NovelToon NovelToon
SAHABAT YANG MENCINTAI

SAHABAT YANG MENCINTAI

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Patahhati / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:50.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tania22

Aku mencintai sahabat ku sendiri memang Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini apakah aku hanya bisa mempertahankan perasaan ini atau mungkin membuang perasaan ini jauh-jauh


Apakah ini perasaan salah atau Mungkin takdir Tuhan ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tania22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wish 7: Senja hadir di sini ( Raga )

Raga memandang sekeliling dengan ragu. Tangannya yang erat menggenggam gitar mulai berkeringat karena gugup melihat orang-orang sudah berkumpul di arena podium

Acara 17 Agustus sekolah tahun ini mengusung tema 'persatuan', yang berarti berbagai grup ekskul akan menampilkan acara. Tim basket unggulan sekolah mereka sedang berlaga di lapangan melawan tim dari SMA lain, grup ekskul seni bergabung dengan murid-murid kelas fotografi untuk membuat sebuah galeri mini di ruang-ruang kelas yang kosong, grup drama mengadakan pentas teater, dan masih banyak lagi. Tahun ini, kebetulan Raga yang didaulat untuk memeriahkan acara dengan pertunjukan musik solo di atas panggung walaupun dia menolak mentah-mentah lantaran benci harus tampil di depan khalayak umum.

"Ayolah, Raga " waktu itu Senja yang merengek memaksanya setuju, terima aja tawaran itu, kesempatan bagus lho."

"Gue gak siap." Raga menggeleng dengan alasan stadarnya. Sebenarnya, Raga sudah punya ancang-ancang beberapa lagu ciptaannya, dan dia bukannya kurang latihan. Hanya saja ada satu hal yang ditakutkannya.

"Kamu demam panggung, ya?" Senja menebak jitu dengan raut jenaka. Sejak kecil, Raga tergagap-gagap jika harus tampil di depan umum. Dia paling benci pidato dan Public speaking saat dia harus menatap kerumunan orang yang sedang

memperhatikannya .Ditembak begitu, Raga agak gelagapan. Senja tersenyum maklum dan mendorong gitar

kembali ke pangkuan Raga. Kamu pernah bilang mau jadi pemusik profesional, kan Lagu-lagu kamu bagus tau. Kamu nggak bisa selamanya sembunyi begitu. Siapa tahu di sana kebetulan ada pencarian bakat yang lagi nyari idola baru. Kamu harus bisa ngatasin ketakutan itu."

Raga termenung, sedikit kaget melihat betapa dewasanya gadis di hadapannya sekarang.

Senja tertawa lebar, merasa sudah meyakinkan sahabatnya. "Kenapa, kamu kaget ya denger aku ngomong kayak gitu

Mendengar omongan Senja Raga malah ingin merangkulnya, tapi tentu saja dan untung saja tidak dilakukannya. "Kamu bakal datang kan ? Nonton solo gue

"Ya, pastilah. Pukul berapa?

"Jadwalnya, sih, sekitar pukul sepuluh."

Raut Senja berubah, penuh rasa bersalah. Yaah. Kayaknya nggak bisa Raga aku harus Cheer untuk tim basket.Pertandingannya mulai pukul sembilan."

Raga ikut merengut. "Kalo gitu, gue nggak mau tampil." Walaupun terdengar kekanakan, Raga tetap bersikukuh.

"Cuma gara-gara gak ada dukungan moral ? Raga, kamu harus naik panggung itu! Nyanyiin lagu kamu Tunjukin sama semua Orang kalo kamu mampu." Senja mengguncang sedikit bahunya, mulai memaksa lagi.

"Buat apa?" Toh, Raga tidak pernah peduli apa yang orang lain pikirkan tentangnya.

"Selain untuk ngeramein acara sekolah, tentunya kamu juga nggak mau ketahuan demam panggung kalau harus nyanyi di depan umum, kan?" Senja dengan kesal berusaha memberi alasan. "Ayolah, demi aku. Ya, Raga ya?"

"Kenapa, sih, malah kamu yang ribet?"

Senja meletakkan kedua tangan di bahu Raga dengan serius berkata sambil menatapnya dalam-dalam. karena kamu bisa, Raga Aku tau kamu bisa."

Jadilah Raga menyanggupinya begitu

Saja Sekarang, dia jadi menyesal, tapi sudah terlambat karena acara sudah mau di mulai.

