Vita Kavita dan Dimas Ahmadin merupakan sepasang suami istri yang sangat harmonis dan bahagia. Usia pernikahan mereka sudah hampir 10 tahun. Namun walaupun begitu, belum ada kehadiran malaikat kecil titipan tuhan pada mereka. Itu bukan berati karena ada masalah dengan mereka. Hingga suatu ketika, Ada suatu kejadian tepat di anniversary mereka, Suaminya tak kembali semalaman yang menyebabkan Vita menunggu semalaman di udara malam yang dingin itu. karena kejadian itu, Vita berfikir bahwa suaminya berselingkuh. namun kecurigaan itu Vita singkirkan karena di saat yang sama dia berhasil mengandung, mereka pun berbahagia. Bahkan sangat bahagia, namun di saat itulah dia mengetahui semua kebenaran bahwa suaminya memiliki istri lain bahkan mereka juga telah memiliki 2 orang putra di belakang Vita.
Apa yang di lakukan oleh Vita? Bagaimanakah kelanjutan ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8. POV Dimas.
“Sayang, Vita … Maafkan mas, kali ini saja, setelah mas kembali, kita akan merayakan anniversary bersama,”
Ku melaju dengan kecepatan penuh 20 menit kemudian aku pun sampai di rumah sakit Sungkono. Ku parkirkan mobilku dan ku lihat mama sudah duduk di samping pintu masuk rumah sakit. Aku berjalan dan mendekati nya.
“Lama sekali sih kamu, Dimas” ucap mama lalu menarik tangan ku.
“Yaa maaf ma,” jawabku.
Mama berlari dengan menggandeng ku. Aku pun ikut berlari juga, setelah di ruang persalinan, Ku lihat dari jendela luar kamar, April sedang merintih kesakitan.
“Em, anda suami nya? Anda boleh masuk ke dalam pak,” ucap seorang dokter padaku.
“Sana masuk Dim" suruh mama padaku.
Aku pun memakai baju khusus lalu masuk kedalam ruang bersalin.
“Selamat pak, istri anda sudah pembukaan 9, di semangati ya istrinya,” ucap dokter padaku.
Aku pun mendekati April dan mencoba menenangkan serta memberikan semangat padanya.
“Amel, kamu yang semangat. Aku di sini Pril," Ucapku dengan memegang tangan nya.
“Mass, sakittt,” rintih nya kesakitan.
“Iya mel, aku tahu, kamu dengarkan dokter ya, pegang tangan ku yang erat,” ucapku lagi dan benar saja dia memegang tangan ku dengan sangat erat.
“Dok sakit banget, aaaa sakittt,” rintih amel lagi.
“Tahan ya bu, Kalau saya bilang ngejan, baru ibu ngejan ya bu, tiup—tiup dulu bu,” ucap dokter pada amel.
April malah mengejan dengan sangat semangat dan membuat vagina nya robek.
“Aaaaaa sakittt masss, sakittt, perih,” rintih nya lagi.
“Aduh dok, robek dok,” ucap perawat itu pada dokter.
“Sudah terlanjut, kamu sebaiknya siapkan alat itu ya?” ucap dokter pada perawat itu.
Perawat itu pun pergi lalu dokter meneruskan instruksi nya, hingga kurasa hampir 2,5 jam, anak kedua ku pun lahir. Suara tangis nya membuat air mataku menetes.
Oeekkoeekkk (Suara tangisan bayi ku yang baru lahir)
“Selamat pak, bu, Ini bayi laki-laki,” ucap dokter menggendong bayi itu.
“Maas, anak kita mirip dengan mu,” ucap April dengan nafas yang terengah-engah.
“Iya, selamat ya Pril” ucapku.
“Selamat juga untuk mu masss, ini anak kita.." jawabnya lalu entah kenapa dia perlahan menutup matanya.
“Dokter, Pasien pingsan,” ucap perawat itu.
Ku lihat memang pingsan. Aku mengelus rambutnya lalu ku bertanya pada dokter. “Dok, April tidak apa-apa kan dok?” ucapku cemas.
“Bu April hanya pingsan pak, kami akan keluarkan dulu ari-ari nya lalu akan kami jahit robekannya, hemm tidak apa-apa.”
