NovelToon NovelToon
CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:691.2k
Nilai: 4.8
Nama Author: amel

Entah hanya sebatas mengagumi atau sudah lebih dari batas kekaguman akan sosok laki- laki yang tak pernah bisa ku genggam.

Karna semakin kucoba untuk menggapainya maka akan semakin jauh dalam genggaman,

Kamu bagaikan bintang di langit malam, semakin terang di hati ku, tapi semakin berada jauh di atas sana

*Khanza

Sebenarnya aku juga mengagumi mu, tapi aku terlalu malu untuk mengungkapkannya. Bahkan bukan hanya sekedar mengagumi, tapi aku sudah jatuh hati kepadamu.

Tetapi maaf! Karena penampilanmu yang selalu di pandang sebelah mata dengan orang orang di sekitarmu, menjadikan aku gengsi akan memilikimu.

*Arif

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter-08~Kantin

Khanza terbangun di pagi hari, meskipun baru beberapa jam tertidur dan masih merasakan kantuk, dia memaksakan dirinya bangun dan segera mandi. Sengaja memasang jam alarm karena takut bangun terlambat.

Sesorang yang sudah berjanji ingin menjemputnya kesekolah hari ini membuatnya semangat bangun pagi, meskipun dengan langkah gontai dia memasuki kamar mandinya.

Setelah selesai membersihkan diri dia bersiap dengan seragam sekolahnya, ada sebuah notif pesan di hpnya, bergegas membaca karena ada nama Arif yang tertera di layarnya.

💌"Za, maaf banget ya? aku nggak bisa jemput kamu hari ini🙏"

Khanza mengerutkan dahi dan memanyunkan bibirnya Khanza membalas pesan dari Arif.

💌"Nggak papa Rif! nanti biar aku berangkat sendiri aja."

Khanza langsung memasukkan Hpnya ke kantong sakunya, turun ke bawah untuk sarapan bersama keluarganya.

"Pa! aku bawa mobil sendiri ya hari ini?" ucap khanza dengan muka memelas dan tatapan pupy eyesnya.

"Biasa aja mukanya!" ucap Zay, mencubit hidung Khanza karena kalau adiknya bertingkah seperti itu membuatnya gemas.

"Ih Kakak ...! Sakit tau ...?" Rengek Khanza memegang hidungnya.

"Makanya! mukanya jangan di buat buat!" cibir Zay seolah tidak perduli dengan rengekan adiknya.

"Sudah ... sudah! kalian ini selalu saja!" Papa Khanza menegur keduanya. "Bawa mobilnya harus hati-hati, Za!" ucap Papa Khanza lagi.

"Siap Papa .... Papa memang yang terbaik," ucap Khanza mengangkat tangan hormat.

"Ayo makan! ini Kakak masakin sop kesukaan kamu!" ucap Zihan kaka ipar Khanza.

"Yeay ...! Kakak ipar selalu mengerti aku," ucap Khanza bersorak kegirangan dan memeluk Zihan dari samping.

"Biasa aja, nggak usah lebay!" ucap Zay.

"Mas, jangan di mulai lagi deh!" tegur Zihan, langsung menengahi. Kalau tidak, bakalan ada debat lagi dan tidak akan kelar-kelar makannya. Khanza yang merasa di bela Zihan, menjulurkan lidahnya ke arah Zay.

Bukan Zay, jika sehari saja tidak menggangu adiknya. Dia suka sekali merebut makanan kesukaan adiknya itu, hanya untuk menggoda sang adik dan akan berakhir debat oleh keduanya. Khanza juga sama jahilnya dengan Zay, dia terkadang mengambil makanan yang sudah berada di piring sang kaka.

Keributan seperti itu sudah menjadi rutinitas di meja makan. Selalu mendapat teguran dari kedua orang tuanya atau kakak Iparnya, tetapi akan selalu terjadi dan terjadi lagi. Mereka bertiga hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kakak beradik itu. Kalau saja salah satu tidak ada, pasti meja makan akan sepi.

Apa bila Zay pergi keluar kota beberapa hari, Khanza akan malas makan dan selalu menelpon kakanya berkali-kali. Begitup pun Zay, kalau adiknya sedang pergi dan tidak ikut makan bersama, dia tidak nafsu makan.

