"Menikahlah dengan saya, Aira."
"A-apa?!"
***
"Saya bukan perempuan solehah."
"Saya pun. Kita akan belajar bersama."
"Saya tidak sempurna."
"Kesempurnaan hanya milik Allah."
"Saya tidak cantik."
"Bagi saya cantik."
"Saya tidak yakin bisa jadi istri yang baik."
"Saya akan bimbing kamu."
"Saya ingin childfree."
"Tidak masalah."
"Saya anak haram."
"Lalu kenapa? Status “anak haram” itu bukanlah identitasmu di hadapan Allah. Itu hanya label dari manusia. Kamu bukan kesalahan. Kamu bukan aib. Kamu adalah manusia yang Allah ciptakan dengan tujuan. Allah tidak pernah salah menciptakanmu.
Aira mendongak, menatap Azzam. "Kata-kata itu..."
***
Aira yang hidupnya penuh dengan kehilangan, dianggap anak haram hingga ia memutuskan untuk tidak menikah. Namun Azzam datang menjadi penawar luka untuk Aira.
Apakah Aira bisa jatuh cinta dengan Azzam?
Tanpa mereka sadari bahwa cinta pertama mereka adalah orang yang sama.
Cerita ini spin off dari Cinta Masa Kecil Ustadz Athar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jessica dan Yessi
“Pa… bisa kali jodohkan aku sama anak teman Papa itu…”
Suara manja Jessica terdengar memenuhi ruang tamu yang masih terasa dingin setelah pertemuan bisnis tadi.
Alfand yang baru saja duduk langsung menghela napas panjang.
“Nak… keluarga mereka itu berbeda,” ucapnya lelah. “Kamu tahu perusahaan Malik Group itu sangat terkenal. Perusahaan nomor satu di kota ini. Akan lancang sekali kalau Papa meminta kamu dijodohkan dengan putranya.”
Jessica mendengus kesal. “Tapi kan Papa juga kerja sama dengan mereka, Pa! Sudah lama juga…” ia merengut. “Aku udah lama banget naksir sama Azzam, Pa.”
Alfand memijat pelipisnya. “Sudahlah… Papa lagi pusing. Nanti Papa pikirkan lagi.”
Ia langsung berdiri, meninggalkan Jessica yang masih berdiri dengan wajah kesal.
Langkahnya cepat menuju kamar.
Jessica mengepalkan tangannya.
Wajahnya berubah kesal… lalu perlahan menjadi penuh ambisi.
“Aku harus bisa mendapatkan Azzam…” gumamnya pelan. “Bagaimanapun caranya.”
Baginya—Azzam bukan hanya pria tampan.
Ia adalah simbol.
Kekuasaan.
Status.
Kebanggaan.
Jika ia berhasil mendapatkan Azzam—
Semua orang akan memandangnya berbeda.
Lebih tinggi. Lebih dihormati.
Dan itu… yang ia inginkan.
Di dalam kamar—Alfand bersandar pada kursi kerjanya. Kepalanya terasa berat. Permintaan Jessica… bukan hal yang mudah. Ia tau betul bagaimana keluarga Malik.
Bukan hanya kaya. Tapi juga memiliki prinsip… agama… dan adab yang kuat.
Sedangkan Jessica—Ia menghela napas panjang. “Tidak sepadan…” gumamnya lirih.
Pikirannya justru melayang jauh.
Entah kenapa—Sosok lain muncul.
Aira.
Gadis sederhana… yang jauh berbeda dari Jessica.
“Kenapa aku jadi kepikiran Aira…” bisiknya pelan.
Ia membuka laci meja.
Tangannya meraih sebuah foto lama.
Foto itu sudah sedikit pudar.
Namun kenangannya… masih jelas.
Dirinya. Seorang wanita—Desi. Dan seorang bayi kecil di gendongan.
Aira.
Tanpa sadar, air mata Alfand menetes.
“Desi…” suaranya bergetar. “Sejujurnya… aku sangat mencintai kamu.”
Ia menunduk. “Bahkan sampai sekarang… rasa itu tidak pernah benar-benar hilang.”
Tangannya sedikit gemetar menggenggam foto itu.
“Aku tau aku salah…” lanjutnya lirih. “Aku menikah lagi… hanya karena ingin punya anak.”
Ia menghela napas berat. “Aku dipaksa oleh orang tua… karena kamu belum hamil setelah tiga tahun pernikahan kita.”
Matanya memerah. “Aku menyesal, Des…”
Suasana kamar terasa semakin sunyi.
Hanya suara napasnya yang berat.
“Dan saat istri keduaku hamil…” suaranya mengecil, “lalu aku dapat kabar kamu juga hamil… aku bahagia. Sangat bahagia.”
