NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Ratu Iblis Alexia

Reinkarnasi Ratu Iblis Alexia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Akademi Sihir / Dunia Masa Depan / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Watashi Monarch

Genre : Action, Adventure, Fantasi, Reinkarnasi
Status : Season 1 — Ongoing

Kekacauan besar melanda seluruh benua selatan hingga menyebabkan peperangan. Semua ras yang ada di dunia bersatu teguh demi melawan iblis yang ingin menguasai dunia ini. Oleh karena itu, terjadilah perang yang panjang.

Pertarungan antara Ratu Iblis dan Pahlawan pun terjadi dan tidak dapat dihindari. Pertarungan mereka bertahan selama tujuh jam hingga Pahlawan berhasil dikalahkan.

Meski berhasil dikalahkan, namun tetap pahlawan yang menggenggam kemenangan. Itu karena Ratu Iblis telah mengalami hal yang sangat buruk, yaitu pengkhianatan.

Ratu Iblis mati dibunuh oleh bawahannya sendiri, apalagi dia adalah salah satu dari 4 Order yang dia percayai. Dia mati dan meninggalkan penyesalan yang dalam. Namun, kematian itu ternyata bukanlah akhir dari perjalanannya.

Dia bereinkarnasi ke masa depan dan menjadi manusia!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Watashi Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 - Kecurigaan Aurora

Di sebuah ruangan yang penuh dengan boneka lucu dan lembut, seorang gadis berambut emas tengah berdiri di dekat jendela. Kedua matanya yang berwarna biru langit menatap gumpalan awan dengan pandangan yang sayu.

Beberapa kali ia menghela napas lelah. Entah apa yang ia pikirkan hingga membuatnya seperti orang yang gelisah.

'Mengapa akhir-akhir ini sikap Alexia menjadi aneh?'

Ternyata, yang dipikirkan gadis itu adalah adiknya, Alexia.

"Entah kenapa dia jadi seperti orang yang berbeda ..."

Gadis itu, yang tidak lain adalah Aurora, merasa curiga.

Selain sikapnya yang berubah, Alexia yang sekarang bisa menunjukkan berbagai macam ekspresi. Sangat berbeda dengan dia dulu, yang hanya memasang ekspresi dingin.

Apalagi, dia sekarang jadi lebih terbuka dan penurut.

"Apakah kepalanya benar-benar terluka sampai itu dapat mengubah sikapnya? Aku masih merinding saat melihat dan mengingat senyum cerahnya waktu itu." ujar Aurora.

Cemas dan curiga bercampur menjadi satu, yang makin membuatnya bimbang dan tidak tahu harus berbuat apa.

Dan di tengah kebingungannya, seseorang tiba-tiba saja mengetuk pintu kamar, seraya diikuti suara yang familiar.

Tok tok tok

"Nona Aurora, boleh saya masuk?"

Aurora berbalik dan menoleh ke arah pintu.

"Ya," sahut Aurora sambil berjalan ke arah rak buku yang ada di pojok kamar dan menaruh buku yang dia pegang di tempatnya. "Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba ke sini?"

Orang yang berdiri di luar membuka pintu dan masuk.

"Ada yang ingin saya bicarakan dengan anda."

Orang yang mengetuk pintu kamarnya tidak lain adalah pelayan pribadi Alexia, yang Aurora ingat bernama Siria.

"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Aurora dengan nada kesal setelah mengingat kejadian di kamar Alexia.

Siria pun mendekat dan berdiri di depannya.

"Sebelumnya saya ingin minta maaf," Siria membungkuk secara tiba-tiba sampai membuat Aurora tersentak dan bingung. "Saya seharusnya tidak menyela pembicaraan anda dengan nona Alexia. Saya sungguh menyesalinya."

Belum bicara apa-apa tetapi dia sudah minta maaf.

Apalagi, nadanya terdengar begitu meyakinkan.

