Sebuah kerajaan terbesar punya misi menangkap semua petarung liar untuk kedamaian. Namun semua perguruan seni bertarung pedang menolaknya. Karena mereka tahu kalau kerajaan ingin mengatur masyarakat dengan menguasai sumber daya.
Sepasang pendekar pedang ini menjadi penyelamat untuk melawan sebuah kerajaan besar. Mereka melakukan perjalanan bersama untuk mengumpulkan rahasia teknik pedang tersembunyi dan dua pedang Sakti.
Pedang Zen Xi di Desa Win, lalu pedang Zoi Chu di Desa Hon. Namun mereka harus melewati rintangan dan tempat untuk bisa sampai di tujuan. Lalu mereka kembali untuk mengalahkan Kerajaan Sinpor.
Setelah masalah Kerajaan Sinpor selesai, kisah cinta mereka berdua sempat mendapatkan penolakan dari orang tua perempuan, karena perbedaan kelas sosial. Namun mereka berdua punya cara agar mereka berdua bisa menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firdaus Rangkuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desa Kecil
Rio bangkit melipat matras, lalu hendak berjalan mengantuk ke sungai. Lalu Rio berjalan ke tempat api unggun, duduk mengemasi barang bawaan ke dalam ransel.
"Hei, Jinsin bangun." sambil mengemasi, Rio membangunkan Jinsin masih tidur berselimut membelakanginya. Jinsin melepas ikatan kaki pria itu dengan pisau. Lalu membangunkannya, dia sadar kemudian duduk melihat mereka berdua.
"Ooh sudah pagi ya." Kenapa tidak bilang."
Jinsin dan Rio bersiap untuk mengisi perut dengan menangkap Ikan di sungai. Lalu Jinsin mengumpulkan makanan di hutan secara bergantian. Setelah itu mereka berdua berangkat ke desa, di pegang oleh Rio dalam kondisi tubuh dan tangan terikat tali. Mereka berjalan sudah dekat di desa yang dituju.
"Ini desanya." mereka lalu bersembunyi di balik pohon besar di penuhi semak bersama pria itu. Rio mengintip desa itu di jaga oleh para pria memegang pedang. Di sisi lain para penduduk desa sangat ketakutan berjalan melewati mereka melakukan aktivitas.
"Bagaimana Rio?" Jinsin melihat Rio juga jongkok di sebelahnya.
"Kita akan menghampirinya." ucap Rio.
"Mereka itu di kelilingi oleh para penduduk Rio. Kita bawa sandera, tapi mereka bisa membahayakan penduduk desa jika kita kesana." ucap Jinsin bisik.
"Ikat dia ke pohon itu. Kita akan kesana berdua." Rio punya rencana untuk menyelamatkan penduduk desa dari para petarung itu. Jinsin mengikat tubuh pria itu di pohon. Lalu mulutnya di sumpal kain dan di buat tidak sadarkan diri dengan cara dipukul.
"Sudah, ayo jalan." Rio berdiri di depan pria itu di letakkan jauh dari desa. Mereka saling menatap lalu saling memukul kompak telapak tangan kanan saat hendak ke desa itu.
"Itu dia, Kita ikuti warga itu." Jinsin jongkok mengintip seorang wanita sendirian memegang kendi air di letak atas kepala berjalan menuju sungai. Mereka berdua mengikuti mereka dengan mengendap-endap perlahan. Setelah sampai di sungai Mereka berdua berdiri di hadapan wanita itu.
"Hah. Ampun..." wanita itu sedang ambil air memakai kendi. Lalu dia menoleh ke arah mereka berdua penuh kaget dan wajahnya terlihat kasihan kepada Rio dan Jinsin.
"Ikut kami." Jinsin memegang tangan wanita muda itu ke suatu tempat.
"Bisa kamu jelaskan kepada kami, apa yang terjadi pada desa itu?"
Wanita itu menjelaskan bahwa di sebuah desa terpencil berada di dalam hutan sudah di kuasai oleh para petarung liar. Mereka mengambil sumber daya dan membuat aktivitas mereka menjadi terganggu akibat para petarung membuat aturan yang dapat menghambat mereka. Jika di langgar mereka akan mendapatkan hukuman yang berat.
"Apa, itu jahat sekali." Jinsin kaget mendengar cerita wanita itu, wajah penuh kasihan. Rio diam menatap wanita cantik itu. Lalu dia memikirkan sesuatu agar penduduk desa itu bisa selamat.
"Kau tahu jumlah mereka ada berapa?"
"Kami tidak tahu. Karena kami tidak bisa pernah berkeliling." ucap wanita muda.
"Karena aturan yang ketat."
"Bukan aturan ketat, tapi tak punya aturan." Jinsin menyela pembicaraan Rio.
"Sama saja itu."
"Beda b*d*h."
"Plaaaak...." Jinsin memukul wajah Rio karena kesal pemikiran dia di lawan olehnya.
"Kau tak perlu memukul ku di saat seperti." Rio memegang kepalanya yang sakit.