Air matanya jatuh lagi. “Tapi setelah Aira lahir… kamu berubah.” Tangannya mengepal. “Dan aku… aku melihat kamu bersama pria lain…”
Nada suaranya berubah penuh luka. “Kenapa, Desi…? Apa itu caramu membalas aku?” Ia tertawa pahit. “Agar aku tau… bagaimana rasanya diselingkuhi?”
Diam.
Hening.
Lalu ia menunduk dalam.
“Aku kecewa…” Matanya menatap foto itu lekat-lekat. “Aira… sangat mirip dengan kamu.”
Suaranya semakin pelan. “Setiap kali aku melihatnya… aku seperti melihat kamu… bersama pria itu.” Ia memejamkan mata. “Itulah sebabnya… aku menjauh.”
Bukan karena tidak sayang. Tapi karena terlalu sakit.
Namun—Di balik semua itu— Ada satu hal yang tidak pernah ia ketahui. Kebenaran yang selama ini tersembunyi.
Bahwa Desi… Tidak pernah mengkhianatinya.
Apa yang ia lihat, hanyalah sebuah jebakan. Sebuah kebohongan besar yang telah memisahkan sebuah keluarga.
Dan kini tanpa ia sadari—Takdir perlahan mulai bergerak Untuk membuka semua kebenaran itu.
***
Pintu rumah terbuka.
Langkah sepatu hak tinggi menggema pelan di lantai marmer.
Tante Yessi baru saja pulang dari arisan bersama teman-teman sosialitanya. Penampilannya masih rapi—makeup sempurna, parfum menyengat, dan tas branded menggantung di lengannya.
Namun begitu masuk—Ia mengernyit.
Rumah terasa sepi.
Padahal mobil suaminya sudah terparkir di garasi.
“Tumben…” gumamnya.
Tanpa banyak pikir, ia langsung menuju kamar putrinya.
Perlahan pintu dibuka— Dan… “Astaga!”
Matanya membelalak.
Kamar Jessica berantakan.
Baju berserakan, tas tergeletak sembarangan, dan sang pemilik kamar duduk di atas kasur dengan wajah cemberut.
“Aduh… putri Mama kok malah cemberut habis ketemu crush-nya?” goda Yessi sambil masuk. “Gimana? Gimana?”
Jessica mendengus kesal. “Gimana aku gak cemberut, Ma… dia masih aja dingin. Padahal aku kurang apa coba?”
Yessi langsung duduk di sampingnya. “Kamu gak ada yang kurang, Sayang. Anak Mama itu cantik… seksi lagi,” ucapnya bangga. “Lagipula, kenapa sih harus dia? Banyak cowok lain yang ngejar kamu.”
Jessica menggeleng tegas. “Ma… Azzam itu beda.” Ia menatap kosong ke depan. “Dari semua pria yang deketin aku… cuma dia yang paling menarik.”
Yessi mengangkat alis. “Menarik karena apa? Ganteng?”
“Ganteng, kaya… dan punya nama besar,” jawab Jessica tanpa ragu. “Perusahaannya siapa sih yang nggak kenal? Kalau aku bisa dapetin dia… semua orang bakal makin segan sama aku. Dia juga terkenal dengan sikap dingin dan susah didekati oleh perempuan manapun, Ma. Jadi.... Kalau aku bisa dapetin dia, maka aku akan dianggap hebat."
Yessi tersenyum tipis.
Ambisi itu… Turun dari dirinya.
“Iya sih… kamu benar juga,” gumamnya. “Coba minta Papa jodohin saja.”
Jessica mendengus. “Sudah, Ma. Papa bilang kita ‘beda’.”
“Beda gimana?” tanya Yessi penasaran.
Jessica hanya mengangkat bahu. “Nggak tau. Tapi katanya keluarga Malik itu… ya gitu.”
Yessi berpikir sejenak. “Setahu Mama… keluarga itu memang kuat agamanya,” ucapnya pelan. “Mungkin… dia lebih suka perempuan yang tertutup?”
Jessica langsung menoleh. “Maksud Mama… yang berhijab gitu?”
“Bisa jadi.”
Jessica mendengus kecil. “Kaya Aira sama Kak Rachel?”
“Ya… mungkin saja.”
Jessica langsung tertawa sinis. “Yaelah, Ma… Kak Rachel aja yang jelas-jelas naksir Azzam, gak pernah dilirik. Padahal dia berhijab juga.”
Yessi terdiam sejenak. Lalu menghela napas.
“Terus gimana dong…”
“Entah,” jawab Jessica singkat.
Beberapa detik hening.
Lalu—Tatapan Yessi berubah.
Ada sesuatu di matanya.
Licik.
“Yaudah… jebak aja si Azzam.”
Jessica langsung menoleh cepat. “Jebak gimana?”
Yessi tersenyum tipis. “Nanti Mama pikirkan.” Ia menyilangkan kaki, santai. “Laki-laki itu… pada dasarnya sama aja. Dikasih godaan dikit juga pasti goyah.”
