Kisah seorang wanita yang di sia-siakan oleh lelaki yang paling di cintai nya.
"Tega sekali kamu Andra, aku sudah berkorban banyak sekali untuk mu, aku meninggalkan Ayah dan Ibu ku demi kamu, bahkan Ibu ku hampir bunuh diri demi kamu bisa di terima oleh Ayah ku, tapi apa balasan kamu, kamu menyakiti aku"
Indah Paramita.
"Aku tidak pernah meminta mu untuk berkorban untuk ku, Aku tidak pernah memaksa mu untuk meninggalkan orang tua mu demi aku dan aku tidak pernah memaksamu untuk menikah dengan ku. Jadi jangan kau anggap kau hebat atas pengorbananmu, ingat! aku tidak pernah memintanya.
Andra wirawan
Lalu bagai manakah kisah selanjutnya?
Akankah Indah akan tetap mempertahankan cinta yang lama yang kini mulai menyakitinya.
Ataukah Indah lebih memilih pergi dengan mencari cinta yang baru dan meninggalkan kenangan lama yang awalnya bahagia tapi akhirnya hampa.
Ataukah Indah akan pergi namun tidak lagi percaya dengan laki-laki karena Indah sudah sangat benci dengan laki-laki karena Ia menganggap lelaki semua penghianat!
Inilah kisahnya
TALAK TIGA (Perjalanan Cinta Indah)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"Indah"Terdengar Seseorang memanggil dari belakang tubuh Indah.
Saat ini Indah sedang berdiri di depan meja kasir Restaurant miliknya, ia sedang berbicara dengan petugas kasir, pembicaraan Indah terhenti mendengar namanya di panggil oleh seseorang yang suaranya tidak asing bagi dirinya,.
"Tapi apa mungkin?" batin Indah.
Indah tidak berani langsung berbalik, ia tetap terdiam seolah tidak percaya kalau namanya di panggil oleh orang yang sangat ia rindukan.
"Indah " seseorang itu kembali memanggil namanya,.
Karena rasa penasaran ia pun berbalik melihat seseorang yang sedang berdiri di belakangnya dan memanggil namanya.
Deeg!,jantung Indah berdetak kencang, tubuhnya bergetar seakan terasa lemas, air matanya menetes tampa permisi, ia tetap berdiri mematung di hadapan wanita yang memanggil namanya itu.
Ternyata apa yang Dia pikirkan tadi benar, ternyata yang memanggil namanya adalah orang yang ia rindukan, ternyata ia masih sangat mengenali suara Wanita yang sudah sedikit memiliki keriput di wajahnya karna termakan usia.
"Sayang"
"Sayang Indah" kata Wanita itu yang berjarak dua meter darinya.
"Ibu rindu" kata Wanita itu lagi dengan air mata yang sudah berlinang membasahi pipinya, Wanita itu merentangkan kedua tangannya memberi isarat agar Indah memeluknya, agar meringankan sedikit rindunya.
Indah mengetahui kemauan Ibunya, ia berjalan pelan mendekati Ibunya tapi setelah mereka dekat saling berhadapan Indah menghentikan langkahnya. Dirinya tidak menyambut pelukan Fatimah.
Fatimah Ibu dari Indah merasa sedih, ia menurunkan tangannya yang tadinya sudah merentangkannya ingin memeluk Putrinya, tapi ternyata Indah tidak menyambut pelukan itu.
Hati Wanita itu sakit, isak tangisnya mulai terasa pilu, ia sudah tidak perduli orang-orang yang melihatnya aneh atau mungkin pengunjung Restaurant itu mengira ia gila ia benar-benar tidak perdulu, ia masih berdiri di hadapan Putrinya hanya ada suara tangisan dari bibir manisnya, tangannya menutup mulutnya agar tanggisnya tidak semakin pecah.
Indah yang masih berdiri mematung di hadapan Ibunya itu tau, bertapa pilu hati Wanita yang melahirkan dan membesarkanya itu ia berdiri tanpa kata bahkan sudah tidak mengeluarkan air mata.
"Indah" panggil Ibunya dengan rasa rindu di yang menyelimuti hatinya.
"Indah tersadar dari lamunannya, ternyata ini bukan mimpi ini benar Ibu'"batin Indah
Tubuhnya lemas ia duduk di lantai memeluk kaki Ibunya, tidak lepas dari tontonan penyunjung Restaurant.
"Ibu" tangis Indah benar-benar pecah ia semakin erat memeluk kaki Ibunya.
"Indah" panggi Fatimah sambil memegang bahu anaknya agar sejajar berdiri dengannya.
"Ibuu indah rindu, maaf, Indah mohon ampun Bu, sudah menentang Ibu dan Ayah," ucap Indah.
Indah kemudian berdiri sejajar dengan Ibunya Fatimah, mereka kembali berpelukan melepas rindu karena sudah satu tahun tidak bertemu,.
"Ibu juga rindu sama kamu Nak" ucap Fatimah.
