NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku, Rasya, dan Drama BK

“Apa?!” Pak Bambang hampir menjatuhkan gelas air yang ada di genggamannya. “Kamu… kamu bilang Andre dilempar? Dilempar oleh Rasya? Dilempar ke mana?”

“Ke lantai, Pak,” jawab Andre dengan suara yang lemah dan sedikit bergetar. “Saya ditahan geraknya, lalu dibanting hingga jatuh.”

Pak Bambang menatap Rasya dengan pandangan yang campuran antara keterkejutan, kekhawatiran, dan sedikit rasa kagum. “Rasya, kamu bisa bela diri sejak kapan?”

“Sedikit saja, Pak,” jawab Rasya singkat dan tenang.

Sedikit saja? Aku hampir tertawa mendengar jawabannya yang merendah. Di kehidupan sebelumnya, aku tahu betul bahwa Rasya—atau lebih tepatnya, Aldo—adalah seorang atlet judo yang terlatih dengan baik. Ia bukan sekadar pemula yang baru belajar dasar-dasar pertahanan diri. Namun, aku membiarkannya saja. Tampaknya ia memang ingin bersikap sederhana dan tidak ingin menarik perhatian lebih dari yang seharusnya.

“Tapi apa alasanmu bertindak seberani itu hingga melukai siswa baru?” tanya Pak Bambang lagi, mencoba memahami situasi dengan adil.

“Karena dia menyentuh Nayla tanpa izin, Pak,” ulang Rasya dengan nada sabar, seolah sedang menjelaskan hal yang sangat jelas kepada seorang anak kecil. “Peristiwanya terjadi di dekat tangga lorong tadi pagi. Saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri.”

“Andre, apakah itu benar?” Pak Bambang memalingkan wajah menatap Andre.

Andre menunduk dalam, tampak gugup. “Saya… saya hanya ingin berkenalan saja, Pak. Saya kan murid pindahan, jadi saya hanya ingin bersikap ramah—”

“Berkenalan dengan cara memegang pundak orang lain?” potong Rasya dengan nada tajam. “Padahal Nayla sudah dengan tegas melarangmu untuk tidak melakukannya.”

“Rasya, biarkan Bapak yang menanyakan hal ini,” tegur Pak Bambang sambil mengangkat tangan kanannya untuk menenangkan suasana. “Andre, jawab dengan jujur. Apakah kamu benar-benar memegang pundak Nayla?”

“Sa-saya tidak memegangnya dengan keras, Pak. Saya hanya menepuknya sedikit saja,” jawab Andre dengan nada yang berusaha membela diri. “Hanya sekadar menepuk, bukan memegang.”

“Menepuk, memegang, atau menyentuh—artinya sama saja,” balas Rasya dengan nada tegas sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Itu tetap merupakan tindakan yang tidak sopan jika dilakukan tanpa persetujuan orang yang bersangkutan.”

“Rasya!” Pak Bambang mulai terlihat kesal melihat sikapnya yang terus memotong pembicaraan. “Kamu ini—”

“Saya memohon maaf, Pak,” potong Rasya tiba-tiba. Suaranya berubah menjadi lebih rendah dan lembut, menghilangkan nada ketegasannya tadi. “Saya mengakui bahwa saya telah berbuat salah. Saya seharusnya tidak menyelesaikan masalah dengan kekerasan fisik. Namun, saya tidak bisa menahan diri melihat ada orang yang diganggu.”

Apa? Dia meminta maaf?

Andre yang tadinya tampak ketakutan seketika mengangkat wajah, matanya berbinar penuh harapan. “Kalau begitu, permintaan maafmu saya terima, Rasya. Saya mengerti kamu hanya bermaksud—”

“Saya tidak meminta maaf kepadamu.”

Pak Bambang dan Andre sama-sama tertegun, mata mereka melotot tak percaya.

Rasya perlahan berbalik menghadap ke arahku. “Aku meminta maaf kepadamu, Nayla. Seharusnya aku menegurnya dengan cara yang sopan dan baik-baik saja. Tidak perlu sampai menggunakan kekerasan seperti tadi.”

Aku hanya bisa mengangguk pelan, pikiranku masih dipenuhi rasa terkejut bercampur bingung.

