NovelToon NovelToon
Mereka Adalah Suamiku

Mereka Adalah Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Wisa

⚠️ ***+ | Kisah Cinta segitiga

Valencia kehormatannya direnggut, hatinya terbelah.
Valencia hancur saat kehormatannya direnggut oleh Ansel—pria yang hadir diantara cinta Valencia dan Zyro,. Namun Zyro, kekasihnya yang sangat mencintainya, tetap ingin menerima apa adanya dan ingin menikahinya.

Keduanya mengaku mencintainya, keduanya tak ada mau mengalah. Perkelahian sengit pun terjadi, hingga di batas keputusasaan, Valentina harus melukai dirinya sendiri hanya agar mereka mau berhenti...

Melihat wanita yang mereka cintai terbaring penuh darah, akhirnya kedua pria itu mengambil keputusan berat: mereka berdua akan menikahi Valen dan berjanji menjaganya bersama-sama.

Dua pria, satu wanita.

Akankah cinta bisa menyatukan mereka, atau malah membawa pada kehancuran yang lebih dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Wisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saling Menguatkan

Hari demi hari berlalu, satu minggu terasa seolah satu abad bagi Zyro maupun Ansel. Selama tujuh hari itu, tidak ada satu pun di antara mereka yang mau beranjak jauh dari sisi tempat tidur Valencia. Mereka bergantian menjaga, mengganti posisi tubuhnya, mengelap keringatnya, hingga membacakan berita atau sekadar bercerita hal-hal ringan dengan harapan suara mereka bisa didengar oleh kesadaran wanita itu di alam bawah sadarnya.

Awalnya, suasana di ruangan itu masih terasa canggung dan dingin. Mereka jarang berbicara, dan jika pun bicara hanya seperlunya saja. Namun, seiring berjalannya waktu dan melihat kondisi Valencia yang belum juga menunjukkan tanda-tanda bangun, rasa cemas dan takut kehilangan yang sama perlahan menyatukan hati mereka. Kepedihan yang mendalam itu ternyata menjadi jembatan yang menghapus rasa benci dan permusuhan di antara mereka.

Suatu malam, hujan turun deras di luar jendela, disertai suara guntur yang sesekali menggelegar. Suasana di dalam ruangan terasa begitu sunyi dan menyesakkan. Ansel duduk di kursi dengan wajah tertunduk, tangannya memegang lembut tangan Valencia, bahunya terguncang hebat menahan tangis yang sedari tadi ia tahan. Ia merasa sangat lemah, putus asa, dan tak sanggup membayangkan jika wanita yang dicintainya tidak pernah kembali membuka matanya lagi.

Zyro yang sedang duduk di sofa di sudut ruangan melihat keadaan Ansel. Ia melihat betapa rapuhnya pria itu saat ini, sama rapuhnya dengan dirinya sendiri. Dengan langkah pelan, Zyro berjalan mendekat dan duduk di kursi kosong di sisi tempat tidur yang lain, tepat di hadapan Ansel.

"Ansel..." panggil Zyro pelan, suaranya terdengar lembut dan tidak lagi bernada dingin atau angkuh seperti dulu.

Ansel mengangkat wajahnya, matanya yang bengkak dan merah menatap Ansel dengan pandangan yang masih menyisakan sedikit rasa sakit namun tidak lagi bermusuhan.

"Aku... aku takut, Zyro..." ucap Ansel dengan suara parau, air matanya kembali menetes. "Aku sangat takut dia tidak akan bangun lagi. Rasanya seperti separuh nyawaku dicabut paksa dari tubuhku. Aku tidak sanggup jika harus kehilangannya..."

Zyro menghela napas panjang, matanya menatap lekat-lekat wajah pucat Valencia sebelum kembali menatap Ansel. Matanya pun berkaca-kaca, menampakkan kepedihan yang sama persis dengan apa yang dirasakan Ansel.

"Aku juga merasakan hal yang sama, Ansel..." jawab Zyro lirih, suaranya bergetar. "Setiap kali aku melihatnya terbaring diam seperti ini, rasanya hatiku diremas hingga hancur."

Zyro mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha menyembunyikan rasa lemahnya.

"Kadang aku berpikir, apa yang akan kulakukan jika dia benar-benar tidak sadar lagi? Atau lebih buruk lagi... jika dia pergi meninggalkan ku selamanya? Dunia ini pasti akan terasa hampa dan suram bagiku," lanjut Zyro dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Zyro menatap Ansel lekat-lekat. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa pria angkuh dan kaya raya ini ternyata juga memiliki hati yang sama lembutnya, dan rasa cintanya pada Valencia pun sama besarnya dengan miliknya. Mereka sama-sama terluka, sama-sama takut, dan sama-sama tidak sanggup kehilangan wanita itu. Tanpa rasa canggung lagi, Zyro mengulurkan tangannya dan menepuk pelan lengan Ansel yang ada di dekatnya.

"Kita sama, Ansel... Kita sama-sama mencintainya, dan kita sama-sama takut kehilangannya," kata Zyro dengan nada lembut namun tegas.

"Dulu aku membencimu karena aku pikir kaulah penyebab semua jadian ini. Tapi kini... aku sadar, kalau aku terus membencimu dan bertengkar denganmu, itu hanya akan menambah beban di hatinya. Dia meminta kita untuk tidak saling menyakiti? Dan aku pikir... dia benar."

Ansel menatap tangan Zyro di lengannya, lalu perlahan ia mengangkat tangannya dan menautkan genggamannya di atas tangan Zyro. Sebuah genggaman yang hangat, kuat, dan penuh arti.

