Bercerita tentang seorang gadis SMA kelas 2 bernama Ran. Diam-diam Ran jatuh cinta pada teman barunya bernama Saka. Saka adalah murid pindahan yang memiliki kehidupan yang nyaris sempurna. Cinta Ran pun berbalas. Namun, ternyata ada satu hal yang membuat mereka ngga dibolehkan untuk pacaran lebih dari 30 hari. Sebuah rahasia yang ngga ada satu orang pun di sekolahnya tau tentang kehidupan Ran, dan hal itu membuat Saka sangat penasaran. So, what is Ran’s secret?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Flashback
Ran terkejut begitu melihat keberadaan Ale di sekolahnya.
“Kok ada Bang Ale?” Tanyanya.
“Iya. Abang yang jemput Ran.”
“Kenapa bukan Bunda?”
“Bunda lagi ada tamu. Jadi Bunda minta tolong Abang yang jemput Ran.”
Ran pun pasrah Ale yang datang menjemputnya hari ini.
“Ayo pulang.” Ajak Ale.
Ran mengangguk, lalu ia berjalan bersama Ale menuju ke parkiran motor.
Selama berjalan bersama Ale, Ran terus menjadi pusat perhatian hampir semua orang yang ada di sekolahnya. Itu karena ketampanan wajah Ale yang mempesona, tapi Ran tak menyadari hal itu. Karena yang ada dipikirannya saat ini adalah rasa kesal karena Ale yang menjemputnya.
“Pegangan ya.” Kata Ale, sebelum melajukan motornya.
Ran pun memegang kedua sisi baju Ale dengan canggung.
Selama diperjalanan pulang, tak ada obrolan di antara mereka berdua. Tapi tiba-tiba saja Ale merasakan dorongan dari kepala Ran yang beberapa kali menyenggol punggungnya. Dilihatnya Ran dari kaca sepion motornya, dan ternyata Ran mengantuk.
Ale pun langsung meraih kedua tangan Ran dan melingkarkannya ke pinggangnya.
Akhirnya sepanjang perjalanan pulang Ale hanya menyetir dengan satu tangannya, karena satu tangannya lagi memegangi tangan Ran agar Ran tak sampai jatuh.
Sesampainya di rumah Ran, mba Shara langsung menyambut mereka.
“Ya ampun Ale. Maaf ya Ran ketiduran. Pasti kamu kerepotan di jalan.” Kata Shara, merasa tak enak hati pada Ale.
“Ngga apa-apa mba.” Sahutnya.
Saat Shara mau membangunkan Ran, Ale langsung mencegahnya.
“Jangan mba. Kasihan Ran ngantuk.”
“Tapi…”
“Biar Abang gendong Ran sampe ke kamarnya.”
“Tapi Ran berat Ale.”
“Ngga apa-apa mba.” Kata Ale, merasa tak keberatan.
Ale segera memindahkan tangan Ran ke bahunya, lalu ia berdiri perlahan dan menggendong Ran sampai ke kamarnya.
“Makasih ya Abang.” Kata Shara, semakin merasa tak enak hati pada Ale.
“Iya mba. Abang pamit ya.”
“Iya.”
Setelah menyalimi Shara, Ale segera pulang. Tapi saat ia mau menyalahkan motornya, ia merasa kaos belakangnya basah, dan Ale langsung tahu kalau basah di kaosnya itu adalah air liur Ran.
***
05:50 Rumah Susun
Ale berjalan mendekati Ran yang sedang bercermin di dekat ruang makan. Ia memandangi Ran dari dekat.
“Aku ngga kecilin seragam aku lagi kok.” Kata Ran pada Ale, melalui cermin didepannya.
Ale tersenyum mendengarnya. Langkah kakinya semakin mendekati Ran yang masih berdiri di depan cermin sambil senyum-senyum sendiri.
“Ran” Panggilnya.
Ran segera menoleh ke arah Ale yang sekarang berdiri sangat dekat dengannya. Matanya melihat ke arah suaminya yang sedang memandanginya dengan senyuman hangat.
“Bang Ale sayang sama Ran.” Kata Ale, sambil membelai lembut kepala istri tercintanya.
