Latisha dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Alderath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tidak akan bertahan lama di sana.
Namun, tahun-tahun berlalu, dan Latisha kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis, “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
## Ujian di Lantai Sebelas **Dakrossa**
Bukan kembali ke lantai sepuluh, melainkan lantai sebelas?
**Latisha** mendelik tajam pada **Akta** yang baru saja mengantarnya ke lantai sebelas, mempertemukannya pada dua *Warden* tua. Sipir muda itu hanya berdiri di ambang pintu masuk lantai sebelas karena tidak mampu menahan tekanan di sana. Sementara, **Bhaskara** dan **Langit** cukup terkesan karena **Latisha** tidak terpengaruh dengan tekanan di lantai sebelas yang seharusnya terasa berat dan mencekam bagi pendatang baru.
Tidak lagi dijerat rantai borgol, sekarang **Latisha** merasa bebas. Meski memang masih kesal karena **Dexter** bertindak semaunya, tapi ia sadar bahwa itu semacam bantuan baginya.
"Apa **Dexter** sudah memberitahu tentang kami?"
**Latisha** mengerutkan dahi, menengok ke belakang, tetapi **Akta** sudah tidak ada di sana. Melihat raut wajah kebingungan **Latisha**, mereka hanya mengembuskan napas. Pada akhirnya, percakapan kembali dimulai dari perkenalan diri keduanya.
"Kami sudah dengar jika sebelumnya kamu ditugaskan bersih-bersih di lantai delapan dan sembilan. Apalagi sempat mengalami insiden mengerikan akibat ulah *Serpeis*, tapi setelahnya kamu dan makhluk itu tampak akur," ujar **Bhaskara**.
**Latisha** mengusap tengkuk agak canggung. "Itu semua berkat guruku."
"Dia pasti *Warden* yang hebat."
**Latisha** mengangguk antusias. "Ya. Namanya **Agniya**. Dia mengajarkan banyak hal padaku!"
**Agniya**... yah, mereka kenal tahanan tingkat tinggi satu itu. Kemampuannya dalam mengendalikan makhluk magis memang lantas diacungi jempol. **Bhaskara** dan **Langit** sudah mencari tahu tentang semua tahanan yang sebelumnya berprofesi sebagai *Warden*. Awalnya, mereka menginginkan **Agniya** untuk membantu di lantai sebelas, tapi **Dexter** tidak mengizinkan hal itu karena tidak mempercayai yang lain.
**Latisha** Justina **Valgard**, murid dari **Agniya** sekaligus orang yang dipercayakan **Dexter** untuk menerima ajaran mereka sebagai *Warden*.
Semua orang bisa menjadi *Warden*, apabila mau berusaha. Hanya saja, menjadi *Warden* termasuk pekerjaan berbahaya karena mereka harus menghadapi hewan magis. Jika ada sedikit kesalahan dalam menjinakkan hewan biasa saja bisa berada dalam situasi bahaya, apalagi menghadapi hewan magis. Mengingat ia bahkan mampu bertahan setelah bermandikan bisa *Serpeis*, **Bhaskara** menurunkan keraguannya dan mulai memberitahu apa yang seharusnya **Latisha** lakukan selama berada di lantai sebelas.
Tidak seperti di lantai delapan atau sembilan, ruang tahanan hewan magis di lantai sebelas tidak perlu dibersihkan karena mereka cerdas, tahu di mana seharusnya membuang kotoran. Tugas **Latisha** hanya cukup mengantar makanan ke sembilan dari dua puluh lima ruang tahanan yang ada di sana.
**Latisha** terkesiap. Ia berpikir semua ruangan itu sudah penuh, tapi ternyata baru dihuni sembilan hewan magis? **Bhaskara** lantas mengatakan jika hewan magis tingkatan ini sulit ditemukan dan ditangkap. Mereka masih berkeliaran dan diam-diam menebar kekacauan di luar sana, kemudian ada pula yang berhasil kabur dalam perjalanan dibawa ke **Dakrossa**.
Baiklah, hanya memberi makan!
**Bhaskara** dan **Langit** lantas memandu **Latisha** untuk berkeliling di lantai sebelas dan saat itu pula sekujur tubuhnya bergidik. Baiklah, ia tarik lagi perkataan "hanya memberi makan"!
Pada setiap koridor yang terhubung ke ruang tahanan yang berisi hewan magis, penampilannya tampak berputar-putar kemudian gelombang energi begitu kuat ketika mereka semakin dekat. Padahal setengah perjalanan saja belum ada, tapi tungkainya mendadak lemas dan ia jatuh terduduk sambil memegang perut. Mual dan pening menderanya.
Melihat kondisi **Latisha**, **Bhaskara** dan **Langit** menatapnya lalu tersenyum tipis. "Kamu harus berlatih untuk ini agar bisa masuk ke sana mengantar makanan." **Bhaskara** dan **Langit** sudah menyeret **Latisha** yang tidak berdaya ke ruang tengah.
Pandangan **Latisha** yang agak kabur berpendar untuk memandangi lorong-lorong batu yang mengelilingi ruang tengah lantai sebelas. Sial! Ia berpikir sudah cukup kuat untuk menahan energi sebesar itu.
Untuk mampu melalui lorong menuju ruang tahanan masing-masing makhluk magis di lantai sebelas, **Latisha** mendorong diri untuk lebih keras mengembangkan energi pada inti *core*-nya.
Sudah sepekan berlalu dan ia belum mampu berdiri di depan pintu salah satu ruang penjara, meski begitu sudah berhasil menempuh separuh perjalanan di lorong. Semakin kuat jumlah energinya, maka ia mampu melindungi diri dari gelombang energi hewan magis. Jika pun mampu menggapai pintu setelah memperkuatnya, **Latisha** yakin ia hanya akan bertahan sampai depan pintu.
