Follow ig:@nafsie
Tomy dan jeny adalah sepasang sahabat dari kecil. Meskipun perbedaan usia mereka cukup jauh namun itu tidak menjadi penghalang kelekatan hubungan persahabatan mereka.
Tomy selalu baik dan bertanggung jawab menjaga dan melindungi jeny. Hal itu yang membuat jeny nyaman dan tidak bisa tanpa tomy.
Suatu ketika tiba tiba orang tua mereka mendadak menjodohkan mereka. Baik jeny maupun tomy mereka sama sama tidak bisa menolak. Itu karena kepatuhan mereka pada orang tua nya masing masing juga karna keadaan papah tomy (Pak cakra).
Merekapun akhir nya menikah.
Namun belum genap seminggu pernikahan mereka tiba tiba tomy memutuskan pergi ke belanda untuk waktu yang tidak bisa di tentukan.
5 Tahun jeny melalui hari harinya tanpa tomy di sisinya. Tanpa komunikasi juga kejelasan tentang hubungan mereka hingga akhir nya jeny mendatangi mertuanya dan mengatakan ingin bercerai.
Saat itu tomy muncul dan menolak dengan tegas perceraian yang di inginkan jeny.
“Dengar baik baik jeny. Mulai saat ini aku akan selalu ada di samping kamu. Tidak ada seorangpun yang bisa memutus pernikahan kita, Kecuali aku.” Tegas nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafsienaff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Jeny membuka selimut yang menutupi tubuh nya. Pelan pelan gadis itu mengangkat kepalanya. Kedua matanya menyapu seluruh sudut ruangan kamar nya. Tidak ada tomy disana. Padahal jeny tadi dengan jelas mendengar tomy membuka pintu kamar mandi.
“Kemana dia?” Gumam nya penasaran.
Jeny menyibak selimut yang menutupi seluruh tubuh nya kemudian bangkit dan turun dari ranjang. Jeny keluar dari kamar nya karna penasaran kemana suaminya.
“Tomy pergi bukan untuk menghindari pernikahan ini pah mah.. Tomy pergi untuk mempercepat masa belajar tomy. Tomy sadar dengan status tomy sekarang. Tomy adalah seorang suami yang sudah sewajibnya menafkahi istri tomy.”
Jeny berhenti melangkahkan kakinya tepat di tengah tengah tangga ketika indra pendengaran nya tidak sengaja menangkap suara obrolan tomy dan kedua orang tuanya.
“Tomy.. Mamah mengerti maksud kamu nak. Tapi apa tidak ada cara lain selain pergi ke amsterdam? Kalau kamu pergi, bagaimana dengan jeny nanti.”
Jeny menelan ludah nya.
Dadanya terasa sesak mendengar tomy yang akan pergi jauh darinya. Saat ini mungkin jeny memang sedang marah pada suaminya itu. Tapi bagaimana pun marah nya jeny, tomy tetap lah sahabat nya. Tomy orang yang selalu ada dan selalu menemaninya semenjak dirinya kecil dulu.
Tanpa sadar jeny meneteskan air matanya. Jeny tidak mau jauh dari pemuda itu.
“Tomy yakin jeny akan baik baik saja mah pah.. Ada kalian yang selalu bisa menjaga jeny. Lagian tomy juga pergi untuk kembali. Dan untuk membuktikan bahwa tomy bisa menjadi suami yang bisa di andalkan oleh jeny juga oleh kalian.”
Jeny menggelengkan kepalanya.
Gadis itu mempercepat langkah nya menuruni anak tangga menuju meja makan dimana saat ini tomy dan kedua orang tuanya berada.
“Gue nggak mau lo pergi.”
Tomy dan kedua orang tua jeny langsung menolehkan kepalanya ke arah jeny. Mereka semua diam menatap jeny yang sudah meneteskan air matanya.
Tomy menghela nafas. Tomy pun sebenar nya sangat berat dan sangat tidak bisa jauh dari gadis itu. Tetapi tomy tetap harus pergi. Ada tanggung jawab besar yang harus di emban nya mulai saat ini. Dan tomy tidak punya pilihan lain selain pergi untuk mempercepat masa belajar nya.
“Jen gue...”
“Lo marah sama gue? Lo ngomong yang jelas. Nggak usah kaya anak kecil pake pergi pergi segala.” Sela jeny marah.
Mamah dan papah jeny hanya diam saja. Mereka saling menatap sesaat kemudian menundukan kepalanya. Mereka berdua tau bagaimana akrabnya tomy dan jeny.
“Lo jahat tom.. Lo nggak punya hati.”
Jeny berlari setelah itu. Gadis itu kembali menaiki anak tangga satu persatu dengan berlari menuju kamar nya.
“Mah pah.. Tomy naik dulu.” Pamit tomy kemudian segera berlari mengejar jeny.
Tomy berlari cepat mengejar jeny menaiki anak tangga. Pemuda tampan itu terlihat sangat panik karna melihat jeny menangis tadi.