"Raga giliran lo lima menit lagi." Septian menepuk bahunya sesaat sebelum menghilang di balik tirai panggung. Lima orang anggota band sekolah yang sedang memainkan lagu The Click Five hampir menyelesaikan encore mereka yang kedua. Kerumunan murid-murid sudah ramai memenuhi kursi penonton. Raga melayangkan pandangan sekali lagi, mencari-cari sebuah sosok yang diharapkan ada. Tapi, yang dilihatnya hanya

Bianca yang melambai sekilas dengan Nikon tergantung di lehernya dan beberapa teman sekelas lain yang ikut menyanyikan lirik lagu.

"Duh, kenapa, sih, lo harus maksa gue ikut sedangkan lo sendiri gak ada di sini? Raga mengumpat, merasakan adrenalin dan keringat mengucur di belakang lehernya.

Penontonnya banyak banget lagi dan sudah ada tanda-tanda penutupan lagu.

"Sekarang, mari kita sambut Raga angkasa Stevano, salah satu gitaris solo kita

Tiba-tiba saja namanya disebut, diikuti dengan sorakan riuh-rendah para penonton yang sebagian besar adalah perempuan. Raga ingin muntah. Dia ingin kabur. Tapi, Septian sudah menepuk punggungnya dan menggiringnya ke panggung Raga duduk di sebuah kursi yang dipasang di belakang mikrofon, kepalanya tertunduk.

"Duh, mati deh gue," bisiknya sebelum mulai. Jari-jarinya lemas dan basah dengan keringat dingin.

" Senja lo di mana

Senja mengacungkan pompomnya sambil meneriakkan Liv-Liv terakhir, dan merasakan adrenalin mengaliri darahnya,memompa jantungnya dan membuatnya tersenyum lebar

Tim basket putra sekolah mereka baru saja menyelesaikan permainan, dengan skor enam poin di atas skor lawan. Tim lawan tadinya membantai habis-habisan tim SMA Harapan, tapi permainan mereka agak menurun di sesi kedua sehingga tim sekolah Senja

dengan mudah mengejar skor. Permainan diakhiri dengan satu lemparan mulus dari tim

lawan, yang sayangnya memantul di ring dan tidak jadi masuk.

Inilah yang disukai Senja dari cheerleading. Dia bisa menjadi pendukung, penggembira dan pemanis sekaligus. Tanpa kehadiran mereka, tim-tim basket pastinya akan ngoyo

dan tidak bersemangat, begitu juga dengan penonton yang senang melihat gaya para

Gadis cantik di sisi lapangan. Seandainya permainan anggota tim buruk, para cheerleaders-lah yang menyoraki dan memberi dukungan moril, sedangkan jika mereka menang cheerleaders juga yang meningkatkan atmosfir kemenangan. Senja suka menjadi bagian dari sesuatu sepenting ini.

Jam karet di lengannya sudah menunjukkan Pukul sepuluh lewat lima menit. Raga sudah mau naik panggung. Padahal, tadi dikiranya pertandingan basket akan selesai

sebelum pukul sepuluh,tapi dengan salah satu anggota tim lawan yang sempat cedera, break yang diambil jadi lebih lama.Dengan Panik, Senja minggat dari tepi lapangan dn berlari menuju aula,tempat sebuah panggung besar telah disiapkan dengan speaker dan dekorasi megah. Panggilan Bianca yang memintanya tinggal tidak dihiraukannya.

"Raga, Raga...." Senja menggumam sambil terus berlari, menyeruak di antara kerumunan murid-murid berbaju bebas yang memadati sekolah. Tenaganya rasanya terkuras habis, badannya bersimbah keringat dan rambutnya bau matahari hasil kelamaan terpanggang

di lapangan. Duh. Raga pasti kecewa kalau aku nggak datang, hanya itu yang terpikir oleh Senja sepanjang permainan basket berlangsung. Padahal, Senja yang sibuk menceramahinya supaya mau naik Panggung.

Padahal, Raga sudah berusaha sebisa mungkin mengatasi fobianya tampil di depan umum.

Padahal, Raga sudah berlatih berminggu-minggu lamanya untuk lagu-lagunya.

Padahal, Raga melakukannya demi Senja

Samar-samar, Senja melihat Raga berjalan memasuki panggung, dan ia menyelinap masuk, berjingkat ke kursi penonton paling depan. Sekilas, dilihatnya wajah Raga

kebingungan, gugup, dan kelihatan kelabu seperti sedang sakit, tidak juga menyadari .bahwa Senja ada di antara kerumunan. Aduh, Senja Cemas setengah mati, takut Raga akan lari keluar sewaktu-waktu atau menyanyi sumbang saking gugupnya.