Energi sekuat itu berasal dari dalam. Berarti, energi yang sekarang berusaha ia kalahkan tidak ada apa-apanya dengan energi dalam ruang tahanan setiap makhluk magis. Kemudian, sepekan berikutnya ia kembali mencoba untuk menaklukkan lorong. Selama ia belum berhasil, **Bhaskara** dan **Langit** yang memberi makan hewan-hewan itu, jadi **Latisha** tidak terlalu khawatir selama berlatih.
*Hah... hah... hah.*
*Tsk!* **Latisha** berdecak sembari berjalan agak sempoyongan. Entah berapa kali ia hampir jatuh kalau tidak menyandar pada dinding lorong. Jika sudah merasa kepayahan melanjutkan langkah, ia akan melampiaskan sedikit keiriannya pada api sihir biru yang tersemat di sepanjang lorong. Kobaran api biru terlihat begitu tenang dan percaya diri untuk tetap membagikan cahaya; ia juga ingin seperti itu.
Kuat dan tenang! Keirian semacam itu tidak menyurutkan semangatnya, justru memecutnya untuk lebih berusaha. Ia terus melangkah meski lututnya sudah gemetar dan keringat bercucuran di sekitar pelipis dan leher. Sial! Ia memaki tatkala pandangannya seperti dipelintir. Seraya memejamkan mata, **Latisha** memaksakan diri.
Pada akhirnya, usahanya membuahkan hasil. Ia berhasil mencapai ujung lorong, di mana sebuah pintu batu megah dengan permukaan diukir mantra-mantra kuno besar terpampang di hadapannya.
"Apa-apaan pintu ini?"
**Latisha** sampai menjulurkan leher lebih panjang untuk melihat ketinggian pintu lalu menoleh ke belakang secepat kilat. Padahal lorong hanya setinggi dua meter, tapi pintu tahanan di hadapannya mungkin setinggi lima meter dengan lebar kurang lebih dua setengah meter. **Latisha** memijat pelipis, tidak tahu perkiraannya benar atau tidak.
*Ukh! Sial! Huek!*
Pada akhirnya ia jatuh terduduk, menunduk dan muntah karena sudah tidak mampu menahan kentalnya energi di depan pintu.
"Hah... aku benar-benar lemah," gumam **Latisha** sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.
Tidak lama setelahnya, **Bhaskara** dan **Langit** datang. Mengembuskan napas melihat **Latisha** tergeletak di depan pintu penjara yang mengurung seekor naga, salah satu yang paling kuat di lantai sebelas. Pantas saja membutuhkan waktu sampai dua pekan hanya untuk mencapai ujung lorongnya.
"Selanjutnya tinggal mengajari dia beberapa hal untuk menjadi *Warden* sesungguhnya," ucap **Bhaskara** yang kemudian diangguki **Langit**.
Mereka kemudian membawa **Latisha** ke dalam ruang kecil yang hanya dilengkapi ranjang kayu—kamar yang disediakan khusus untuknya selama berada di lantai sebelas.
"Anak ini semakin lama makin mengerikan," kata **Langit**.
"Kenapa begitu?"
"Kita tidak tinggal di lantai sebelas selama seharian, tapi dia sudah dua pekan di sini. Meski gelombang energinya tidak kuat sampai ruang dasar dan kamar ini, energi-energi dari sembilan hewan magis menguar bebas di lantai sebelas; siapa pun itu butuh waktu lebih lama untuk penyesuaian, tapi lihatlah..." **Langit** menatap **Latisha** lebih serius.
"Bukankah dia mengembangkan energinya saat tertidur? Aku jadi tahu mengapa dia mampu melewati ini dan alasan **Prayan** tidak menyerang ketika disentuh olehnya," lanjut **Langit**.
Sebelumnya, **Dexter** sudah memberitahu mereka jika **Prayan** tidak terusik ketika disentuh **Latisha**, padahal hewan magis satu itu menolak setiap sentuhan ketika dipindahkan. Bahkan hanya ditatap saja langsung menjadi agresif. Itulah salah satu alasan mengapa **Dexter** menyarankan **Latisha** untuk berada di lantai sebelas.
"Dia mengumpulkan energi di alam bawah sadar, di mana biasanya jiwa berkelana ke alam roh, dan **Prayan** termasuk salah satu makhluk roh tingkat tinggi. Mereka sudah hidup cukup lama dan mencapai puncak spiritual tinggi. Mereka bahkan disebut pelindung manusia, tapi karena sifat buruk manusia di masa lalu keturunannya jadi membenci manusia. Jika dia menaruh perhatian khusus pada seorang manusia setelah sekian lama memendam kebencian, maka ada sesuatu yang berbeda dari manusia itu," jelas **Langit**.
**Bhaskara** diam seraya menatap lekat **Latisha** yang tampak begitu damai ketika terlelap. "Mungkin sesuatu yang telah lama hilang selama ratusan tahun silam ia temukan dalam diri gadis ini. Aku penasaran bagaimana keduanya akan saling terhubung," kata **Bhaskara** diakhiri senyum tipis.
tolong hapus ceritanya
jangan jadi orang gak tau malu ya kak kalo m
kamu sendiri baca karya kak fantariyah tapi tapi kamu malah copas
terinspirasi boleh tapi jangan plek ketiplek banget dong.
bukti nya udah ada Kaka
author aslinya udah laporin loh kakkkk
hayoloh
mending di hapus aja kakak
jangan jadi orang batu kalo di bilangin
ntar di viralin lohhh ini
nama tokohnya langsung diganti wkwk..
panik ya ketauan ambil cerita orang??
kalau ga sanggup nulis, ga punya ide, mending ga usah nulis kalau nyolong novel orang. malu-maluin aja😄