NovelToon NovelToon
Starfall: The Last Child From The Stars

Starfall: The Last Child From The Stars

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Akademi Sihir
Popularitas:531
Nilai: 5
Nama Author: Dorin

Pada malam ketika sebuah bintang jatuh menghantam bumi, takdir sebuah kerajaan berubah selamanya.

Ditemukan di dalam bola perak misterius dan dibesarkan sebagai pangeran, ia dianggap sebagai kegagalan karena tak memiliki mana di dunia yang menjadikan sihir sebagai segalanya.

Namun, di balik kelemahan itu tersembunyi kekuatan kosmik yang jauh melampaui sihir.

Kini, ia hanya ingin hidup normal sebagai siswa Akademi Sihir. Sayangnya, ketika kegelapan mengancam dunia yang telah menjadi rumahnya, pemuda dari bintang-bintang itu tak punya pilihan selain melepaskan kekuatan sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 – Pertarungan Brutal! Penyihir Hitam Yang Tak Bisa Mati.

Dungeon tipe labirin.

Dikenal sebagai jenis Dungeon yang paling merepotkan dan berbahaya. Tanpa keahlian navigasi yang memadai, seorang penjelajah yang ceroboh bisa dengan mudah terjebak di dalam lorong tanpa akhir hingga tewas kelaparan.

Pasalnya, denah labirin di dalam Dungeon selalu berubah-ubah secara ajaib dengan sendirinya.

Jika seseorang masuk dari cabang kanan lalu bermaksud untuk berputar balik, jalan yang baru saja ia lewati seketika akan berubah menjadi dinding atau lorong yang sama sekali baru. Belum lagi jebakan terselubung dan teka-teki mematikan yang siap menyambut di tiap sudut.

Melihat situasi tersebut, Jenderal Vermont mengusulkan agar mereka berpencar.

Ia sendiri merasa cukup mampu melewati labirin ini karena berbekal pengalaman masa lalunya.

Sementara untuk Edward, sang Jenderal percaya ia sama sekali tidak perlu mengkhawatirkannya—terutama setelah menyaksikan serangan berkekuatan destruktif dari mata pangeran muda itu sebelumnya.

Namun, dengan cepat Edward menolak usul berpencar tersebut.

Pangeran muda itu justru menawarkan sebuah metode yang jauh lebih efektif dan hemat waktu daripada harus berputar-putar tanpa arah.

Metode itu adalah... menghancurkan dindingnya.

BOMM!

Cukup dengan satu pukulan tinju santai dari Edward, sebuah lubang besar seketika tercipta di tengah-tengah dinding persimpangan keras tersebut.

Tidak berhenti di sana, setiap kali mereka kembali menemukan persimpangan atau jalan buntu, Edward cukup berjalan lurus ke depan dan menerobosnya tanpa ragu.

Entah itu dinding berbatu tebal atau barisan struktur gua yang kokoh, Edward selalu berhasil menjebolnya dan membuat jalur baru secara paksa.

Begitu seterusnya mereka melangkah lurus tanpa memedulikan denah labirin, hingga akhirnya mereka tiba tepat di depan pintu ruang bos—sebuah pintu gerbang berukuran raksasa yang terbuat dari besi hitam tebal.

Edward menoleh santai ke arah sang Jenderal. “Bagaimana? Langsung ketemu ruangannya, kan?”

Jenderal Vermont hanya bisa berkedip lemas. “I-iya....”

Edward melangkah mendekat ke arah pintu besi raksasa di hadapan mereka dengan satu tangan terangkat santai.

“Baiklah, ini yang terakhir.”

BOOM!!!

Pintu besi raksasa yang ukurannya bahkan melebihi sebuah rumah itu seketika hancur penyok tak berbentuk.

Daun pintu berbobot tonan itu melesat terbang menerobos kegelapan ruangan, sebelum akhirnya menancap tragis di dinding bagian dalam.

Di tengah-tengah ruangan remang-remang tersebut, seorang lelaki bertato tampak berdiri menyambut kedatangan mereka dengan menyunggingkan seringai yang teramat mengerikan.