“Tapi perlu kamu ingat satu hal,” lanjut Rasya, dan kali ini pandangannya kembali beralih tajam menatap Andre. Tatapan itu begitu dingin dan tajam hingga membuat tubuh Andre sedikit menggigil. “Jika kamu berani menyentuh Nayla atau mengganggunya lagi dengan cara apa pun, saya tidak akan lagi meminta maaf untuk kedua kalinya.”

---

Setelah Keluar dari Ruang BK

Begitu kami keluar dari ruang bimbingan konseling dan berjalan menyusuri koridor menuju kantin, aku akhirnya mengeluarkan unek-unek yang sejak tadi tertahan di hati.

“Kamu benar-benar gila, Rasya,” ucapku sambil menatapnya dengan pandangan yang campuran antara kesal dan bingung. “Untuk apa sampai berkelahi dan melukai orang lain seperti itu?”

“Aku sudah menjelaskan alasannya di dalam tadi,” jawabnya singkat sambil terus berjalan.

“Ya, tapi alasannya demi saya?! Aku tidak meminta kamu untuk bertindak seberani itu!”

Ia tiba-tiba berhenti melangkah. Aku pun ikut berhenti, menatap punggungnya yang tegap.

Rasya berbalik menghadapku, sorot matanya terlihat sangat serius dan dalam. “Nayla. Di kehidupan sebelumnya, aku melihat bagaimana hidupmu perlahan-lahan dihancurkan. Sedikit demi sedikit. Aku hanya bisa menyaksikannya dari kejauhan tanpa berani berbuat apa-apa, karena aku terlalu pengecut untuk melangkah maju. Sekarang, aku tidak ingin kembali menjadi pengecut yang sama lagi.”

Mulutku terbuka sedikit, lalu tertutup rapat, lalu terbuka lagi seolah kata-kata sulit keluar dari tenggorokanku.

“Tapi—”

“Di kehidupan sebelumnya, kamu terlambat menyadari bahaya yang mengintaimu,” lanjutnya, dan kali ini suaranya sedikit bergetar—untuk pertama kalinya aku melihatnya kehilangan ketenangannya yang biasanya terjaga sempurna. “Kamu terlambat menyadari siapa sebenarnya musuh yang sedang berusaha merusak hidupmu. Aku tidak ingin melihatmu mengalami hal yang sama dan terlambat untuk kedua kalinya.”

Dadaku terasa sesak, seolah ada beban berat yang menekan. Mendengar pengakuannya yang tulus membuat perasaan campur aduk memenuhi hatiku.

“Rasya…”

“Kamu tidak perlu berterima kasih kepada aku,” ucapnya cepat, memotong sebelum aku sempat melanjutkan kalimatku. “Dan kamu juga tidak perlu merasa berutang budi. Aku melakukan ini semata-mata karena keinginan aku sendiri. Bukan karena kamu memintanya.”

Ia segera berbalik badan dan melanjutkan langkahnya menjauh.

“Rasya, tunggu dulu!”

Ia tidak berhenti.

“Aku sedang berbicara denganmu, tunggu sebentar!” Aku berlari kecil menyusulnya, lalu menarik ujung seragam bagian belakangnya agar ia berhenti. “Kamu… kamu belum menceritakan semuanya padaku.”

“Menceritakan apa?” tanyanya sambil menoleh sedikit.

“Siapa kamu sebenarnya di kehidupan itu.”

Ia menatapku, dan untuk sesaat aku bisa melihat kelelahan terpancar di wajahnya. Bukan kelelahan karena aktivitas fisik, melainkan kelelahan batin—seperti seseorang yang telah menyimpan rahasia berat selama bertahun-tahun dan kini merasa berat untuk terus memendamnya sendirian.

“Nanti,” jawabnya pelan. “Aku janji.”

“Kapan tepatnya? Kamu selalu berkata ‘nanti’.”

“Aku tidak akan mengingkarinya,” ucapnya sambil menghela napas panjang. “Besok. Setelah jam sekolah selesai. Kita bertemu di taman kecil yang ada di belakang perpustakaan.”

Mataku membulat terkejut sekaligus senang. “Serius? Kamu tidak akan berubah pikiran lagi?”

“Serius.”

“Janji?”

Ia mengangkat tangan kanannya, lalu mengaitkan jari kelingkingnya ke udara.

