“Hidup memang harus berani, berani pergi dari sesuatu yang tak pantas untuk di tinggali”
Ana wanita paruh baya yang terpaksa menjadi tenaga kerja wanita(TKW) demi masa depan Anak-anaknya dan juga perjuangannya terlepas dari suami patriarki.
Ana yang selalu gagal dalam rumah tangga merasa dirinya tak layak dicintai sampai dia bertemu dengan laki-laki bernama Huang Lhi—majikan tempatnya bekerja.
Namun, kisah cinta Ana dan Huang Lhi tak semulus drama perbedaan kasta menjadi penghalang utama. Bisakah Ana mendapatkan cinta sejati? Kemana Akhir akan membawa kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taman Da'an Taipe
“Kamu sudah lupa dengan suami, ya, An?!”
Bunyi pesan itu bak sayatan sembilu di hati Ana. Ada rasa marah bercampur muak dalam hatinya, namun ia belum cukup punya keberanian untuk mengungkapkannya. Dengan tangan bergetar Ana membuka rentetan pesan dari sang suami, jari-jarinya baru akan mengetik sebuah balasan saat laki-laki itu melakukan panggilan video.
Ana dengan cepat menekan tombol tolak, dan mengetik sebuah balasan.
“Maaf Mas, belum bisa telepon, pasien yang aku jaga sedikit rewel.” Dusta Ana dalam pesannya.
Roy pun dengan cepat mengetik balasan, terlihat bagaimana ruang obrolannya langsung berubah centang biru dan tanda titik tiga di bawahnya.
“Kenapa! Kamu sengaja menghindar?!” Isi balasan pesan Roy yang tentu saja ada amarah di dalamnya.
“Kamu sudah berani belagak, ya, mentang-mentang sudah kerja!” isi balasan berikutnya.
Masih dengan jari yang gemetar dan jantung yang berdetak semakin kencang, Ana kembali mengirimkan jawaban.
“Tidak, Mas. Pasienku benar-benar rewel, ini saja baru istirahat aku.”
“Alasan!”
Ana menyerah. Ia memilih berganti melakukan panggilan video, menerima segala umpatan dan cacian Roy yang sudah terpendam seminggu lamanya.
Siang itu pun berlalu dengan kepedihan sisa sesak oleh ucapan Roy yang nyaris membuat Ana gila. Tuduhan-tuduhan serta prasangka buruk Roy tujukan pada Ana hanya karena ia tak mengaktifkan ponselnya. Meski Ana sudah menjelaskan dengan berbagai alasan, laki-laki bertempramen tinggi itu tetap tak mau mendengarkan, berakhir Ana meminta maaf dan berjanji tak akan mengulangi perbuatannya. (Ana bodoh)
***
Angin musim dingin menyusup di sela-sela jendela yang di biarkan sedikit terbuka, matahari menggantung di antara kabut mendung yang berarak ke kaki bukit. Sore itu, sang majikan memerintahkan Ana untuk membawa nenek berjemur di taman.
Dengan sedikit paksaan dan rayuan, si nenek yang memang tidak suka keluar rumah mau menuruti bujukan Ana, meski dengan bibir yang terus menggumal orang tua itu duduk tenang di kursi roda yang di dorong Ana.
Tamparan hangat matahari sore menyapa mereka saat sampai di taman yang tak jauh dari apartemen tempat mereka tinggal, aroma segar dedaunan serta wangi bunga sakura yang mulai berguguran memanjakan indera penciuman setelah hampir setiap hari bergelut dengan aroma kotoran.
Ana kemudian membawa sang nenek bergabung dengan barisan kursi roda yang berjejer di taman, sedikit melupakan kepenatan dengan mengobrol bersama beberapa pekerja yang juga membawa pasien mereka berjemur.
“Mbak masih baru, ya?” sapa salah satu di pekerja.
“Iya, Mbak,” jawab Ana canggung.
“Indo-nya mana?” tanya satu yang lainnya.
“Sumatera.”
Pekerja dengan rambut bercat pirang itu kemudian menyalami Ana seraya menyebut namanya. “Ita. Mbak namanya siapa?”
“Ana.” balas Ana dengan senyum ramah.
“Jarang keluar, ya? Aku baru pertama ini liat kamu,” ujar Ita.
Ana mengangguk kecil, ekor matanya melirik sang nenek yang nampak sewot melihat ke arahnya. “Iya, Mbak. Nenek jarang mau di bawa keluar.”
Satu yang bertanya diawal tadi—Ani namanya, terkekeh pelan, lalu bebicara dengan bahasa mandarin dengan ama yang di jaga Ana. Tentu saja Ana belum paham secara penuh apa yang mereka bicarakan.
“Katanya, dia sering BAB makanya malas keluar,” terang Ani, lalu kembali berbicara dengan ama, membuat tatapan ama semakin sewot kepada Ana.
Selain tidak suka keluar, nenek yang Ana jaga juga tidak suka berbicara, apalagi dengan orang asing, dengan Ana saja kalau tidak pas ingin BAB atau hal lain, ia jarang berbicara membuat Ana sedikit lambat mengenal bahasa.
Menjelang gelap mereka kembali kerumah, Ana lekas menyiapkan makan malam sembari menunggu ama yang langsung membuang hajatnya. Tidak banyak yang wanita itu siapkan, hanya merebus beberapa batang sayuran okra dan memanasi ikan kukus sisa siang tadi untu si nenek, sedang dirinya saat arah pulang tadi, ia menyempatkan membeli cou toufu atau tahu busuk khas Taiwan.
“Ama, kamu mau mandi atau makan malam terlebih dahulu?” tawar Ana saat sang pasien menyelesaikan buang hajatnya.
“Aku tidak mandi. Udara masih begitu dingin,” sahut ama, membuat Ana mendelik seketika.
“Tidak bisa. Kita baru saja berjemur matahari. Badanmu berkeringat, bisa gatal-gatal kamu nanti,” ujar Ana.
“Halah … aku masih kedinginan,” kilah ama yang memang malas sekali jika di suruh mandi.
“Sebentar saja, aku hanya siram dengan air hangat biar hilang keringat dan bau badanmu,” dusta Ana, karena kalau tidak begitu sang ama akan terus menolak.
wanita tua dengan wajah mungil itu pun akhirnya menurut, setelah menyelesaikan makan malamnya, ia pasrah saat Ana memandikannya.
Hampir satu jam mereka berkutat di kamar mandi karena sang ama terus-terusan buang hajat meski ia sudah menyelesaikan mandinya setengah jam yang lalu, tapi karena onderdil bodolnya tugas Ana malam itu menjadi berlipat ganda.
Lelah menyelimuti wajah Ana saat ia menyelesaikan segala tugasnya. Wanita gempal itu baru akan membuka kanal youtube sebagai hiburan saat nama sang suami tertera di layar panggilan.
Dengan sedikit malas, ia menggeser tombol hijau yang bergerak dengan tidak sabar di layar ponselnya kemudian menempelkan di telinga kirinya. Satu teriakan dan tarikan napas lelah Ana dapatkan begitu layar panggilan terbuka.
“Kamu kemana saja, An?!”
Bersambung.
awas 👊🏻
semangat thor untuk selalu berkarya. sehat selalu
klu yg kecil pasti anak'a roy kan?