"Selama lima tahun pernikahan, Alina Prameswari adalah sosok istri dan ibu yang sempurna bagi suaminya, Adrian Wicaksono, dan anaknya, Arka. Namun, cintanya seperti makanan basi yang dibuang begitu saja di hadapan Vania Safira, cinta pertama Adrian yang kembali dengan alasan sakit parah.
Adrian dan Arka memilih merayakan ulang tahun Vania, meninggalkan Alina sendiri di malam ulang tahun pernikahannya. Tak hanya itu, Vania juga mengunggah foto kalung peninggalan ibu Alina yang ""dipinjamkan"" Adrian dan cangkir buatan Arka bertuliskan ""Mama"" untuk Vania.
Alina langsung mengajukan gugatan cerai. Ia meninggalkan rumah, pindah ke apartemen kecil, dan mengumpulkan bukti dengan pengacaranya. Di tengah-tengah rasa sakit itu, Alina bertemu dengan Damar Adhitama dan putranya Nara yang menolongnya saat malam hujan.
Di antara Damar yang memberinya ketenangan dan Adrian-Arka yang masih mengikat hatinya, ke manakah hati Alina akan berlabuh?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 08 - Kamu Bukan Lagi Rumahku
Pagi berikutnya, Alina bangun di kamar tamu rumah Damar dengan mata bengkak.
Untuk beberapa detik, ia tidak tahu di mana dirinya berada. Langit-langit putih, tirai abu-abu, aroma sabun lavender yang asing, dan suara anak kecil bernyanyi sumbang dari lantai bawah.
Lalu ingatan kembali.
Ia sudah pergi.
Kalimat itu tidak langsung terasa lega.
Ada kosong yang besar di dadanya.
Di sisi tempat tidur, selimut kuning milik Nara masih menutupi tubuhnya. Alina menyentuh kain lembut itu, lalu duduk perlahan.
Ponselnya penuh notifikasi.
Tiga puluh dua panggilan tak terjawab dari Adrian.
Lima dari Ratna.
Tujuh belas pesan dari nomor keluarga Wicaksono.
Dua pesan dari Nadia.
Dan satu pesan dari nomor Vania yang baru.
Alina membuka pesan Nadia lebih dulu.
Nadia:
Dokumen sudah saya kirim ke Pengadilan Agama Jakarta Selatan untuk persiapan pendaftaran. Hari ini kita finalisasi daftar harta bersama. Jangan bertemu Pak Adrian sendirian kalau tidak perlu.
Alina membalas:
Baik, Bu.
Setelah itu, ia membuka pesan Adrian.
Adrian:
Kamu di mana?
Adrian:
Jangan kekanak-kanakan.
Adrian:
Arka tidak mau sarapan.
Adrian:
Mama sakit kepala karena kamu pergi.
Adrian:
Aku akan menjemputmu.
Pesan terakhir dikirim pukul enam pagi.
Adrian:
Aku tahu kamu bersama Damar Adhitama.
Alina menatap pesan itu.
Cepat juga.
Tentu saja cepat. Adrian punya sopir, keamanan, asisten, kenalan di mana-mana. Baginya, mencari keberadaan istri yang pergi mungkin sama mudahnya seperti meminta laporan keuangan.
Ia belum sempat membalas ketika ponselnya berdering.
Adrian.
Alina menghela napas, lalu mengangkat.
"Apa?"
Di seberang, suara Adrian dingin. "Turun. Aku di depan."
Alina berdiri dan berjalan ke jendela. Dari lantai dua, ia bisa melihat pagar rumah Damar. Mobil hitam Adrian berhenti di depan, sopir berdiri kaku di samping pintu. Adrian berada di luar mobil, kemeja putihnya terlalu rapi untuk seseorang yang katanya semalaman panik.
"Aku tidak meminta dijemput."
"Aku tidak bertanya."
"Itu masalahmu."
Hening.
"Alina, jangan membuatku masuk ke rumah orang."
"Kamu tidak punya hak masuk."
"Kamu istriku."
"Secara hukum, untuk sementara. Secara hidup, tidak lagi."
Adrian tertawa pendek. "Kamu bicara seperti itu setelah semalam tidur di rumah pria lain?"
