kotaro hanyalah salah satu sekrup kecil yang melengkapi sejarah perjalanan perang saudara di Jepang pada akhir masa pemerintahan keshogunan Ashikaga. lelaki ini hanya ingin menorehkan namanya dalam sejarah sebagai salah satu pelengkap drama kehidupan para satria dimasa yang carut marut akibat pertikaian antar tuan tanah dalam meraih hegemoni kekuasaan di kancah perpolitikan yang berlumur darah rakyat tak berdosa.
isi novel ini hanya persepsi pribadi penulis, meskipun tetap berdasarkan pada paparan sejarah yang telah baku dan diakui secara internasional.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kartono, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 - WAHAM
Gojiro sedang duduk bermeditasi memusatkan spiritualitasnya mencapai pemahaman sempurna menurut ajaran shugendo.
dalam sejarah, shugendo sendiri adalah agama sinkretis buddha-shinto yang didirikan pendeta In' Ei untuk menyatukan visi antara masyarakat Jepang kuno dan para imigran cina yang kebanyakan mantan prajurit dinasti Tang yang melarikan diri akibat kehancuran kerajaannya. melalui ajaran ini, dewa-dewa agama shinto menjadi bosatsu dalam agama yang baru. ajaran ini banyak diterapkan para pertapa gunung dan praktisi seni himitsu (seni chuanfa yang bercampur dengan seni nonuse dan sihir). nonuse (seni pergerakan senyap tanpa terdeteksi) dulunya merupakan salah satu seni yang diterapkan biarawan buddha sebagai bagian dari metode penyempurnaan jiwa. lama kelamaan seni ini diterapkan diluar kuil, menjadi salah satu strategi pertahanan rakyat dalam menghadapi hegemoni arogansi keshogunan.
Gojiro merapal doa-doa dalam Gorin Kuji Myo Himitsu Shaku (lima pengetahuan gaib mengintip rahasia alam semesta) kemudian mempraktekkan mudra (metode lipatan jari merujuk pada pola tertentu) dan merapal jumon (mantra) berbahasa sanskerta diiringi bau dupa hio yang menyeruak mengharumkan aula kuil. kakek itu tenggelam dalam kekhusyu'annya.
namun baru saja memasuki ketenangan hati, kekhusyu'an itu terganggu. mata kakek yang tertutup itu bergerak-gerak pertanda ia tidak lagi konsentrasi. dengan rasa kesal, Gojiro merogoh sesuatu dari balik mantel pabbaja dan melontarkan 5 keping shuriken swastika ke belakang. senjata-senjata lempar itu hanya mengenai ruang kosong dan menancap di dinding kuil.
tak lama kemudian sesosok bayangan kabur muncul membentuk tubuh semi transparan seorang pertapa gunung. sosok itu mendekat dan menyapa, "Ayah..."
Gojiro membuka matanya dan langsung berbalik. tatapannya tertuju pada sosok srmi transparan berambut kelabu dalam balutan pakaian pendeta gunung. perasaan haru menggelayuti hatinya. matanya berkaca-kaca.
"Oogami..." kata Gojiro dengan gemetar, "Apakah kau yang mengirim anak itu kesini?"
padri tua itu masih tetap duduk dalam posisi bersila sedangkan bayangan itu kemudian mendekat dan duduk dengan gaya zarei.
"Maafkan aku jika tak memberitahumu lebih dulu." kata Oogami yang tak lain adalah Zenbo.
Gojiro mengulurkan tangan menyentuh sosok bayangan itu. namun tangan padri tua itu hanya menyentuh udara kosong. Oogami tersenyum.
"Tubuhku tidak lagi berada di dunia ini, ayah. aku telah mencapai pengetahuan tertinggi yang menyebabkan diriku muksa. aku sengaja mengirimkan anak itu kemari untuk kau didik. anak itu cerdas ayah, kau tentu sudah melihat buktinya." kata Oogami.
Gojiro mengangguk mantap. "Dia mampu membangkitkan kekuatan Orochi. aku sendiri terkejut. hanya 3 orang saat ini yang menguasai pusaka langka itu. pendiri desa ini, Sudeshige, kau sendiri dan anak itu."
"Aku yakin, dengan keberadaannya. desa kita akan mengalami jaman kemakmuran. junjungan kita akan memperkuat kedudukannya sebagai penguasa wilayah timur dan sedikit lagi akan menguasai seluruh tanah Jepang." tambah Oogami.