Tapi Ran, tak menyahuti ucapan Ale. Ia hanya diam dan tetap memandangi wajah suaminya dengan raut wajah polos seperti anak kecil.
***
SMK DWI KARYA
Saat mau turun dari mobil, Ran urungkan sejenak niatnya itu. Ia kembali melepas handle pintu mobil yang sudah dipegangnya, lalu wajahnya kembali menoleh ke arah suaminya.
“Bang Ale”
“Ya?”
“Jangan berharap terlalu dalam sama aku, nanti Abang bisa sakit.” Kata Ran, datar.
“Maksud Ran apa?”
“Tolong lepasin aku pelan-pelan.” Pintanya.
DEG.
Ale langsung lemas begitu mendengar kalimat Ran yang menyakitinya. Hatinya begitu menangis dengan ucapan perempuan yang sangat ia cintai selama delapan tahun lamanya.
“Ran???” Wajahnya begitu memelas menyedihkan.
“Aku berangkat sekolah dulu.” Pamitnya. Lalu bergegas keluar dari mobil setelah menyalimi suaminya.
“Maafin aku Bang Ale. Sebesar apapun pengorbanan yang Bang Ale lakuin ke aku, tapi aku belum juga bisa jatuh cinta sama Bang Ale sampai detik ini.”
Ran berjalan dengan langkah cepat menuju toilet. Ia berusaha menahan air matanya yang hampir keluar.
Tapi belum sampai di toilet, air matanya tak lagi bisa ia tahan. Dengan sendirinya air matanya terus keluar tanpa henti sebanyak apapun tangannya terus menghapusnya.
Saat ini Ran tak menyadari, kalau baru saja ia melewati Saka yang sedang melihatnya.
Saka pun bertanya-tanya oleh sikap Ran yang terlihat aneh.
***
Saka masih menunggu Ran di depan toilet perempuan, bahkan ia belum datang ke kelas.
“Udah nangisnya?” Tanya Saka, saat Ran baru selangkah keluar dari toilet.
Kali ini pertanyaan Saka ditanggapi oleh Ran dengan raut wajah lembut.
Ran memutar badannya. Ia berdiri diam di depan Saka sambil menundukkan kepalanya.
“Himawari?”
Tiba-tiba Ran merasa kalau cara Saka memanggil namanya hampir sama dengan cara Ale saat memanggil namanya. Hanya saja Ale memanggilnya dengan nama Ran, sedangkan Saka selalu memanggil
namanya Himawari.
“Ini” Saka memberikan sebungkus tisu pada Ran.
Ran langsung mengambilnya, lalu ia menghapus sisa air matanya yang ada di kedua sisi matanya. Sisa tisunya Ran kembalikan pada Saka, tapi Saka menolaknya.
“Buat kamu aja.” Kata Saka.
Ran pun memasukkan sisa tisu ke saku seragamnya.
KRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIING.
Bel masuk sekolah berbunyi.
“Ayo ke kelas.” Ajak Saka.
Tapi Ran menggeleng.
“???”
***
Diam-diam Saka dan Ran memanjat pagar halaman belakang sekolah. Ran yang memanjat lebih dulu dibantu oleh Saka.
Ran naik ke bahu Saka, lalu Saka sedikit berjinjit agar Ran bisa meraih pagar paling atas.
Setelah Ran berhasil naik ke atas pagar, Ran segera melompat. Saka pun melempar tasnya keluar pagar, lalu dengan cepat ia memanjat pagar sekolah, dan mereka berdua berhasil cabut.
Saka dan Ran bergegas berlari menjauh dari sekolah. Tapi saat sedang berlari, tak sengaja Saka melihat rok Ran robek di bagian belakang. Dengan sigap Saka langsung melepas jaket yang sedang dipakainya. Lalu ia meraih tangan Ran dengan jaket yang ia gulung di pergelangan tangan Ran, dan saat itu juga gulungan jaket ditangan Ran ia tarik, lalu ia melingkarkan jaketnya di pinggang Ran.
Ran kaget.
“Mau ngapain lo?” Tanyanya, curiga.
“Rok lo robek.”
“Hah?” Ran segera melihatnya, dan ternyata benar.
Untuk kedua kalinya kecurigaan Ran pada Saka salah. Dengan raut wajah malu, ia pun mengucapkan “Terima kasih.”