"Kau benar, Zyro. Kita tidak boleh lemah seperti ini. Kita tidak boleh menyerah. Kalau kita saja putus asa, lalu siapa lagi yang akan berjuang untuknya? Dia butuh kita. Dia butuh kekuatan kita berdua untuk menariknya kembali dari alam mimpinya," ucap Ansel dengan suara yang mulai tegas dan penuh tekad.

"Kita harus kuat, untuknya. Kita harus saling menguatkan satu sama lain. Karena sejujurnya... aku merasa aku tidak akan sanggup melewati masa-masa sulit ini sendirian. Aku butuh dukunganmu, Ansel. Aku butuh seseorang yang bisa mengerti perasaanku yang rumit ini,"

Ansel mengangguk setuju, air matanya perlahan berhenti mengalir. Ia merasakan ketulusan dan kejujuran dalam ucapan Zyro.

"Aku juga merasakan hal yang sama, Zyro. Rasanya berat sekali menanggung semua ketakutan ini sendirian. Tapi saat ada kau di sini, saat kita sama-sama berdoa dan menjaganya... rasanya bebannya terasa lebih ringan. Aku butuh kamu juga, Zyro. Kita saling membutuhkan. Kita adalah dua tiang penyangga yang harus berdiri kokoh agar dia bisa bangkit kembali."

"Ya... Kita saling membutuhkan," ulang Zyro tegas. "Mulai saat ini, kita berjanji untuk saling menguatkan. Tidak ada lagi pertengkaran, tidak ada lagi kebencian. Kita akan bersatu hati, menjaganya bersama-sama, dan berdoa bersama-sama hingga dia membuka matanya kembali. Dia harus melihat bahwa dua pria yang dicintainya ini sudah bersatu demi kebahagiaannya."

"Janji..." ucap Ansel singkat, namun nadanya penuh kesungguhan.

Sejak malam itu, hubungan mereka berubah sepenuhnya. Tidak ada lagi rasa curiga atau benci. Mereka menjadi pendukung satu sama lain. Jika salah satu merasa lelah dan putus asa, yang lain akan menguatkan dan mengingatkan kembali pada tujuan mereka. Mereka saling bergantian memberikan semangat, saling mengingatkan untuk makan dan istirahat, serta saling berbagi cerita tentang Valencia—tentang hal-hal indah yang pernah ia lakukan, atau tentang kebaikan hatinya. Keadaan Valencia yang koma ternyata menjadi momen yang menyatukan hati mereka, membuat mereka sadar bahwa cinta yang tulus tidak melulu tentang memiliki, tetapi juga tentang bersedia bekerja sama demi kebaikan orang yang dicintai.

Malam berganti pagi. Ketukan pintu terdengar, lalu masuklah Jodi. Wajahnya tampak sangat lelah dan kusut.

"Masuk," ucap Ansel singkat.

"Selamat pagi, Tuan," sapa Jodi hormat.

"Pagi Jodi, Kau terlihat tak bersemangat. Ada apa?" tanya Ansel langsung sedikit mengejek.

"Selama Tuan tidak ada, saya harus menyelesaikan semua pekerjaan Tuan dan juga seluruh urusan serta proyek Nona Valencia sendirian. Hampir tak sempat istirahat seminggu ini Tuan," jawab Jodi lelah.

"Apakah kau sudah menyerah jodi" ucap Ansel.

"Tidak, Tuan. Ini sudah tugas saya, ...Ada satu hal lagi yang ingin saya laporkan," kata Jodi serius.

"Apa itu? Katakan ," sahut Ansel.

"Kemarin siang, Nyonya Catrin datang ke kantor dan bertanya keberadaan Tuan. Beliau tampak curiga dan terus mendesak," jelas Jodi.

Ansel mendengus pelan, "Hm... Terus apa jawabmu?"

"Saya bilang Tuan sedang pergi dinas ke luar kota untuk urusan penting dan mendesak. Saya tambahkan lokasinya terpencil, susah sinyal, jadi sulit dihubungi," jawab Jodi.

"Bagus. Dia percaya?" tanya Ansel lagi.

"Awalnya beliau ragu, tapi akhirnya percaya. Beliau hanya berpesan agar Tuan segera menghubungi kalau sudah kembali atau bisa dihubungi," kata Jodi.

"Baik. Terus pertahankan cerita itu, jangan sampai ketahuan yang sebenarnya. Kau boleh pulang dan istirahat sekarang," perintah Ansel.

"Siap, Tuan. Ini Baju tuan untuk Tiga hari kedepan, dan ini untuk Tuan Zyro," jawab Jodi, memberikan pakaian bersih untuk mereka berdua, lalu dia mengambil baju baju kotor milik Ansel dan Zyro.

"Jika tidak ada perintah lagi saya permisi tuan, masih banyak pekerjaan saya." ...pamit Jodi

"Bersemangat lah Jodi , bulan ini gajimu 4 kali lipat," hibur Zyro

"Apa maksudmu Zyro, kau akan menggajinya 4 kali lipat" tanya Ansel

" Apakah kau tak akan memberikannya bonus untuk asisten mu yang sudah bekerja keras Ansel, apakah kau semiskin itu, aku akan memberinya gaji 2 kali lipat, dan kamu pun begitu."

"Baiklah,, kau dengar itu Jodi,'" tegas Ansel

"Terimakasih banyak tuan tuan, Saya Permisi " jawab Jodi Semangat dan senang bukan main.

Setelah pintu tertutup, Ansel menoleh pada Zyro.

"Kau yakin sanggup menggaji Jodi 2 kali lipatnya, apa kau pikir gaji Jodi sedikit hmm" Ansel mengejek

"Kau pikir penghasilanku kecil sebagai pembalap Ansel" balas Zyro

1
Ichka Francisca
ceritanya menarik
Pena Wisa: bantu dukungannya ya kak ini novel perdananku
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!