Keadaan berubah ketika Nowi memergoki kekasihnya berselingkuh tepat di atas ranjang mereka sendiri. Baru saat itulah ia menyadari bahwa seluruh kenyamanan yang selama ini dinikmatinya tak lagi miliknya. Padahal sebelumnya Nowi memiliki segalanya. Karier cemerlang, kehidupan berkecukupan, dan pasangan yang berparas tampan.
Kini, semuanya telah sirna. Tak ada lagi tempat tinggal, tak ada lagi sumber penghasilan, dan satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah menjual rumah warisan orang tuanya di kota Batu. Tempat yang sangat dibencinya, sarat akan kenangan pahit, serta menyimpan satu rahasia besar yang telah ia kubur dalam-dalam sejak masa remaja.
Kehancuran hidupnya itu pun memaksanya kembali menghadapi masa lalu yang telah ia tinggalkan sepuluh tahun silam, serta satu-satunya pria yang mencintainya sepenuh hati, sekaligus sosok yang paling menderita karenanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Kembali
“Jangan, Vito. Percaya sama aku. Dia bilang balik ke sini aja udah menyakitkan buat dia. Dia kelihatan patah hati. Aku tahu ini ribet kedengarannya, tapi ketemu kamu sekarang cuma bakal bikin semuanya sepuluh kali lebih berat. Kasih dia waktu beberapa hari.”
Vito segera melepaskan lengannya dari genggaman Bass.
“Aku udah kasih dia sepuluh tahun, Bass!” bentaknya. “Sepuluh tahun! Dan sekarang kamu bilang dia ada di kota yang sama, lagi menderita, terus aku harus duduk diam nunggu? Nggak mungkin.”
“Pastiin kamu tahu apa yang lagi kamu lakuin, Vito,” kata Bass dengan nada serius sambil melepaskan pegangannya. "Jangan sampai nyesel!"
Vito menatap lurus ke depan. “Aku tahu.”
Vito mengambil helmnya lalu naik ke motor. Tanpa sadar, ia telah melaju hampir seratus kilometer per jam di jalan-jalan kecil di belakang kota.
Perjalanan menuju rumah orang tua Nowi terasa cepat dan samar. Kurang dari sepuluh menit, ia pun sudah berlari menaiki tangga rumah masa kecil gadis itu. Rasa takut langsung muncul di benaknya. Bagaimana kalau Nowi tidak ada di dalam rumah?
Ia membuka pintu dengan kasar hingga pintu itu membentur dinding. Ia masuk tanpa menutup pintu, hanya menendangnya ke arah belakang.
Lalu terdengar teriakan Nowi. Suara itu terdengar sangat menyenangkan di telinganya. Nowi ada di sini. Vito berjalan cepat masuk dan melihat Nowi berdiri kaku di tengah ruang tamu. Gadis itu memegang pengait besi perapian. Melihat Vito, Nowi mundur selangkah. Besi di tangannya jatuh dan menghantam lantai.
Wajah Nowi berubah dari merah sembap menjadi pucat pasi. Bibirnya sedikit terbuka, matanya merah dan bengkak, jelas baru saja menangis. Bagi Vito, Nowi terlihat lebih cantik daripada yang diingatnya. Rasa nyeri di dadanya muncul kembali begitu melihat gadis itu. Ia mengusap dadanya dengan jari-jarinya.
Ia melangkah maju dengan yakin meski isi kepalanya masih kacau. Ia masih sulit mempercayai bahwa Nowi benar-benar ada di sini.
“Halo, Kupu-kupu!”
Napas Nowi keluar kasar. Dia memejamkan mata sebentar lalu membukanya perlahan menatap Vito.
“Hai.”
Vito langsung bergerak. Ia meraih pinggang Nowi dan menariknya ke dalam pelukan. Satu tangannya memegang bagian belakang kepala gadis itu, jari-jarinya menyelusup ke rambut panjangnya sambil mendekap erat. Napas mereka sama-sama berat. Tubuh Nowi bergetar dan air matanya membasahi baju Vito.
Vito menempelkan wajahnya di rambut Nowi lalu menghirup aromanya sedalam-dalamnya. Tercium bau Pinus, yang berarti Nowi sempat pergi ke tempat kesukaannya hari ini. Terdapat pula bau ceri yang sangat manis.
“Sial … Nowi. Ya Ampun. Aku nggak percaya.”
Nowi melingkarkan tangannya di pinggang Vito dengan tangan yang gemetar. Tubuhnya perlahan melemas dan menempel sempurna. Vito masih tidak percaya. Nowi benar-benar ada di dalam pelukannya.
“Ini beneran kamu, Vito?” tanya Nowi terisak.
“Iya, sayang. Ini aku.” Vito mempererat pelukan.
Vito membungkuk lalu mengangkat Nowi dari bagian belakang pahanya. Kaki Nowi langsung melingkar di pinggangnya. Gadis itu menempel erat seperti koala, wajahnya bersandar di leher Vito.
Vito melihat sekeliling sambil menggendongnya lalu berjalan menuju sofa. Di sana tergeletak selimut, bantal, buku bacaan, dan segelas anggur di meja samping.
“Sayang, kenapa kamu tidur di sofa?” tanyanya.
Ia duduk tanpa menurunkan Nowi sedikit pun. Ia tidak menginginkan jarak sedikit pun di antara mereka. Nowi duduk tegak dan menatap wajah Vito seakan ingin memastikan semuanya nyata. Matanya bergerak ke seluruh bagian wajah pria itu dengan ekspresi kaget.
