Bertahun-tahun telah berlalu, namun Esther masih saja tidak bisa melupakan sosok Lian, meskipun ia sudah berkali-kali mencoba dengan menjalin hubungan dengan pria lain.
Semua hubungan itu berjalan baik. Bahkan terlalu baik.
Pria-pria green flag yang diinginkan banyak wanita… semuanya pernah singgah dalam hidup Esther.
Tapi tetap saja, tidak ada yang cukup.
Hingga suatu malam di sebuah bar, sebuah kejadian membuatnya terjebak dalam perasaan dilema yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Moan my name."
"Kak... ahhh—"
Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaruArun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 TINGGAL DALAM SATU ATAP
Esther mengemasi satu persatu barangnya—Pakaian, sepatu, dan beberapa keperluan lain yang akan ia masukan ke dalam koper.
"Apa kau yakin ingin tinggal sendiri?" tanya Margaret yang membantu putrinya berkemas. Ia meletakan sepatu yang sudah ia wrap dengan plastik.
Esther mengangguk. "Esther mau mencoba mandiri, Mah, lagipula Esther sudah bisa menjaga diri."
Margaret tersenyum dan mengelus kepala putri satu-satunya itu. Awalnya ia merasa sangat keberatan melepaskan Esther untuk tinggal sendiri. Namun setelah mendengar nasihat Agam bahwa sebagai orang tua tidak semestinya mereka mengekang anak-anaknya jika ingin tumbuh dan lebih berkembang. Malah justru itu bagus jika Esther ada kemauan untuk hidup mandiri.
"Lalu kau mau tinggal dimana, sayang?"
"Di apartemen dekat kampus supaya Esther lebih dekat pulang pergi, jadi mama dan papa tidak perlu khawatir." jelas Esther sedetail mungkin supaya izinnya tidak terhalang ras khawatir orang tuanya.
"Apa semuanya sudah siap?" Agam tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Sudah," jawab kedua wanita itu kompak sambil tersenyum.
Agam pun mengambil koper milik Esther dan memberikannya pada Jemy—Penjaga rumah yang sudah lama mengabdi pada keluarga Alder—supaya di masukkan ke dalam mobil.
Usai semua barang-barang Esther masuk ke dalam mobil, mereka pun pergi menuju apartemen tempat Esther akan tinggal nantinya.
Sepanjang jalan Margaret yang duduk di belakang bersama Esther tak henti-hentinya memberi nasihat supaya Esther jangan pernah lupa untuk memeriksa setiap jendela dan pintu sebelum tidur atau meninggalkan rumah, karena kita tidak pernah tahu kapan musibah akan datang. Jadi waspadalah sebelum itu terjadi adalah hal yang penting. Begitulah yang di katakan Margaret.
"Berhentilah mengatakan hal yang sama Margaret, kau tidak lihat putrimu sudah bosan mendengarnya?"
"Aku hanya ingin putriku aman selama aku tidak ada di sisinya, apa itu salah?" Margaret menatap kursi depan dimana suaminya duduk dengan sinis.
"Tidak ada yang salah, hanya saja kau bisa berbicara hal lain selain itu, kan?" Agam menoleh dari kaca tengah. "Seperti tidak membawa pria masuk kedalam apartemenmu nanti."
Deg.
Esther merasa sebuah palu memukul jantungnya. Ucapan sang ayah membuatnya tiba-tiba gugup dan bingung bagaimana harus bertingkah.
"Mana mungkin putriku membawa pria ke dalam apartemennya saat ia tinggal sendiri. Joshua saja tidak pernah ia bawa masuk jika rumah kosong. Ya kan sayang?" Margaret menatap Esther yang tengah melihat ke luar jendela.
"Tentu saja, tidak." jawab Esther mencoba menyembunyikan kegugupannya. "Papa ini ada-ada saja." katanya sambil tertawa.
"Papa hanya tidak mau kejadian Martin terulang lagi," lirih Agam hampir tak terdengar.
"Tidak akan jika kau tidak mendukung kelakuan putramu itu." sentak Margaret.
"Ya.. Ya.. Aku mengaku salah karena—"
"Memang salah," potong Margaret. Ia menoleh pada putrinya. "Jadi jangan dengarkan apa yang papamu katakan tadi, karena mama percaya padamu, sayang."
Esther mengangguk sambil tersenyum meskipun sebenarnya ucapan itu justru menjadi beban baru baginya.
Cukup lama perjalanan mereka tempuh hingga akhirnya mereka tiba di apartemen yang akan menjadi tempat tinggal Esther.
Tempat itu cukup luas untuk Esther yang akan tinggal sendirian, dan Margaret tak henti-hentinya memuji tempat itu sejak mereka masuk. "Kau tidak salah memilih tempat tinggal, disini sangat nyaman."