"A-aku sebenarnya tidak mempermasalahkan—"

"Saya akan melakukan apapun untuk menebusnya."

Mendengar hal itu membuat hati nurani Aurora terluka.

Aurora sadar bahwa masalah sebelumnya sebagian juga adalah salahnya. Siria hanya ingin Alexia cepat sembuh dengan memintanya minum obat yang sudah disiapkan, tapi dia justru menghalangi proses penyembuhan Alexia.

Keegoisannya membuatnya merasa bersalah pada Siria.

"T-tidak, kamu tidak salah. Seharusnya aku membiarkan Alexia minum obat dulu sebelum makan camilan." balas Aurora sembari memalingkan wajahnya. "Aku juga minta maaf karena terlalu egois, jadi berhenti merasa bersalah."

Siria mendongak dan melihat pipi Aurora merona merah.

Melihat ekspresinya itu membuat Siria tersenyum.

"Terima kasih banyak, nona Aurora."

"L-lupakan itu, kita kembali ke tujuanmu datang ke sini."

Aurora berdeham dan bertanya,

"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan denganku?"

Setelah pertanyaan dilontarkan, Siria justru terdiam.

Wajahnya tampak ragu-ragu dan bimbang. Tapi karena ia begitu penasaran, Siria pun memutuskan untuk bertanya,

"Apakah... apakah anda mengajari nona Alexia sihir?"

Aurora terdiam setelah mendengar pertanyaannya.

Dengan tatapan curiga, Aurora pun bertanya,

"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu?"

Aurora merasa Siria sedang menyembunyikan sesuatu.

Namun, Siria tidak menjawab pertanyaannya.

'Ada yang aneh dengannya.' pikir Aurora sesaat.

"Yang aku pelajari memang sihir, tapi ini adalah sihir suci yang digunakan oleh pendeta. Alexia tidak mungkin bisa menggunakannya karena dia belum dibaptis oleh uskup."

"Apalagi ..." Aurora mengulurkan tangannya dan sejumlah energi yang berbentuk bola bercahaya muncul di telapak tangannya. "Sebagai ganti membangkitkan energi suci, aku tidak dapat menggunakan energi alam, yaitu Mana."

Setelah mendengar jawabannya, Siria sangat terkejut.

Selain harus mendapatkan baptis, sihir suci merupakan sihir ekslusif tanpa atribut. Tidak sembarang orang bisa membangkitkan energi suci, apalagi menggunakan sihir suci. Terlebih, sihir suci juga sangat sulit untuk dipelajari.

Dalam keheningan, Siria pun berpikir.

'Jadi, bagaimana nona Alexia menyembuhkan tanganku yang sudah rusak? Apakah itu adalah sihir suci, atau ...?'

Di sisi lain, Aurora menatap Siria dengan penasaran.

Untuk apa pertanyaan yang aneh tadi?

Aurora ingin menanyakan hal itu, tapi sepertinya dia tidak akan mendapatkan jawaban yang dia inginkan dari Siria.

Siria menghela napas dan berkata, "Terima kasih banyak, nona Aurora, karena anda telah meluangkan waktu untuk menjawab kegelisahan saya. Kalau begitu, saya permisi."

Belum sampai dua langkah, Aurora memanggilnya.

"Tunggu sebentar, Siria."

Siria pun berhenti dan menoleh.

"Ada apa, nona Aurora?"

Aurora mendekat dan memegang bahunya. "Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu di belakangku, 'kan?"

Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Siria melebarkan mata.

Entah dia merasakan sesuatu yang aneh, atau intuisinya saja yang terlalu tajam, tapi situasinya buruk untuk Siria.

"T-tidak," Siria menggelengkan kepalanya dengan ringan.

"Saya tidak menyembunyikan sesuatu." lanjutnya, cemas.

Melihatnya enggan bicara membuat Aurora penasaran.

'Sudah kuduga,' batin Aurora dan menarik tangannya dari bahu Siria. 'Sepertinya aku perlu mencari tahu ini sendiri.'