Alina memejamkan mata.
Ini Adrian yang ia kenal. Ketika tidak bisa mengendalikan, ia menyerang.
"Damar menolongku saat aku berdiri di tengah hujan dengan koper."
"Kamu bisa menelepon sopir."
"Aku bisa. Tapi aku tidak ingin kembali ke sistem yang sama."
"Jadi kamu memilih pria lain?"
"Aku memilih tempat yang tidak membuatku merasa seperti pembantu tanpa gaji."
Suara Adrian menajam. "Jaga bicaramu."
"Aku sedang menjaganya. Kalau tidak, percakapan ini jauh lebih buruk."
Di luar, Adrian mengangkat wajah ke arah jendela, seolah tahu Alina sedang melihatnya.
"Turun. Kita bicara."
"Tidak."
"Arka menangis."
Alina menggenggam ponsel lebih kuat.
Adrian tahu persis di mana harus menekan.
"Aku akan menelepon Arka nanti."
"Dia butuh ibunya sekarang."
"Semalam dia berkata tidak butuh aku."
"Dia anak kecil."
"Dan kamu orang dewasa yang selalu mengajarinya bahwa kata-katanya tidak punya akibat."
Adrian diam.
Pintu kamar diketuk pelan.
"Tante?" suara Nara terdengar. "Sarapan sudah siap."
Alina menutup bagian mikrofon. "Sebentar, Nara."
Namun Adrian mendengar.
"Anak siapa itu?"
"Anak Damar."
"Bagus. Semalam kamu meninggalkan anakmu sendiri untuk menginap di rumah pria dengan anaknya."
Kali ini Alina benar-benar tertawa.
"Kamu menghabiskan malam ulang tahunku di restoran dengan Vania dan Arka. Tapi aku yang harus malu karena menerima bantuan saat kehujanan?"
"Situasinya berbeda."
"Benar. Vania perempuan yang kamu cintai. Damar hanya orang yang memberiku payung."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Di seberang, Adrian tidak bicara.
Mungkin karena kata cinta.
Mungkin karena ia tidak siap mendengarnya disebut begitu lurus.
"Aku tidak pernah bilang mencintai Vania," katanya akhirnya.
"Kamu tidak perlu bilang. Kamu menunjukkannya cukup sering."
"Alina, turun."
"Tidak."
"Kalau kamu tidak turun, aku akan bicara dengan Damar."
"Silakan. Tapi jangan berharap dia takut pada nama Wicaksono."
Adrian menutup telepon.
Alina menatap layar yang gelap, lalu menarik napas panjang.
Ia keluar kamar.
Di lantai bawah, Nara berdiri di dekat meja makan dengan roti panggang gosong di piring.
"Aku yang bikin," katanya bangga. "Agak hitam, tapi Papa bilang masih bisa dimakan kalau dikerok."
Alina tersenyum, walau kepalanya berat. "Terima kasih."
Damar masuk dari halaman belakang, wajahnya sudah tahu ada tamu di depan.
"Adrian?"
"Di depan."
"Mau aku temui?"
Alina ragu.
Damar melihat keraguan itu, lalu berkata, "Aku tidak akan bicara menggantikanmu. Aku hanya akan memastikan dia tidak masuk tanpa izin."
Itu perbedaan yang Alina rasakan jelas.
Adrian selalu mengambil keputusan atas namanya.
Damar menawarkan pagar.
"Terima kasih," kata Alina.
*****
Damar keluar ke depan rumah dengan santai.
Adrian menatapnya dari balik pagar. Dua pria itu memiliki jenis ketenangan yang berbeda. Adrian dingin, terbiasa memerintah. Damar tenang, seperti orang yang tidak perlu membuktikan apa pun.
"Saya ingin bicara dengan istri saya," kata Adrian.
Damar berdiri di sisi dalam pagar. "Alina tidak ingin bicara."
"Itu urusan keluarga kami."
"Saat dia berdiri di depan rumah Anda semalam dengan koper dan hujan, sepertinya keluarga Anda tidak sedang mengurusnya."
Rahang Adrian mengeras. "Anda tidak tahu apa-apa."