Tiba-tiba, Senja mendapat ide brilian. Jika tim basketnya membutuhkan dukungan dan semangat, kenapa Raga tidak ? Raga kan juga atlet--di bidang musik. Dia pantas

mendapat penghargaan atas usahanya dan Liv-Liv yang sama kencangnya dengan mereka yang menggiring bola di lapangan. Sambil menarik napas dan meneguhkan tekadnya, Senja mengacungkan pompom merahnya sekali lagi, tinggi-tinggi di udara. Sebagian penonton mengalihkan perhatian ke arahnya, membuat Raga ikut menengok juga.

Sekarang saatnya. Dengan suara lantang, Senja meneriakkan kata-katanya satu per satu.

"Raga ! Raga !"

Mukanya merah karena jengah, apalagi dia satu-satunya gadis pemandu sorak di sana yang masih lengkap berseragam merah putih. Rambutnya diikat tinggi-tinggi di atas kepala, ditutupi headband merah, tangannya menggerakan pompom dengan semangat. Belum lagi gerakan melompatnya yang heboh, menyerukan nama Raga seperti yang

biasa dilakukannya untuk anggota tim basket di lapangan. Dia pasti terlihat aneh. Bodo amat, karena yang paling penting adalah menyemangati Raga

"Gitaris paling oke! Raga maju terus

Pada awalnya, penonton hanya tergelak melihat aksinya, tapi lama-kelamaan mereka

ikut menyebutkan namanya. " Raga Raga Raga !" Nama itu bergema di seluruh ruangan, seperti sebuah mantra yang harus diucapkan.

Raga melongo di tengah panggung, untuk sesaat begitu kaget sampai tidak bisa bicara.

Ditatapnya Senja yang masih sibuk melagakan gerakannya yang radikal dan berlebihan.

Wajahnya yang tadi pucat karena nervous berubah merah karena malu. Malu setengah mati jadi objek di tengah panggung dengan seluruh isinya meneriakkan namanya.

"Raga ! Raga ! Raga

Dan, ketika seruan itu mulai surut, Senja menatap Raga dengan Pandangan paling

menggemaskan yang pernah Raga lihat. Kedua mata gadis itu berbinar, pipinya bersemu karena lelah, dan senyumnya lebar, seakan ingin mengatakan, "Aku percaya, Raga .Kamu pasti bisa."

Mau tak mau, Raga tersenyum. Ada rasa tenang yang menyelimutinya ketika dia mulai memetik senar gitar dan melantunkan liriknya untuk melengkapi nada.

...SAHABAT MENCINTAIMU...

...Untukmu yang selalu ada...

...Untukmu yang slalu ku damba...

...Inilah lagu yang ku ukir dari lubuk hatiku...

...Kau tak pernah jauh dariku...

...Kau ajarkan aku cinta...

...Kau memelukku disaat aku tak berdaya...

...Wahai kau yang slalu aku cinta...

...Wahai kau yang slalu ku inginkan...

...Namun dirimu tak pernah menyadari...

...Dan selalu bersama yang lain...

...Wanita datang silih berganti...

...S'makin kusadari engkau yang ku mau...

...Mungkin inilah memang jalan takdirku...

...Seorang sahabat yang mencintai...

...Ribuan kali kumencoba...

...Ungkapkan isi hati ini...

...Namun bibirku tak pernah bergerak...

...Dihadapanmu...

...Wahai kau yang slalu aku cinta...

...Wahai kau yang slalu ku inginkan...

...Namun dirimu tak pernah menyadari...

...Dan selalu bersama yang lain...

...Wanita datang silih berganti...

...S'makin kusadari engkau yang ku mau...

...Mungkin inilah memang jalan takdirku...

...Seorang sahabat yang mencintai...

...Apakah kau kan mampu pahami hatiku padamu...

...Atau kusimpan jauh di dasar benakku oh...

...Engkau begitu dekat...

...Tapi ku tak pernah bisa menggapaimu...

...Sering kuberharap bahwa dirimu...

...Menyimpan sebuah rasa yang sama...

...Ku tak ingin hancurkan semua...

...Dan ku tak ingin kehilanganmu...

...Mungkin inilah memang jalan takdirku...

...Seorang sahabat yang mencintai...

" Kalau tadi gak ada lo, Senja gue nggak bisa membayangkan lagi makasih Senja karena Lo gue berani

Bahkan, Raga tidak berani membayangkan bagaimana penampilannya nanti seandainya sahabatnya itu tidak ada di sini. Jadi, kali ini, dia akan melakukannya untuk Senja seperti yang sudah dijanjikannya.

1
Nur LloVve
Di tunggu feedback nya yah kak.Kalo udah feedback komen aja yah,ntar aku kasih vote karya kakak.
#I'm A Special Girl
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!