Novel ini merupakan kelanjutan cerita dari Novel Wanita Lucu Itu Istriku.
Marina merupakan gadis cantik, berambut ikal panjang, dan lemah lembut. Parasnya yang cantik membuat banyak kaum Adam menaruh hati padanya, tak terkecuali sahabatnya sendiri, yakni Daren. Pria blasteran Indo-Jerman itu sudah lama menyukai Marina. Namun, wanita itu tak peka terhadap cinta. Karena minimnya pengalaman dalam dunia percintaan.
Marina terkenal cukup pendiam, dia hanya bereaksi keras bila bertemu pria yang bernama Aljav. Pria itu selalu saja mengejeknya sebagai titisan body losion. Keduanya adalah anak dari dua pasang sahabat, yakni Alea dan Dina.
Sejak kecil hubungan mereka tak pernah akur. Namun, di tengah hubungan yang buruk itu, kedua orang tua Aljav justru menjodohkan Marina dan Aljav, meski tahu Marina sangat membenci pria tersebut. Sejujurnya ada alasan lain di balik perjodohan konyol itu. Apakah alasannya? dan bagaimanakah cara Aljav dan Marina mempertahankan rumah tangga mereka yang sering di warnai kesalahpahaman?
Saksikan kisahnya berikut ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suharni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode. 8. Terimakasih.
Hati Marina menghangat ketika Aljav mengobati lukanya. Luka yang di sebabkan oleh Jamila si wanita bar-bar. Wanita itu akhirnya menarik sudut bibirnya, membentuk senyum kekaguman disana. Namun, Aljav tak menyadari itu. Dia hanya sibuk mengoleskan obat pada luka Marina.
"Selesai," ucap Aljav.
"Terimakasih," balas Marina tulus.
"Lain kali kalau mereka menggangu mu lagi, kamu harus membalas mereka," ucap Aljav dingin. Sejenak suasana menjadi hening. Marina terus menatap wajah Aljav, dia berusaha untuk mengartikan sikap manis pria itu.
"Apa aku setampan itu sampai mata kamu tak berkedip?" tanya Aljav tanpa melihat wajah Marina.
Wanita itu tampak salah tingkah. Marina pikir Aljav tak memperhatikan dirinya yang sedari tadi menatap kagum padanya. Seketika Marina merasa seperti sedang tertangkap basah sedang mencuri.
"Siapa juga yang melihat mu?" bantah Marina. Wanita itu tampak salah tingkah. Suaranya pun seolah tercekat di tenggorokan.
"Apa aku harus menunjukkan CCTV dalam ruangan ini agar kamu mengakuinya?" tanya Aljav dengan senyum mengejek.
"Baiklah, aku akui jika aku melihat mu, tapi bukan berarti aku jatuh cinta padamu" tandas Marina, membuat tawa Aljav seketika pecah hingga memenuhi ruangan tersebut.
"Hahaha. Yang bilang kamu jatuh cinta padaku siapa?" tanya Aljav penuh selidik. Marina semakin salah tingkah di buatnya. Sejujurnya tak ada niat dari wanita tersebut untuk mengatakan demikian, tapi entah mengapa tiba-tiba saja mulutnya mengatakan hal itu.
"Atau jangan-jangan kamu benar jatuh cinta padaku?" lanjutnya kemudian setelah beberapa saat diam.
Deg,
Pertanyaan itu sukses membuat hati Marina bergejolak. Jantung wanita itu mulai berdegup kencang. Ada apa dengan jantung ini? mengapa tiba-tiba saja detakannya cepat sekali? pikir Marina.
"Aku tidak jatuh cinta padamu," tandas Marina. Dia tidak ingin Aljav mengetahui perasaannya yang mulai aneh.
"Benarkah?" sangsi Aljav.
"Tentu saja" jawab Marina mantap. Namun, wanita itu tak berani menatap mata Aljav. Dia bukanlah wanita yang pandai menyembunyikan sesuatu dalam dirinya.
"Baiklah, aku pegang kata-katamu. Jika sampai saja aku tahu kamu jatuh cinta padaku, maka aku akan pastikan hatimu patah sebelum berjuang," ucap Aljav sungguh-sungguh, membuat hati Marina berdesir. Entah mengapa mendengar kalimat Aljav, hatinya sakit, seolah ada goresan luka di dalam sana yang mulai berdarah. Benarkah dia telah jatuh cinta pada Aljav? benarkah perasaan aneh ini adalah cinta? jika bukan, lalu mengapa rasanya sakit sekali? mengapa rasanya seolah mengobrak-abrik pertahanan dirinya? pikir Marina.
"Aku tidak akan jatuh cinta padamu. Lagi pula kita tidak sedekat itu untuk saling jatuh cinta" Marina pergi meninggalkan Aljav dalam ruangan nya sebelum perasaan wanita itu ketahuan. Hati Marina seolah hancur dan sakit. Matanya mulai berkaca-kaca. Cairan bening itu sudah tertampung di pelupuk matanya yang suatu waktu akan jatuh. Marina memegang dadanya, dia merasa degup jantungnya semakin tinggi.
