NovelToon NovelToon
GIGOLO TAMPAN ITU TERNYATA ORANG TERKAYA DI MEXICO

GIGOLO TAMPAN ITU TERNYATA ORANG TERKAYA DI MEXICO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Moms Celina

Valerie bertemu Mario, pria tampan yang dikiranya gigolo di klub malam. Ia jatuh hati pada sosok sederhana itu, hingga kebenaran terungkap: Mario adalah orang terkaya dan paling berkuasa di Mexio yang menyamar mencari cinta tulus. Dikhianati oleh kebohongan, Valerie ragu memberi maaf. Di tengah bahaya dan intrik kekuasaan, Mario berjuang membuktikan ketulusannya. Kini, keduanya harus memilih: melepaskan, atau mempertahankan cinta yang lahir dari kesalahpahaman di tengah kemewahan dan risiko nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak di Balik Kabut Cahaya

Langkah kaki Lyra melangkah menjauh dari tempat di mana Mario dan Valerie berdiri diam, dan setiap langkah yang ia ambil terasa semakin ringan, seolah beban yang selama ribuan tahun ia bawa perlahan terangkat dari pundaknya. Di dalam hatinya, tidak ada rasa sedih karena berpisah, tidak ada rasa takut karena berjalan sendirian, tidak ada rasa ragu yang sedikit pun. Yang ada hanyalah rasa lega yang dalam, rasa gembira yang lembut, dan rasa kepastian yang kokoh, seolah-olah jiwanya akhirnya menemukan aliran sungai tempat ia bisa mengalir dengan bebas, tanpa hambatan, tanpa keraguan, dan tanpa batas.

Ia berjalan menyusuri jalan utama yang terbuat dari kristal bening, melewati barisan pintu-pintu yang terbuka lebar, melewati cahaya yang memancar dari segala arah, melewati suara nyanyian halus yang terdengar dari balik setiap pintu. Di sekelilingnya, masih terlihat banyak orang yang berjalan menyebar ke berbagai arah, ada yang berjalan berkelompok tertawa riang, ada yang berjalan sendirian dengan langkah yang tenang dan mantap, ada yang berjalan dengan tergesa-gesa seolah-olah mereka telah menunggu momen ini selama ribuan tahun. Setiap orang yang ia lewati menoleh dan tersenyum kepadanya, senyum yang penuh dengan kasih sayang dan pengertian, senyum yang mengatakan bahwa mereka saling mengerti, meski mereka memilih jalan yang berbeda.

Semakin jauh ia berjalan, semakin kabut cahaya yang menyelimuti tempat itu menjadi lebih tebal, membuat pemandangan di sekelilingnya berubah menjadi bentuk-bentuk yang samar dan lembut, seolah-olah ia berjalan di dalam mimpi yang terasa nyata. Namun di dalam hatinya, ia tidak pernah merasa tersesat, karena ia tahu bahwa ia tidak berjalan mengikuti tanda atau peta di tanah, melainkan mengikuti suara di dalam hatinya sendiri—suara yang telah ia dengar selama ribuan tahun, namun baru kini ia berani mengikutinya sepenuhnya.

Setelah berjalan cukup jauh, ia akhirnya sampai di hadapan sebuah pintu yang berdiri sedikit terpisah dari barisan lainnya, tersembunyi di balik selubung kabut cahaya yang berwarna merah muda dan keemasan. Pintu itu tidak terlalu tinggi dan megah seperti banyak pintu lain yang telah ia lewati, melainkan sederhana dan lembut, terbuat dari kayu yang berwarna cokelat muda, diukir dengan pola bunga dan daun yang bergerak perlahan seolah-olah mereka hidup dan bernapas. Di atas pintu itu, tertulis kalimat yang bersinar lembut: Jalan Sahabat dan Penyembuh.

