gimana kalo cowok pas-pasan kebelet cinta sama bosnya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djginting, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Terpojok
Suasana di koridor Wiratama Trading mendadak berubah menjadi panggung penghakiman bagi Bima Pradana. Rijal Adiwijaya tidak lagi menggunakan pisau lipat; ia menggunakan meriam. Serangan dilancarkan lewat fitnah yang direncanakan dengan sangat rapi: kesalahan input data Bima di masa lalu—yang sebenarnya sudah diperbaiki—digoreng sedemikian rupa hingga muncul narasi bahwa perusahaan nyaris bangkrut akibat kelalaian tersebut.
Isu ini menyebar lebih cepat daripada email resmi kantor. Semua orang yang tidak tahu benar tentang duduk perkara sebenarnya langsung termakan hasutan. Mereka menatap Bima dengan pandangan sinis seolah ia adalah parasit yang membahayakan bonus tahunan mereka. Di pantry, di area merokok, hingga di grup WhatsApp non-resmi, nama Bima menjadi sinonim dari kata "bencana".
Bima panik. Di tengah kepungan rekan kerja yang menuntut penjelasan di area kubikel, ia cerewet membela diri dengan kalimat jujur yang sangat canggung.
“Dengar dulu, kawan-kawan! Secara makro, angka itu kan cair. Saya salah ketik satu nol itu bukan berarti saya mau bikin kita semua gelandangan,” serunya di tengah lorong dengan tangan fana yang bergerak-gerak liar. “Itu namanya improvisasi jari yang tidak sengaja. Masa depan perusahaan besar ini tidak mungkin goyah cuma karena saya kurang teliti di satu kolom! Itu namanya sistemnya yang kurang iman!”
Orang-orang hanya mencibir. Sebagian membuang muka, sebagian lagi terang-terangan berbisik, “Cuma modal hoki doang, aslinya beban.” Bima berdiri sendirian di tengah lorong, merasakan untuk pertama kalinya bahwa kata-kata mutiaranya tidak cukup kuat untuk membendung kebencian yang terorganisir.
Sore harinya, Bima pulang dengan langkah gontai dan wajah sedikit masam. Bahunya yang biasanya tegak penuh kepercayaan diri kini merosot. Ia mencoba melewati ruang tamu dengan gaya sesantai mungkin, berharap bisa masuk ke zona nyamannya tanpa interogasi.
“Tumben jam segini sudah sampai rumah,” tegur Ratih yang sedang duduk di sofa. Mata tajamnya tidak lepas dari pergerakan Bima.
“Cuma kecapean aja. Energi semesta lagi butuh recharge,” jawabnya enteng sambil berusaha menyelinap masuk ke kamar.
Namun, Ratih Prameswari bukan wanita yang bisa dikelabui dengan terminologi spiritual abal-abal. Ia sudah mendengar desas-desus dari koneksinya bahwa anak tirinya sedang dalam posisi sulit. Melihat Bima tetap tidak berkembang dan hanya bisa berkelit dengan kata-kata untuk menutupi masalah besar, Ratih murka. Kesabarannya habis.
Ia berdiri mendadak, langkahnya mantap menuju Bima. Sebelum anak itu sempat menghindar, Ratih menyambar tas ransel kusam milik Bima.
SRETT!
Dengan gaya ketus dan galak, Ratih membongkar isi tas Bima di atas meja makan. Map plastik yang retak di sudutnya, pulpen-pulpen macet, dan tumpukan kertas laporan yang penuh coretan merah serta catatan audit Rijal berhamburan keluar seperti isi perut yang sakit.
“Ibu! Apa-apaan sih? Itu ada barang penting!” protes Bima, mencoba meraih kertas-kertas itu.
Ratih tidak memedulikannya. Ia menunjuk tumpukan kertas itu dengan mata menyala, kilat amarahnya memaksa Bima untuk berhenti berkhayal tentang menjadi CEO dalam semalam.
“Penting apa? Sampah? Halusinasi?” bentak Ratih. Suaranya menggelegar di ruang tamu yang sempit. “Ibu tahu kamu lagi diinjak-injak di kantor. Kamu pikir mulut besarmu itu bisa kasih makan kita kalau kamu dipecat gara-gara dianggap bodoh? Kamu pikir dunia ini panggung teater tempat kamu bisa terus-terusan jadi badut?”
Ratih mendorong tumpukan laporan audit yang berisi data palsu buatan Rijal tepat ke hadapan Bima.
“Ngomelnya nanti kalau sudah menang! Sekarang siapkan data, jangan cuma modal mulut besar tapi otak kosong,” bentak Ratih lagi. Ia menarik kursi kayu dan memaksa Bima duduk dengan satu tekanan kuat di bahunya. Ia memaksa Bima untuk berhenti melarikan diri dan mulai menyusun bukti perlawanan.
“Cari di mana kamu yang benar. Tunjukkan kalau kamu punya isi di dalam kepala, bukan cuma angin! Kalau kamu membiarkan mereka menang, jangan pernah berani panggil saya Ibu lagi!”
Bima terdiam seribu bahasa. Untuk pertama kalinya, ia melihat Ratih bukan sekadar ibu tiri yang galak atau "Enek Lampir" yang mengganggu tidurnya. Ratih adalah satu-satunya orang yang memaksanya untuk berhenti bersembunyi di balik kalimat manis dan mulai bertarung dengan kenyataan.
Di bawah pengawasan Ratih yang berdiri di belakangnya seperti jenderal perang, Bima akhirnya membuka laptopnya dengan tangan sedikit gemetar. Ia mulai menelusuri log aktivitas sistem logistik yang pernah ia kerjakan. Matanya yang tadinya sayu mendadak fokus.
“Sistem tidak pernah bohong, Bu,” gumam Bima, kali ini tanpa nada bercanda. “Rijal pikir dia bisa edit laporan PDF, tapi dia lupa saya yang pegang kunci arsip manualnya.”
Malam itu, di bawah temaram lampu meja makan dan tatapan tajam Ratih, Bima Pradana mulai menyusun senjata aslinya. Ia bukan lagi sedang berkhayal; ia sedang bersiap melakukan counter-attack yang akan mengguncang kursi direksi.