjalan keluar kelas dengan tangan bergabdengan.
"Langsung ke Cafe aja ya" kata Naya
Adrian memakaikan helm pada Naya "Langsung kerja? Gak cape apa?" Ada gurat khawatir di wajah Adrian
Khanaya tersenyum "Gak kok, Naya kan udah biasa. Hari ini ada acara di Cafe jadi Naya harus pergi lebih awal"
Adrian menghela nafas kasar, sebenarnya Dia merasa sangat kasihan pada Naya. Kekasihnya ini selalu saja terlihat ceria dan baik baik saja, tapi Adrian tahu kalau Naya merasa lelah. Terlihat dari matanya yang terlihat lelah di pagi hari.
Meski tidak pernah mengatakan apapun, tapi Adrian mengerti kalau Naya lelah. Namun, gadis ini terlalu tegar untuk mengeluh dengan kehidupan yang di hadapinya.
"Ayo naik" kata Adrian setelah menyalakan motornya
Naya naik ke jok belakang motor Adrian dengan berpegangan pada bahu kekasihnya. Motor melaju setelah memastikan Naya duduk dengan nyaman.
Sesampainya di depan Cafe, Adrian memberhentikan motornya. Naya segera turun dari motor Adrian dan membuka helm.
"Kamu kan belum ganti baju Yank? Kok langsung kesini, gak pulang dulu?" Tanya Adrian
"Gak akan keburu, lagian aku udah bawa baju seragam aku di tas" jawab Khanaya
Adrian mengelus kepala Naya dan mencium keningnya "Jangan terlalu lelah ya, aku masih bisa kok tanggung semua kebutuhan kamu. Apa kamu mau berhenti kerja aja?"
Naya menggeleng "Gak perlu Sayang, lagian aku belum menjadi tanggung jawab kamu"
Mungkin sudah tidak terhitung lagi berapa kali Naya mengatakan itu. Bukan baru kali ini Adrian menawarkan itu, tapi selalu saja di tolak oleh Naya.
"Baiklah, kalau gitu aku pulang dulu ya. Jaga diri, jaga hati, jaga mata. Jangan sampai kamu tergoda oleh pelayan laki laki di cafe ini" peringatan Adrian
Khanaya tersenyum, meraih tangan Adrian dan mengecupnya "Iya Adrianku Sayang"
Adrian tersenyum bahagia, kalimat rayuan yang di ucapkan Naya membuatnya begitu bahagia.
"Aku mencintaimu, aku pergi dulu" Adrian sudah mulai menyalakan motornya
"Aku juga mencintamu"
...🐦🐦🐦🐦🐦🐦...
"Kenapa kau tidak langsung membawanya kesini?" Suara Nyonya besar di rumah itu memenuhi ruang kerja Arnold
"Ibu lupa? Bagaimana dulu Ibu sangat membenci Maria dan tidak mau mengakui putraku sebagai cucu Ibu. Sekarang dengan mudahnya Ibu menyuruhku membawa Adrian kesini setelah apa yang kita lakukan pada mereka" kata Arnold
Kesabarannya sudah menipis, cukup selama ini Arnold selalu menuruti semua keinginan Ibunya. Sampai Dia tidak bisa membedakan mana yang fakta dan mana yang dusta. Kini, Arnold sudah bisa mengambil keputusan sendiri.
Kebaikan Adrian dan kebahagiaan Adrian adalah segalanya untuk Arnold. Tidak mau Dia menyakiti perasaan anaknya, seperti apa yang pernah Dia lakukan pada Ibunya.
"Kau benar benar sudah berubah ya Arnold. Kau tidak lagi patuh pada Ibu, wanita kampung itu benar benar telah merubahmu" kata Nyonya Alice
"Cukup Bu!! Selama ini aku selalu menuruti semua perkataan Ibu. Bahkan aku tidak pernah menaruh curiga pada Ibu saat memfitnah Maria. Tapi, apa yang ku dapat sekarang? Aku tidak mendapatkan kebahagiaanku Bu. Istri yang Ibu pilihkan untuku tidak lebih baik dari mantan istriku" kata Arnold tegas
"Ceraikan saja Dia, Ibu sudah bosan melihat kelakuannya yang semena mena. Seolah olah Dialah ratu di rumah ini" kata Alice
Arnold tersenyum sinis "Dialah wanita pilihan Ibu, yang selalu Ibu banga banggakan sampai Ibu tega memfitnah Maria"
"Sudahlah, sekarang tugasmu adalah bisa membawa cucuku secepatnya"
"Hahaha. Sejak kapan Ibu menganggap nya cucu? Apa sejak aku tidak bisa lagi memiliki anak dan istriku yang tidak bisa mengandung" Arnold tertawa getir
Hidupnya terlalu banyak cobaan, niat hati ingin berbakti pada Ibunya. Malah Dia yang terjerumus dengan kepatuhannya pada Ibunya. Arnold harus kehilangan kebahagiaan nya, anak dan istrinya.
"Arnold, mau kemana kau" teriak Nyonya Alice saat melihat anak satu satunya itu pergi meningalkan ruang kerja tanpa menghiraukan teriakannya.
Bersambung
ku tunggu karya slanjutnya kak😉
thank kaka akhirnya happy ending ,