(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.
Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Sang Naga
Kawasan Bawah dari Kota Perbatasan Kekaisaran Matahari Suci adalah wujud nyata dari neraka yang terlupakan.
Tidak ada sinar matahari, tidak ada hembusan angin segar. Penerangan di lorong-lorong sempit ini hanya berasal dari jamur-jamur beracun yang memancarkan cahaya hijau pucat dan limbah Qi cair yang menetes dari kota atas. Bau busuk karat, daging membusuk, dan keputusasaan menempel di setiap permukaan logam rongsokan yang membentuk dinding-dinding kawasan ini.
Di salah satu sudut gelap di bawah saluran pembuangan raksasa, Chu Chen bersandar dengan napas yang memburu.
Jubah abu-abunya telah basah oleh keringat. Kulit perunggunya memancarkan pendaran merah yang berkedip-kedip tak menentu, seolah ada lahar yang siap meletus dari balik pori-porinya. Menyerap saripati kehidupan, Hukum Api, dan lautan Qi dari seorang Raja Fana Tahap Awal tanpa persiapan adalah sebuah tindakan yang menentang batasan fana.
Meskipun Dantian Chu Chen telah diperluas oleh Mata Air Yin-Yang, energi liar dari Kapten Yan Kuang itu terus memberontak, mencoba mencari jalan keluar dan memanggang organ dalam Chu Chen.
"Ukh..." Chu Chen memuntahkan setetes darah yang langsung menguap menjadi asap berbau belerang saat menyentuh lantai besi berkarat.
"Kau membakar dirimu sendiri dari dalam," ucap Bai dingin. Ia berdiri beberapa langkah di depan Chu Chen, menjaga jarak dari hawa panas yang menyengat itu. "Meskipun fisikmu sekeras pusaka, meridianmu memiliki batas daya tampung. Jika kau tidak segera menemukan tempat beraliran Qi Yin yang mutlak untuk bersemedi dan menekan energi itu, kau akan meledak sebelum Jenderal Penyatuan Langit itu menemukan kita."
Meng Fan yang baru saja menenangkan perutnya ikut memucat. "Tapi di mana kita bisa mencari tempat seperti itu di tempat pembuangan sampah ini?!"
Chu Chen mengusap sisa darah di bibirnya. Matanya yang hitam pekat perlahan memancarkan kilatan naga emas yang buas. Rasa sakit tidak pernah melemahkannya; rasa sakit selalu menjadi bahan bakar kemarahannya.
"Kita cari siapa yang menguasai tempat ini," geram Chu Chen serak. "Dan kita ambil tempat terbaik mereka."
Baru saja ia menyelesaikan kalimatnya, suara langkah kaki dan tawa kasar bergema dari kedua ujung lorong sempit tersebut.
Clank... Clank...
Belasan sosok berpenampilan berandal keluar dari balik bayangan. Mereka mengenakan zirah kulit binatang buas yang kotor dan membawa senjata-senjata spiritual yang ujungnya berlumuran darah kering. Aura yang mereka pancarkan sangat berantakan, perpaduan dari berbagai macam ilmu kultivasi kelas rendah, namun kekuatan mereka tidak bisa diremehkan.
Sepuluh dari mereka berada di Alam Inti Emas Tahap Akhir, sementara dua pemimpin yang berjalan di depan memancarkan gejolak Alam Istana Jiwa Tahap Awal.
Di Benua Biru Langit, barisan ini bisa meratakan sebuah kota. Di sini, mereka hanyalah tikus-tikus penguasa selokan.
Mata salah satu pemimpin berandal itu, seorang pria botak dengan wajah dipenuhi bekas luka bakar, langsung terkunci pada Bai. Meskipun pakaian wanita itu kotor, lekuk tubuhnya dan aura dingin yang samar memancarkan daya tarik yang tak tertahankan.
"Hahaha! Lihat apa yang diturunkan oleh kota atas untuk kita hari ini!" tawa pria botak itu menggema menjijikkan. "Seorang dewi es yang jatuh! Dan lihat dua pengawalnya, seorang tua renta dan seekor anjing muda yang sedang keracunan Qi!"
Pemimpin kedua, seorang pria kurus kering dengan pedang melengkung, menyeringai lebar. Di lengan kanannya yang tidak tertutup kain, terdapat sebuah rajah besar bergambar naga melingkar yang berwarna hitam kusam.