"Benar. Saya tahu secukupnya. Dia datang dalam keadaan basah, pucat, dan tidak punya tempat untuk pergi."
"Dan Anda langsung menampung istri orang?"
"Saya menampung seseorang yang membutuhkan bantuan."
Adrian melangkah maju. "Jangan bermain kata."
Damar tersenyum tipis. "Saya tidak bermain. Kalau Pak Adrian ingin bicara soal hukum, silakan hubungi pengacaranya. Kalau ingin bicara sebagai suami, mungkin sebaiknya tanya dulu apakah istri Anda masih bersedia mendengar."
Mata Adrian semakin dingin.
"Anda tertarik pada Alina?"
Pertanyaan itu tajam, sengaja merendahkan.
Damar tidak terpancing. "Saya menghormatinya."
"Itu bukan jawaban."
"Justru itu jawaban yang mungkin asing bagi Anda."
Untuk sesaat, udara di antara mereka menegang.
Di balik tirai ruang tamu, Alina mendengar semuanya.
Nara berdiri di sampingnya, berbisik, "Papa kalau marah suaranya pelan."
Alina hampir tersenyum.
Di luar, Adrian menatap Damar lama, lalu berkata, "Sampaikan pada Alina, Arka sakit perut karena tidak mau sarapan."
Damar tidak langsung menjawab.
Alina membuka pintu sebelum Damar bisa bicara.
Adrian melihatnya.
Matanya langsung berpindah dari wajah Damar ke wajah Alina, lalu ke pakaian yang ia kenakan. Kemeja longgar milik Damar? Bukan. Itu kemeja Alina sendiri, tapi Adrian tetap melihatnya seperti mencari bukti pengkhianatan.
"Arka sakit?" tanya Alina.
"Dia tidak mau makan."
"Panggil dokter kalau sakit."
"Dia ingin kamu pulang."
"Dia ingin aku kembali memasak, menjahit kancing, menyiapkan bekal, dan memastikan hidupnya nyaman."
"Dia anakmu."
"Aku tahu. Itu sebabnya aku tidak akan terus mengajarinya bahwa ibunya bisa dihina lalu tetap melayani."
Adrian menatapnya, tidak percaya. "Kamu berubah menjadi kejam."
"Tidak. Aku berhenti menjadi mudah."
"Alina, pulang. Kita bicarakan semuanya."
"Tidak."
"Kamu mau tinggal di rumah pria ini sampai kapan?"
"Sampai aku menemukan tempat sendiri."
"Aku bisa mencarikan apartemen."
"Aku tidak butuh apartemen darimu."
"Lalu uang? Kamu punya apa?"
Alina tersenyum kecil. "Cukup untuk tidak pulang karena takut lapar."
Adrian terdiam.
Mungkin ia baru sadar bahwa ia tidak benar-benar tahu apa yang Alina miliki.
Selama ini, ia hanya tahu apa yang ia berikan.
"Kamu akan menyesal," katanya.
Alina menatapnya.
Kalimat yang sama seperti malam ulang tahunnya.
Dulu terdengar seperti ancaman.
Sekarang terdengar seperti doa dari orang yang takut ditinggalkan.
"Mungkin," jawab Alina. "Tapi kalau aku pulang sekarang, aku pasti menyesal."
Adrian masih ingin bicara, tapi ponselnya berbunyi.
Vania.
Nama itu muncul di layar.
Alina melihatnya.
Damar juga.
Adrian tidak mengangkat, tapi kerusakan sudah terjadi.
Alina berkata pelan, "Angkat saja. Orang yang kamu prioritaskan sedang mencari."
"Alina..."
"Dan Adrian, jangan datang ke sini lagi tanpa izin. Ini bukan rumahmu."
Ia masuk kembali, menutup pintu.
Di luar, Adrian berdiri dengan ponsel yang terus bergetar.
Untuk pertama kalinya, ia berada di depan pintu yang tidak bisa ia buka hanya karena ia menginginkannya.
Baca Maraton tapi takut kehilangan makna
psikopat sinting tolololllll down normal otak nya massa kurang satu kwintal 🔪🔪🔪🔪🖕🖕
pelakor Jahannam semoga tersemogakan cepat mampossss🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🔪🔪