Jessica mengernyit. “Tapi Azzam nggak, Ma. Dia selalu jaga pandangan.”
“Ah… kamu tenang saja,” potong Yessi. “Mama pasti cari cara.”
Jessica mulai tersenyum. “Beneran, Ma?”
“Iya… beneran.”
Yessi berdiri, merapikan bajunya. “Oh iya…” ia menoleh sambil tersenyum tipis. “Bapaknya Azzam saja masih ganteng dan gagah di usianya yang sudah kepala lima.”
Jessica langsung meringis. “Ih… ingat Papa dong, Ma!”
Yessi terkekeh kecil. “Ah kamu… Mama juga dulu terpaksa menikah sama Papa kamu.”
Jessica mengangguk santai. “Iya sih, Ma… apalagi aku juga bukan anak kandungnya.”
“Ssst!” Yessi langsung menoleh waspada. “Jangan ngomong begitu di rumah.”
Jessica nyengir. “Hehe… maaf, Ma. Lupa.”
Yessi menghela napas. “Ya sudah, Mama ke atas dulu. Takut Papa kamu nanya-nanya.”
“Iya.”
Yessi hendak keluar, tapi berhenti. “Radit mana?”
Jessica mengangkat bahu. “Mungkin belum pulang sekolah.”
“Loh… ini sudah sore.”
“Mana aku tau. Kan anak Mama.”
“Adik kamu juga.”
Jessica tersenyum tipis. “Cuma beda ayah.”
Yessi terdiam sesaat.
Lalu memilih pergi tanpa banyak kata.
Di balik percakapan itu—Tersimpan rahasia besar.
Yang tidak diketahui banyak orang.
Bahwa Jessica…Bukan darah daging Alfand.
Dan semua itu—Bisa menjadi bom waktu.
Yang suatu saat… Akan menghancurkan segalanya.
***
Suasana di sanggar tari milik almarhumah Saru terasa lebih sepi dari biasanya.
Beberapa penari sedang berlatih di sudut ruangan, namun fokus utama justru tertuju pada dua pria yang berdiri saling berhadapan.
Dewa.
Dan Ishaan.
Wajah Dewa terlihat tidak senang.
“Kenapa harus Tara sih, Shaan?” protesnya dengan nada tidak terima.
Ishaan yang berdiri santai hanya mengangkat alis. “Emang kenapa?” balasnya. “Tara itu kan pacar Om.”
Dewa langsung menjawab cepat, “Gue udah putus, Shaan.”
Ishaan terdiam sesaat. “Kenapa?” tanyanya singkat.
“Ya… gak cocok aja,” jawab Dewa enteng.
Ishaan menghela napas panjang, lalu menggeleng. “Ganti-ganti mulu,” gumamnya. “Ingat Om… umur Om udah mau kepala tiga. Nggak ada niatan serius gitu?”
Dewa menyeringai tipis. “Ada,” jawabnya santai.
Ishaan menatapnya tajam. “Apa?”
“Gue mau nikah…” Dewa berhenti sejenak, lalu menatap lurus. “…asal sama Aira.”
Seketika Ishaan terkekeh. “Gak bakal,” jawabnya santai.
Dewa mengernyit. “Kenapa?”
Ishaan menyilangkan tangan di dada. “Dia gak akan mau nikah… apalagi sama Om.”
Nada suaranya tegas.
Dewa mendengus. “Kenapa? Gue ganteng, kaya, berbakat. Kurangnya apa?”
Ishaan menatapnya lurus tanpa ragu. “Kurang setia dan baik."
Satu kalimat.
Tapi cukup membuat Dewa terdiam.
“Meski Om itu adik bungsu Bunda…” lanjut Ishaan, “tapi aku tetap gak setuju.”
Dewa mengepalkan tangannya. “Rese lo!” hardiknya.
Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berbalik dan pergi.
Langkahnya cepat, penuh emosi.
Keluar dari sanggar, Dewa terus berjalan dengan rahang mengeras. Setiap langkahnya dipenuhi amarah.
“Gue gak peduli…” gumamnya pelan. Matanya tajam. “Aira harus jadi milik gue.”
Napasnya berat. “Meski harus pakai cara kotor sekalipun.”
Angin malam berhembus pelan, namun tidak mampu meredam ambisinya.
Dewa.
Adalah adik bungsu dari Saru.
Lebih tepatnya… adik tiri.
Ibunya meninggal sejak ia kecil.
Dan Saru—Dengan hati yang begitu besar—Menerimanya, merawatnya, dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
Meski Dewa adalah anak dari istri kedua ayahnya.
Namun—tidak semua kasih sayang… Berhasil membentuk hati yang baik.
Dan kini ambisi dalam diri Dewa… Mulai berubah menjadi sesuatu yang berbahaya.
Sesuatu yang bisa menghancurkan banyak hal. Termasuk… Hidup Aira.
ya allah/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/