NovelToon NovelToon
TERPAKSA MENJADI ISTRI KONTRAK ZAYN DEVANDRA

TERPAKSA MENJADI ISTRI KONTRAK ZAYN DEVANDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Menikah Karena Anak / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nirna Juanda

Aluna Maharani adalah gadis sederhana dengan hati yang terlalu tulus untuk dunia yang kejam. Hidupnya berubah dalam satu keputusan yang bahkan bukan miliknya—saat ayahnya memintanya menikah dengan Zayn demi sebuah alasan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Ia menurut.
Bukan karena cinta, tetapi karena kepercayaan.
Namun di balik pernikahan itu, Aluna tidak pernah tahu bahwa semuanya hanyalah kesepakatan—sebuah ikatan tanpa perasaan yang memiliki batas waktu.
Lebih menyakitkan lagi, ia juga tidak tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya… telah lebih dulu memiliki seseorang.
Di rumah keluarga Devandra, Aluna bukanlah istri.
Ia hanya tamu yang tidak diinginkan.
Dingin, tekanan, dan tatapan merendahkan menjadi bagian dari hari-harinya. Namun di balik semua itu, Aluna tetap bertahan—dengan luka yang ia sembunyikan, dan rasa penasaran yang perlahan membawanya pada rahasia besar yang seharusnya tidak pernah ia ketahui

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehormatan Yang Kalian Paksa

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku duduk di lantai.

Punggungku bersandar pada sisi tempat tidur. Lututku kupeluk erat. Air mata sudah mengering, tapi rasa sesak di dada ini… tidak juga pergi.

Perutku perih.

Sejak kemarin… aku belum makan apa pun.

Tapi anehnya—

rasa lapar bukan lagi hal yang paling menyakitkan.

Klik.

Suara kunci pintu terdengar.

Aku tidak bergerak.

Tidak menoleh.

Tidak peduli.

Pintu terbuka perlahan.

Langkah kaki masuk.

Tenang.

Terukur.

Aku tahu siapa itu tanpa harus melihat.

Zayn.

Aroma khasnya langsung memenuhi ruangan.

Dan entah kenapa… itu justru membuat dadaku semakin terasa sempit.

Aku tetap diam.

Menatap kosong ke lantai.

“Bangun.”

Suaranya datar.

Aku tidak merespons.

Beberapa detik berlalu.

Lalu langkahnya mendekat.

Aku bisa merasakan keberadaannya tepat di depanku.

Tapi aku tetap tidak mengangkat kepala.

“Jangan buat aku mengulanginya,” ucapnya lagi, lebih rendah.

Aku tersenyum tipis.

Pahit.

“Aku capek,” jawabku pelan. “Kalau mau marah… marah saja.”

Hening.

Tidak ada bentakan.

Tidak ada ancaman.

Yang ada justru—

bunyi benda diletakkan di meja.

Aku mengangkat kepala perlahan.

Sebuah nampan makanan.

Masih hangat.

Aku menatapnya beberapa detik.

Lalu… beralih ke Zayn.

Dia berdiri di sana.

Dengan ekspresi yang sulit aku baca.

“Kamu puas?” katanya tiba-tiba.

Aku mengernyit.

“Apa?”

Zayn menghela napas kasar.

“Kamu puas melihat aku seperti ini?” desisnya. “Masuk ke kamar ini… bawa makanan… seperti pelayan?”

Aku terdiam.

Tidak menyangka itu yang akan ia katakan.

“Ayah tidak ingin kamu mati di rumah ini,” lanjutnya dingin. “Itu saja alasan aku di sini.”

Deg.

Kalimat itu menusuk.

Lebih tajam dari sebelumnya.

“Oh…” aku tertawa kecil. “Jadi ini bukan karena kamu peduli?”

Zayn menatapku tajam.

“Aku tidak pernah bilang aku peduli.”

Aku mengangguk pelan.

“Bagus,” bisikku. “Karena aku juga tidak membutuhkan itu.”

Hening.

Udara terasa semakin berat.

“Kalau begitu makanlah ” ucapnya singkat.

Aku melirik makanan itu lagi.

Lalu kembali menatapnya.

“Kalau aku tidak mau?”

Tatapannya berubah.

Lebih keras.

“Jangan cari masalah lagi, Aluna.”

Aku berdiri perlahan.

Kakiku sedikit gemetar.

Tapi aku tetap tegak.

Menatapnya tanpa takut.

“Masalah?” ulangku. “Kamu yang menciptakan semua masalah ini.”