“Hmmp.” Saka pun menyahuti ucapan terima kasih Ran hanya dengan gumaman, karena ia kesal selalu dicurigai oleh Ran.
“Ayo” Ajak Ran pada Saka untuk kembali berlari.
Tapi Saka sudah terlanjur kesal pada Ran yang terus mencurigainya dengan hal negatif.
“Saka” Bujuknya.
“Lo ngga bisa apa berpikir positif tentang gue?” Tanya Saka, kesal.
“Bisa. Tapi kan butuh proses.”
“Butuh proses gimana maksud lo?”
“Kita kan baru kenal, terus tiba-tiba pacaran bohongan, dan sekarang dekat.”
“Ntar dulu..ntar dulu…tadi lo bilang kalo pacaran kita bohongan?” Tanya Saka, merasa tak terima setiap kali Ran mengatakan tentang hubungan permainan mereka.
“Iya. Emang bener kan? Kita pacaran cuma bohongan, cuma iseng, palsu, dan cuma sebulan.” Jawab Ran, lancar dan innocent.
Saka semakin tak terima dengan semua ucapan Ran. Apalagi cara Ran mengatakannya terkesan acuh.
Saka berusaha menahan perasaan kecewanya di depan Ran.
“Gue emang udah ngga waras.” Ucap Saka, seraya pergi meninggalkan Ran.
“???”
Tanda tanya langsung menghampiri Ran. Ia jadi bingung dengan ucapan Saka yang menurutnya rumit.
“Saka, tunggu donk.”
Ran segera mengejar Saka.
“Saka, tolong jelasin ke gue, mau lo apa? Biar gue ngerti.”
Saka pun langsung menghentikan langkah kakinya saat itu juga. Matanya memandangi wajah perempuan didepannya. Tapi mendadak jantungnya malah jadi berdebar begitu melihat wajah Ran yang terlihat sangat polos menatapnya.
“Ada ucapan gue yang salah ya?”
Namun saat ia ingin mengatakan apa yang ada dipikirannya saat ini, semuanya langsung berubah dalam sekejap begitu ia menyadari kalau memang ada yang tidak beres dengan perasaannya, dan ia harus membereskannya dulu untuk memastikan semuanya.
Dan akhirnya yang terucap dari mulut Saka “Ngga. Ngga ada yang salah.” Dengan raut bingung dan kesal.
“Hah???” Ran semakin bingung dengan sikap Saka yang seperti bunglon padanya.
“Kita mau kemana?” Tanya Saka, mengalihkan.
Dengan cepatnya Ran menjawab “Makan es krim.”
“Makan es krim???”
Ran mengangguk penuh senyum.
***
08:20 Taman 400 meter
“Bisa-bisanya makan es krim sepagi ini.” Kata Saka, tak percaya dengan cewek yang duduk di sebelahnya dan sedang makan es krim dengan nikmatnya.
“Es krim itu bisa ngademin pikiran dan juga hati.” Sahutnya.
Saka langsung menyudutkan salah satu ujung bibirnya mendengar ucapan Ran yang menurutnya terdengar kuno.
“Mau coba?” Ran menyodorkan es krim ke mulut Saka.
“Ngga. Ntar lo jijik lagi bekas mulut gue.”
“Ngga kok.”
“Kenapa tiba-tiba lo jadi berubah pikiran?” Tanyanya, sambil melirik jutek.
“Karena ternyata lo cowo baik.”
Saka kaget mendengar pujian Ran untuknya.
“Kalo lo ngga baik, pasti lo bakalan ngebiarin paha gue jadi tontonan gratis mata lo. Tapi lo malah langsung nutupin robekan di rok gue. Terima kasih ya.” Ucapnya dengan tulus.
“Berarti sekarang lo ngga akan curigain gue lagi?”
“Ngga.”
Saka tersenyum dengan jawaban Ran.
“Tapi…” Ran ragu untuk mengatakan keinginannya.
“Tapi, apa?”
Ran menundukkan kepalanya, ia malu untuk mengatakannya.
“Ngomong aja, biar gue tau mau lo apa.”
“Kalo lo ngga keberatan…apa bisa lo jagain gue selama kita pacaran sebulan?”
