NovelToon NovelToon
ILUSI HANGAT

ILUSI HANGAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:705
Nilai: 5
Nama Author: zayyana

"Elian sengaja menciptakan neraka, hanya agar ia bisa menjadi satu-satunya surga tempat Lyra bersandar."

Menyembunyikan kecantikan di balik sikap tertutup adalah cara Lyra Anya Cassandra bertahan hidup di SMA Elit Gava. Statusnya sebagai siswi yatim piatu penerima beasiswa menuntutnya untuk tidak terlihat.

Namun, sebuah kotak bekal siang yang sederhana menghancurkan seluruh pertahanannya.

Lyra mendadak menjadi target perundungan yang kejam. Di tengah keputusasaan itu, hanya Elian cowok paling berpengaruh di sekolah yang bersedia menjadi pelindungnya.

Lyra mengira itu keberuntungan, tanpa tahu bahwa Elian sendiri yang menyalakan api neraka demi memaksanya datang kepelukan elian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Pertama di Toko Kue

Sore berikutnya, distrik komersial barat diselimuti langit jingga yang hangat. Sebuah mobil sedan hitam mewah yang mengkilap berhenti beberapa meter dari Toko Kue Tradisional Nenek.

Di dalam kabin mobil, Elian Gava Alaric sedang merapikan penampilannya. Pemuda tampan berwajah simetris itu sengaja melepas jas seragam SMA Gava miliknya. Kini ia hanya mengenakan kemeja putih yang digulung hingga sebatas siku, memperlihatkan jam tangan kronograf hitam yang mahal.

Rambut hitamnya yang berpotongan comma hair ditata sedikit acak-acakan namun tetap terlihat sangat stylish. Setelah menyemprotkan sedikit parfum beraroma amberwood yang hangat dan maskulin, Elian membuka pintu mobil.

Tring!

Lonceng kuningan di atas pintu kaca ruko tua itu berdenting nyaring saat Elian mendorongnya masuk. Aroma manis mentega, kayu manis, dan vanila langsung menyergap indra penciumannya.

"Selamat datang! Silakan dilihat-lihat dulu kuenya, semua baru matang dari oven," teriak seorang gadis dengan ramah dari balik etalase kaca.

Gadis itu adalah Lyra Anya Cassandra. Penampilannya sore ini terlihat sangat menggemaskan di mata Elian. Rambut hitam panjangnya diikat kuncir kuda yang tinggi, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih bersih. Ia memakai celemek kain putih bermotif bunga-bunga kecil di atas kaus oblong santainya. Sepasang mata bulatnya yang jernih berbinar ramah menyambut pelanggan.

Namun, senyuman di wajah manis Lyra mendadak membeku saat matanya bertatapan langsung dengan sepasang manik mata hitam jelaga milik Elian yang tajam dan menawan.

"Kamu..." gumam Lyra pelan, bibir tipisnya sedikit terbuka karena terkejut.

Elian melangkah mendekat dengan santai. Langkah kakinya yang tegap dan berwibawa membuat ruangan ruko yang sempit itu mendadak terasa penuh dengan auranya yang dominan.

"Lupa denganku?" tanya Elian dengan nada suara yang berat dan seulas senyum tipis di wajah tampannya.

"Kamu... cowok yang di taman belakang sekolah kemarin, kan?" balas Lyra sambil menunjuk Elian dengan jemari kurusnya yang masih belepotan sedikit tepung putih.

"Benar," sahut Elian pendek sambil bersandar di meja etalase kaca yang bersih. Matanya tidak lepas memandangi wajah Lyra yang mulai merona kemerahan karena gugup.

"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Lyra bingung, sepasang mata bulatnya mengerjap pelan penuh rasa penasaran. "Ini kan jauh dari area perumahan elit di depan sekolah."

"Aku sedang ingin makan yang manis-manis," jawab Elian santai, berbohong dengan wajah yang sangat meyakinkan. "Dan kebetulan, aku mencium bau kue yang enak dari jalan raya."

Lyra sempat tertegun mendengar suara berat pemuda di depannya. Ditambah lagi, aroma parfum amberwood milik Elian yang mewah mulai memenuhi sudut toko, mengalahkan wangi kayu manis dan membuat dada Lyra berdebar aneh.

"Oh... begitu," balas Lyra dengan nada canggung sambil merapikan letak kacamata bulatnya yang sedikit melorot di hidung bangirnya. "Mau pesan kue apa? Di sini ada kue sus, bolu gulung cokelat, sama kue lapis legit buatan Nenekku."

Elian melirik ke arah nampan-nampan kue yang berjejer rapi. "Mana kotak bekal yang kemarin?"

"Eh?" Lyra mengerutkan keningnya, tampak salah tingkah. "Kotak bekal hijau itu? Sudah aku cuci bersih kok. Tapi... kenapa kamu tidak membawanya kembali ke sekolah saja besok?"

"Aku tidak sabar untuk bertemu pemiliknya lagi," goda Elian dengan suara yang merendah, membuat jantung Lyra serasa melompat dari tempatnya.

"Nasi goreng menteganya... enak?" tanya Lyra cepat-cepat mengalihkan pembicaraan, berusaha menyembunyikan wajahnya yang semakin memanas.

"Enak," jawab Elian jujur. "Sangat hangat. Aku suka."

Lyra tersenyum lebar mendengar pujian itu. Sepasang mata bulatnya melengkung indah seperti bulan sabit. "Syukurlah kalau kamu suka! Nenekku pasti senang sekali mendengarnya."