Zayn mendekat satu langkah.

“Aku sudah bilang—”

“Apa sulitnya aku ikuti saja apa yang kalian inginkan?” potongku cepat, menirukan ucapannya.

Sunyi.

Aku tersenyum tipis.

Tapi kali ini… penuh luka.

“Kalimat itu yang ingin kamu katakan , kan?”

Zayn tidak menjawab.

Tapi matanya… membenarkan semuanya.

Aku menggeleng pelan.

“Kenapa aku harus selalu yang mengalah?” suaraku mulai bergetar. “Kenapa aku yang harus menyesuaikan diri dengan dunia kalian?”

Aku menunjuk ke arah pintu.

“Rumah ini… aturan ini… semua ini bukan pilihanku!”

Napas Zayn terdengar lebih berat.

Tapi dia tetap diam.

Selalu diam.

Dan aku semakin lelah menghadapi diamnya.

“Aku cuma ingin hidup…” bisikku lirih. “Apa itu terlalu sulit untuk kalian pahami?”

“Kenapa?” suaraku bergetar, tapi keras. “Kenapa kamu terus menutup ruang gerakku?!”

Zayn mengernyit.

“Aluna—”

“Jangan panggil namaku dengan nada seperti itu!” potongku cepat.

Aku melangkah

Lebih dekat.

Lebih berani dari sebelumnya.

“Aku bukan tahanan di rumah ini!” lanjutku. “Aku manusia! Aku punya hidup!”

Zayn terdiam.

Tatapannya tidak lepas dariku.

Tapi tidak ada jawaban.

Dan justru itu yang membuat emosiku semakin memuncak.

“Kenapa aku tidak boleh keluar?” tanyaku lagi. “Kenapa semua langkahku selalu diawasi? Kenapa aku harus diam di kamar seperti… seperti orang yang tidak punya hak apa-apa?!”

Aku menarik napas kasar.

Air mata mulai menggenang.

“Apa aku salah karena ingin hidup normal?” suaraku mulai pecah. “Apa itu terlalu berlebihan buatmu?!”

Zayn masih diam.

Tangannya terlipat di dada.

Seolah semua ini… hanya tontonan baginya.

Dan itu menyakitkan.

Sangat menyakitkan.

“Selena bisa keluar masuk rumah ini sesuka hati!” lanjutku. “Dia bisa bertemu siapa saja, pergi ke mana saja! Kenapa aku tidak?!”

Tidak ada jawaban.

Selalu tidak ada jawaban.

Aku tertawa kecil.

Tawa yang penuh luka.

“Karena aku bukan siapa-siapa di sini, ya?” bisikku.

Aku menatapnya lurus.

“Kamu tahu tidak… aku ini baru 19 tahun.”

Suaraku melemah.

Tapi justru di situlah semua terasa lebih nyata.

“Aku masih punya mimpi,” lanjutku pelan. “Aku ingin kuliah… aku ingin bertemu banyak orang… aku ingin hidup seperti orang normal.”

Air mataku jatuh.

Satu per satu.

Tanpa bisa aku tahan lagi.

“Aku tidak mau… menghabiskan hidupku hanya untuk diam… menangis… di kamar yang mewah tapi terasa seperti penjara ini…”

Zayn menghela napas pelan.

Akhirnya.

Tapi itu belum cukup.

Belum cukup untuk menghentikan semuanya.

“Jawab aku, Zayn!” teriakku.

Suasana langsung membeku.

Aku tidak pernah setinggi ini berbicara padanya.

Tidak pernah seberani ini.

Tapi malam ini…

aku sudah tidak peduli.

“Mana kontrak itu?!” tanyaku tajam.

Zayn mengangkat alis.

“Apa?”

“Kontrak pernikahan itu!” aku melangkah lebih dekat. “Mana?!”

Dia menatapku dalam.

Masih diam.

Dan aku benar-benar muak dengan diamnya.

“berikan padaku!” suaraku meninggi. “Biar aku robek sekarang juga!”

Hening.

Sunyi.

Tapi sunyi kali ini terasa seperti badai yang siap meledak.

“Aku tidak pernah setuju dengan semua ini!” lanjutku. “Aku tidak pernah minta dinikahkan seperti ini! Aku tidak pernah minta hidupku diatur!”

Tanganku gemetar.

Tapi aku tetap berdiri.

Tetap menatapnya tanpa takut.