"Serahkan semua Batu Roh dan pusaka kalian," desis pria kurus berajah itu. "Dan tinggalkan wanita itu. Jika kalian patuh, Perkumpulan Naga Hitam akan membiarkan kalian memungut sampah di lorong kami."
Mendengar nama itu, Chu Chen, yang sedari tadi menunduk menahan gejolak energi di tubuhnya, perlahan mengangkat wajahnya.
Napas Chu Chen tiba-tiba menjadi sangat pelan. Rasa sakit yang merobek organ dalamnya seolah terlupakan. Pandangannya terkunci pada rajah naga kusam di lengan pria kurus tersebut.
"Perkumpulan... apa?" suara Chu Chen terdengar sangat pelan, namun getarannya membuat udara di lorong sempit itu berdengung.
"Perkumpulan Naga Hitam! Penguasa mutlak Kawasan Bawah!" bentak pria botak, merasa terhina karena pemuda sekarat ini tidak langsung berlutut. Ia melangkah maju, melepaskan aura Istana Jiwa-nya untuk menekan Chu Chen. "Tuli ya kau?! Berlutut dan jilat sepa—"
WUSH!
Tidak ada yang melihat Chu Chen bergerak. Ia menghilang dari tempatnya bersandar bagaikan hantu yang menguap ditiup angin.
Di detik berikutnya, tangan kiri Chu Chen telah menembus pertahanan aura Istana Jiwa sang pria botak seolah menembus kabut tipis, dan langsung mencengkeram wajah pria itu dengan kekuatan mutlak.
Chu Chen mengangkat pria botak bertubuh raksasa itu ke udara dengan satu tangan.
Semua berandal di lorong itu membeku. Tawa mereka tercekik. Bagaimana mungkin seorang pemuda yang terlihat sekarat tiba-tiba bergerak lebih cepat dari kedipan mata?!
"Naga Hitam," bisik Chu Chen, wajahnya hanya berjarak satu jengkal dari pria botak yang meronta-ronta di cengkeramannya. "Kalian... cacing-cacing selokan yang memakan kotoran fana... berani menggunakan nama itu?"
Amarah yang tersulut di dalam jiwa Chu Chen bukanlah amarah manusia biasa. Itu adalah keangkuhan dari Kaisar Naga Primordial yang garis keturunannya ia bawa. Nama 'Naga Hitam' adalah lambang penaklukan langit, sebuah keberadaan yang ditakuti oleh para Penguasa Surga. Digunakan oleh sekelompok penjahat jalanan di sebuah selokan kekaisaran adalah penghinaan yang membangkitkan niat membunuh paling murni.
Tanpa mengaktifkan Seni Penelan Semesta, Chu Chen hanya melepaskan sebagian kecil energi Raja Fana yang sedang mengamuk di Dantiannya.
"AAAAAARRRRGHHHH!!!"
Hawa panas yang luar biasa ganas meledak dari telapak tangan Chu Chen. Pria botak itu bahkan tidak sempat menggunakan sihir pelindungnya. Wajahnya langsung meleleh, tengkoraknya terbakar dari luar ke dalam. Dalam hitungan dua tarikan napas, kepala pria itu hancur menjadi arang, dan tubuh tanpa kepalanya jatuh berdebum ke lantai besi berkarat.
Hening. Sunyi senyap yang memekakkan telinga melanda lorong tersebut.
Pria kurus berajah naga mundur tiga langkah hingga punggungnya menabrak dinding pipa raksasa. Matanya membelalak dipenuhi kengerian mutlak. Rekannya, sesama ahli Istana Jiwa, kepalanya dipanggang hidup-hidup dalam dua tarikan napas?!
"I-Iblis... Dia iblis!" jerit salah satu berandal Inti Emas.
Chu Chen menoleh perlahan ke arah mereka. Kulitnya kini memancarkan cahaya merah yang semakin terang, matanya telah sepenuhnya berubah menjadi sepasang pupil naga emas yang menyala di tengah kegelapan.
"Kalian menyukai naga?" Chu Chen melangkah maju. Udara di sekitarnya beriak dan melengkung oleh panas. "Biar kutunjukkan pada kalian wujudnya yang sesungguhnya."
Chu Chen tidak menggunakan senjata. Ia menerjang lurus ke tengah gerombolan sebelas penjahat itu dengan tangan kosong.
BUGH! CRASSH!
