Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.
Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.
Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.
Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12
Lampu jalanan yang berkedip-kedip menjadi satu-satunya saksi bisu langkah kaki Arumi yang terseret. Hujan telah reda, menyisakan hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang.
Arumi tidak tahu sudah berapa kilometer ia berjalan menjauh dari rumah Mas Danu. Ia hanya tahu satu hal, ia harus terus melangkah sampai kakinya hancur, atau sampai ia menemukan tempat di mana Kirana tidak lagi menggigil.
Kirana sudah berhenti menangis. Bocah itu kini hanya bisa menyandarkan kepalanya di bahu Arumi dengan napas yang berat dan panas. Arumi merasa seolah sedang menggendong bongkahan api di tengah lautan es.
"Ibu... haus..." lirih Kirana. Suaranya nyaris menyerupai bisikan maut.
Arumi berhenti di depan sebuah warung nasi kecil yang hampir tutup di pinggiran kota. Warung itu sederhana, dindingnya hanya dari papan kayu yang dicat biru kusam dengan papan nama bertuliskan 'Warung Nasi Ibu Ratna' Cahaya lampu bohlam kuning di dalamnya tampak bergoyang tertiup angin malam.
Arumi mendekat ke arah ember besar di depan warung yang menampung air hujan dari talang. Tanpa rasa malu, ia menciduk air itu dengan tangannya yang kotor dan meminumnya dengan rakus, lalu membasahi bibir Kirana yang pecah-pelanting.
"Siapa di sana?!" sebuah suara berat namun jernih mengagetkannya.
Seorang wanita paruh baya dengan daster batik yang tertutup celemek kain muncul dari balik pintu kayu. Wajahnya penuh kerutan, namun matanya menyorotkan ketegasan yang jujur. Itu adalah Ibu Ratna.
Arumi terpaku. Ia tampak seperti hantu di bawah cahaya remang-remang, daster batiknya berlumur lumpur, wajahnya pucat pasi, dan matanya merah menyala karena demam dan amarah yang tertahan.
"Tolong... anak saya," hanya itu yang mampu keluar dari mulut Arumi sebelum lututnya benar-benar menyerah. Ia jatuh berlutut di atas tanah becek depan warung, mendekap Kirana sekuat tenaga agar tidak terbentur.
Ibu Ratna terkejut, namun naluri keibuannya bergerak lebih cepat daripada rasa curiganya. Ia segera menghampiri Arumi, memegang kening Kirana, dan matanya membelalak. "Astaga, Nak! Anak ini panas sekali! Cepat, bawa masuk ke dalam!"
Arumi tidak punya tenaga untuk melawan atau merasa curiga. Ia membiarkan dirinya dituntun masuk ke dalam bagian belakang warung yang berfungsi sebagai dapur sekaligus tempat istirahat kecil.
Aroma uap nasi dan bumbu dapur yang pekat menyerang indra penciumannya, aroma yang selama dua minggu ini menjadi kemewahan yang mustahil.
Ibu Ratna dengan cekatan mengambil kain bersih yang dibasahi air hangat dan mengompres Kirana. Ia kemudian menyodorkan segelas teh manis hangat ke arah Arumi.
"Minum ini. Jangan tutup mata dulu sebelum anakmu sembuh," ucap Ibu Ratna pendek, tanpa basa-basi.
Arumi meminumnya. Rasa hangat menjalar ke kerongkongannya yang luka. Ia menatap Ibu Ratna dengan pandangan kosong. "Saya tidak punya uang untuk membayar obatnya. Saya juga tidak punya tempat tinggal. Nama saya dicoret dari keluarga. Saya dianggap pencuri."
Ibu Ratna berhenti memeras kain kompres. Ia menatap Arumi lekat-lekat. Ia telah hidup puluhan tahun di pinggiran kota, melihat ribuan orang dengan berbagai jenis luka. Ia tahu mana mata seorang kriminal dan mana mata seorang wanita yang baru saja diperkosa oleh keadaan.
"Aku tidak butuh uangmu," ucap Ibu Ratna sambil menunjuk tumpukan piring, gelas, dan kuali raksasa yang menumpuk di bak cuci piring belakang. "Pegawai cuciku baru saja kabur tadi siang karena tidak tahan kerja berat. Kalau kamu mau tempat berteduh dan sepiring nasi setiap hari, selesaikan semua itu sebelum subuh. Dan cuci semua lantai warung ini sampai tidak ada sebutir butiran lemak pun."
Arumi menatap tumpukan piring yang mengerikan itu. Jari-jarinya yang halus, jari-jari seorang penjahit yang biasa memegang sutra, kini harus berurusan dengan sisa-sisa lemak, lendir sabun, dan bau amis.
"Saya akan melakukannya," jawab Arumi tegas. Ia tidak memohon. Ia tidak menangis. Ia hanya berdiri, meletakkan tas kainnya di samping Kirana yang mulai tertidur pulas karena kehangatan, dan melangkah menuju bak cuci piring.
Pukul dua pagi. Saat dunia sedang tertidur dalam kehangatan selimut, Arumi berdiri di depan bak seng yang berkarat. Air dingin menyentuh tangannya, menusuk hingga ke tulang, namun ia tidak peduli. Ia mengambil spons kawat dan mulai menggosok kuali besar yang penuh kerak sisa rendang.
Sret! Sret!
Setiap gerakan tangannya adalah bentuk pelampiasan. Setiap kali ia menggosok kerak yang keras, ia membayangkan wajah Dinda.