Sejahat-jahatnya saudara mereka tetap lah saudara kita, dan sebaik baiknya orang lain tetap tidak akan pernah menggantikan posisi saudara kita. Sayangi lah keluarga mu selagi mereka ada bersama mu.

***

Halaman SMA Bhakti Bangsa.

Sebuah mobil hitam terparkir di halaman sekolah itu, Khanza keluar dari mobilnya dan menutup kembali pintu mobil itu. Begitu ingin melangkahkan kaki dia melihat Arif datang dengan membonceng Vera di belakangnya. Ada rasa kecewa di hati Khanza, apalagi melihat Arif yang melepaskan helm di kepala Vera, mereka begitu terlihat mesra.

'Sadar Za! mereka sangat cocok, kamu bukan siapa-siapa Za!'

Batin Khanza selalu ingin menguatkan dirinya, tetapi, hatinya tidak bisa sekuat itu, yang namanya luka walaupun tak terlihat akan selalu terasa sakitnya.

Berjalan memasuki Kelasnya dan berpura-pura tidak melihat dengan Arif. Arif yang melihat Khanza berjalan sendiri ingin menyapa tetapi, di urungkannya karena kedatangan Randra.

"Ciee .... yang lagi dekat!" goda Randra.

Vera yang tersipu malu mendapat godaan dari Randra, sedangkan Arif dia hanya tersenyum.

"Kekantin yuk? laper gue!" Ajak Arif.

Vera hanya membalas dengan anggukan sedangkan Randra yang mengikuti dari belakang pasangan baru itu. Mencoba mensejajarkan jalannya di samping Arif.

"Jadi obat nyamuk gue!" ucap Randra yang di tanggapi pukulan di bahunya dari arif.

Sedangkan Khanza terlihat lesu dan tidak bersemangat, dengan langkah gontai dia menyeret kakinya memasuki kelas.

Dea memperhatikan Khanza dengan penuh tanda tanya. Tidak biasanya Khanza seperti itu.

"Kenapa kamu Za, lesu gitu? sakit Za?" mencoba bertanya setelah Khanza duduk di sampingnya.

"Ngantuk De, habis begadang!" jawab Khanza membuat alasan agar sahabatnya percaya.

"Kita ke kantin aja yo!" Dea menarik tangan Khanza, yang di tarik pun hanya pasrah mengikuti.

Sesampainya di kantin, Khanza tidak menyadari kalau Arif, Vera dan Randra juga ada disana. Arif pun sama tidak tau kalau Khanza juga berada di kantin itu karena, posisi Arif yang membelakangi Khanza.

Randra yang melihat Dea menacari tempat duduk, dan ingin menduduki meja di samping Randra, langsung melontarkan jurus andalannya.

"Eh, cewe bar-bar? bisa makan juga lo? gue kira makanan lo batu?" sindir Randra.

Dea dan Khanza langsung menoleh ke asal suara, Dea yang tidak terima dengan perkataan Randra langsung membalas sewot.

"Gua bukan makan batu! tapi makan kadal kaya lo!" balas Dea.

Sedangkan Khanza bukannya melihat ke Randra, dia malah melihat ke Arif. Arif juga menatap Khanza. beradu pandang dengan tatapan yang sulit di artikan. Hanya diam tidak menyapa ataupun sekedar senyum.

"Dasar bar-bar" ucap Randra.

"Dari pada lo! playboy kadal!" balas Dea.

"Apa lo!" Randra melototkan matanya ke Dea.

"Apa!" Dea balas melototkan mata nya.

Vera cuma melihat Dea dan Randra bergantian, tidak tau harus apa dan bagaimana.

"Udah De, kalau kamu berantem terus mending kita balik ke kelas yu!" ucap Khanza mencoba melerai keduanya.

"Eh, ayo kita duduk Za! aku lapar tau!" ucap Dea langsung duduk dan melototkan matanya sekali lagi ke arah Randra.

Randra yang mengangkat bahu acuh kembali meminum-minumannya. dan kembali mengobrol dengan Arif dan Vera.

Khanza sesekali mencuri pandang dengan Arif yang sesekali juga memeperhatiakan Khanza. Khanza akan mengalihkan tatapannya ketika tidak sengaja mata mereka bertemu. Khanza yang selalu tersenyum mendengarkan cerita Dea dengan kehebohannya, Dea tidak perduli dengan sekitarnya, membuat Randra yang mejanya memang berdekatan merasa terganggu.

