Aira Cantika Putri seorang perempuan cantik , pintar dan rendah hati. Mahasiswa kedokteran yang banyak di sukai pria kampus karna kecantikan dan kerendahan hati nya. Terlahir dari keluarga yang sederhana dan penuh kehangatan.
Kendra Aditya Nugraha seorang dokter muda yang tampan tapi sikapnya begitu dingin dan kaku namun di dalam hati nya begitu hangat dan rapuh. Anak pemilik rumah sakit ternama di jakarta juga satu satu nya pewaris rumah sakit.
Reyhan Adi Utama seorang calon dokter sekaligus anak pebisnis sukses. Sikapnya yang begitu ramah dan hangat terlebih terhadap Aira wanita yang dia suka sejak kuliah. Dia pun teman seangkatan dengan Kendra.
Aira terjebak di antara dua hati pria tampan itu.
Manakah yang mampu meluluhkan hati Aira?
Kendra yang dingin dan kaku atau Reyhan yang hangat dan lembut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon deti apriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghilang
"Apa 200 juta" Rara kaget dan melemas seketika
Rara langsung bertanya lagi pada bagian administrasi rumah sakit
"Sus apa operasi ayah saya bisa pakai kartu jaminan kesehatan dari tempatnya bekerja?" tanya Rara dengan penuh harapan
"Maaf mba kalau kartu jaminan kesehat tidak bisa di pakai untuk biaya operasi Pak Irwan kartu itu cuma bisa di pakai untuk rawat inap selama Bapak Irwan di rawat di rumah sakit ini. Apalagi ini termasuk kedalam keategori operasi besar mba" penjelasan dari suster tersebut
"Baiklah terima kasih sus" ucap Rara dengan lemas
Rara berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruanga ayahnya.
Pikirannya begitu kalut dan kacau mencari cara agar bisa mendapatkan uang untuk operasi ayahnya
***
Di Universitas Kedokteran
Dinda dan Bayu yang sedari tadi asik mengobrol dan bercanda di dalam kelas baru ingat kalau Rara belum sampai juga
"Rara mana ya kok gak dateng dateng Bay" tanya Dinda pada Bayu
"Iya ini udah sejam loh dari dia bilang lagi di jalan tapi gak sampe sampe?" tanya balik Bayu yang juga bingung
"Apa kejebak macet ya?" tanya Dinda lagi
"Coba telfon dulu takut kenapa-kenapa" perintah Bayu
Baru saja Dinda mengambil handphone nya mau menghubungi Rara tiba-tiba dosen datang
"Selamat siang anak-anak" seru Bapak dosen
"Selamat siang Pak... " jawab para mahasiswa
"Eh dosen dateng, kirim pesan aja cepet tanya di mana" ucap Bayu pelan Dinda hanya mengangguk
"Ra kamu di mana cepet dosen udah dateng!" pesan terkirim
***
Di Dalam Mobil
"Akhirnya sampe jakarta juga, eh Rara kan tadi bilang mau kuliah pulang sore apa aku jemput aja ya habis ini" gumam Rey dalam hati
"Rey nanti kalau sudah sampai Rumah jangan lupa kasih ini sama adik kamu ya soalnya mamah mau pergi lagi" ucap mamah Rey
"Mamah emang gak pulang ke rumah dulu" tanya Rey
"Pulang cuma mau ganti baju aja" jawab Mamah Rey
"Ohh.. " ucap Rey sambil mengangguk
***
Rara hampir sampai di depan ruangan ayah nya dia mencoba menenangkan pikirannya yang kalut dan masih belum sadar ada notifikasi pesan masuk di hp nya
"Aku harus tenang gak boleh bikin Bunda ikut bingung..huufftt" ucapnya sambil membuang nafas panjang
Di ujung koridor ada dokter Ken yang tidak sengaja melihat Rara dari jauh
"Itu kaya pacarnya Rey?" tanya Ken dalam hati sambil berfikir apa betul itu Rara
Tiba-tiba suster datang menghampiri Ken
"Dokter Ken ada keadaan gawat darurat" ucap suster itu tergesa gesa
"Baik" seru Ken aambil berlari ke UGD
Di sisi lain Rara masuk kedalam ruangan ayahnya dengan keadaan lebih tenang
"Bun.. " Rara mengelus pundak bunda nya yang sedang duduk di samping ayahnya
"Iyaa sayang , gimana?" Bunda Rara menanyakan biaya operasi
"Bun biaya operasinya 200 juta dan kita gak bisa pakai kartu kesehatan ayah itu cuma bisa di pakai untuk berobat dan rawat inap" ucap Rara dengan pelan
Bunda nya langsung kalut dan menangis
"Bun jangan nangis nanti ayah denger" usap Rara menenangkan
"Terus gimana kita bayar operasi ayah Ra" tanya Bunda nya
"Kita masih ada tabungan kan Bun dan juga masih ada sertifikat rumah gimana kalau kita pinjam dari Bank dengan jaminan itu?" tanya Rara