Untuk pertama kalinya Saka mendengar permintaan itu dari seorang cewek, bahkan dari cewek yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu.
“Kenapa ngga di jawab? Ngga bisa ya?”
“Gue bakalan jawab, kalo lo mintanya sambil ngeliat wajah gue.”
Ran pun terpaksa mengangkat wajahnya, dan ia juga terpaksa mengulangi permintaannya meski harus menahan malu yang luar biasa.
“Kalo lo ngga keberatan, apa bisa lo jagain gue selama kita pacaran sebulan?”
Bisa-bisanya gue minta permintaan ini ke Saka. Kata Ran, membatin.
Dan Saka langsung menjawab “Bisa.”
Ran tak menyangka Saka akan bersedia mengabulkan keinginannya.
“Tapi…”
Kata tapi yang diucapkan Saka yang dibarengi dengan senyum menggoda, membuat Ran jadi khawatir.
“Tapi, apa?” Kali ini Ran yang gantian menanyakan kata tapi yang ditahan oleh Saka.
“Ada dua syarat.”
“Dua syarat?”
“Iya.”
“Lo mau balas dendam ya sama gue?”
“Bukannya barusan lo bilang ngga akan curiga lagi sama gue.”
“Lupa.” Ucapnya, dengan raut menyesal.
“Mau dengar dulu ngga syaratnya?”
“Apa?” Tanyanya, males.
“Syarat gue ngga seribet syarat lo dan ngga akan ngerugiin lo. Jadi, dengerin baik-baik.”
Ran pun langsung memasang lebar kedua telinganya, agar tak salah mendengar dari syarat yang akan diajukan Saka padanya.
“Pertama, mulai dari sekarang kita panggil aku-kamu. Kedua, akui gue sebagai pacar lo, tapi bukan pacar main-main, melainkan pacar beneran.”
Ya, Ran akui kalau syarat Saka sangatlah simple dan tidak merugikannya sama sekali. Tapi, tanda tanya justru hadir dalam benaknya sekarang. Kenapa Saka sangat ingin diakuinya sebagai pacar sungguhannya bukan pacar main-main???
“Dua syarat itu berlaku selama sebulan?”
“Iya.”
Oke, hanya sebulan. Pikir Ran. Meskipun rasa khawatir jadi hinggap dipikirannya tentang satu hari dan hari-hari berikutnya setelah sebulan. Membayangkan Ale saat ini hanya membuatnya merasa sedih, bahkan untuknya saat ini Saka jauh lebih bisa membuatnya tersenyum dari pada Ale.
“Gue setuju.” Kata Ran, tersenyum.
Saka pun tersenyum.
“Aku bakalan jagain kamu dengan baik selama kita pacaran.” Kata Saka, berjanji.
Bersamaan dengan janji yang Saka ucapkan padanya, Ran langsung teringat dengan janji yang Ale ucapkan di hari Ran memutuskan untuk menerima ajakan Ale menikah.
“Abang janji bakalan jagain Ran dan ngga akan ninggalin Ran.”
***
Setelah selesai makan es krim, Saka dan Ran pergi ke suatu tempat dengan bis. Mereka berdua naik bisa dari halte dekat sekolah mereka. Bis di jam 9 sangat kosong, jadi Saka dan Ran tak harus berdiri.
Hanya 15 menit perjalanan dengan bis, lalu mereka menyambung kendaraan umum dengan angkot. Kali ini perjalanan dengan angkot memakan waktu lebih dari satu jam lamanya.
Selama di perjalanan mereka saling bercanda dan melempar ledekan. Tawa lepas dan kebahagiaan mulai bisa Ran rasakan kembali. Bahkan Ran melupakan statusnya sebagai seorang istri, yang tak sepantasnya ia melakukan hal ini pada suaminya sekalipun seizin suaminya.
Di tempat lain. Di perkantoran di Gedung bertingkat di kota Jakarta
Ale tak bisa berkonsentrasi bekerja. Ia benar-benar tak bisa berhenti memikirkan ucapan Ran tadi pagi. Dadanya terasa sangat sesak, beberapa kali ia ingin menangis tapi air matanya tak juga keluar.
Flashback
Acara upacara wisuda sudah selesai dari dua jam yang lalu, tapi orang yang paling ditunggu oleh Ale belum juga datang.