“Kalau semua ini hanya soal kontrak… maka selesaiin sekarang!” kataku tegas. “Aku tidak mau lagi terikat dengan sesuatu yang bahkan tidak pernah aku inginkan!”

Zayn menatapku lama.

Sangat lama.

Tatapannya berubah.

Tidak lagi sekadar dingin.

Ada sesuatu di sana.

Sesuatu yang sulit aku baca.

Dan justru itu yang membuat jantungku berdebar lebih kencang.

“Sudah selesai?” tanyanya akhirnya.

Suaranya rendah.

Tenang.

Terlalu tenang.

Aku terdiam.

Napasku masih berat.

Air mataku belum berhenti.

Tapi aku tidak mundur.

“Belum,” jawabku pelan. “Selama kamu belum jawab semua pertanyaanku.”

Zayn berjalan pelan ke arahku.

Hening.

Beberapa detik berlalu.

Lalu Zayn bicara lagi.

“Kamu tidak akan mengerti.”

Aku tertawa kecil.

“Kalau kamu tidak pernah menjelaskan… bagaimana aku bisa mengerti?”

Tatapan kami bertemu.

Dan untuk sesaat…

aku melihat sesuatu yang berbeda di matanya.

Bukan dingin.

Bukan marah.

Tapi… ragu.

Sangat tipis.

Hampir tidak terlihat.

Namun cukup untuk membuat hatiku bergetar.

“Ini bukan soal kamu saja,” ucapnya pelan.

Aku mengerutkan kening.

“Maksudmu?”

Zayn menggeleng.

Seolah menyesal sudah mengatakan itu.

“Lupakan.”

Aku melangkah mendekat.

“Tidak,” kataku tegas. “Jelaskan.”

Tapi dia mundur satu langkah.

Menjaga jarak.

“Tidak semua hal perlu kamu tahu.”

Kalimat itu seperti tembok.

Kembali menutup semuanya.

Aku menunduk.

Tersenyum pahit.

“Tentu saja,” bisikku. “Aku memang tidak pernah dianggap cukup penting untuk tahu apa pun.”

Sunyi.

Zayn tidak membantah.

Dan itu… sudah cukup jadi jawaban.

Aku menoleh ke arah makanan itu lagi.

Beberapa detik.

Lalu… aku mengambilnya.

Bukan karena aku ingin.

Tapi karena aku tahu—

kalau aku terus seperti ini…

aku akan benar-benar hancur.

Aku duduk di tepi tempat tidur.

Mengambil satu suapan kecil.

Rasanya hambar.

Tidak ada arti.

Tapi aku tetap menelannya.

Zayn masih berdiri di sana.

Mengawasi.

Selalu mengawasi.

“Aku makan,” kataku pelan. “Sekarang kamu bisa pergi.”

Dia tidak langsung bergerak.

Masih menatapku..

Dengan tatapan yang sama.

Dingin.

Menekan.

“Kamu terlalu banyak melawan,” ucapnya akhirnya.

Aku tertawa kecil.

Pahit.

“Dan kamu terlalu banyak mengatur hidup orang lain.”

Tatapan kami bertemu.

Tidak ada yang mengalah.

Tidak ada yang mundur.

“Aluna,” suaranya rendah, “kamu harus mulai mengerti situasi.”

Aku berdiri.

Menatapnya lurus.

“Aku justru tidak mengerti apa yang sebenarnya kalian inginkan dariku,” balasku. “Keluarga ini…”

Aku menggeleng pelan.

“…keluarga monster.”

Hening.

Kalimat itu menggantung di udara.

Zayn menatapku tajam.

Tapi aku tidak peduli.

“Dari awal aku masuk ke rumah ini,” lanjutku, “aku diperlakukan seperti bukan manusia. Semua diatur. Semua dibatasi. Bahkan bernapas pun rasanya harus izin.”

Napas Zayn terdengar lebih berat.

“Tapi kamu tidak pernah bertanya,” katanya dingin.

“Apa yang harus aku tanyakan?” aku mendekat satu langkah. “Apa yang kalian inginkan dari gadis kampung seperti aku ini?!”

Sunyi.

Dan untuk pertama kalinya—

Zayn menjawab tanpa berputar.

“Kami butuh pewaris.”

Deg.

Dunia seperti berhenti.

Aku menatapnya tidak percaya.

“Apa…?”

“Keluarga Devandra membutuhkan pewaris,” ulangnya tegas. “Dan kamu di pilih ayah untuk itu, sampai saat ini aku tidak paham dengan pilihan ayah,mungkin seharusnya kamu bersyukur.”