Saat matanya membaca kalimat itu, ia merasakan getaran yang menyentuh langsung ke dalam kedalaman jiwanya, getaran yang mengatakan bahwa ia telah sampai di tempat yang ia cari, meski ia tidak pernah tahu sebelumnya seperti apa bentuk tempat itu. Ia berhenti berdiri di hadapan pintu itu untuk beberapa saat, membiarkan perasaan itu meresap masuk ke dalam setiap bagian dirinya, membiarkan rasa syukur dan gembira memenuhi seluruh hatinya. Lalu dengan langkah yang tenang dan mantap, ia mengulurkan tangannya dan menyentuh permukaan pintu itu. Saat jari-jarinya menyentuh kayu yang hangat itu, pintu itu perlahan terbuka sendiri, dan dari baliknya memancarkan cahaya yang lembut dan menyelimuti, membawa aroma bunga yang harum dan suara aliran air yang mengalir tenang.

Ia melangkah masuk, dan saat kakinya menyentuh tanah di sisi lain pintu, dunia di sekelilingnya berubah sepenuhnya. Kabut cahaya perlahan menghilang, digantikan oleh langit yang berwarna biru lembut, dihiasi awan yang bergerak perlahan seperti kapas yang terapung di udara. Di sekelilingnya terbentang lembah yang luas dan indah, dipenuhi dengan padang rumput yang hijau segar, sungai-sungai yang airnya jernih mengalir berkelok-kelok, dan hutan-hutan yang pohon-pohonnya berdaun dari segala warna, dari hijau tua hingga merah menyala, dari kuning cerah hingga ungu lembut. Di kejauhan terlihat gunung-gunung yang menjulang tinggi dengan puncak yang diselimuti kabut putih, dan di langit terlihat burung-burung yang terbang berkelompok, menyanyikan lagu yang indah dan merdu.

Namun yang membuat Lyra tertegun bukanlah keindahan alam di sekelilingnya, melainkan suasana yang terasa di tempat itu. Ia bisa merasakan bahwa tempat ini dipenuhi dengan perasaan—perasaan rindu, perasaan gembira, perasaan bingung, perasaan lelah, perasaan penuh semangat, dan segala macam perasaan yang bisa dirasakan oleh jiwa manusia. Ia bisa merasakan bahwa di tempat ini, semua perasaan itu tidak dipendam atau disembunyikan, melainkan dibiarkan mengalir bebas, seperti sungai yang mengalir menuju laut, membawa makna dan cerita di dalam setiap tetes airnya.

Ia berjalan menyusuri tepi sungai yang mengalir tenang, menikmati angin yang berhembus lembut menyentuh wajahnya, menikmati suara air yang mengalir dan suara burung yang bernyanyi, menikmati perasaan yang terasa hidup dan berdenyut di sekelilingnya. Setelah berjalan beberapa lama, ia akhirnya sampai di sebuah tempat di mana sungai itu melebar membentuk danau kecil yang airnya bening bagaikan kaca, memantulkan langit dan awan dengan sempurna. Di tepi danau itu, duduk seorang pemuda yang tampak masih sangat muda, rambutnya terurai tertiup angin, matanya menatap jauh ke arah tengah danau dengan tatapan yang kosong dan bingung.

Lyra berjalan mendekat dengan langkah yang lembut, berusaha tidak membuat suara yang bisa mengganggu, lalu ia duduk di tanah tidak terlalu jauh dari pemuda itu, cukup dekat agar bisa terlihat dan didengar, namun cukup jauh agar tidak terasa mengganggu. Ia duduk diam untuk beberapa saat, tidak berkata apa-apa, hanya duduk dan merasakan perasaan yang ada di dalam hati pemuda itu—perasaan yang campur aduk antara rasa rindu, rasa bingung, rasa takut, dan rasa ingin tahu yang besar.

Setelah beberapa saat dalam keheningan, pemuda itu akhirnya menoleh dan melihat Lyra yang duduk tidak jauh darinya. Matanya yang tadinya kosong kini menatapnya dengan rasa penasaran, namun tidak ada rasa takut atau curiga di dalamnya. Ia menatap Lyra untuk beberapa saat, lalu akhirnya ia membuka mulut dan berbicara dengan suara yang lembut namun bergetar sedikit.

"Kau juga datang dari luar pintu itu, bukan?" tanyanya, suaranya terdengar seperti bisik.

Lyra mengangguk perlahan, lalu menjawab dengan senyum yang lembut dan hangat.

"Ya, aku datang dari tempat yang sama denganmu. Aku juga berjalan menyusuri jalan yang panjang, melewati ribuan pintu, hingga akhirnya aku menemukan pintu yang membawaku ke tempat ini."

