⚠️Ngapak Alert⚠️
Novel ini terdapat beberapa part percakapan bahasa derah, terlebih di part-part awal🙏jadi mohon bersabar bacanya ya😊kalau pusing, bagian itu silakan di skip aja👉
💐selamat membaca💐
Ayu Anindita, seorang gadis desa, yatim piatu, yang dibesarkan oleh sang Nenek. Mencoba mandiri demi bertahan hidup hingga rela kehilangan masa kecil dan remajanya. Hingga suatu hari, Ayu memutuskan merantau ke kota demi sang Nenek. Namun sayang, Ayu justru kehilangan saat-saat terakhirnya bersama neneknya.
"Kamu harus bahagia, Yu!" pesan Nenek.
"Selamat jalan, Mbah! Tenang di sana ya. Ayu di sini akan baik-baik saja," batin Yudi.
"Aku janji akan selalu melindungimu. Walaupun, kita sama-sama tahu, tidak ada cinta di antar kita," ucap Elang.
Akankah Ayu bahagia? Siapakah yang akan mewujudkan permintaan Nenek?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan_Neen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kritis
Sekitar kurang lebih lima sampai enam jam perjalanan, akhirnya Ayu tiba di kampung halamannya di Jawa Tengah. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Sang Nenek.
Dari Pantura ke rumahnya, lumayan memakan waktu sekitar satu jam perjalanan jika tidak ada kemacetan.
Dari mulai angkot satu ke angkot yang lain, Ayu tumpangi demi segera sampai ke rumah.
Sesampainya di jalan masuk desa, Ayu semakin mempercepat jalannya.
“Assalamualaikum, Mbah! Mbah!” panggil Ayu.
“Assalamualaikum, Mbah!” panggil nya lagi.
Namun tidak ada jawaban dari dalam rumah.
“Si Mbah mendi yo? (Nenek kemana ya?)” gumam Ayu pada dirinya sendiri.
“Lho! Itu 'kan Si Ayu!” gumam salah seorang tetangga Nenek Rodiyah.
“Yu! Kamu nyari Si Mbahmu?” tanya orang itu menghampiri.
“Eh ... Bu Dhe Fatmah! Nggih Bu Dhe. Si Mbah pundi nggih? (Iya Bu Dhe. Nenek mana ya?)” tanya Ayu balik.
“Walah ... Yu! Si Mbahmu mbengi digowo nang Rumah Sakit. ( walah...Yu, nenek mu semalam dibawa ke rumah sakit.)” jawab Bu Dhe Fatmah.
“Astaghfirullahaladzim ... ,” seketika tubuh Ayu lemas.
Dia terduduk di dipan yang ada di teras rumah itu. Pikirannya melayang kemana-mana.
“Si Mbahmu mendadak nggak sadar, Yu. Jadi, langsung di bawa kesana. Nggak ada yang inget ngabarin kamu,” lanjut Bu Dhe Fatmah.
“Kamu dikabarin siapa, Yu?” tanya Bu Dhe Fatmah lagi.
“Bu Lik Parmi, Bu Dhe!” jawab Ayu singkat, namun kemudian kesadarannya kembali.
“Rumah Sakit mana, Bu Dhe?” tanya Ayu.
“Rumah Sakit Husada Medika,” jawab Bu Dhe Fatmah.
“Suwun, Bu Dhe! (Terimakasih, Bu Dhe!)” kata Ayu singkat dan langsung mencium punggung tangan Bu Dhe Fatmah kemudian berlari pergi.
Mata Ayu mulai berair. Namun, sekuat tenaga dia tahan demi sang Nenek. Dia tidak ingin Neneknya khawatir melihat dia menangis.
Ya, itu lah Ayu. Gadis ceria yang menyebunyikan lukanya di balik senyumnya. Selama ini, Neneknya lah sumber kekuatan dia agar tetap bisa tegar dalam keadaan apapun.
Ayu selama ini membuang sensor sedihnya demi sang nenek. Berawal dari keterpaksaan, terpaksa mandiri disaat teman-temannya masih bergantung pada kedua orang tuanya, terpaksa bersikap dewasa saat teman sebayanya masih manja dan seenaknya, terpaksa tersenyum ceria, walaw dalam hati dia menangis meraung-raung. Namun semua itu pada akhirnya menjadi sebuah ketulusan yang ia berikan kepada Sang Nenek, semata-mata agar Sang Nenek tidak merasa khawatir padanya.
Ayu bukanlah manusia super. Dia memiliki keinginan dan khayalan layaknya gadis seumurannya. Hanya saja, dia buang jauh-jauh pikiran itu.
Yang ada di benaknya hanya Nenek. Bagaimana dia bisa membantu Nenek, bagaimana dia bisa membahagiakan Nenek, bagaimana dia bisa menjaga perasaan Nenek, semua dia lakukan semata-mata demi Neneknya. Tanpa sekali pun dia mencoba bertanya pada dirinya sendiri,
“bagaimana dengan ku nanti?”