Selama berfoto bersama teman-temannya, Ale tak bisa terlalu fokus. Karena yang ada dipikirannya saat ini hanyalah Ran, Ran dan Ran.
“Mungkin Ran sama keluarganya ada urusan penting yang mendadak, makanya mereka ngga jadi datang ke acara wisuda Abang.” Kata Mama, mencoba memberi pengertian pada putranya.
“Tapi Ma, Ran bilang kalo dia bisa datang, mba Shara juga bilang begitu.” Kata Ale, merasa yakin.
Lalu…
“BANG ALEEEEEE” Tiba-tiba seseorang berteriak memanggil namanya dari kejauhan, dan orang yang ia tunggu-tunggu akhirnya benar datang.
“RAN???” Senyuman di wajah Ale langsung mengembang.
Ale segera berlari menghampiri Ran, begitu juga dengan Ran yang langsung berlari menghampiri Ale.
“Bang Ale, selamat.” Ucap Ran, sambil memberikan sebuket bunga matahari untuk Ale.
Ale langsung menerimanya dengan hati bahagia sambil mengucapkan “Terima kasih, Ran.”
Mama, Papa, Fahri, Ayah, Bunda, Feeza dan Hefa langsung tersenyum senang melihat Ale dan Ran yang terlihat begitu bahagia setelah mereka saling bertemu
***
“Saat itu aku merasa…kalo Ran juga menyukai aku, meskipun usianya baru sebelas tahun. Bahkan dia mau datang jauh-jauh hanya untuk hadir di hari wisudaku.”
Ale menghempaskan badannya ke sandaran kursi. Matanya melihat ke sekeliling ruangan di tempat kerjanya. Begitu banyak perempuan cantik seusianya yang ada di lingkungan kerjanya, tapi kenapa hatinya sama sekali tidak tertarik pada satu perempuan pun disini. Hatinya justru terpaut dan tergembok oleh seorang anak kecil yang masih tetap anak kecil, meskipun delapan tahun sudah ia mencintai Ran. Perasaan yang belum berubah meski sudah berlalu hampir satu dekade.
***
“AAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRGGGHHHHHHHHHHHH”
“AAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRGGGGHHHHH”
Saka dan Ran berteriak bersama di puncak kebun teh. Saka mengakhiri teriakkannya dengan napas tersengal, sedangkan Ran mengakhiri teriakkannya justru dengan tangisan yang semakin lama semakin menjadi.
Untuk kedua kalinya Saka melihat Ran menangis seperti itu, dan ia tetap tercangah. Pria bermata monolid itu terbiasa melihat perempuan menangis, menangis didepannya karena cintanya. Tapi Ran bukan menangis karenanya, dan Saka tidak tahu apa yang membuat Ran menangis.
Saka bingung harus melakukan apa. Ia hanya bisa diam sambil melihat Ran menangis. Karena memeluknya untuk menenangkannya pun tidak mungkin ia lakukan. Menyentuhnya sedikit saja tak akan Ran izinkan, jadi Saka memutuskan untuk diam.
16:30
“Ayo pulang, udah sore.” Ajak Saka. Setelah Ran terlihat sudah tenang.
Tapi Ran tak menyahuti ucapannya. Ia hanya diam sambil menatap kosong kebun teh di depannya.
Saka merasa kalau Ran masih belum baik, dan terpaksa ia pun kembali diam. Meskipun merasa bosan karena Ran hanya diam saja sudah hampir dua jam lamanya, tapi ia juga merasa tidak tega kalau harus bertanya tentang masalah yang sedang terjadi pada Ran.
“Saka” Akhirnya Ran mengeluarkan suaranya.
Dengan cepat Saka langsung menyahutinya “Ya?”
“Laper.” Jawabnya dengan wajah memelas.
“???”
***
Saka merogoh saku celananya. Ternyata uang yang ia bawa tidak banyak.
Ia pun melihat ke arah Ran yang sedang menunggunya membelikannya makanan.
Akhirnya…
“Pak, satu mangkok aja.” Kata Saka, memesan pada penjual soto mie.
Penjual soto mie pun segera membuatkan pesanan Saka.