"Dimana kau menemukan pemuda itu, Oogami?" tanya Gojiro dengan penasaran.
"Dia belum sedewasa itu ayah. ia masih berusia 8 tahun. tubuhnya saja yang mirip orang dewasa." jawaban Oogami menerbitkan keterkejutan hebat pada diri Gojiro.
"Benarkah?..."
"Aku mendapat waham melalui para dewa. jelmaan biiju akan muncul di bumi. ia bernama Kazama. anak itu adalah reinkarnasi Kazama yang saat ini banyak diincar oleh golongan-golongan yang ingin memperkuat kekuasaannya didunia. aku membohongi raja tengu Sojobo, demi bisa membuat anak itu bersamaku. jaga anak itu ayah. ini kesempatan kita untuk menorehkan fesa kita dalam tinta emas sejarah negeri ini." kata Oogami dengan semangat.
Gojiro ternganga dengan penuturan bayangan tersebut. Oogami meneruskan keterangannya bahwa Kotaro ditemukannya di wilayah Ushu Tandai (propinsi Dewa) hingga pertemuan mereka dengan para tengu dari sekte Kurama-Hachi dan kesamaan waham yang diterimanya dengan sasmita gaib yang diterima Sojobo dari gunung Kurama.
"Aku akan berupaya melaksanakan permintaanmu." jawab Gojiro dengan mantap. setetes air bening jatuh mengalir dipipi padri tua itu. perjumpaannya dengan sang putra akan segera berakhir.
"Bagaimana keadaan putriku, ayah?" tanya Oogami.
"Takiyasha? putrimu baik-baik saja." jawab Gojiro sambil menyeka air matanya. "Dia sempat menjajali kecakapan muridmu. kurasa...keduanya akan cocok satu sama lain."
Oogami mengangguk. perlahan tubuhnya mulai memudar. "Aku permisi ayah. kutitipkan putri dan muridku padamu."
setelah menyampaikan pesan itu, Oogami akhirnya memudar dan muksa menyisakan keheningan disekeliling aula kuil tersebut, meninggalkan Gojiro dalam ketertegunan yang penuh rasa penasaran.
...***...
Gojiro membawa Kotaro menuju dojo. dojo adalah tempat pelatihan bagi warga desa usia produktif yang dipersiapkan untuk menjadi samurai dan shinobi desa tersebut. Kotaro memperhatikan kesibukan yang berlangsung disana. ada sekumpulan anak-anak yang berlatih menyerang dan bertahan menggunakan makiwara (Benda mirip sansak), ada berlatih mengayunkan pedang kayu, ada yang melempar beberapa shuriken ke papan sasaran, dan sebagian lainnya memperkuat seni ringan tubuhnya. terlihat para pelatih mendidik anak-anak itu dengan keras agar tidak mengecewakan dalam menjalankan sebuah misi.
kedatangan Gojiro dan Kotaro sedikit banyak menarik perhatian para siswa dan pelatih yang berada di sanggar pelatihan itu. anak bertubuh dewasa itu memperhatikan para pelatih. diantara mereka terdapat 2 orang yang pernah mencegatnya di gerbang desa, juga 2 orang yang menjadi pengawal Gojiro ketika menemui Kotaro. ternyata mereka memang para praktisi berkecakapan tinggi.
para pelatih dan siswa sejenak menghentikan kegiatan mereka dan menyimak segala apa yang diucapkan oleh Gojiro.
"Warga desa Rappa yang kubanggakan. kita kedatangan satu orang lagi." kata Gojiro menepuk pundak Kotaro, "Dia akan menjadi bagian dari desa kita. kuharap kalian menerimanya, sesuai keta'atan kalian kepadaku."
padri tua itu mendekati para pelatih. "Anak itu tak perlu diuji. cukup perkenalkan dia dengan tradisi kekeluargaan kita."
para pelatih mengangguk bersamaan. Gojiro memanggil Kotaro untuk memberi hormat pada sekumpulan Jiki Deshi (guru senior, semacam dewan guru) untuk memberi hormat.
sejak saat itu, Kotaro berlatih bersama para siswa di dojo tersebut. kecakapannya sudah melampui kecakapan para chunnin (perwira shinobi) sehingga Kotaro hanya diperkenalkan pada tradisi-tradisi khas desa Rappa. sejujurnya tak ada yang mampu mengalahkannya dalam olah fisik maupun spiritual karena Kotaro dilatih secara langsung oleh Zenbo yang tak lain adalah mantan Jonin (pimpinan) dari Rappa. ia menerima pelatihan secara okuden (menyampaikan secara lisan) hingga membekas benar dalam ingatan Kotaro.