Dan sekarang, ketika orang yang menjadi kekuatan sekaligus tujuan hidupnya sebentar lagi akan pergi meninggalkan dia, sensor sedih yang dia buang, perlahan-lahan mulai kembali.
Tanpa ia sadari, bulir-bulir bening meluncur indah diwajahnya yang manis.
Butuh waktu satu jam dari rumah nenek sampai ke Rumah Sakit itu. Dengan menumpang angkot, dua kali oper trayek, baru lah dia sampai dan segera berlari ke bagian resepsionis.
“Hah ... Hah ... Hah ... Maf mba, mau tanya ... Hah ... Hah ... Hah ... Pasien atas nama Rodiyah Hah ... Hah ... Hah ... yang semalem dibawa kesini, ada di ruang mana ya?” tanya Ayu sambil ngos-ngosan karena berlari.
“Tunggu sebentar ya, Mba!” jawab Resepsionis itu.
“Ibu Rodiyah ada di kamar anyelir tiga. Mbak nya lurus, nanti belok kanan, ada pos perawat, nanti bisa tanya disitu!” lanjut Resepsionis itu.
“Terimakasih!” kata Ayu dan langsung meluncur ketempat yang diarahkan tadi.
Kamar anyelir adalah kamar kelas tiga, dimana dalam satu ruang, ada empat sampai enam orang yang menempati. Diseberangnya adalah ruang IGD.
“Bu Lik, Si mbah gimana?” tanya Ayu langsung saat melihat Bu lik Parmi ada disitu.
“Tenang, Yu! Si Mbah sudah mendingan,” jawab Bu Lik Parmi menenangkan Ayu.
“Tadi pagi, Si Mbahmu sudah sadar. Tapi, sekarang lagi istirahat dulu,” Kata Pak Dhe Wiryo.
Ayu yang sudah bisa mengatur nafasnya, lalu menyalami satu persatu orang yang ada di situ. Ada Pak Dhe Wiryo, suami Bu Dhe Fatmah, ada Bu Lik Parmi dan suaminya Pak Lik Cipto.
“Yu, kamu kapan sampe? “ tanya Bu lik Parmi.
“Jam setengah satu tadi, Bu Lik. Cuma kata Bu Dhe Fatmah, Si Mbah di bawa ke RS,” jawab Ayu yang lalu mengambil kursi kecil dan duduk di samping ranjang pasien.
“Makan dulu, Yu. Belum makan toh?” suruh Pak Dhe Wiryo.
"Belum laper, Pak Dhe," jawab Ayu sambil terus menggenggam tangan Neneknya.
"Makan dulu, Yu! Si Mbah 'kan butuh dijaga. Kalau kamu nggak makan, nanti sakit lho. Terus, yang jagain Si Mbah siapa?" bujuk Bu Lik Parmi.
“Ke kantin sama Bu Lik sana, Yu. Itu Bu Lik juga mau makan,” kata Pak Lik Cipto yang disusul anggukan Bu Lik Parmi
“Nggih Pak Lik, Pak Dhe, Ayu makan dulu,” kata Ayu.
Ayu dan Bu Lik Parmi pun menuju kantin. Setibanya di kantin, mereka memesan beberapa makanan dan minuman untuk mereka makan.
Sambil mereka menunggu pesanan, Bu Lik parmi membuka percakapan.
“Yu, maaf ya. Bu Lik nggak sempet ngabarin kamu. Cuma sebelum ke sini, Bu lik udah pesen ke Bu Dhe Fatmah kalo kamu nanti mau pulang. Dan kalau kamu udah nyampe, kasih tau suruh nyusul kesini,” kata Bu Lik Parmi.
“Nggih, Bu Lik. Nggak papa kok. Malah Ayu trimakasih sama Bu Lik dan semuanya, sudah mau ngurusin Si Mbah,” ucap Ayu.
“Iya ,Yu. Sama-sama!” jawab Bu Lik Parmi.
Yang dipesan pun akhirnya datang dan mereka segera menyelesaikan makannya. Saat ditengah-tengah waktu makan, tiba-tiba Pak Lik Cipto menelpon Bu Lik Parmi.
“Halo, mas! Piye? (Halo mas, gimana?)” tanya Bu Lik Parmi.
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
**hai readers....terus dukung karya ku ya, jangan lupa tinggalkan jejak mu!
like, comment, kritik dan saran yang membangun sangat aku butuhkan
jangan lupa y....trimakasih🙏**
lanjutin donk ceritanya,😘😘😘
adakah season 2 buat Adiba potrinya Elang dan Ayu.Dan klnjtan hub Yudi dn Bianca😀
Kutunggu deh thor💪
semoga kamu makin kreatif ya Thor.. ditungguin cerita lainya yg pasti sarat dgn pembelajaran hidup..😘😘🌹🌹❤️❤️
1 lg..jangan lupa ngopiiii....☕😁💪
lanjy Thor..💪😍