Tap tap tap. Terdengar suara sepatu yang berjalan mendekati mereka, laki-laki menggunakan jas hitam dengan setelan celana senada dan kemeja biru yang terus mendekat mereka, walau pun sudah termakan usia tetapi wajahnya masih terlihat segar walaupun ada sedikit berkerut di wajahnya.
"Ibu ayo pulang!! " ucap laki-laki itu dengan tegas dan muka datar tanpa ekspresi itu.
"Ayah " lirih Indah yang meneteskan air matanya, Indah melangkah ingin memeluk Ayahnya tapi ia di dorong Ayahnya tidak ingin memeluk dirinya, hatinya sudah terlalu sakit dengan apa yang di lakukan Indah padanya.
Abdullah menarik tangan Istrinya ia tidak perduli dengan tangisan Istrinya, Abdullah benar-benar telah di selimuti Api amarah.
Indah berusaha mengejar Ibunya yang di tarik paksa oleh Ayahnya, tapi kekuatan Ayahnya jauh lebih kuat darinya. Ayahnya terus berjalan dan mendorang pintu mobil yang di bukakan oleh supir pribadinya.
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil yang sedang melaju dengan kecepatan sedang, yang di kemudikan oleh supir pribadi Abdullah.
Fatimah melihat ke jendela, air matanya terus menetes pikirannya melayang entah kemana ia hanya menatap kosong jalanan itu. Begitu pun dengan Abdullah, ia sibuk dengan pikirannya sendiri di sepanjang perjalanan tidak ada yang memulai percakapan.
"Ayah " kata Fatimah, kini keduanya sudah di kediaman mereka dengan Fatimah duduk di samping ranjang kamarnya, sementara Abdullah duduk di sofa sedikit jauh dari Istrinya itu.
"Yah Ibu rindu" Fatimah bangun dari dudunya berjalan mendekati Suaminya ia duduk di samping Abdullah.
"Tapi dia tidak sayang pada kita" kata Abdullah memeluk Istrinya dari samping, Fatimah menjatuhkan kepalanya di bahu Abdullah,.
"Ibu kangen yah" kata Fatimah mengulangi ucapannya, dengan mulai terisak tidak sanggup menahan tangisnya.
"Cukup Bu, cukup Dia tidak sayang sama kita, kalau Dia sayang dengan kita Dia tidak akan membatah ucapan kita " kata Abdullah pada Istrinya lalu keluar dari kamar itu meninggalkan Fatimah yang mulai semakin merasa sakit hatinya.
***
Setelah kepergian Ayah dan Ibunya Indah masih tetap terduduk di lantai.
"Bangun Sayang" Andra datang melihat apa yang barusan terjadi pada Istrinya, ia membantu Istrinya bangun berjalan menuju ruang kerjanya.
"Andra apa Ayah, sangat membenciku?" Indah bertanya pada Andra dengan sesegukan yang masih keluar dari bibirnya.
Kini mereka berdua sudah duduk si sofa, Andra memeluk Istrinya dengan erat seolah memberikan Istrinya kekuatan ia terus menciumi kening Istrinya.
"Aku yakin orang tua mu pasti memaafkan kita, mereka sangat sayang pada Putrinya ini kamu sabar ya, nanti pasti mereka bisa menerima kita kembali." Kata Andra.
Mereka berdua terdiam dengan saling berpelukan. Hari sudah semakin malam mereka memutuskan untuk pulang.
***
Saat ini keduanya sudah di dalam rumah, keduanya menuju kamar dan membersihkan dirinya, dan kini duduk di kursi meja makan untuk makan malam.
"Andra" Panggil Indah pada Suaminya, yang duduk di kursi meja makan di sebelah kursi yang di duduki Indah.
"Ya apa Sayang" jawab Andra sambil mengunyah makanannya.
"Aku ingin minta maaf pada Ayah dan Ibu ku" kata Indah, yang tangannya mengadu-aduk nasi denga sendok di tangannya.
Andra menghentikan suapannya menaruh sendok yang ada di tangannya, ia memegang tangan Istrinya.
"Kamu benarkan ingin di maaf kan oleh Ibu dan Ayah," kats Andara pada istrinya.
"Iya " Indah menganggukan kepalanya sambil menatap suaminya.
"Besok kita ke sana dan minta maaf sama Mereka ya" kata Andra
"Kamu yakin Ndra" tanya Indah pada Suaminya.
"Yakin Sayang, memangnya kamu mau begini terus sama mereka???" Andra menatap manik mata Indah, sambil memegang kedua pipi Istrinya, Indah menggelen sebagai jawaban tidak.
"Nah kalau begitu besok kita ke rumah orang tua kamu, kita minta maaf sama minta restu mereka,." Kata Andra.
"Iya" Indah menjawab, Andra menghapus air mata yang mengalir di pipi Istrinya, ia menciumi kedua mata Istrinya, dan memeluk mesra Indah.