Remaja bernama Adzli, ia seorang yatim piatu dan belum pernah merasakan bagaimana hangatnya sebuah keluarga setidaknya sebelum dia pulang ke dunia asalnya...
Dia berada di tempat yang tak di ketahui dengan ingatan masa lalunya, harapan untuk memiliki keluarga sudah ada di tangan. Hanya saja... kebahagiaan hingga kesenangan, bahkan cintanya pada seseorang lenyap ketika hanya benang dan beberapa jarum membuat tubuhnya.
Dia hanya sebuah boneka, boneka hidup yang seakan manusia.. dan sesampainya dia mempunyai kerajaan, tak pernah dia melihat bagaimana rasanya hidup tanpa beban.
Istana yang dia miliki saat ini hanya sebuah mainan semata, tak di sangka kalau sebenarnya dia adalah sesosok monster dari perwujudan sebuah setan boneka.
Sampainya mendirikan kerajaan sekalipun, tetap saja dia selalu di datangi masalah dan pada akhirnya sampai hembusan nafas terakhirnya... dia tetap memegang tangan orang yang dia cintai.. sampai akhir...
-
pembuat masih pemula dan membutuhkan kritik saran yang membangun... :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadly Abdul f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 08
The dearcurt sword
Melihat ke gorila yang aku jatuhkan tadi, dia menyiapkan pedangnya dan aku hanya bisa melawan saja saat ini sambil berharap menang saja melawannya. Tapi aku merasa ada yang menyentuh punggungku, menoleh ke belakang ternyata sylvia.
"Ada apa ?"
"Kalau kamu menang, akan aku berikan apapun.. Apapun untukmu... Tanpa kecuali.."
"Heh jangan bercanda, mana mungkin kamu mau menghabiskan malam denganku, 'kan ?"
"Tentu.. Aku mau.."
"Hah ?! Tunggu, aku cuman bercanda kamu jangan memerah gitu!!" kataku dengan nada tinggi membalasnya.
Pada awalnya aku hanya ingin bercanda menirunya saat pertama kali bertemu, tapi dia sekarang serius ternyata dan sekarang aku harus melupakan itu dulu. Karena gorila ini kelihatan sekali mau menyerangku, dia tampaknya sudah berpengalaman.
Saat ini yang aku bisa hanya mengandalkan caraku mengalahkannya tanpa memakai sihir, melihat pedangnya mengeluarkan partikel yang bercahaya membuatku merasa kalau levelku dan levelnya berbeda jauh.
Harus memakai semacam trik saja, aku melihat ke bawah tanah ini seperti pasir kalau di injak saja menghasilkan debu yang membuat mata perih...
"Kau mau menyerah atau bagaimana ?"
"Tentu saja tidak, aku akan mempertahankan diriku sendiri!" ujarku dengan yakin.
Aku berlari menuju arahnya ketika dia mau menyerang, tangannya kelihatan mengeluarkan asap membuatku merasa waspada kalau ada serangan dadakan darinya.
Melihat mengangkat tangannya dia menatap tanah di bawahku bukan padaku, itu bahaya!
Aku sama sekali tidak menghindar dari serangannya dan menahannya, tenaganya itu biasa saja tapi yang aku takutkan adalah tangannya yang kelihatan seperti keras sekali. Menangkis dengan tanganku, aku menjauh dan melompat ke samping.
Setelah menjaga jarak, aku berpikir alasan tenaganya kecil itu agak aneh padahal ototnya itu besar kelihatan sekali tenaganya harusnya besar. Sekarang bagaimana caraku untuk melawannya ?
"Sebaiknya kau segera pergi saja, jika tak ingin mencari masalah."
"Tidak, sudah kubilang harusnya kau yang mencari masalah denganku." kataku sembari bersiap.
Aku melesat ke arahnya, setelah di depannya menendang tanah di bawahnya terkena matanya dan aku segera menendang pedangnya menjauh.
"Bocah!!" teriak gorila ini karena matanya terkena debu dari tanah.
Setelah beberapa saat, setelah dia menyeka debu di matanya. Aku memukul wajah dan menendang dadanya...
Dia melawan dengan mencoba memukulku berawal pukulan tangan kiri, aku sekarang tahu kalau dia ternyata kidal atau paling tidak selalu menggunakan tangan kirinya.
Memutar badanku aku menebas tangan kanannya, segera aku menjauh dan melemparkan pedang besar ini padanya. Dia segera menangkapnya tentu dengan tangan kirinya, sekarang mungkin aku harus bertaruh saja.
Melempar pedangku dia lengah dan terkena telapak tangan kanannya, dia segera memukul tanah di bawahnya dan segera setelahnya banyak duri keluar dari tanah tapi kenapa kau mengeluarkan di belakang ?
"Kenapa ?!" kata Sylvia terkejut.
Kenapa kamu begitu terkejut sampai ternganga seperti itu, hentikan! Aku mohon karena itu tak cocok untuk kamu!
"Ternyata begitu... Kau ternyata pintar, bocah!"
Sylvia bertanya, "Adzli.. apa yang kamu lakukan ?"
"Dari tadi aku fokus ke tanganku yang memfokuskan kekuatan sihirku dan dia sudah sadar kalau aku kidal, namun bukannya menyerang tangan kiri dia malah menyerang tangan kanan yang di gunakan untuk memfokuskan energi sihir."
"Jadi penggunaan sihir tanah berbalik dan berpindah ke tangan sebaliknya lalu mengeluarkan sihir yang berbalik juga ?"