Kotaro sendiri sudah sangat paham membangkitkan energi dan ia paham benar bahwa membangkitkan energi dalam tubuh manusia harus menyelaraskan dengan pergerakan alam semesta. seperti halnya prana yang selaras dengan inti matahari, maka cakra beresonansi dengan inti bumi. keduanya diperlukan untuk meningkatkan evolusi jiwa. jika diantara keduanya terdapat ketidak seimbangan, maka akan mengakibatkan penurunan yang tidak stabil dan dapat mengancam hidup sang praktisi.
dulu, ketika melatih Kotaro dalam seni spiritual Gorin Kuji Myo Himitsu Shaku, Zenbo memaparkan bahwa pembangkitan energi tidak akan bisa dicapai oleh orang yang tidak mencapai keseimbangan mental-spiritual. energi tidak berbentuk profan, namun dalam tubuh manusia, energi membentuk pola bola berongga konsentris yang merupakan gabungan daripada zat astral dan eterik. yang satu berada didalam yang lainnya. dalam tubuh manusia terdapat 7 bola konsentris dalam cakra dasar yabg berada didasar tulang punggung dalam keadaan tidak aktif. pembangkitan energi yang tanpa mengetahui dasar akan mengakibatkan rusaknya organ dalam manusia dan jebolnya wadah astral yang menampung energi tersebut.
...***...
Gojiro menyimak secara jelas setiap laporan yang disampaikan para Jiki Deshi. benar menurut firasatnya bahwa Kotaro benar-benar telah melampui tingkatan kihon (dasar), chuden (lanjutan) hingga hiden (tinggi). semestinya Kotaro memang dilatih secara langsung oleh Gojiro sendiri sebagai Soke-Kaiden (mahaguru).
sebagai pengurus tradisi, Gojiro menyembunyikan fakta kepada seluruh warga desa tentang wafatnya Oogami melalui cara muksa. hal itu dilakukan untuk mencegah kudeta sepihak dari orang-orang serakah.
"Jika memang begitu pandangan kalian tentang Kotaro, aku akan menggenapi takdir anak itu." kata Gojiro dan menyuruh para guru senior itu meninggalkan ruangan utama.
tak lama kemudian, Kotaro muncul diruang utama ditemani Takiyasha. melihat anak berambut merah itu, Gojiro langsung bangkit.
"Ikuti aku Kotaro." perintah Gojiro seraya melangkah meninggalkan ruangan utama.
"Kakek hendak membawanya kemana?" tanya Takiyasha dengan rasa penasaran.
"Ke kuil." jawab Gojiro dengan singkat.
dengan mantap Kotaro mengikuti langkah padri tua itu. sejak itu pula, Kotaro bertugas membersihkan kuil dan menjalani beberapa kegiatan spiritual bersama Gojiro dibangunan tersebut.
...***...
sore menjelang. Kotaro belum juga nampak di rumah besar. sejak mendapat tugas di kuil, Takiyasha sudah sangat jarang bertemu dengan anak berambut biru itu. Takiyasha yang sudah pulang dari pusat pelatihan, hanya mendapati Gojiro diruang utama, membaca beberapa perkamen dan gulungan kitab berisi pengetahuan kuno.
"Kok kakek enak-enakan disini? mana Kotaro?" tanya Takiyasha.
"Sementara sibuk membersihkan seluruh areal dalam kuil sendirian." jawab Gojiro dengan santai. Takiyasha tercengang.
"Kakek sudah gila ya? masa iya dia diharuskan membersihkan areal kuil itu sendirian? belum selesai malam berakhir, anak itu pasti pingsan karena kelelahan." kata Takiyasha sambil terkikik geli.
Takiyasha meninggalkan kakeknya, menyusuri lorong rumah dan tiba di kolam mandi. ada air hangat yang masih mengepulkan uap panas baru saja diisi oleh pelayan. gadis itu melepaskan seluruh pakaiannya dan mulai merendam dirinya dan menikmati kehangatan air itu bersama dengan melumernya kotoran-kotoran bersama air itu. karena keasyikan, Takiyasha tertidur di kolam itu.