"Dasar cewe cempreng berisik!" kata Randra melempar tisu yang sudah di remasnya ke arah Dea. Tisunya tepat mengenai kepala Dea, dia membalas melempar tisu itu.

"Kalau berisik pergi sana!" balas Dea.

"Lo, yang pergi!"

"Lo, yang terganggu kan! Lo yang harus pergi" Masih saling lempar tisu dan masih sama-sama nyolot.

Arif dan Vera hanya menjadi penonton Drama mereka, Arif yang sudah terbiasa dengan keributan mereka tidak mau ambil pusing, paling juga berhenti sendiri pikirnya. Vera yang memang orangnya sedikit pendiam, apalagi dia ingin menjaga imagenya di depan Arif tidak mau ikut campur dengan urusan Randra.

Khanza sesekali menegur Dea untuk menyudahi tapi tidak di gubris oleh Dea, akhirnya dia cuma bisa menggelengkan kepala dan menonton perdebatan mereka yang akan berakhir sendiri.

kring-kring-kring!

Setelah bel masuk berbunyi mereka langsung meninggalkan kantin dan memasuki kelas mereka masing-masing. Randra dan Dea masih berdebat bahkan sampai memasuki kelasnya.

"Aku masuk ke kelas dulu ya?" ucap Vera dengan senyuman manisnya, yang di balas anggukan serta senyuman oleh Arif.

Khanza yang berada di belakang mereka hanya menatap dengan diam. Ingin marah tapi karena apa, ingin cemburu tapi bukan haknya untuk cemburu. Diam dan memendam semuanya sendiri, berpura-pura bahagia menutupi sebuah luka yang di rasa. Mencoba tersenyum di balik hati yang tersiksa.

*Khanza

*Arif.

1
☄dimpi3 🀄š🌕
aku suka faisal 😉
First Time
arif terlalu egois dan kanza terlalu lemah
Dhina ♑
aku lupa belum lanjut, bentar ya thor 🙏🙏
ƓáɓɓřįáÎexxa Ɲáşƴăvą Ȥ.
kek tau gw visualnya😳
tpi lupa namanyaa
Rasyifa Zora Naivira
Zia berteman sama Khanza dan Dea aja!
Rasyifa Zora Naivira
Arif
Arif itu Adalah pemain dari Film 'Chandranandini' UnU
Fix Author nya suka Film India:v
Widia nurasih
lanjut kk smofa kanzs dan aris smpe nikah dn slamanya yahh ... jgn lama2 kk nnty lupa ms critanaya
Dhina ♑
kasihan Khanza
Khanza: 🙏🙏🙏 mkasih kak sudah baca
total 1 replies
Dhina ♑
keren keren
Dhina ♑
ada Sofi disini
Dhina ♑
Arif...kenalan dong
TereLea(♥ω♥ ) ~♪
yuyuyu
Radin Zakiyah Musbich
seru thor... 🌮🌮🌮

ijin promo donk,

jgn lupa mampir di novel dg judul "AMBIVALENSI LOVE"

kisah cinta beda agama 🌮🌮🌮

ditunggu like and comment nya ya 🙏😊
Tya Gunawan
mantaap
Radin Zakiyah Musbich
up up up.... 🎉🎉🎉

ijin promo thor 🍿🍿🍿


jgn lupa mampir di novelku dg judul "AMBIVALENSI LOVE",

kisah cinta beda agama 🍿🍿🍿


jgn lupa tinggalkan like and comment ya 🍿❤️❤️❤️
yuli novelis🕊🕊
Semangat di tunggu ya💪💪
Alif
lama2 males aq sm khanza trll lemah cb author bikin sdikit kuat karakternya gk dikit2 nangis, katanya udah sabuk hitam oalah thoor trseserah author aj deh.. tep smngt thoor.
Alif
males sm karakter kanza mudah terbawa arus g berpendirian.
bella puspita
terimakasih ya sudah mampir
uzaki-chan: apaan ini
total 1 replies
Ay'Fa JHutex
ιн ĸnpa ѕιн ĸнanza d вυaт мυraнan......ngarep вngт d cιυм gιlιran d laвraх ѕaĸιт gιgι....💩💩💩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!