Tubuh lelaki itu terlihat sangat kurus bagai kerangka, dengan tatapan mata yang kosong dan mencekam. Darah segar tampak terus mengalir dari jemarinya, membasahi sebagian besar tubuhnya.

“Oh, kalian sudah datang rupanya? Tidak kusangka kalian bisa sampai sejauh ini dengan begitu cepat. Selamat dat—ARGHH!!!”

Zzzt— BOOM!

Tanpa memberikan kesempatan sedikit pun bagi lelaki itu untuk menyelesaikan kalimat penyambutannya, Edward langsung menyerangnya menggunakan sorotan energi mematikan dari sepasang matanya.

Serangan dadakan yang teramat kuat itu sukses membuat si lelaki misterius terpental hebat melintasi udara.

Brak! BZZZT!

Tubuhnya menghantam keras dan menghancurkan beberapa rak buku kayu berukuran besar yang terbengkalai di belakang sana. Sebagian tubuhnya tampak hancur dan memancarkan pendar bara panas sisa radiasi serangan Edward.

Jenderal Vermont seketika terbelalak panik.

“Y-Yang Mulia Pangeran! Apa yang baru saja Anda lakukan?! Dia bisa saja orang malang yang sedang terjebak di dalam sini!” protes sang Jenderal dengan suara meninggi.

Edward yang tadinya berwajah dingin seketika mendadak gugup setengah mati.

“Oh... a-apa iya...? A-aku kira dia tadi salah satu jenis monster. Lagipula... s-salahnya sendiri berpenampilan seram seperti itu!” sahut Edward sembari memalingkan wajahnya, berusaha membela diri.

Ia kemudian berdeham pelan, mencoba mencari pembenaran.

“T-tapi lihat dari sisi baiknya, kan? Kita setidaknya sudah menolong dia keluar dari penderitaannya lebih cepat, benar kan?”

Jenderal Vermont memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. “Bukan seperti itu cara kerjanya, Pangeran!”

“Hahaha....”

Suara tawa berat mendadak menghentikan perdebatan konyol antara Edward dan Jenderal Vermont.

“AHAHAHAHA...!”

Tawa histeris yang berasal dari balik reruntuhan tempat lelaki misterius itu terlempar seketika menyita perhatian penuh mereka berdua.

Secara mengejutkan, luka bakar mengerikan akibat serangan mata sang Pangeran tampak menutup dan sembuh seketika dalam hitungan detik. Seolah-olah sejak awal tidak pernah ada luka fatal di tubuhnya.

Lelaki itu melangkah keluar dari tumpukan buku dan serpihan kayu sembari menyeringai lebar, menampilkan deretan gigi yang tidak rata dan berlubang.

“Itu tadi sakit sekali, Keparat!”

Sret!

Tiba-tiba saja, keberadaan orang itu menghilang secara instan dari pandangan.

Dalam waktu yang teramat singkat, ia telah berteleportasi dan muncul tepat di hadapan Jenderal Vermont.

BOMM!

Dengan satu tinju yang teramat kuat, ia memukul telak wajah sang Jenderal hingga tubuh pria itu melesat memotong udara, terpental keluar dari ruangan, dan menghantam keras dinding gua di luar.

BRUAK!

Tanpa membuang waktu, sepasang mata kosong si penyihir hitam melirik cepat ke arah Edward.

“Selanjutnya... kau!”

Satu pukulan brutal kembali dilayangkan dengan kecepatan ekstrem.

Namun, kali ini Edward dengan sigap telah mengangkat dua tangannya untuk menangkis serangan tersebut.

Meski berhasil ditangkis, dorongan tenaga masif dari lelaki misterius itu tetap mampu membuat tubuh sang Pangeran terdorong melayang ke udara hingga menabrak dinding batu di belakangnya.

Wush!

Si penyihir misterius melompat menyusul ke atas, lalu melayangkan tendangan menukik yang mendarat tepat di perut Edward hingga menciptakan ledakan energi lanjutan.

BOOM!

Dinding batu itu seketika hancur lebur. Sebagian struktur atap ruangan merosot runtuh, menimbun tubuh pemuda itu di bawah tumpukan bebatuan.

Lelaki misterius itu melompat mundur dengan mulus, mendarat kembali di atas lantai.