****

Sementara itu, di sisi lain...

Di sebuah ruang latihan tertutup, seorang remaja sedang mengayunkan pedangnya. Setiap langkah yang dia ambil penuh dengan celah, tetapi serangannya sulit diabaikan.

Keringat menetes di tanah, nafasnya terengah-engah, hal itu menunjukkan bahwa dia berlatih dengan cukup keras.

Dan untuk memeriksa perkembangan latihannya, remaja itu memasang kuda-kuda dan mengangkat pedangnya.

【 Axia Sword Technique, 1st Form : Falling Moonlight 】

Blamm!

Pedang diayunkan, dan seberkas cahaya putih jatuh dari atas dan melubangi tanah. Dampaknya tidak terlalu kecil maupun besar, tetapi hasilnya sudah membuatnya puas.

"Seperti yang diharapkan dariku, pahlawan ketiga." ucap remaja itu, penuh dengan rasa keangkuhan di wajahnya.

Di tengah latihannya, seseorang berjalan mendekatinya.

"Tuan muda," katanya sambil memberikan handuk putih padanya. "Saya sudah menyelesaikan permintaan anda."

Pria yang dipanggil tuan muda mengambil handuk yang telah dipersiapkan pelayannya dan menyeka keringatnya.

"Jadi, bagaimana hasilnya?" tanyanya, penasaran.

"Saya sudah membeli saham kamar dagang Silver Moon sesuai yang anda perintahkan." pelayan itu menjelaskan sambil memeriksa dokumen yang ia bawa. "Untuk kamar dagang yang lain masih dalam pertimbangan. Tapi kalau semua ini berjalan lancar, kita dapat memonopoli pasar."

Mendengar hal itu membuatnya menyeringai lebar.

"Bagus, lanjutkan sesuai rencana awal. Jika bisa, berikan sedikit tekanan supaya mereka lebih cepat menyerahkan propertinya." ucapnya dengan nada penuh keserakahan.

"Baik, tuan muda Evan."

Evaniar Iris Swan, atau biasa dipanggil Evan.

Dia adalah sepupu Alexia, anak ke-tiga Hilda dan kepala keluarga. Evan dibesarkan dengan baik dan kasih sayang yang besar. Sumber daya tanpa batas telah membuatnya menjadi ksatria tingkat 2 star termuda di dalam keluarga.

Dan di umur 14 tahun, Evan dengan sengaja mendorong sepupunya, Alexia dari lantai empat. Ia melakukan hal itu karena melihat bakat Alexia yang lebih luar biasa darinya.

Itulah yang menyebabkannya dikurung di tempat ini.

Saat memikirkannya lagi, Evan merasa sangat kesal.

"Oh iya, bagaimana dengan gadis menjengkelkan itu?"

Pelayan itu bingung dan bertanya, "Apa maksud anda itu, putri Alexia? Menurut kabar terakhir, dia masih terbaring di atas kasur. Tidak ada tanda sembuh dari penyakitnya."

Mendengar hal itu membuat Evan menghela napas lega.

"Terus awasi gadis itu. Ibu sudah memerintahkan orang untuk memeriksa kondisinya." kata Evan dengan tatapan sinis. "Jika ada hal yang tidak beres, cepat beritahu aku."

"Sesuai perintah anda." balas pelayan itu dengan patuh.

Evan yang percaya diri pun berpikir.

'Setelah kepala keluarga kembali, aku pasti akan menjadi orang yang terpilih. Untuk kompetisi satu bulan lagi, aku harus menjadi orang yang pertama. Karena hadiah posisi pertama surat rekomendasi belajar di akademi kerajaan.'

Apa yang sedang direncanakan oleh Evan dibalik layar?

1
PORREN46R
spirit seperti roh gitu kan kak?
Cheonma: Sebenarnya sama aja sih,
total 1 replies
anggita
ikut ng👍like, iklan saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!