Margaret membuka jendela, membuat udara segar dari luar masuk kedalam dan menerpa wajahnya.
"Kau benar, tempatnya juga rapi dan lengkap." sahut Agam yang membuka bagian dapur. "Sepertinya penghuni sebelumnya sangat terorganisir, bahkan semua bahan makanan begitu tertata."
"Sebaiknya kau buang dan ganti semuanya karena semua ini bekas orang asing." lanjut Agam seraya menutup kulkas.
"Nanti Esther akan mengganti semuanya dengan yang baru."
"Baguslah, kalau perlu papa nanti suruh Jemy datang kemari untuk menghantarkan keperluanmu."
"Jangan!" Esther tiba-tiba meninggikan suaranya hingga membuat kedua orang tuanya saling menatap dan heran.
"Kenapa?"
"M-ma-maksud Esther jangan paman Jemy yang mengantarkan, tapi bi Elise, ya.. Bi Elise sekalian belanja nanti. Atau kalau tidak Esther bisa belanja sendiri sambil jalan-jalan menikmati lingkungan baru." jelas Esther sambil cengengesan, menutupi kegugupannya.
Margaret dan Agam mengangguk setuju. "Baiklah kalau begitu. tapi ingat, ganti ya!"
"Iya, Pah."
Setelah berbincang-bincang sebentar, Agam dan Margaret akhirnya pamit untuk pergi.
"Kau jaga diri baik-baik, ya, mama dan papa akan sering-sering berkunjung kemari nantinya." Agam memeluk putri kecilnya itu dan mengecup puncak kepalanya berkali-kali.
Margaret mengangguk. "Jangan sampai kau telat makan ya, sayang."
Esther mengangguk. "Iya, Mama dan Papa hati-hati di jalan, ya."
Esther melambaikan tangannya, hingga kedua orang tuanya hilang setelah pintu lift menutup. Kedua bahu Esther merosot perlahan, lega dan bersalah menyatu—mencekik dirinya. Lega karena ia tidak perlu khawatir lagi mengenai perubahan tubuhnya nanti saat perutnya mulai membesar. Dan rasa bersalah karena ia telah berbohong kepada orang tuanya bahwa sebenarnya ia tidak tinggal di apartemennya sendiri, melainkan bersama Lian.
Ya, Apartemen yang menurut mamanya bagus dan nyaman ini adalah apartemen milik Lian, tempat dimana mereka menghabiskan malam bersama hingga membuat Esther harus pindah dari rumahnya demi bisa melahirkan anak dalam perutnya.
Esther menutup pintu perlahan hingga menimbulkan bunyi denting pelan di ruangan yang sepi itu. Ia berjalan pelan sambil menatap sekitar. Rumah itu sangat bersih dan rapi untuk seorang pria yang tinggal sendiri.
"Kak Lian dan kak Arash benar-benar pria yang teratur." Gumam Esther. Ia berhenti di depan jendela, menikmati hembusan angin siang yang menerpa kulitnya yang mulai berkeringat.
Suara pintu terbuka membuat Esther menoleh. Lian muncul dengan pakaian santai dan keringat yang mengalir dari ujung rambut melewati pelipisnya, kaos hitam itu menempel ketat di tubuh Lian membuat bahunya yang lebar itu menjadi pusat perhatian Esther.
"Orang tuamu sudah pulang?" tanya Lian seraya membuka kulkas, ia mengambil satu botol dan meneguknya dengan rakus hingga botol plastik itu mengerut karena tersedot olehnya.
"Su-sudah," jawab Esther gugup.
Lian berjalan menghampiri Esther yang masih berdiri di dekat jendela. "Aku sudah kosongkan sebagian lemariku, kau bisa masukkan bajumu ke dalam sana."
Esther mengangguk.
Lian pergi meninggalkan Esther masuk ke dalam kamarnya. Mungkin dia akan mandi setelah berolahraga seperti yang di katakan nya semalam. Bahwa saat Esther datang, ia akan pergi ke tempat gym di bawah dan kembali setelah orang tuanya pergi.
Esther ikut masuk ke dalam kamar Lian beberapa saat setelahnya untuk membereskan pakaiannya ke dalam lemari supaya lebih rapi.
Begitu ia membuka lemari, Esther di buat kagum akan isinya yang begitu tersusun rapi. Pakaian di tumpuk dengan bentuk yang presisi dan tertata sesuai jenisnya. Celan menumpu di bagian atas, kaos di bawahnya, jaket dan jas tergantung tapi di samping. Senyuman tidak lagi bisa Esther sembunyikan dari wajahnya. Ada rasa bahagia yang muncul setelah ia menyadari bahwa mulai sekarang pakaiannya dan Lian berada dalam satu tempat. Bukan hanya itu, tapi mereka juga akan berbagi segalanya—tempat tinggal, makanan, kamar mandi, mungkin juga tempat tidur seperti yang dilakukan pasangan suami istri kebanyakan.