Tomy sampai di depan pintu kamar nya dan jeny. Tomy menelan ludah nya. Padahal tomy pikir jeny tidak akan perduli meskipun dirinya akan pergi. Tapi ternyata pemikiran nya salah. Jeny bahkan sampai marah dan menangis mengetahui dirinya akan pergi.
Tomy melangkah pelan masuk ke dalam kamar. Tomy menatap sendu pada jeny yang menangis tengkurab di atas ranjang.
“Jen.. Gue nggak marah sama lo.. Gue pergi juga bukan buat ninggalin lo. Justru gue pergi buat lo.” Kata tomy pelan.
Jeny tidak menghiraukan ucapan tomy. Gadis itu terus saja pada posisinya dan menangis menyembunyikan wajah nya.
“Gue minta maaf.. Gue minta maaf kalau gue buat lo nangis. Tapi jen gue...”
“Pergi..!!” Pekik jeny melempar guling nya pada tomy.
Dengan wajah memerah dan basah oleh air mata jeny menatap tomy. Isak tangis nya masih terdengar membuat nafas nya sedikit tersendat.
Tomy menundukan kepalanya. Ini kali kedua jeny menangis karna nya. Dulu jeny juga menangis bahkan memukulinya dengan tas saat tomy memberitahu dirinya akan pindah rumah.
Dan sekarang gadis itu kembali marah dan menangis karna dirinya yang bermaksud pergi sedikit jauh darinya.
“Pergi lo.. Pergi sana.. Pergi dan nggak usah kembali. Gue benci sama lo..!!” Marah jeny mengusir tomy.
Tomy menghela nafas. Bukan nya menjauh tomy justru mendekat pada jeny. Semuanya memang tidak mudah. Tapi tomy tetap harus melakukan nya.
“Jen.. Dengerin gue. Gue nggak maksud buat ninggalin lo.. Gue pergi karna memang gue harus pergi..”
Jeny menolak untuk menatap tomy yang berdiri di depan ranjang. Gadis itu sudah berhenti menangis namun masih sesekali terisak.
“Gue janji.. Gue bakal kembali buat lo jen.. Gue janji.” Lanjut tomy.
Melihat jeny yang terus saja membuang pandangan nya tomy pun berlahan naik ke atas ranjang. Pemuda tampan itu tidak perduli jika nantinya jeny memukul atau mendorong nya. Tomy hanya ingin meyakinkan istrinya.
“Jen.. Lo percaya kan sama gue..?” Tanya tomy meraih tangan jeny.
Jeny menarik cepat tangan nya. Gadis itu masih tetap tidak mau menatap tomy.
“Jangan sentuh gue. Lo pergi aja sana. Nggak usah perduliin gue. Toh lo juga bukan siapa siapa buat gue.” Ketus jeny.
Tomy menggelengkan kepalanya. Meskipun pernikahan mereka tidak di dasari oleh rasa saling mencintai tetapi tomy tetap merasa harus menjaga jeny dan bertanggung jawab atas gadis itu.
“Nggak jen. Lo salah.. Gue suami lo. Apapun alasan nya. Meskipun lo nggak mencintai gue tetapi lo tetap istri sah gue.” Kata tomy.
“Jen.. Gue mohon.. Lo ngerti. Gue pergi buat kembali. Gue nggak mungkin ninggalin lo. Lo sahabat gue satu satunya jen. Dan lo juga istri gue sekarang. Lo tanggung jawab gue.”
Air mata jeny kembali menetes mendengar nya. Jeny benar benar tidak bisa tanpa tomy. Jeny tidak terbiasa tanpa pemuda itu di samping nya.
“Apa kak sarah tau?” Tanya jeny datar.
Tomy berdecak. Pemuda itu meraih dagu jeny dan mengarahkan wajah basah oleh air mata gadis manis itu agar menatap nya.
“Sarah tau atau nggak itu nggak penting buat gue. Yang penting buat gue adalah lo tau.. Lo tau kenapa gue harus pergi dan lo percaya kalau gue pasti kembali.. Buat lo.” Bisik tomy.
Jeny kembali meneteskan air matanya. Padahal tadi dirinya bertekad sekali agar bisa lepas dari pernikahan nya dengan tomy apapun caranya. Tapi sekarang mendengar tomy akan pergi saja dirinya menangis.
“Lo percaya kan sama gue..?” Tanya tomy tersenyum sambil mengusap air mata yang membasahi pipi chuby jeny.
Meskipun pelan namun jeny akhir nya menganggukan kepalanya. Selama ini jeny selalu percaya pada tomy karna pemuda itu memang selalu baik dan bertanggung jawab. Tomy juga selalu memenuhi janji nya tanpa pernah mengingkarinya sekalipun.
“Gitu dong. Itu baru namanya sahabat gue.”
jika ada bibit pelakor pasti kata2 kasar mereka keluar, pelakor murahan, laknat, menjijikan, mudah mudahan dibinasakan
tapi beda
jika ada pebinor, mereka hanya diam kayak tidak ada apa2
reader2.......