"Iya,.. Jadi kalau aku gunakan sihir lagi pasti akan tewas dan dia melukai tangan kananku serta tangan kiri sudah lemas."
"Jadi apa kau akan melepaskanku ?" tanya gadis itu padanya.
Dia mengangguk dengan kesal tapi menatapku dengan senyuman dan dia tersenyum lebar di hadapanku...
"Hey anak muda! Jika kau ada waktu jadi kita nanti bertarung lagi! Sudah lama aku tidak menemukan orang yang memakai otak saat bertempur!"
"Oh... Ah iya paman," kataku sambil mengangguk.
Sekarang dia pergi dengan senang padahal tangannya terluka dan dia kalah, aku hanya menghela nafas lalu melihat pedangku tergeletak di tanah. Menghampirinya aku mengambilnya penuh dengan darah orang itu.
Mengambil sapu tanganku lagi, ini juga sudah berdarah akibat ikan tadi...
Sekarang sudah malam hari, sedangkan kami belum menemukan penginapan di kota ini dan bagaimana sekarang hah ? Ah, mungkin temannya Sylvia mau memberikan tumpangan tidur sehari saja.
Menoleh pada mereka berdua sylvia datang padaku, dia memegang tanganku dan menatapku dengan wajah memerahnya. Lalu dia memeluknya dengan erat, ini membuatku merasa gimana gitu!
"Sudah kubilang kamu boleh meminta apapun dariku kalau menang..."
"Aku cuman bercanda soal tadi jadi jangan pikirkan dan minta saja temanmu untuk memberikan kita tumpangan untuk tidur sehari saja."
"Itu soal nanti, kamu sekarang minta apa tapi jangan meminta yang berlebihan dan aku masih perawan."
"Apa untungnya aku tahu kamu perawan dan kalau minta sesuatu mungkin aku mau kecupan, tapi lupakan karena aku tak ingin hal it---"
*cup
Dia melakukan apa barusan ?! Apa aku bermimpi hah ?! Awalnya kukira dia ingin melakukan apa, dia mendekatkan bibirnya di pipiku dan mencium pipiku. Bahkan hal itu menyela perkataanku!
Sekarang setelah beberapa saat dia menatapku lalu tersenyum, entah kenapa aku merasa kalau gadis ini tampaknya seolah-olah orang yang polos.
"Kamu ternyata tahu kelemahan pengguna sihir tanah."
"Apa maksudmu ?"
"Intinya kamu melukai tangan kanan musuh dan tangan kiri musuh di biarkan, lalu kalau di paksakan bertempur maka pasti musuhmu akan mudah di kalahkan bahkan tanpa senjata," ucap Sylvia menjelaskan.
Aku hanya mengangguk paham menganggap hal ini sebagai keberuntungan walaupun aku sempat menebak kalau tangan kanannya itu mencurigakan, tampaknya aku sedang beruntung.
Menghela nafas melihat Sylvia dan perempuan ini, dia menatapku dan Sylvia secara bergiliran lalu tersenyum jahil. Entah kenapa aku merasa kalau kau punya sesuatu keburukan dalam kepalamu...
"Meminta kecupan pada gadis cantik sekota ini, kau memang licik.."
"Tenang saja Adzli, kamu orang pertama untukku."
"Ah, itu juga kecupan pertamaku seumur hidupku."
"Memang ibumu belum pernah memberimu ?'" tanya perempuan ini padaku.
Aku hanya menghela nafas dan menatap Sylvia lalu gadis yang aku tatap paham...
"Adzli tak punya orang tua."
"Oh begitu yah maaf..."
"Tak apa sekarang, aku hanya ingin meminta satu hal yaitu... Rumah..."
"Hah ?! Kau meminta rumah dariku ?!"
"Bukan.. Maksudku tempat bermalam... menginap."
"Ternyata apa.. Jangan buat orang salah sangka," katanya dengan memelas.
Dia mengangguk sambil menarik tangan sylvia dan tanganku, kami berjalan entah kemana di bawa olehnya dan bisakah kau pelan saat melangkah ?!
Saat ini aku merasa kalau pedang di pinggangku agak menganggu saat berjalan namun ini cukup membuatku nyaman, rasanya mungkin hari ini harusnya bisa tidur nyenyak.
"Nah sampai!" ucapnya dengan semangat.
Kami sampai di depan rumah kecil, namun terlihat ada sebuah tulisan 'Cangkir Biru!' dengan tanda seru, aku merasa kalau kata untuk penegasan suatu kata agak berlebihan di sini.
"Kalian bisa menginap di sini!"
"Ah, ini gratis bukan ?"
"Tentu saja... Tapi cuman semalam ini saja.."
"Baiklah tapi siapa namamu ?"
"Namaku Fiana, salam kenal."
Mengangguk dia membuka pintu lalu mempersilahkan aku untuk masuk, saat masuk aku melihat ada beberapa orang dan mereka menatap sylvia dengan tatapan yang aneh. Segera aku menghalangi tatapan mata mereka.
Namun Fiana tersenyum jahil lagi, sekarang aku hanya berpikir kalau hariku hari ini begitu indah dan di sisi lain suram...
CEWEK CULUN BERUBAH MENJADI CEWEK CANTIK.
15 like buatmu.
Mari kita saling dukung.
Semangat up terus ya..
Izin promote thor,novel aku
Judulnya :
- Abnormal Boy
- Pendekar Rawa Belut
Terima Kasih