Pemuda itu kembali menatap ke arah tengah danau, dan untuk beberapa saat ia tidak berkata apa-apa lagi. Lalu ia menarik napas panjang, seolah-olah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan apa yang ada di dalam hatinya.

"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan," katanya akhirnya, suaranya terdengar berat. "Selama ribuan tahun, aku hidup dalam damai. Aku tahu bahwa aku berharga. Aku tahu bahwa aku dicintai. Aku tahu bahwa aku adalah bagian dari satu kesatuan yang abadi. Dan aku merasa damai, aku merasa senang, aku merasa tidak ada yang kurang dari hidupku. Tapi saat aku berdiri di hadapan pintu-pintu itu, aku merasa bingung. Aku melihat begitu banyak jalan, begitu banyak pilihan, begitu banyak hal yang bisa aku lakukan. Dan aku tidak tahu jalan mana yang cocok untukku. Aku tidak tahu apa yang aku inginkan. Aku tidak tahu apa yang membuat hatiku terasa hidup sepenuhnya."

Ia berhenti sejenak, lalu menoleh kembali menatap Lyra, dan di dalam matanya terlihat rasa takut yang samar.

"Bagaimana kau bisa tahu jalan mana yang harus kau pilih? Bagaimana kau bisa tahu apa yang membuat hatimu terasa hidup? Aku takut aku akan memilih jalan yang salah. Aku takut aku akan berjalan jauh, lalu akhirnya aku sadar bahwa itu bukan jalan yang seharusnya aku jalani. Aku takut aku akan menyia-nyiakan hidupku dalam perjalanan yang tidak memiliki makna untukku."

Lyra mendengarkan setiap kata yang diucapkan pemuda itu dengan perhatian penuh, hatinya terasa tersentuh oleh perasaan yang ada di dalam kata-kata itu. Ia mengerti perasaan itu sepenuhnya, karena ia juga pernah merasakannya, bahkan jauh sebelum mereka melangkah masuk ke dalam dunia di balik pintu itu. Ia menatap mata pemuda itu dengan pandangan yang lembut dan penuh pengertian, lalu ia berbicara dengan suara yang tenang dan menenangkan.

"Aku juga pernah merasa seperti itu, sahabatku," katanya dengan lembut. "Dulu, saat aku masih muda, aku juga merasa bingung. Aku melihat begitu banyak hal yang bisa aku lakukan, begitu banyak peran yang bisa aku ambil, begitu banyak jalan yang bisa aku lalui. Dan aku juga takut aku akan membuat pilihan yang salah. Aku takut aku akan mengambil jalan yang tidak cocok untukku, dan aku takut aku akan menyesal di kemudian hari."

Ia berhenti sejenak, lalu menunjuk ke arah permukaan danau yang tenang, di mana langit dan awan terlihat tergambar dengan sempurna.

"Lihatlah permukaan air itu. Saat airnya tenang dan tidak bergerak, ia bisa memantulkan segala sesuatu dengan jelas dan sempurna. Tapi saat angin bertiup kencang dan airnya beriak, pantulan itu menjadi buram dan terpecah-pecah, dan kita tidak bisa melihat gambaran yang jelas lagi. Begitu juga dengan hatimu, sahabatku. Saat hatimu dipenuhi dengan rasa takut, rasa ragu, dan rasa khawatir, ia menjadi seperti air yang beriak—ia tidak bisa memantulkan apa yang sebenarnya ada di dalam dirimu, dan kau tidak bisa mendengar suara hatimu sendiri dengan jelas."

Ia menoleh kembali menatap pemuda itu, senyumnya semakin lembut dan penuh kasih sayang.

"Jawaban yang kau cari tidak ada di luar dirimu. Jawaban itu tidak ada di dalam tulisan di atas pintu-pintu itu, tidak ada di dalam cerita orang lain, tidak ada di dalam apa yang orang lain katakan atau lakukan. Jawaban itu ada di dalam hatimu sendiri, tapi ia hanya bisa terdengar jelas saat hatimu tenang dan damai. Kau tidak perlu takut membuat pilihan yang salah, karena tidak ada pilihan yang salah. Semua jalan adalah jalan untuk hidup, semua jalan adalah jalan untuk tumbuh, semua jalan adalah jalan untuk memahami dirimu sendiri. Jika kau memilih jalan dan kemudian kau sadar bahwa itu bukan jalan yang cocok untukmu, kau selalu bisa berbalik arah dan memilih jalan yang lain. Tidak ada waktu yang terbuang, tidak ada langkah yang sia-sia, karena setiap langkah yang kau ambil akan mengajarkanmu sesuatu, dan setiap pengalaman yang kau alami akan membuatmu semakin mengerti siapa dirimu dan apa yang membuat hatimu terasa hidup."