"Tapi tabungan kita gak seberapa Ra dan juga pinjam ke Bank itu perlu waktu lama untuk cair dana nya" ucap Bunda
"Yaudah kalo gitu biar Rara cari cara lain bunda berikan aja kunci lemari nya biar Rara ambil sertifikatnya" ucap Rara
"Kuncinya ada di kotak kayu di laci meja rias ibu kamu cari di sana ya" ucap Bunda Rara
"Yaudah Rara pamit pulang dulu ya Bun" pamit Rara mencium tangan Bundanya
***
Di Depan Universitas Kedokteran
Waktu sudah sore hari rey sudah rapi di depan mobilnya menunggu Rara di depan kampus
Dinda dan Bayu yang keluar dari kampus dengan mobil Bayu tidak sengaja melihat Rey sudah ada di depan kampus
"Kak Rey... " teriak Dinda dari dalam mobil
Dinda dan Bayu pun berhenti dan keluar dari mobil dna menghampiri Rey
"Loh kalian kok berdua aja Rara mana?" tanya Rey mencari Rara
"Justru itu kak kita ini mau cari Rara" jawab Dind panik
"Mau cari gimana kan tadi siang aku whatsapp dia katanya mau ngampus" tanya Rey
"Iya tadi juga bilang sama aku udah di jalan tapi dia gak ada masuk kelas. Aku whatsapp pun dia gak baca-baca , aku jadi khawatir" ucap Dinda
"Yaudah tenang dulu kita coba cari kerumah nya dulu siapa tau ada" ajak Rey
"Iyaa ayok" ucap Dinda
Mereka pun dengan sigap masuk kedalam mobil masing-masing dan menuju rumah Rara
***
Rara menyusuri sebuah jalan besar menggunakan motor ayahnya yang di antar kan teman kerja ayahnya kerumah
Rara sudah pulang kerumah hanya untu mengambil sertifikat rumah, laptop nya dan barang berharga lainnya yang bisa di jual termaauk hp bunda dan ayahnya di rumah sakit tadi
Rara memasuki sebuah tempat pegadaian barang
"Mas mau tanya kalau mau gadai barang maksimal uangnya berapa ya?" tanya Rara
"Tergantung barang nya apa kak yang mau di gadaikan" jawab pegawai tersebut
"Kalau ini?" Rara menunjukan Sertifikat rumahnya
"Kalau ini kita paling kasih 75 juta maksimal nya kak" jawab pegawai itu
" Gak bisa 100 juta ya mas" tanya Rara lagi
"Gak bisa kak soalnya kita juga menghitung dari luas tanah bangunan itu" penjelasan pegawai itu lagi
"Oh baik. Kalau gitu terima kasih ya mas" jawab Rara sambil berlalu keluar
Rara terus menyusuri jalanan besar itu mengunakan motor ayahnya sambil melihat-lihat setiap sisi jalan siapa tau ada sesuatu yang bisa membantu nya
Motornya tiba-tiba berhenti di sebuah Ruko agak kusam pinggir jalan mata Rara tertuju pada tulisan di kaca ruko tersebut
"Butuh dana cepat bisa cair dalam satu jam"
Rara berfikir keras apa dia harus masuk atau tidak ketempat yang sudah terlihat agak menyeramkan dari luar
***
Di Depan Rumah Rara
"Assalamualaikum.. " ucap mereka bergantian
"Kok kaya gak ada orang ya?" tanya Bayu
"Iya sepi banget" jawab Dinda
"Coba kita ketuk dulu siapa tau ada di dalem" ucap Rey sambil coba mengetuk pintu
Tookk.. tookk.. tookk..
Berkali kali mereka mengetuk dan mengucapakan salam tapi tidak ada tanda-tanda ada orang di dalam
Tiba-tiba keluar tetangga Rara dari dalam rumahnya
"Eh neng Dinda" ucap Ibu tersebut ramah
"Eh Bu Euis tau gak Bunda Ira dan Rara pada kemana?" tanya Dinda
"Gak tau neng tadi sih Ibu liat neng Rara pulang bawa motor terus gak lama langsung pergi lagi bawa motor Pak Irwan , kalo Bu Ira saya gak liat pergi nya neng" jawab Ibu Itu
"Jadi mereka gak ada di rumah ya bu?" tanya Dinda lagi
"Kayanya gak ada sih neng sepi banget soalnya" jawab Ibu itu
"Yaudah makasih ya bu"
"Sama-sama neng" ibu itu kemudian masuk kedalam rumahnya
Mereka bertiga berkumpul di depan mobil
"Coba kamu telfon Bunda nya Rara siapa tau bisa" cetus Rey
"Udah dari tadi di telfon tapi sama gak di angkat juga" jawab Dinda frustasi
"Apa yang terjadi sama mereka sih kok mereka pada menghilang ya" Bayu dan semuan kebingungan
ibaratnya ga praktis panjang lebar
mau nikah aja sama orang asing
ini adalah novel pertama yg aku baca di NT dan pertama kali aku baca novel gara" liat prolognya sw temen haaaa terharu bgt dua th llu ini aku msih blom download apk NT ah perjuangan ngingat judulnya😭😭😅😂