Dan di tengah keramaian lorong sekolah yang mulai dipenuhi siswa-siswa yang berjalan keluar kelas, aku pun mengaitkan jari kelingkingku dengan miliknya.

Sebuah janji yang diucapkan dengan tulus.

---

Sore Itu — Di Rumah

Malam itu, aku berbaring di atas tempat tidur sambil memegang ponsel di tanganku. Biasanya, di jam-jam seperti ini Rasya sudah pasti mengirimkan pesan singkat, namun hingga saat ini layar ponselku masih terlihat kosong.

Aku membuka aplikasi pesan dan melihat kembali riwayat percakapan kami, membaca ulang setiap pesan yang pernah dikirimkannya sejak awal.

Hari ke-1: “Tetaplah waspada terhadap Vania.”

Hari ke-2: “Ia mulai bertanya tentang dirimu kepada teman-teman dari kelas lain.”

Hari ke-3: “Jangan ceritakan apa pun tentang masa lalumu kepada siapa pun. Bahkan kepada Sasha sekalipun.”

Hari ke-4: “Kamu terlihat cantik saat sedang marah. Tapi jangan terlalu sering melakukannya, nanti cepat muncul kerutan.”

Hari ke-5: “Itu hanya candaan. Maaf. Aku memang tidak terbiasa bercanda dengan orang lain.”

Tanpa sadar, sudut bibirku terangkat membentuk senyum tipis. Aku merasa sedikit terhibur membaca pesan-pesan itu.

Kemudian, aku mulai mengetik pesan balasan.

Nayla (20.15): “Rasya, kamu masih hidup atau sudah tertidur?”

Tidak butuh waktu lama, balasan pun segera masuk.

Rasya (20.15): “Masih.”

Nayla (20.15): “Besok kita sudah berjanji, ya. Kamu tidak boleh mangkir atau menghindar lagi.”

Rasya (20.16): “Baik.”

Rasya (20.16): “Nayla.”

Nayla (20.16): “Ada apa?”

Rasya (20.17): “Siang tadi, kamu sempat marah padaku padahal aku hanya membela dirimu. Tapi sekarang kamu sudah bersikap baik lagi. Kenapa begitu?”

Aku menggigit bibir bawahku, merasa sedikit canggung namun juga berani untuk jujur.

Nayla (20.18): “Karena aku sudah lelah untuk terus marah. Dan juga… mungkin aku mulai merasa sedikit menyukaimu.”

Layar ponsel menunjukkan tanda sedang mengetik, namun terhenti sebentar.

Rasya (20.18): “…”

Rasya (20.18): “…”

Rasya (20.19): “Aku membaca kalimat itu sampai tiga kali. Takut salah mengerti atau salah baca.”

Aku tidak bisa menahan tawa, hingga akhirnya tertawa terbahak-bahak sendirian di atas kasur.

Nayla (20.19): “Itu benar-benar apa yang aku rasakan. Tapi jangan sampai kamu menjadi sombong, ya.”

Rasya (20.20): “Nayla.”

Nayla (20.20): “Ya?”

Rasya (20.21): “Besok kita bertemu. Aku akan menceritakan semuanya padamu. Namun setelah itu…”

Nayla (20.21): “Setelah itu apa?”

Rasya (20.22): “Setelah kamu mendengar semuanya, mau tidak mau kamu harus mengambil keputusan. Apakah kamu akan mempercayai aku atau tidak.”

Nayla (20.22): “Itu tergantung pada apa yang akan kamu ceritakan nanti.”

Rasya (20.23): “Bagaimana jika aku katakan, bahwa di kehidupan sebelumnya, aku bukanlah Aldo?”

Aku langsung duduk tegak, mataku terbelalak kaget membaca kalimat itu.

Nayla (20.23): “Apa maksudmu? Bukan Aldo?”

Rasya (20.24): “Besok. Aku janji akan menjelaskannya secara lengkap.”

Pesan itu menjadi yang terakhir yang masuk malam itu. Aku mematikan lampu kamar dan berbaring kembali, namun mataku tetap terjaga dan sulit untuk terpejam.

Bukan Aldo? Lalu siapa dia sebenarnya?

Siapakah sosok yang tersembunyi di balik nama Rasya ini?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!