Pemuda itu mendengarkan kata-kata Lyra dengan perhatian penuh, dan seiring berjalannya waktu, tatapan bingung dan takut di matanya perlahan mulai menghilang, digantikan oleh rasa tenang dan pengertian. Ia menatap Lyra untuk beberapa saat, lalu akhirnya ia tersenyum—senyum yang lembut dan tulus, senyum yang menunjukkan bahwa beban yang berat perlahan terangkat dari hatinya.

"Terima kasih," katanya pelan, suaranya kini terdengar lebih tenang dan jelas. "Selama ini aku merasa sendirian dengan perasaan ini. Aku merasa hanya aku yang merasa bingung dan takut, sementara orang lain semua terlihat begitu yakin dan pasti. Tapi saat kau berbicara, aku mengerti bahwa perasaan ini adalah hal yang wajar. Aku mengerti bahwa aku tidak perlu terburu-buru. Aku mengerti bahwa aku tidak perlu takut untuk memilih, karena tidak ada pilihan yang salah, dan aku selalu bisa berubah arah jika aku merasa perlu."

Lyra mengangguk dengan senyum yang cerah, dan di dalam hatinya ia merasakan perasaan yang indah—perasaan yang membuat seluruh jiwanya terasa hidup dan penuh makna. Ia mengerti sekarang, mengapa panggilan hatinya membawanya ke jalan ini. Ia mengerti sekarang, mengapa ia merasa paling hidup saat ia bisa mendengar, mengerti, dan menguatkan orang lain. Ia mengerti sekarang, bahwa inilah cara dirinya untuk mengekspresikan nilai dan cinta yang ada di dalam dirinya—tidak dengan menciptakan hal-hal baru, tidak dengan menjelajahi tempat yang jauh, tidak dengan mempelajari rahasia yang tersembunyi, melainkan dengan berjalan bersama orang lain, berbagi perasaan mereka, berbagi cerita mereka, dan membantu mereka menemukan jalan mereka sendiri.

Mereka duduk diam di tepi danau untuk beberapa saat lagi, tidak berkata apa-apa, hanya menikmati keheningan yang indah, menikmati perasaan damai yang memenuhi hati mereka berdua. Angin berhembus lembut menyapu permukaan danau, menciptakan riak-riak kecil yang berkilau terkena sinar matahari, burung-burung terus bernyanyi di pepohonan, dan air sungai terus mengalir dengan irama yang tenang dan teratur.

Lalu akhirnya pemuda itu berdiri, ia menoleh sekali lagi menatap Lyra dengan senyum yang penuh dengan rasa syukur dan pengertian, lalu ia melambaikan tangan dan berjalan pergi, berjalan menyusuri tepi sungai menuju arah yang lain, langkahnya kini terlihat lebih mantap dan penuh semangat, seolah-olah beban yang berat telah terangkat dari pundaknya, dan seolah-olah ia akhirnya telah menemukan kejelasan yang ia cari.

Lyra tetap duduk di tempatnya, menatap punggung pemuda itu hingga akhirnya menghilang di balik pepohonan di kejauhan. Ia menarik napas panjang, menghirup udara yang segar dan wangi, dan di dalam hatinya ia merasakan rasa gembira yang mendalam, rasa gembira yang membuat seluruh tubuhnya terasa ringan dan penuh energi. Ia menatap sekelilingnya, menatap keindahan lembah yang luas dan indah, menatap langit yang biru dan cerah, menatap air danau yang tenang dan bening, dan ia mengerti bahwa perjalanannya baru saja dimulai.