Vito mengangkat tangan dan memegang wajah Nowi. Ibu jarinya mengusap kulit yang masih basah oleh air mata lalu turun menyentuh pinggang gadis itu.
Nowi mengenakan baju pendek. Sentuhan pada kulit yang terbuka itu langsung menghangatkan tangannya, persis seperti dulu. Vito memperhatikan Nowi dari atas ke bawah, melihat semua perubahan selama sepuluh tahun terakhir.
“Ya Tuhan, Nowi … kamu cantik banget.” Napasnya terasa berat. “Lihat diri kamu.”
Nowi memang selalu menjadi wanita tercantik, namun kini ia telah menjadi wanita dewasa sepenuhnya. Rambut hitamnya panjang hingga pinggang, tubuhnya padat berisi. Vito ingin terus menyentuhnya.
Ia ingin melihat semua perubahan, semua bekas luka, setiap bagian tubuh Nowi. Namun kini mereka bukan lagi remaja. Vito menyadari bahwa ia harus bersabar dan memahami kembali apa yang membuat Nowi merasa nyaman.
Ekspresi kaget di wajah Nowi berubah menjadi panik. Matanya berkaca-kaca lagi, dadanya naik turun dengan cepat, tangannya saling menggenggam.
“Ini nyata?” gumam Nowi pelan. “Aku nggak lagi mimpi, kan?” Tatapannya mulai goyah. “Kamu baik banget sama aku, Vito. Aku pikir kamu bakal benci aku. Pasti kamu benci aku.”
Vito langsung menggenggam kedua tangan Nowi dan meletakkannya di dadanya agar gadis itu dapat merasakan detak jantungnya. “Ini nyata,” katanya pelan. “Aku nyata.”
Vito sengaja tidak membahas ucapan terakhir Nowi. Ia belum siap mengingat apa yang terjadi di masa lalu, rasa sakit itu masih terasa. Sekarang bukan waktunya. Yang terpenting adalah Nowi ada di sini.
“Sekarang bilang sama aku,” katanya lembut, “kenapa kamu tidur di sofa, bukan di kamar?”
Nowi menunduk. “Aku cuma … nggak bisa ada di rumah ini.”
Cibiran orang dan pengetahuannya tentang masa lalu Nowi, terlintas di pikiran Vito. Nowi meninggalkan rumah saat berusia delapan belas tahun dan tidak pernah kembali meski orang tuanya telah meninggal dunia. Wajar jika ia tidak betah berada di sini.
“Kalau gitu kamu ikut ke rumah aku.”
Nowi mengerjap dengan cepat.
“Kenapa kamu ada di sini?” suaranya pecah. “Gimana kamu tahu? Aku pikir kamu masih benci aku…”
Rasa sakit kembali terasa di dada Vito. “Sayang,” katanya pelan dan hati-hati. “Sekarang aku lagi peluk kamu. Sesuatu yang selama ini selalu aku harap bisa terjadi lagi.” Tatapan matanya melembut. “Kita bakal punya banyak waktu buat ngobrol nanti.”
Nowi tersenyum kecil sambil mengangkat bahu pelan. Pikiran Vito masih berpacu cepat mencerna semua kenyataan ini. Tangannya terus mengusap lengan dan bahu Nowi lalu kembali memegang wajah gadis itu.
“Serius, Nowi.”
Ia mendekatkan wajahnya. Nowi juga ikut mendekat. Pandangan gadis itu jatuh ke bibir Vito. Napas Nowi tercekat tepat sebelum Vito mengecup bibirnya. Sentuhannya lembut dan singkat.
Vito menjauh sebelum hal itu berlanjut. Ia tidak mengetahui apakah Nowi masih menginginkannya atau tidak, bahkan bisa saja Nowi telah memiliki pasangan. Namun ia bersikap egois, ia hanya ingin merasakan Nowi kembali.
Nowi menyandarkan dahinya ke dahi Vito. Mereka duduk diam selama beberapa saat sambil saling berbagi napas.
“Kamu nggak bakal tinggal di sini, Nowi,” kata Vito pelan. “Nggak, kalau kamu emang nggak mau.”
“Aku nggak punya pilihan, Vito.” Suara Nowi kecil. “Banyak yang harus diurus. Rumah ini juga…” Dia menggeleng. “Aku benci tempat ini.”
Nowi mulai turun dari pangkuannya namun Vito tidak menyukai hal itu. Ia langsung menahan paha Nowi agar gadis itu tetap berada di sana. Dengan lembut, ia mengangkat dagu Nowi agar menatapnya.
Mata hijau itu penuh dengan air mata yang belum jatuh. Hati Vito yang baru saja merasa hidup kembali retak lagi melihat kondisi gadis itu.
“Aku nggak peduli,” katanya tegas. “Aku nggak peduli apa yang kamu lakuin, di mana kamu selama ini, atau apa yang terjadi.” Tatapannya tidak goyah. “Yang aku peduli cuma satu. Kamu ada di sini. Dan kamu lagi sakit.”
Vito mengusap dagu Nowi dengan lembut. “Kalau kamu pikir aku bakal ninggalin kamu tidur sendirian di rumah kosong ini, di sofa ... kamu salah besar.”
Vito mengusap bibir Nowi dengan ibu jarinya agar tidak digigit lagi. Sebagian dirinya ingin menjaga jarak demi melindungi hatinya, namun ia tidak sanggup melakukannya. Nowi adalah satu-satunya orang yang dapat membuatnya merasa hidup dan melupakan segala hal lainnya. Egois atau tidak, ia ingin berada di dekatnya, memeluknya, dan menjaga Nowi selamanya.