...***...
Takiyasha terbangun karena sengatan udara dingin yang menusuk kulitnya. ternyata air dalam kolam itu sudah tidak hangat lagi. bergegas Takiyasha keluar dari kolam itu dan mengenakan kembali pakaiannya. gadis itu menuju biliknya untuk berganti pakaian. setelah itu ia keluar dan mendapati Gojiro sementara membungkus sesuatu.
"Kakek sedang apa sih?" tanya Takiyasha.
Gojiro mendongak kearah cucunya dan menyunggingkan senyumnya. "Kebetulan kau muncul. tolong bawakan makanan untuk Kotaro. kurasa ia kelaparan sekarang." kakek itu menyerahkan bungkusan tersebut kepada Takiyasha.
"Kurasa dia nggak ada di kuil saat ini." jaeab Takiyasha dengan sangsi. namun akhirnya gadis itu mengangguk juga.
"Mengapa kau berpikiran begitu?" tanya Gojiro.
Takiyasha mengangkat bahu. "Bisa saja dia ke hutan mencari buah-buahan untuk menyangga rongga perutnya yang kelaparan. anak itu segan meminta. itulah sebab ia nggak muncul meminta makanan." gerutu gadis itu kemudian menuruni teras dan melangkah meninggalkan rumah diselingi tawa Gojiro.
Takiyasha menyusuri jalanan dan sesekali membalas sapaan para warga desa yang berpapasan dengannya. kuil terletak jauh diujung desa. digerbang kuil, berdiri sepasang jisamurai bersenjata tombak naginata.
"Kotaro ada didalam?" tanya Takiyasha. kedua penjaga itu menganggukkan kepala.
Takiyasha menanjaki tangga kuil dan melangkah masuk setelah menguak pintu kuil yang lumayan berat. langkah kaki gadis itu bergema ditengah keheningan ruangan kuil.
"Dimana kau rambut merah?" seru Takiyasha.
"Aku disini " seru Kotaro.
Takiyasha kembali melangkah dan menemukan Kotaro sedang membersihkan altar di kamiza kuil. ditengah altar itu terdapat sebuah rak yang memamerkan sepasang kaos tangan yang jari-jarinya bercakar dan bagin pergelangan hingga batas lengan beruas-ruas, sangat mirip dengan tangan siluman.
"Disitu kau rupanya." seru Takiyasha.
"Sedikit lagi selesai." sahut Kotaro.
Takiyasha memperhatikan pekerjaan yang dilakukan Kotaro. anak itu menyeka peluhnya yang membanjiri wahah dan tubuhnya. gadis itu duduk menyandarkan diri pada tiang kuil menyaksikan Kotaro menyelesaikan pekerjaannya.
"Akhirnya...selesai juga." kata pemuda itu dengan lega lalu melangkah mendekati Takiyasha dan duduk disampingnya, bersandar pada tiang kuil.
Takiyasha mengangsurkan bungkusan itu kepada Kotaro. "Dari kakek. makanlah."
Kotaro membuka bungkusan itu dan menemukan sebuah baki kecil dari kayu berisi roti berisi daging. seleranya timbul dan ia merogoh salah satu roti dan menyantapnya dengan lahap, membuat Takiyasha tertawa kecil.
"Jangan gelojoh. nanti kau tersedak. " kata hadis itu meraih kendi kecil berisi sake (minuman fermentasi beras) manis dan menyodorkannya kepada Kotaro.
pemuda itu meraihnya dan minum seteguk-dua teguk untuk mendorong makanan yang memasuki liang kerongkongannya. pemuda itu kembali makan dengan perasaan nikmat sambil dicermati oleh Takiyasha. gadis itu kemudian mengarahkan tatapannya kepada sarung tangan yang terpancang ditengah altar.
"Kau lihat benda disana?" tanya Takiyasha menganggukkan kepala kearah altar. Kotaro mengikuti arah anggukan kepala gadis itu.
"Sarung tangan yang aneh." komentar pemuda itu lalu memandang Takiyasha sambil menghabiskan roti daging dalam bakul kayu. "Milik siapakah itu?"