"Kita akan menyamar menjadi warga biasa." Rio mengambil kesimpulan.
"Sebaiknya kita pancing musuh mengejar kita." ucap Jinsin.
"Iya kalau mereka mengejar. Kalau mereka diam saja, bagaimana?" tanya Rio wajahnya sinis.
"Plaaaakk...." Jinsin memukul kepala Rio kedua kali.
"Kita akan mengikuti saran Rio." ucap Jinsin. Mereka berdua berjalan di temani wanita muda di depan menuju pintu masuk desa kecil, di jaga ketat oleh dua pemuda berwajah seram.
Lalu Rio dan Jinsin menunda sementara perjalanan untuk mengambil sebuah pedang sakti. Mereka berdua berniat untuk membantu desa kecil itu agar rakyat desa dapat terbebas para petarung liar. Mereka melakukan segala cara untuk melakukan menyelamatkan semua warga desa.
"Hei, dari mana saja kau." seorang pria itu menarik tubuh wanita muda itu hingga kendi berisi air itu terjatuh ke tanah dan pecah. Rio mulai habis kesabaran melihat tingkah mereka memperlakukan wanita muda itu dengan tidak sopan. Namun Jinsin memegang tangan kanan Rio lalu menggelengkan kepala saat Rio melihat Jinsin. Rio pun menghentikan langkah kakinya untuk bersabar.
"Hei, kalian berdua siapa. Orang baru ya?" seorang pria yang satunya menghampiri mereka berdua penuh heran. Pria itu melihat tubuh dan pakaian mereka berdua dari atas sampai bawah.
"Kalian mau ngapain ke sini?" tanya penjaga desa.
"Rumah kami di sini, tuan." Jinsin menjawab pertanyaan pria itu dengan santun.
"Saya tidak pernah liat, kami di sini sudah lama tau kan? pria itu mengacak rambut Rio, wajah menantang, suara melengking. Rio diam tidak melakukan apapun dengan menahan amarah di perasaannya.
"Kami baru pulang dari sebuah tempat yang jauh, tuan. Boleh kami masuk?"
"Tidak boleh, kalian tidak dikenal. Sebaiknya kalian pergi dari sini." Rio dan Jinsin terdiam mendengar ucapan pria penjaga desa itu. Lalu mereka berdua saling menatap.
"Kenapa kalian saling menatap. Ayo pergi."
"Ada apa ini. Hoi hoi hoi." ucap pria yang telah selesai mengganggu wanita muda itu.
"Katanya, mereka berasal dari sini."
"Sudah, biarkan mereka masuk. Nanti bos marah." pria itu tidak melihat mereka berdua berdiri dan langsung pergi memperhatikan warga yang lain sedang keluar masuk desa.
Setelah mendapat izin tanpa pemeriksaan, Rio dan Jinsin berjalan masuk di temani oleh satu pria di belakangnya. Di dalam desa, mereka melihat banyak warga melakukan aktivitas di ganggu oleh para petarung liar itu. Di sebelah kiri, dua orang warga desa sedang menganyam bambu, di perhatikan oleh dua pria sedang melihat dan mengacak anyaman bambu yang sudah di letakkan di teras rumah. Rio terus berjalan melihat banyak kekacauan yang di buat olehnya.
"Di mana rumah kalian?" pria itu bertanya dengan wajah seram saat berada tepat di hadapannya menghentikan langkah Rio dan Jinsin.
"Rumah kami disana, tuan." Jinsin menunjuk rumah kosong itu.
"Itu rumah kosong, tidak ada siapapun. Betulkah itu?" pria itu mengeluarkan pedang dari saku ke arah tubuh Rio. Jinsin memegang tangan kiri Rio, dia memahami dengan diam saat pedang itu di arahkan tepat menyentuh perut Rio. Para petarung lain langsung melihat mereka berdua. Kemudian berjalan mendekati mengelilingi mereka dengan melihat dari atas tubuh sampai bawah tubuh.
"Siapa ini."
"Orang barunya."
"Kok bisa masuk ya."
"Wanita itu cantik juga."
"Haaa haa haha aaahaha...."
Para petarung sahut menyahut di hadapan mereka dan tertawa keras kompak. Mereka berdua diam mendengar ucapan para petarung yang berkumpul. Namun perasaan Rio tidak tahan, segera ingin bertarung.
"Bagaimana Jinsin." bisik Rio. Lalu Jinsin diam melihat para petarung berkumpul.
"Hei, kalian berdua cepat jawab!" teriak pria masih mengarahkan pedang ke tubuh Rio. Dia menatap tajam pria itu dan melihat pedang itu sudah menekan ke tubuh Rio.
"Biarkan kami lewat, itu rumah kami disana." Jinsin mulai berjalan di gandeng Rio. Lalu dia melepas pedang pria itu yang menempel di tubuhnya dengan mundur lalu jalan mengikuti Jinsin hendak melewati berdiri pria yang memegang pedang itu.