“Syukurlah dok,” ucapku dengan sedikit lega.
Ku lihat di jendela ada ibu dan bapak mertuaku yang ikut terharu melihat kelahiran anak ini. Setelah semua selesai, Aku keluar dari ruang bersalin. Mama, bapak dan ibu April mendekatiku.
“Laki-laki apa perempuan Dim?” tanya mama menarik kemeja ku dengan penasaran.
“Iya laki-laki apa perempuan?” tanya juga ibu mertuaku penasaran.
“Laki-laki ma, bu,” jawabku.
“Alhamdulillah,” ucap ibu dan bapak mertuaku
“Selamat ya besan, cucu kita nambah satu nih,” ucap mama pada ibu dan bapak mertuaku.
“Iya, selamat juga besan … Ya ampun lucu banget lagi,” ucap ibunya amel dengan melihat anak
“Selamat ya Dimas" ucap Ibu mertuaku juga memelukku.
Setelah itu, kami pun menunggu dokter keluar dan menunggu kami bisa masuk ke dalam. 2 jam 22 menit kemudian, dokter pun keluar dan memperbolehkan kami untuk masuk ke dalam.
“Silahkan bu kalau mau masuk ke dalam,” ucap dokter pada kami.
“Terimakasih dok,” ucap bapak mertuaku.
“Mari kedalam yuk besan,” ajak ibu mertuaku pada mama.
“Ya besan, duluan saja,”
Bapak dan ibu mertuaku masuk kedalam ruangan. Aku akan menyusul Ketika ponselku menyala dan aku bisa mengabari istriku Vita. Aku menjauh dari mama lalu mengutak-utik ponselku.
“Aduh, gimana sih ini hp? Masa jatuh gitu aja langsung gini?” ucapku dengan kesal.
“Lagi ngapa sih kamu Dim?” tanya mama mendekatiku dan menepuk pundak ku.
“Ini ma, hp ku tadi jatuh, mau ngabari Vita ma tapi hp nya gak bisa nyala lagi. Ma, ilham boleh pinjam hp nya?” ucapku kesal.
“Kamu belum ngabari dia? Kalau pakai hp mama nanti dia curiga dong, lagian hp mama juga gak kebawa, masih di rumah April tadi,” ucap mama lagi.
“Tapi ma, Vita pasti khawatir ma, gimana ya ini? Atau aku pulang sekarang saja ya ma?” ucapku bimbang.
“Eh, Kok pulang? Kasian april baru aja melahirkan, masa di tinggal langsung? Besok saja pulang nya, kamu bilang ke dia hari ini kamu lembur dan ke luar kota dadakan, pasti Vita ngertiin lah. Kamu juga belum adzan in anak kamu,” ucap mama mengoceh.
"Tapi ma ... Hari ini kan hari Anniversary aku sama Vita, Dia pasti.." Aku semakin gelisah.
"Halah, kamu ini.. Jangan bingung seperti itu. Vita pasti ya sudah tidur juga. Sudah lah, ini anak kamu loh Dim.. Kamu juga harus bertanggungjawab.. Jadilah ayah yang baik." Ucap mama menasehati ku lalu dia pun berbalik dan tak lupa menarik tanganku agar aku masuk kedalam ruangan tadi.
Aku bimbang, Saat ini pasti istriku sangat khawatir, aku tak ingin dia marah. “Ya ampun, gimana ini ya? Mana laptop ku tinggal di meja lagi,” gumam ku.
“Udah, ayo! Jangan di pikirin! Besok aja mikir nya, percaya sama mama, Safira pasti ngerti,” ucap mama dengan menarik ku ke dalam ruangan April.
Beberapa menit kemudian dokter dan perawat masuk dengan membawa anak kedua ku. Setelah itu aku pun mengadzani anak kedua ku. Sejam kemudian April sadar.
“Emmgghh, Sakitt, Perihh bangett,” ucap dia sampai menangis.
“Sabar ya nak, Kalau sudah kering pasti gak sakit lagi,” ucap ibunya.
“Massss, Mas Dimas mass,” ucap April meringis dan mencari ku.