Setiap kali ia menyiram piring dengan air dingin, ia membayangkan wajah Mas Danu dan Mbak Sari. Dan saat ia memeras kain pel, ia membayangkan sedang memeras harga diri Reza yang busuk.
"Jangan hanya digosok, pakai perasaan. Kalau keraknya tidak hilang, pelanggan besok akan mengeluh," tegur Ibu Ratna yang tiba-tiba muncul sambil membawa sebungkus nasi putih dengan secuil telur dadar. "Makan ini. Aku tidak mau kamu pingsan dan menambah bebanku."
Arumi berhenti sejenak. Ia memakan nasi itu dengan tangan yang gemetar. Rasanya jauh lebih nikmat daripada hidangan mewah di rumah Mas Danu semalam. Nasi ini tidak dibumbui dengan hinaan. Nasi ini murni hasil dari kesediaannya untuk menghambakan diri pada kerja keras.
"Siapa namamu?" tanya Ibu Ratna sambil duduk di kursi plastik kecil.
"Arumi."
"Apa rencanamu setelah ini? Kamu tidak bisa selamanya jadi tukang cuci piring di warung kumuh ini. Kamu masih muda."
Arumi terdiam, menatap pantulan dirinya di permukaan air sabun yang keruh. Wajahnya tampak lebih keras. "Saya akan membangun kembali apa yang mereka hancurkan, Bu. Tapi kali ini, saya tidak akan membangunnya dengan kejujuran yang bodoh. Saya akan membangunnya dengan kekuatan yang tidak bisa mereka sentuh."
Ibu Ratna tersenyum tipis, hampir tak terlihat. "Dunia ini kejam, Arumi. Orang baik sering kali habis dimakan serigala. Kalau kamu mau selamat, jadilah singa yang diam."
~~
Menjelang subuh, pekerjaan Arumi selesai. Seluruh piring bersih berkilau di bawah lampu bohlam, lantai warung pun kesat tanpa minyak. Arumi duduk bersandar di dinding dapur, menatap jemarinya yang mulai berkerut dan perih karena deterjen murah.
Ia merogoh tas kainnya, mengeluarkan gunting jahit yang ia bawa dari gudang Pak Salim. Gunting itu adalah satu-satunya benda yang menghubungkan Arumi dengan masa lalunya sebagai penjahit yang bermimpi memiliki butik sendiri.
Ia membelai bilah gunting itu. Dulu, ia menggunakannya untuk memotong kain indah dan menciptakan kebahagiaan bagi orang lain. Sekarang, gunting itu terasa berbeda. Dingin. Mengancam.
"Ibu..." Kirana terbangun. Panasnya sudah sedikit turun berkat obat tradisional yang diberikan Ibu Ratna. "Ibu sudah selesai kerja?"
Arumi mendekati anaknya, mencium keningnya. "Sudah, Sayang. Kita punya tempat berteduh sekarang. Tidak akan ada yang berani mengusir kita lagi."
Kirana melihat tangan Arumi yang merah dan kasar. "Tangan Ibu sakit? Kirana tiup ya?"
Arumi menggeleng pelan, memeluk anaknya erat-erat. "Sakitnya sudah hilang, Kirana. Ibu sudah tidak merasakan sakit lagi."
Matahari mulai menyembul dari ufuk timur, menyinari debu-debu yang terbang di dalam warung nasi. Arumi berdiri di depan pintu warung, menatap jalan raya yang mulai ramai oleh orang-orang yang berangkat kerja.
Ia melihat mobil-mobil bagus lewat, membayangkan di dalam salah satunya mungkin ada Reza yang sedang menuju kantornya dengan angkuh. Ia membayangkan Dinda yang sedang bersiap-siap berbelanja dengan uang hasil menindas orang lain.
Arumi merapikan daster batiknya yang sudah kering namun kumal. Ia mengambil sepotong kain perca dari tasnya, lalu dengan gerakan yang sangat mahir meski tangannya perih ia melipat kain itu menjadi bunga kecil yang sangat cantik, lalu menyematkannya di baju Kirana yang robek.
"Bu Ratna," panggil Arumi.
Ibu Ratna yang sedang menyiapkan dandang nasi menoleh. "Apa lagi?"
"Saya akan bekerja di sini sebaik mungkin. Tapi saya minta satu izin. Di waktu luang saya, izinkan saya menggunakan mesin jahit tua yang ada di pojok gudang Ibu. Saya lihat mesin itu sudah berdebu."
Ibu Ratna menatap mesin jahit singer tua peninggalan almarhum ibunya. "Mesin itu sudah mati. Jarumnya patah, kayuhannya macet."
Arumi tersenyum, namun senyum itu tidak mencapai matanya yang dingin. "Sama seperti hidup saya, Bu. Sudah mati dan macet. Tapi saya tahu cara memperbaikinya."
Arumi mulai membersihkan debu dari mesin jahit tua itu. Di tengah aroma nasi uduk dan bisingnya suara kendaraan, sebuah roda nasib mulai berputar kembali.
Arumi telah menemukan tempat persembunyiannya. Sebuah warung nasi sederhana akan menjadi laboratorium pertama di mana ia akan menjahit rencana pembalasannya yang paling rapi.
"Kalian pikir aku sudah habis?" batin Arumi sambil mengayuh pedal mesin jahit yang mengeluarkan suara berderit tajam.
...----------------...
To Be Continue ....
semoga kuat dan sabar Arumi