Takiyasha menghela napas lalu menjelaskan sejarah benda itu. "Sarung tangan itu milik pendiri sekaligus kepala desa pertama, Taira Sudeshige, adik angkat Taira Masakado yang terjun bersama-sama dalam perang Shimosa melawan pasukan kekaisaran yang dipimpin Fujiwara Hidesato. sarung tangan itu terbuat dari besi bintang dan dimandikan dengan darah sebagian siluman yang dikorbankan. itulah mengapa sarung tangan itu memiliki kekuatan magis yang mengerikan."
"Mengapa disebut mengerikan?" tanya Kotaro penuh minat.
"Kekuatan magis dalam sarung tangan itu mampu memanggil ruh kesebelas leluhur siluman yang kemudian menyatu dalam tubuh pemilik sarung tangan. itu akan membuat pengguna sarung tangan memiliki kekuatan yang dahsyat. namun efek buruknya, sarung tangan itu akan menyerap energi si pengguna sarung tangan sebagai tumbal." tutur Takiyasha.
"Menarik..." gumam Kotaro.
Takiyasha tidak menanggapi gumaman pemuda itu. ia meneruskan ucapannya. "Hingga saat ini, belum ada yang mampu menyandang sarung tangan Sudeshige tersebut, meskipun oleh orang sekelas ayahku, Taira Oogami."
"Bolehkah aku mencobanya?" tanya Kotaro.
Taliyasha menatapinya dengan lama, kemudian kembali menghela napas dan membuangnya. "Kau mungkin memiliki persediaan energi yang melimpah...namun..." kata gadis itu dengan sangsi. "Aku ragu, apakah kau mampu bertahan atau tidak..."
Kotaro mengangguk mantap lalu bangkit. Takiyasha menatapinya. "Apa yang kau lakukan? mau kemana kau?"
"Mencoba peruntunganku dengan sarung tangan mukjizat ini." kata Kotaro dengan semangat. pemuda itu telah berdiri didepan altar. tangannya mulai terulur menjamah benda tersebut.
"Jangan lakukan!" seru Takiyasha,"Aku nggak mau dimarahi kakek gara-gara ide bodohmu itu." gerutu gadis itu.
Kotaro tidak mempedulikannya. ia meraih kedua sarung tangan itu dan mengenakannya tanpa ragu. Takiyasha sendiri didera rasa tegang. sejenak berhembus udara dingin yang meremangkan bulu kuduk gadis itu.
"Kotaro! jangan main-main!" seru Takiyasha penuh rasa cemas.
Kotaro berbalik memamerkan sarung tangan yang kini tersandang dikedua tangannya. pemuda itu tersenyum senang.
"Lihat. benda ini tak bereaksi padaku." kata Kotaro dengan senang. timbul niat jahilnya kepada Takiyasha. "Kelihatannya apa yang ceritakan itu hanya takhayul saja." ledek pemuda itu.
Takiyasha menghela napas lega dan melangkah mendekati Kotaro. namun langkahnya kembali tertahan ketika menyaksikan tubuh Kotaro tersentak dan tatapannya nanar kepada sarung tangan itu.
"Ada apa?" tanya Takiyasha dengan cwmas.
Kotaro menatapi Takiyasha dengan gamang. "Benda ini... menyerap cakra!!!" pekiknya.
seketika larik-larik sinar hitam menyeruak keluar dari tubuhnya kemudian menyelimuti dan mengintari Kotaro. warna kulit Kotaro yang coklat perlahan memudar makin lama makin putih hingga akhirnya memutih bagai warna tepung. pemuda itu mendongak dan meraungkan rasa kesakitan diiringi pekikan ketakutan Takiyasha yang menggema di seantero dinding kuil menerobos kesunyian malam dan menggaung disekeliling desa.
...ooOOoo...
Wuah. Ryo itu mata uang emas, ya? Satu ryo = berapa yen, ya?
Kasabake itu mengincar anak-anak yang baru lahir kah?
Overall, penggambaran suasananya udah lumayan dapet. Akan lebih baik jika penulisannya lebih rapi, seperti penulisan huruf kecil dan huruf besar yang perlu lebih diperhatikan, penulisan kata "di" yang seharusnya dipisah dengan "di" yang digabung.
Oh ya, kalau ada catatan kaki bagus, nih. Biar yang belum familier sama istilah-istilah Jepang tahu maknanya.
sudut luar pandangan mata
Semangat berkarya & saling dukung.. 💪🏻
btw mampir juga di novel ku ya kak