“Iya Pril, aku disini, Kamu yang sabar ya setelah ini kamu pasti pulih lagi,” ucapku dengan mengelus rambutnya.
“Mas, kamu di sini kan sampai aku sembuh? Mas, aku butuh kamu,” ucapnya lagi lalu memegang tanganku.
Ku melihat mama, dia memberi kode agar aku mengiyakan hal itu. “Iya, Aku bakal sering nengokin kamu dan anak kita kok. Jadi kamu yang tenang dan tetap semangat ya,” ucapku menenangkan nya.
“Iya, mas. Aku kangen sekali sama kamu,” jawabnya tersenyum padaku dengan tangan yang menengadah kearah ku.
“Iyaah, aku juga,” jawabku dengan terpaksa lalu memeluknya.
Hari pun semakin malam, Ku lihat jam dinding menunjukan pukul 11 malam.. Ibu dan bapak amel sudah pulang lebih dulu karena di rumah mereka tak ada siapapun. Sementara mama tertidur di sofa. lalu april sudah tertidur lagi.Aku keluar dari ruangan itu dan mencoba mencari casan hp. Aku berjalan menuju ke resepsionis dan bertanya pada penjaga di resepsionis itu.
“Permisi mba, mbaa permisi,” panggilku di depan resepsionis.
“Iya pak, maaf, bagaimana ya pak? Apa ada yang bisa kami bantu?”
“Iya mba, mau tanya nih, hp saya tiba-tiba mati dan charger nya lupa saya bawa, apa mbaknya atau punya staf lain ada charger hp ini?” tanyaku.
“Hp apple? Ada pak.” Jawab resepsionis itu.
“Apa bisa saya pinjam mba? Sebentar saja, saya butuh hp saya. Ada hal yang sangat penting ini,”
“Bisa pak bisa, ini pak charger nya,”
“Wah, terimakasih mba, saya ada di kamar lembayung 5 ya mba, jaga-jaga kalau saya ketiduran dan mbak nya butuh charger ini, maaf y amba merepotkan,”
“Iya pak baik, tidak apa-apa,”
“Baiklah, kalau begitu saya kembali dulu ya mba, permisi,”
“Baik pak,”
Aku pun kembali ke kamar April lalu ku colokan charger itu ke stop kontak dekat sofa. Setelah itu ku pencet ponselku agar menyala. Namun aneh nya, ponsel ini tidak mau menyala walaupun sambil aku isi daya nya.
“Aduh, kenapa gak nyala sih? Ada apa dengan hp ini?” gumam ku dengan kesal dengan memukul ponsel ku.
Sudah hampir 1 jam aku menunggu ponsel ku mengisi daya nya, sampai aku lelah ponselku tak kunjung menyala. Ku ambil air minum dan beristirahat sebentar. Ku rebahkan punggung ku di bantalan sofa yang empuk. Ku sangat sedih dan khawatir memikirkan wajah istriku yang sedang murung karena aku tak pulang. Aku semakin khawatir dia akan pergi dari rumah, apalagi sekarang adalah hari jadi pernikahan kami, aku tak tau apakah istriku memberi kejutan seperti tahun kemarin itu atau tidak. Pastinya dia tak mungkin lupa akan hal itu.
“AArrghhhhh,” kesal ku dengan mengacak-acak rambutku. “Vita, maafin mas sayang,” ucapku lagi dengan lirih.
Keesokan harinya,
Pukul 5.10 pagi, sebuah tangan menepuk-nepuk pundakku. Dengan berat aku membuka mataku yang masih mengantuk ini. Ku lihat mama berdiri menghadap ku dengan menggendong bayi.
“Bangun sudah siang,” ucap mama padaku.
“Apa? Jam berapa?” jawabku kaget lalu melihat jam dinding,
“Tadi pagi jam 4 ada perawat yang minta charger katanya di kamu?” tanya mama.
“Charger? Oh iya, itu, eh di mana charger itu?”
“Ya sudah mama kasih kan dong, kamu kan masih tidur,”
“Terus hp ku nyala gak ma?” tanyaku lagi.
“Tadi sih nyala karena baterai penuh,” jawabnya.