Esther tiba-tiba terkekeh memikirkan hal itu. Namun sesegera mungkin ia menutup mulutnya setelah menyadari kewarasannya yang hilang karena merasa bahagia atas tragedi yang menimpanya.
"Bodoh! kau bahagia dengan kekacauan ini?" batin Esther tak mengerti akan dirinya sendiri.
"Huek.. Hue—"
Kedua mata Esther melebar, ia segera bangkit dan berlari menuju kamar mandi. Pintu ia gedor dengan keras berkali-kali, tak peduli Lian berteriak dari dalam sana mengatakan bahwa ia akan keluar sebentar lagi, namun Esther sudah tidak kuat lagi. Ia kembali menggedor pintu lebih keras dari sebelumnya.
Pintu akhirnya terbuka. Esther segera masuk, melewati Lian begitu aja menghampiri wastafel untuk memuntahkan semua isi perutnya. Esther tak peduli pada Lian yang berdiri di belakangnya dengan busa shampo yang belum sempat ia bilas di kepalanya, matanya menatap Esther penuh kekesalan, keduanya tangannya bertumpu di pinggang.
Baru beberapa menit gadis kecil ini tinggal di rumahnya Lian sudah di buat kesal dengan tingkahnya.
"Kenapa tidak gunakan wastafel dapur?" gerutu Lian.
"Esther tidak kepikiran lari kesana karena tadi sedang membereskan pakaian, lalu tiba-tiba mual dan buru-buru lari kemari." jawab Esther seraya berkumur-kumur setelah rasa mualnya membaik.
Ia menegakkan tubuhnya, meraih tisu lalu mengelap wajahnya seraya menatap cermin dimana wajah mereka berdua terpantul disana. Kedua mata Esther melebar, terkejut saat melihat penampilan Lian yang shirtless dengan bulir air di badannya dan shampoo di kepalanya yang belum sempat di bilas. Buru-buru ia mengalihkan pandangannya, meskipun ujung matanya masih saja curi-curi pandang.
"Kenapa kau muntah-muntah? Apa kau sakit?"
Esther tak langsung menjawab. Ia masih terpaku pada pantulan Lian di cermin yang hanya mengenakan handuk di pinggangnya.
"Esther!"
"Tidak. Aku tidak sakit, ini normal untuk wanita hamil." jawab Esther gelagapan.
Kedua alis Lian bertautan. "Kau sudah periksa?"
Esther berbalik dan mencoba untuk fokus pada wajah Lian, bukan tubuhnya.
"Belum," lirih Esther.
"Kalau begitu periksa lah, aku akan mengantarmu ke dokter hari ini."
Esther menatap Lian tak percaya. Ia menduga bahwa ia harus pergi sendirian kesana, namun ternyata dugaanya salah. Lian justru yang menyuruhnya sekaligus mau mengantarnya.
...*****...
Suasana di dalam mobil begitu hening. Hanya suara mesin mobil dan pendingin yang terdengar. Tidak ada obrolan seperti biasanya. Ruangan sempit itu untuk pertama kalinya terasa mencekam bagi Esther. Perjalanan bersama Lian kali terasa menakutkan seolah ini adalah pertama kalinya bagi mereka. Namun nyatanya tidak. Mereka berdua sudah sering satu mobil berdua bertahun-tahun lalu karena dulu Esther selalu di usir Arash dan Lian lah yang selalu memungutnya, menjadi penengah bagi kakak adik yang hampir tidak pernah akur dulu.
Lian membelokkan mobilnya ke sebuah rumah sakit. Ia mematikan mobil di parkiran lalu membuka dashboard mobilnya.
"Gunakan ini," Lian memberikan sebuah masker dan topi pada Esther.
Esther mengambil masker itu dan mengenakannya tanpa banyak bicara. Mereka lalu keluar dan berjalan masing-masing, Lian berjalan di depan dengan topi yang menutupi setengah wajahnya dan Esther menutup seluruh wajahnya dan berjalan mengikuti Lian.
Setelah bertanya pada resepsionis letak dokter kandungan, mereka berdua berjalan lurus hingga tiba di depan sebuah pintu.
Lian memegang gagang pintu, memutarnya, namun urung ia dorong. Ia menoleh ke belakang. "Masuklah."
Esther mendongak, memperlihatkan kedua matanya yang besar di balik topi. "Kau tidak ikut, kak?"
"Aku akan menyusul."
~terimakasih sudah berkenan mampir.. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaaa❤️