Aku tertawa.

Tapi kali ini—

lebih keras.

Lebih hancur.

“Hah…?” aku menggeleng.

“Apa yang harus aku syukuri dari semua ini?”

Aku menunjuk diriku sendiri.

“Hidupku direnggut, kebebasanku diambil, masa depanku dihancurkan—lalu kamu bilang aku harus bersyukur?!”

Mataku mulai memanas.

Air mata menggenang.

“Apalagi soal kehormatan…” suaraku bergetar. “Apa kalian tahu arti itu buatku?!”

Zayn tidak langsung menjawab.

Tapi tatapannya tidak goyah.

“kamu dan aku terikat pernikahan,” ucapnya akhirnya. “Itu fakta.”

Aku menatapnya tajam.

“Pernikahan yang dipaksakan.”

Dia menghela napas.

“Untuk perempuan lain… aku tidak akan menikahinya,” lanjutnya. “Ayah yang menginginkan aku menikah denganmu.”

Aku terdiam sesaat.

Kalimat itu aneh.

Tidak masuk akal.

“Jadi aku harus merasa spesial begitu,tidak mungkin?” tanyaku sinis.

Zayn tidak menjawab.

Dan itu cukup membuat emosiku kembali naik.

“Jadi itu?” aku mendekat lagi. “ itu yang keluarga monster itu inginkan dariku?”

Tatapanku menelusuri wajahnya.

Mencari sesuatu.

Apa pun.

“Kalau memang itu yang kalian inginkan…” suaraku melemah sedikit, tapi tetap tajam, “…kenapa kamu tidak pernah menyentuhku?”

Sunyi.

Hening.

Dan untuk pertama kalinya—

Zayn terdiam.

Benar-benar diam.

Aku bisa melihat perubahan itu.

Sedikit.

Tapi nyata.

Matanya menegang.

Rahangnya mengeras.

Seolah pertanyaanku…

mengenainya lebih dalam dari yang ia duga.

Beberapa detik berlalu.

Lalu—

“Memangnya kamu mau?” tanyanya balik.

Suaranya rendah.

Tapi kali ini…

tidak sepenuhnya dingin.

Aku menatapnya tanpa ragu.

“Tidak sudi.”

Jawabanku tegas.

Tanpa jeda.

Dan itu—

seperti memukul sesuatu di dalam dirinya.

Tatapan Zayn berubah.

Lebih gelap.

Lebih sulit dibaca.

Tapi aku tidak mundur.

Tidak kali ini.

“Aku bukan benda,” lanjutku pelan. “Aku bukan alat untuk memenuhi keinginan gila kalian.”

Langkahku mundur satu langkah.

Menjaga jarak.

“Kalau kamu pikir aku akan diam dan menerima semuanya…”

Aku menggeleng.

“…kamu salah.”

Hening kembali menyelimuti ruangan.

Tapi kali ini—

heningnya berbeda.

Lebih berat.

Lebih dalam.

Zayn menatapku lama.

Sangat lama.

Seolah sedang menimbang sesuatu.

Atau…

menahan sesuatu.

Aku tidak tahu.

Dan mungkin…

aku tidak akan pernah benar-benar tahu.

“Aku tidak butuh kamu mau atau tidak,” ucapnya akhirnya.

Suaranya kembali dingin.

Tembok itu kembali naik.

“Tapi kamu tetap akan menjalani semua ini.”

Kalimat itu seperti rantai.

Mengikat.

Mencekik.

Aku tersenyum tipis.

Lelah.

Sangat lelah.

“Kalau begitu…” bisikku pelan, “…lihat saja sampai kapan aku bisa bertahan.”

Tatapan kami bertemu sekali lagi.

Dan untuk pertama kalinya—

aku tidak melihat hanya kebencian di matanya.

Ada sesuatu yang lain.

Sesuatu yang bahkan mungkin dia sendiri tidak mengerti.

Tapi aku terlalu lelah untuk mencari tahu.

Aku berbalik.

Membelakanginya.

Menutup percakapan ini.

Atau mungkin…

membuka luka yang jauh lebih dalam.

Dan di belakangku—

Zayn tidak bergerak.

Tidak pergi.

Tidak juga mendekat.

Dia hanya diam.

Seperti biasa.

Selalu diam.

Tapi kali ini…

diamnya terasa berbeda.

Seolah ada sesuatu yang mulai retak.

"jangan kabur lagi"ucapnya

Perlahan berbalik dan pergi dari kamar ku

Tanpa suara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!