Mendengar itu aku pun bangun dan berdiri lalu mengambil ponselku. Ku coba menghidupkan lagi ponselku. Bertapa leganya aku ketika ponselku kembali menyala. Aku pun keluar dari ruangan ini. Walaupun mama dan amel terus memanggilku, namun aku tetap saja keluar dan sedikit menjauh dari kamar ini. Ku tekan nomor istriku Vita dan masuk namun tak diangkat nya. Ku coba lagi dan tak diangkat lagi. Ku coba terus hingga entah ke berapa kali aku menelponnya barulah diangkat. Benar saja, istriku diam dan hanya menjawab seperlunya, Ku merasa dia sangat marah saat ini, Ku berfikir harus segera pulang ke rumah, Ku rasa aku sudah cukup lama di sini.
“Ku ambil kunci dan dompet ku dulu. Sayang, tunggu mas di rumah ya,” ucapku sambil mengetik pesan untuk istriku safira.
"Mass.. Kamu mau ke mana??"Aku mendengar April memanggilku namun aku hanya fokus ke ponsel ku.
Aku pun kembali ke kamar april lalu berbicara pada mereka sambil membenarkan kemeja ku yang sedikit berantakan. “Pril, aku harus ke kantor hari ini, ada sesuatu yang sangat penting. Jika aku tidak datang, maka semua nya akan berakhir, aku harap kamu bisa mengerti. Aku akan menemui kalian minggu besok,” ucapku pada nya.
“Apa sangat penting mas? Aku dan anak mu masih sangat butuh kamu mas,” jawabnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Aku sebenarnya merasa sangat bersalah dan menjadi iba padanya. Dia bisa saja mempunyai keluarga yang harmonis dengan laki-laki lain, tentunya yang mencintai nya juga. Walaupun aku tak mencintai nya namun aku sangat menghormatinya. Aku bisa memberi perhatian kecil agar menyenangkan nya. Selain itu aku juga memberinya nafkah yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan anak-anak ku. Jika saja mama tidak mengancam akan bunuh diri dan juga bisa bersabar akan kehadiran anak ku dan Vita Pasti hidup april tak seperti ini.
“April, Maafkan mas, mas sekarang benar-benar harus kembali ke kantor. Ini juga demi kamu dan anak kita bukan?” ucapku memanis pada amel.
“Iya sudah mas, Ya sudah tapi janji ya bakalan sering pulang? Anak kamu kan masih sangat kecil mas, Aku juga butuh kamu,” jawabnya dengan agak kecewa.
“Iya, mas janji, Ya sudah mas langsung pergi ya? Kalau ada apa-apa bilang saja ke mama,” ucapku dengan melihat mama.
“Ya kalau ada apa-apa mama yang akan tanggung jawab,”
“Iya ma, aku akan menelpon mas sendiri saja, kasian mama pasti kecapean,” ucap nya lagi.
“Ya ya sudah sama saja nih, ya udah sana dim takutnya kamu telat,”
“Oke, ma. Pamit duluan ya ma. April, mas pamit ya?” ucapku lalu dia mencium tanganku dan tak lupa aku juga mencium tangan mama.
Aku keluar dan berlari menuju ke parkiran. Ku lihat jam di pergelangan tanganku yang sudah menunjukan angka 6 pagi. Ku nyalakan lalu ku melajukan mobil menuju ke rumah. Di perjalanan aku singgah ke toko bunga untuk membeli bunga mawar putih kesukaan nya.
“Sayang, tunggu mas. Jangan marah ya sayang, mas gak mau kamu marah,” kirim ku pesan pada istriku Vita.
Hampir setengah jam aku mengendarai ini, Aku pun sampai di rumah. Ku lihat mobil istri ku masih ada di parkiran. Ku masuk dan langsung menunju ke kamar ku. Ku lihat istriku sedang bersiap-siap seperti akan pergi dan benar saja, dia marah besar apalagi Ketika ku mendengar dia ingin pergi, rasanya ingin aku ikat istriku. Aku memang salah tapi aku bukannya sengaja melakukan itu, Aku hanya ingin kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya dengan mengijinkan istriku pergi ke menemui sahabatnya. Untuk menebus kesalahan ku, aku beri kejutan balik istriku.
~
Bersambung …
lanjuttt Thor ❤️