Ia tahu bahwa ia akan bertemu dengan banyak orang lagi dalam perjalanannya. Ia tahu bahwa ia akan bertemu dengan orang-orang yang merasa bingung, orang-orang yang merasa takut, orang-orang yang merasa lelah, orang-orang yang merasa rindu, dan orang-orang yang merasa penuh semangat. Ia tahu bahwa ia akan mendengar banyak cerita lagi, cerita-cerita yang penuh dengan suka dan duka, cerita-cerita yang penuh dengan perjuangan dan kemenangan, cerita-cerita yang penuh dengan makna dan keindahan. Ia tahu bahwa ia akan berjalan dari satu tempat ke tempat lain, dari satu lembah ke lembah yang lain, dari satu sungai ke sungai yang lain, dari satu jiwa ke jiwa yang lain, terus berjalan, terus berbagi, terus mengerti, dan terus mencintai.

Ia berdiri perlahan, lalu berjalan kembali menyusuri tepi sungai, langkahnya kini terasa lebih ringan dan lebih mantap dari sebelumnya. Ia tidak tahu ke mana ia akan berjalan selanjutnya, ia tidak tahu siapa yang akan ia temui selanjutnya, ia tidak tahu apa yang akan ia alami selanjutnya. Namun ia tidak merasa perlu untuk tahu. Ia hanya perlu untuk berjalan, untuk mendengar, untuk mengerti, dan untuk mencintai. Ia hanya perlu untuk menjadi dirinya sendiri sepenuhnya, dan untuk berbagi apa yang ada di dalam hatinya kepada mereka yang membutuhkannya.

Matahari perlahan mulai bergerak turun ke arah barat, mewarnai langit dengan warna merah dan jingga yang indah, memantulkan cahayanya di permukaan air sungai dan danau, menciptakan pemandangan yang terasa seperti mimpi yang terindah. Angin berhembus semakin lembut, membawa aroma bunga yang semakin harum, dan suara burung yang bernyanyi semakin merdu. Lyra terus berjalan menyusuri tepi sungai, berjalan menuju arah yang tidak diketahui, berjalan menuju masa depan yang tidak terlihat, namun ia tidak merasa tersesat, tidak merasa takut, dan tidak merasa bingung. Ia merasa hidup. Ia merasa penuh makna. Ia merasa berada di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, menjalani hidup yang tepat.

Dan di dalam hatinya, ia membawa semua yang telah ia pelajari, semua yang telah ia alami, dan semua yang telah ia cintai. Ia membawa ingatan akan ribuan tahun perjalanan yang telah ia lalui, ia membawa ingatan akan Mario dan Valerie yang menunggu di tempat di mana jalan-jalan bertemu, ia membawa ingatan akan Rian yang berjalan di jalan yang berbeda, mencari makna dan rahasia yang tersembunyi di dalam kedalaman kehidupan. Ia membawa semua itu di dalam hatinya, dan ia tahu bahwa tidak peduli seberapa jauh ia berjalan, tidak peduli seberapa lama waktu yang berlalu, tidak peduli seberapa banyak perubahan yang terjadi, ikatan di antara mereka tidak akan pernah terputus. Mereka akan selalu terhubung, mereka akan selalu satu, mereka akan selalu bersama, selamanya.

Matahari akhirnya terbenam sepenuhnya di balik puncak gunung, dan langit perlahan berubah menjadi gelap, dihiasi oleh ribuan bintang yang bersinar terang, memantulkan cahayanya di permukaan air yang tenang. Namun di dalam hati Lyra, cahaya terus bersinar terang, cahaya yang tidak akan pernah padam, cahaya yang terbuat dari nilai dan cinta, cahaya yang akan membawanya berjalan terus, terus berjalan, terus berbagi, terus mengerti, dan terus mencintai, sepanjang perjalanannya yang tak berujung.

 

Bersambung ke Bab 35

1
Adidtya13
sama aku mampir up trus ya
Alia Chans
"Setiap bab ceritamu selalu berhasil memukau hati. Hebat sekali! Salam kenal sesama penulis, mari saling mampir dan mendukung karya satu sama lain agar dunia literasi kita makin ramai."
Moms Celina: hai thanks ya kak dan makasih atas pendapatnya ya😍
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
hai aku mampir👍👍
Moms Celina: hai thanks ya
total 1 replies
Verhouthen Danita
novelnya menarik nggak bikin bosen nggak bikin jenuh bikin penasaran banget soalnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!