"Mengapa aku harus sakit hati dengan ucapan Aljav? mengapa aku seperti kecewa terhadap ucapannya? jika benar aku telah jatuh cinta pada pria itu, sebaiknya aku harus membuang jauh-jauh perasaan ini sebelum hatiku benar-benar patah." Marina tampak menguatkan diri. Dia mengembuskan nafas.
"Marina, kamu pasti bisa."
Wanita itu pun berjalan menuju ruang kerja. Disana banyak pekerjaan yang sedang menanti dirinya.
**
Setibanya di ruangan, Marina mendapat tatapan tak suka dari semua karyawan, kecuali Daren. pria itu menatap penuh cinta pada Marina. Sejujurnya perasaan Marina tak tenang setelah mendapat berbagai macam jenis tatapan mata. Namun, dia tak bisa melawan. Diam adalah senjata ampuh wanita tersebut.
Marina mendaratkan tubuhnya di kursi kerja. Lalu kemudian dia menyalakan komputer yang terletak di atas meja kerjanya.
"Rina, ini ada tugas buatmu dari Tuan Dimas tadi," ucap Daren seraya memberikan map berwarna kuning.
"Apa ini?" tanya Marina.
"Itu adalah data buku yang akan di revisi hari ini. Karena nanti sore pihak editor akan memeriksa dan menerbitkan buku yang telah selesai di revisi," terang Daren.
"Mengapa harus pihak perusahaan yang merevisi buku ini? mengapa bukan penulisnya?" tanya Marina bingung.
"Karena buku yang bersangkutan sudah beberapa kali melewati tahap revisi kembali. Dan pihak perusahaan memberikan kebijakan pada setiap penulis agar tulisan yang salah akan di bantu perbaiki oleh tim editor," terang Daren, dan Marina pun mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda mengerti.
"Nah, itulah tugas kita disini yaitu membantu editor untuk merevisi buku yang telah melalui tahap review, tetapi masih terdapat kesalahan penulisan dalam kalimatnya." Lanjutnya kemudian setelah beberapa saat diam.
"Baiklah, aku akan mengerjakan ini." Tutup Marina Akhirnya.
"He, kamu itu cuma anak magang disini. Jangan karena kamu berhasil menggoda Tuan Aljav kamu jadi membangkang," timpal Jamila si wanita bar-bar.
"Justru karena kami adalah anak magang disini, jadi kami harus bertanya. Jika Anda tidak menyukai pertanyaan wanita ini, Anda boleh melaporkan pada Tuan Aljav," ujar Daren geram. Pria itu tampak tak terima dengan ucapan Jamila, dan akhirnya wanita bar-bar itu tak berkutik lagi. Dia diam seribu bahasa.
Sementara Marina tak bergeming sedari tadi, dia hanya menyaksikan dua orang yang saling berdebat itu tanpa kata.
**
Waktu telah menunjukkan pukul 12.00, waktunya makan siang. Namun, Marina belum beranjak. Dia masih fokus pada layar komputer. Sementara karyawan yang lain telah pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang kosong.
"Rin, ayo ke kantin," ajak Daren seraya merapikan beberapa lembar kertas yang berserakan di atas mejanya.
"Kamu duluan aja, lagi nanggung nih," balas Marina tanpa melihat wajah Daren.
"Tapi ini sudah waktunya makan siang, ntar kita lanjutkan lagi," ucap Daren.
"Nanggung Daren. Aku delivery saja" masih tetap fokus pada benda mati tersebut.
"Baiklah, kita delivery saja dan makan berdua di ruangan ini," ucap Daren akhirnya, dia tidak bisa jika harus makan sendirian di kantin.
"Lumayan makan bersama wanita cantik." Lanjutnya kemudian.
Marina tersenyum dengan ucapan Daren.
"Ya sudah kamu pesan saja."
"Baiklah lima belas menit lagi makanan kita akan tiba." Tutup Daren. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menyaksikan keduanya dari balik pintu.
Lima belas menit kemudian makanan pesanan Daren telah sampai.
"Ini makanan buatmu," ucap Daren seraya meletakkan makanan tersebut di atas meja Marina.
"Baiklah, terimakasih." masih tetap fokus pada layar komputer. Hal itu membuat Daren sedikit kesal. Akhirnya pria itu mematikan layar komputer Marina secara tiba-tiba membuat mata Marina membulat.
"Kamu apa-apaan sih?" gerutu Marina.
"Kamu yang apa-apaan? ini waktunya makan siang Marina. CEO di kantor ini memberikan waktu istirahat untuk makan bukan untuk melanjutkan pekerjaan." Tegas Daren.
"Baiklah aku akan makan," ucap Marina akhirnya, dan mendapatkan balasan senyuman hangat dari Daren.
"Nah gitu dong," ujar Daren seraya mengelus kepala Marina. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan keduanya sedari tadi tanpa beranjak sedikit pun.
semangat selalu Thor 💪💪
di tunggu feedbacknya 🙏😊😘
salam dari "My Bos CEO" yuk semua kepoin kuy 🤗