“Aku belum pernah melihat jenis serangan seperti tadi. Kau rupanya memiliki sihir unik yang sangat menarik... Aku ingin merebutnya darimu.”

“Dalam mimpimu, Sialan!”

Wush!

Jenderal Vermont yang sudah kembali bangkit melesat cepat dari arah belakang bagaikan kilat.

Dengan kemarahan yang membara, ia mengayunkan pedang besarnya dengan tenaga penuh, menebas lurus dan membelah tubuh lelaki misterius itu menjadi dua bagian secara vertikal.

Namun, secara mengejutkan, potongan tubuh bagian bawah lelaki misterius itu mendadak bergerak sendiri!

BOMM!

Kaki monster itu melayangkan tendangan telak, menghantam keras pinggul Jenderal Vermont. Lagi-lagi, sang Jenderal harus kembali melesat memotong udara dan menabrak dinding batu dengan hantaman yang menyakitkan.

Layaknya sebuah rekaman video yang diputar mundur, potongan tubuh bagian atas yang sempat melayang kini bergerak melayang balik, menyatu sempurna dengan potongan bawahnya.

Luka tebasan lebar di pinggangnya mendadak menutup rapat dan sembuh total dalam sekejap mata.

Lelaki itu menyeringai puas. “Sampai di mana kita tadi? Oh ya, kau—”

Zzztt!

Dari balik tumpukan reruntuhan batu tempat Edward terkubur, dua pilar cahaya keemasan kembali membelah udara dengan kecepatan ekstrem, menyambar tepat ke arah si penyihir misterius.

Meskipun sempat diangkat kedua tangannya untuk menangkis, daya dorong destruktif dari serangan mata Edward tetap berhasil menerbangkan tubuh lelaki itu hingga menghantam dinding berulang kali.

Brak!

Edward melangkah keluar dari tumpukan puing-puing batu.

Dengan sepasang mata yang berpendar kuning keemasan, ia melayang terbang dengan kecepatan tinggi menuju titik tempat si lelaki misterius terlempar.

Sial bagi lelaki itu. Sebelum ia sempat menyadari pergerakan musuhnya, lehernya sudah lebih dulu dicengkeram erat oleh tangan besi sang Pangeran.

Bum! Bum! Bum!

Tanpa ampun, Edward membenturkan kepala lelaki itu ke dinding batu secara berulang kali.

Ia lalu melemparkan tubuh si penyihir melayang ke udara, menangkap salah satu kakinya dengan refleks cepat, dan membantingnya berkali-kali ke lantai berbatu, sebelum akhirnya melempar tubuh yang sudah hancur itu bagai membuang seonggok sampah.

Khhh...

Gumpalan asap pekat dan debu tebal seketika membumbung tinggi memenuhi seluruh sudut ruangan, menutup rapat jarak pandang.

Edward baru tersadar sesaat kemudian, ketika sebuah pilar batu raksasa mendadak melesat menembus ketebalan asap, menghantam tubuhnya secara langsung!

BOOM!

Hantaman brutal pilar batu tersebut bahkan sanggup menghancurkan struktur gua dan menciptakan sebuah lubang jalan baru yang mengarah keluar dari ruangan bos.

Perlahan, si lelaki misterius melangkah keluar dari balik kepulan debu.

Kondisinya tampak teramat mengerikan. Kepalanya telah terputar 180 derajat ke belakang, sementara sendi-sendi di tangan dan kakinya meliuk melintir secara ekstrem.

Krak! KRAK!

Lelaki itu memegang kepalanya sendiri, lalu memutar paksa posisinya kembali ke depan dengan suara patahan tulang yang nyaring mengilukan, diikuti oleh seluruh sendi tubuhnya yang membetulkan diri hingga kembali normal seperti semula.

“Menarik... Sungguh sangat menarik....”

Ia membunyikan lehernya. “Saatnya untuk serius.”

1
Dorona
Cerita bagus bgt. aku suka alurnya. sering2 up 👍👍
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😍😍😍. siap laksanakeun 🤣🤭💪💪
total 1 replies
SilentNovels
lumayan ni alurnya
Jangan lupa ke naskah aku juga ya
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😁😄. semoga enjoy dengan ceritanya 🥰😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!