Ini bukanlah pertarungan. Ini adalah pembantaian biadab untuk melampiaskan energi yang berlebih. Setiap pukulan Chu Chen meremukkan tulang rusuk, setiap tamparannya meledakkan kepala. Ia membiarkan pedang dan tombak musuh menghantam tubuhnya, hanya untuk melihat senjata-senjata tingkat menengah itu meleleh dan patah saat bersentuhan dengan Zirah Tulang Naga Hitamnya yang membara.
"Jangan bunuh aku! Ampun!" Pria kurus berajah itu mencoba berlutut memohon ampun saat melihat sepuluh anak buahnya telah berubah menjadi potongan daging bakar di lantai.
Chu Chen berhenti tepat di depannya. Ia mencengkeram lengan kanan pria itu—tepat di bagian rajah naganya—lalu memutarnya dengan kasar.
KRAAAK!
Lengan pria itu dipatahkan hingga tulang putihnya menembus kulit. Pria kurus itu melolong kesakitan, namun Chu Chen langsung mencekik lehernya, membungkam jeritannya.
"Aku butuh tempat. Tempat terdalam, teraman, dan memiliki sisa-sisa susunan pengunci aura yang paling kuat di Kawasan Bawah ini," desis Chu Chen, matanya menatap tepat menembus jiwa pria itu. "Bicara, atau aku akan memasak otakmu perlahan-lahan."
"R-Rumah Lelang Akar Darah!" pria itu merintih dengan air mata keputusasaan, tidak berani menyembunyikan apa pun. "Itu... itu adalah pasar gelap terbesar di bawah sini! Dikelola oleh Ketua Perkumpulan kami... Di lantai paling bawah rumah lelang itu, ada ruang rahasia peninggalan era kuno yang dilindungi oleh dinding batu kedap jiwa! B-Bahkan Jenderal Kekaisaran tidak bisa melacak ke dalam sana!"
"Di mana lokasinya?"
"T-Tiga mil ke arah barat dari sini... di balik tirai air terjun limbah hijau... T-Tolong lepaskan aku, aku sudah mengatakan semuanya!"
Chu Chen tersenyum tipis. "Terima kasih atas petunjuknya."
Pusaran Ketiadaan.
Daya hisap gelap gulita meledak. Pria kurus itu tidak sempat mengucapkan permohonan terakhirnya saat saripati Istana Jiwanya ditarik paksa. Chu Chen tidak mencerna energi ini untuk menembus batas; ia menggunakannya sebagai bahan bakar dingin (karena kualitas fana-nya yang kotor) untuk sedikit meredam amukan energi Raja Fana di Dantiannya.
Pria kurus itu hancur menjadi debu sekam. Chu Chen merampas Cincin Penyimpanannya, mengusap sisa darah dari tangannya, lalu menoleh ke arah Bai dan Meng Fan yang masih berdiri kaku di sudut lorong.
"Kita pergi ke barat," ucap Chu Chen, nadanya kembali datar namun napasnya masih mengeluarkan uap panas.
Saat Chu Chen melangkah melewati tumpukan mayat-mayat hangus itu, sebuah getaran aneh tiba-tiba merambat dari langit-langit besi di atas mereka.
WUUUUUSSSH!
Enam pilar cahaya keemasan yang sangat terang menembus langit-langit logam Kawasan Bawah layaknya pedang dewa yang menembus kertas. Pilar-pilar cahaya itu mendarat sekitar satu mil dari posisi Chu Chen, menerangi kawasan kumuh itu dengan cahaya yang sangat menyilaukan.
Dari dalam pilar-pilar cahaya tersebut, turunlah puluhan sosok berjubah perang emas yang memancarkan aura Istana Jiwa Puncak, dipimpin oleh tiga sosok dengan gejolak Alam Raja Fana!
"Pasukan Pemburu Bayangan Matahari..." Bai berbisik, wajahnya kembali pucat. "Jenderal itu tidak main-main. Dia mengirim pasukan pilihan kekaisaran secara langsung untuk menyisir kawasan buta hukum ini!"
Chu Chen menyipitkan matanya menatap pilar cahaya di kejauhan. Niat Membunuh dari pasukan pilihan itu menyapu udara seperti gelombang kejut.
Bukannya mempercepat langkah karena panik, Chu Chen justru menghela napas panjang dan menyeringai.
"Biar mereka mencari," gumam Chu Chen pelan, menarik tudung jubahnya untuk menutupi matanya yang menyala. "Setelah aku memadatkan Istana Jiwa Nagaku di ruang bawah tanah itu... aku sendiri yang akan memburu mereka satu per satu dalam kegelapan ini."