Tepat saat itu, seorang wanita tua dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya keluar dari arah dapur belakang. Wanita itu tersenyum ramah melihat sosok pemuda tampan dan bertubuh tegap yang sedang mengobrol dengan cucunya.

"Eh, ada pelanggan tampan. Mau beli kue apa, Nak?" tanya Nenek dengan suara yang lembut dan ramah.

"Sore, Nek," sapa Elian sopan. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya yang tinggi, memberikan impresi sebagai pemuda yang sangat santun dan terdidik di depan wanita tua itu. "Saya temannya Lyra di SMA Gava."

Lyra langsung melotot kaget mendengar ucapan Elian. "Teman? Sejak kapan kita—"

"Iya, Nek. Kemarin Lyra berbaik hati membagi bekal makan siangnya denganku di sekolah," potong Elian cepat sambil menatap Lyra penuh arti, memaksa gadis itu untuk menutup mulutnya.

"Oh ya? Waduh, terima kasih ya sudah mau berteman dengan cucu Nenek yang pemalu ini," balas Nenek gembira, wajah keriputnya tampak sangat senang. "Lyra ini jarang sekali cerita punya teman cowok di sekolah baru."

"Lyra anak yang baik, Nek. Makanya saya suka," sahut Elian dengan nada suara yang terdengar tulus, padahal ada kilat posesif yang gelap di balik matanya saat memandangi Lyra.

"Kalau begitu, Nak tampan harus coba kue sus buatan Nenek. Ini resep rahasia keluarga," tawar Nenek bersemangat sambil mengambil jepitan kue.

"Saya beli semua kue sus yang ada di nampan ini, Nek. Tolong dibungkus," ucap Elian tenang sambil mengeluarkan dompet kulit hitamnya yang tebal.

"Semuanya?!" teriak Lyra kaget, matanya membelalak sempurna melihat Elian yang langsung mengeluarkan beberapa lembar uang berwajah seratus ribu rupiah tanpa berkedip. "Ini ada dua puluh biji lebih, kamu mau makan sendiri?"

"Untuk orang-orang di rumahku," jawab Elian santai sambil menyerahkan uangnya pada Nenek.

Nenek dengan wajah berseri-seri segera membungkus kue-kue tersebut ke dalam kotak kardus. "Sebentar ya, Nenek siapkan dulu di belakang. Lyra, temani temenmu mengobrol dulu!"

Setelah Nenek kembali ke dapur, suasana di dalam toko mendadak menjadi canggung bagi Lyra. Ia sibuk mengelap permukaan meja etalase berulang kali untuk menghilangkan rasa grogi karena terus ditatap oleh sepasang mata elang milik Elian.

"Nama kamu... siapa?" tanya Lyra pelan tanpa berani menatap wajah Elian. "Kemarin kita belum sempat kenalan."

"Elian," jawab pemuda itu pendek. "Elian Gava Alaric."

Jemari Lyra yang sedang memegang kain lap mendadak terhenti. Kepalanya mendongak cepat. "Alaric? Nama belakangmu... sama seperti nama sekolah kita?"

"Iya," balas Elian dengan senyuman tipis yang misterius. "Keluargaku donatur terbesar di sana."

Lyra menelan ludahnya dengan susah payah. Pantas saja pemuda di depannya ini terlihat sangat berkelas, stylish, dan memiliki aura yang menekan. Ternyata dia adalah anak dari orang paling berpengaruh di SMA Gava.

"Kenapa anak donatur terbesar mau makan nasi goreng mentega di kotak plastik murahan milikku?" gumam Lyra tidak percaya, suaranya hampir tidak terdengar.

Elian memajukan tubuhnya sedikit, membuat jarak di antara wajah mereka hanya tersisa beberapa puluh sentimeter saja. Aroma parfum amberwood-nya kembali mengunci kesadaran Lyra.

"Karena makanan murahanmu itu terasa jauh lebih berharga daripada semua makanan mahal yang pernah kumakan, Lyra," bisik Elian intens, mengunci tatapan mata cokelat jernih milik gadis itu agar tidak bisa berpaling.

Lyra membeku di tempatnya. Logikanya yang polos mulai menangkap ada sesuatu yang aneh dari cara Elian menatapnya. Namun, sebelum ia sempat mencerna perasaan asing itu, Nenek sudah kembali membawa dua kotak besar berisi kue sus.

"Ini kuenya, Nak Elian. Terima kasih banyak ya sudah memborong kue Nenek," ucap Nenek sambil menyerahkan bungkusan tersebut.

Elian menarik kembali tubuhnya dan menerima kotak kue itu dengan senyuman sopan. "Sama-sama, Nek. Saya pamit pulang dulu. Makanannya sangat menyenangkan."

Sebelum melangkah keluar pintu, Elian kembali menoleh ke arah Lyra yang masih berdiri kaku di balik etalase.

"Sampai jumpa besok di sekolah, Lyra Anya Cassandra," pamit Elian dengan penekanan yang sangat jelas pada nama lengkap gadis itu, lalu mendorong pintu kaca hingga lonceng kecil kembali berdenting sepi.

Lyra hanya bisa menatap punggung tegap Elian yang berjalan memasuki mobil sedan hitam mewahnya dari balik kaca toko. Dadanya masih bergemuruh hebat karena interaksi barusan.

Gadis yatim piatu yang teramat polos itu sama sekali tidak menyadari, bahwa kunjungan singkat sore ini adalah awal dari tali jerat tak kasat mata yang mulai dipasang Elian untuk mengunci seluruh sisa hidupnya dalam sangkar obsesinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!