“Kenapa sampe lupa bawa dompet sih.” Keluhnya, merasa teledor.
“Pake nasi ngga?”
“Boleh. Satu porsi aja.”
Saka kembali memandangi Ran yang sedang duduk sambil memandangi kebun teh di sekelilingnya. Ia masih penasaran dengan masalah yang sedang terjadi pada Ran sampai membuat Ran menangis.
***
“Ini” Saka memberikan semangkuk soto mie dan sepiring nasi pada Ran.
“Cuma satu?” Tanya Ran, saat Saka duduk di sampingnya.
“Iya.”
“Makanan lo mana?”
Mendengar Ran masih mengatakan “lo” bukannya “aku”, membuat Saka kecewa.
“Bukannya kamu setuju ya syarat yang aku ajuin?”
“Tentang?”
“Aku-kamu.”
“Oh iya, maaf, gue lupa. Eh maksudnya aku lupa.”
“Iya, ngga apa-apa.”
“Makanan kamu mana?”
“Ngga laper.” Jawabnya, beralasan.
Ran tak percaya. Ia tahu kalau Saka tak membawa uang banyak, dan ia pun juga tak membawa uang banyak.
“Maaf ya, sisa uang aku cuma cukup buat ongkos pulang aja.” Kata Ran, merasa bersalah.
“Ngga apa-apa. Ngga perlu minta maaf.”
Ran pun akhirnya berinisiatif membagi dua satu porsi makanan yang dibelikan Saka untuknya.
“Ini buat kamu, yang ini buat aku.” Kata Ran, sambil memberikan setengah porsi makanan yang sudah ia bagi dua.
“Aku ngga laper.”
“Yang ngga laper itu kan kamu, tapi kalo perut kamu pasti laper.”
Diam-diam Saka tersenyum dengan perhatian Ran yang cukup peka.
***
Saka mengantar Ran sampai di persimpangan jalan rumah susun tempat Ran tinggal bersama Ale.
“Anternya sampai disini aja.” Kata Ran.
“Rumah kamu dimana?”
Ran menunjuk ke arah rumah susun yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Kamu tinggal di rumah susun?” Tanya Saka, sambil melihat ke arah rumah susun bertingkat lima.
“Iya.”
“Kamu tinggal di lantai berapa?”
“Dua.”
"Ohh"
“Saka, terima kasih ya untuk hari ini.” Ucapnya.
Saka mengangguk sambil tersenyum hangat pada Ran.
“Aku…pulang dulu.” Kata Ran, berat.
“Iya.” Begitu juga dengan Saka yang masih belum ingin berpisah dengan Ran.
“Kamu hati-hati di jalan.”
“Iya.”
“Bye.” Ran melambaikan satu tangannya pada Saka.
Ia masih tak ingin berpisah dengan Saka, dan langkah kakinya pun sangat lambat saat meninggalkan Saka.
Saka tak bisa berhenti memandangi Ran. Tanpa ia sadari, ia tersenyum setiap kali Ran bersikap manis padanya.
“Sepeda?”
Dan Saka baru teringat dengan sepedanya yang ia tinggal di sekolah.
Bergegas ia berlari kembali ke sekolah untuk mengambilnya.
***
Seraya berjalan pulang ke rumahnya, Ran melihat ke arah langit yang sudah mulai gelap. Rasa khawatir mulai kembali hadir dalam hatinya, saat Ale terlintas dalam pikirannya.
Dugaan Ran tepat, Ale sedang menunggunya di halaman rumah susun.
Perlahan, Ran pun menghentikan langkah kakinya tepat di tengah halaman rumah susun. Saat itu juga Ale langsung melihatnya. Tapi Ale tak langsung menghampirinya. Ia lebih dulu memandangi Ran dari kejauhan untuk menenangkan rasa khawatirnya dan juga rasa marahnya, agar tidak sampai terlihat oleh Ran.
Sementara Ran, perasaannya saat ini berada di antara rasa bersalah dan rasa kesal. Kedua matanya yang indah tidak bisa melepas pandangan dari sosok pria tulus yang berdiri jauh di depannya.
“Ternyata aku lemah.” Kata Ale, dalam hatinya.
Rasa marah dan rasa kecewanya jauh lebih lemah dari rasa cintanya pada Ran.
Akhirnya egonya pun ia kecilkan. Ia berjalan menghampiri istrinya yang terlihat kelelahan, lalu memberikannya senyuman hangat.
“Ayo masuk, di luar dingin.” Kata Ale, sambil memakaikan jaket ke badan Ran.
Ran pun langsung menurut. Ia juga tidak menolak saat Ale menggandeng tangannya.
***
Setelah mengganti seragam sekolahnya dengan baju tidur, Ran segera keluar dari kamarnya untuk makan malam bersama Ale.
Ale yang sudah menunggunya di meja makan, kembali memberikan Ran senyuman hangat.
Ran menarik kursi, lalu duduk di depan Ale. Ia melihat makan malam yang di sajikan oleh Ale adalah makanan kesukaannya. Tapi malam ini ia merasa tidak terlalu nafsu makan.
Untuk beberapa saat, baik Ale maupun Ran tidak saling bicara. Mereka hanya saling diam sambil memakan makanan mereka tanpa menikmatinya sama sekali.
Melihat sikap diam Ale yang tidak menanyakan alasannya sampai pulang malam, membuat Ran ingin marah, dan ia tidak bisa menahan rasa kecewanya lagi.
“Kenapa Bang Ale ngga tanya alasan aku pulang sampai malam?” Tanya Ran, dan ia tidak mau melihat wajah suaminya.
Ale langsung menghentikan makannya, begitu pertanyaan itu keluar dari mulut Ran.
Ia letakkan garpu dan sendok di atas piringnya dengan terbalik. Lalu, Ale mengangkat wajahnya dan memandangi istrinya dengan wajah sendu.
“Ran mau Abang tanya?” Tanya Ale, balik.
“???”
Pertanyaan Ale terdengar seperti sedang acuh padanya.
“Ran?”
“Kenapa?” Tanya Ran, tanpa ada lanjutannya.
“Kenapa?” Lagi, ia mempertanyakan sebuah alasan pada Ale.
Perlahan, Ran mengangkat wajahnya. Sambil menahan rasa kesal, ia dengan sengaja menunjukkan kekecewaannya melalui raut wajahnya pada Ale.
Ale tahu kalau Ran sangat marah padanya saat ini.
“Kenapa harus aku yang Abang pilih untuk menikah sama Abang? Kenapa harus aku?” Tanya Ran, meringih pelan.
Ran tidak bisa lagi menahan perasaan sedih, marah dan kecewanya pada pria di depannya.
Tapi Ale sendiri juga masih belum bisa menerima kenyataan, kalau perempuan yang sangat ia cintai selama ini masih belum bisa
menerima dirinya di hatinya.
“Aku ngga pernah cinta sama Abang. Aku ngga pernah bisa jatuh cinta sama Abang. Sekeras apapun aku berusaha, dan usaha keras itu malah semakin menyakiti hati aku. Seharusnya Abang paham tentang hal itu, tapi Abang malah pura-pura ngga tau. Kenapa Abang bisa ngelakuin ini ke aku? Bukannya Abang terus bilang kalo Abang sayang sama aku? Abang cinta sama aku? Tapi, kenapa cinta Abang malah buat aku terus sedih dan menangis? Bang Ale jahat sama aku.”
Emosi itu akhirnya benar-benar keluar dari mulut Ran, dan Ale sudah tahu hal ini akan terjadi. Tapi tak ada yang bisa Ale lakukan selain diam dan menahan semuanya dengan kesabarannya yang sudah melampaui batas kata-katanya.
Ran menangis sejadi-jadinya di depan Ale, dan Ale hanya mampu memandanginya dengan hati sedih dan kecewa.
“Ran, andai kamu tau, betapa menyedihkannya menjadi aku. Bahkan jauh lebih menyedihkan daripada menjadi diri kamu, Ran.”
***
gk ad kelanjutanya kah....??
smngat thor.. smg kamu sehat...selalu
tapi lagi otw review. tunggu aja ya ☺️
atau juga aluna????
thooor katanya mau posting foto bang ale yg asli manaaaaa??
jg lupa si ran nya juga ya....
kalem ga ??
aku suka bngt...
iya kan thor??
uuh makin sayang bgt sama bang ale
lnjut dong thor