Jonathan Li, kehilangan tunangannya, Wen Xia, secara tragis hingga membuat laki-laki kaya dan tampan itu berubah menjadi sosok iblis kejam dan dingin. Karena obsesinya terhadap sosok Wen Xia, Jonathan menyebut dirinya sebagai Pygmalion, membuat patung Wen Xia, dan selalu berkata akan menghidupkannya.
Sautu hari, mobil Jonathan secara tidak sengaja menabrak Liu Lian. Gadis malang yang dijadikan pelunas hutang keluarga pada seorang rentenir. Dia memiliki wajah sangat mirip dengan Wen Xia. Jonathan kemudaian memaksa Liu Lian untuk menjadi Wen Xia.
Sebuah cerita tentang kekejaman, intrik, serta pembalasan dendam yang diwarnai cinta dan tragedi. Yang kuat adalah penguasa, sementara yang lemah akan tertindas bahkan mati sia-sia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoemi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengabdian
Setelah mengobati lukaku, aku langsung menekuri data Wen Xia yang tadi diberikan Paman Wu. Dari data yang kubaca, Nona Wen adalah seorang putri tunggal. Usia kami hanya terpaut beberapa hari. Dia telah berteman dengan Jonathan Li sejak kecil dan bertungan dengannya 7 tahun yang lalu.
Wen Xia sangat menyukai warna biru. Dia seorang yang lemah lembut dan murah senyum. Layaknya wanita bangsawan pada umumnya, dia memiliki selera yang tinggi dalam segala hal. Dalam catatan ini disertakan beberapa brand pakaian ternama besutan Italia dan Prancis yang menjadi favoritnya. Selain itu, masih ada beberapa merk lagi dari Amerika dengan desainer-desainer ternama yang selalu jadi langganannya.
Piano adalah musik yang dia kuasai. Dia juga suka melihat pertunjukan teater dan mendengarkan musik klasik. Tunangan Tuan Muda Li ini juga memiliki ketertarikan yang besar pada dunia bisnis.
Beralih pada riwayat pendidikannya, dia ternyata adalah lulusan terbaik dari salah satu universitas terkemuka di Inggris. Itu artinya, dia seorang gadis yang cerdas. Dari beberapa foto yang aku lihat, dia juga seorang wanita modis yang elegan. Tentu saja, semua yang dia kenakan adalah barang mewah.
Jika dibandingkan denganku, sepertinya hanya wajah kami saja yang mirip. Kehidupan kami sangat jauh berbeda. Terbentang jarak yang jauh, seperti halnya langit dan bumi. Tidak akan bisa disamakan. Wen Xia hidup penuh kebahagiaan, sementara aku senantiasa menjalani siksaan.
Semenjak ibu meninggal dan aku harus hidup bersama ayah dan istrinya, tak ada hari bahagia untukku. Aku sudah lama lupa bagaimana cara tersenyum. Waktu yang kulalui adalah kesedihan panjang penuh siksaan. Bahkan, dalam asmara pun kami sangat berbeda. Wen Xia bertungan dengan Jonathan Li, sedangkan diriku dijadikan sebagai gadis penebus hutang pada seorang rentenir tua hidung belang bernama Cong He.
Jika dilihat dari data yang diberikan Paman Wu dan foto-foto Jonathan dengan Wen Xia, seharusnya Jonathan juga bukan seorang yang kejam seperti iblis. Dalam foto-foto ini, terlihat sekali jika Jonathan Li dan Wen Xia sangat bahagia. Sepertinya hidup mereka penuh cinta. Ah, tentu saja Jonathan sangat mencintai Nona Wen. Jika tidak, bagaimana mungkin dia sampai meminta dibuatkan patung yang begitu mirip dengan tunangannya. Bahkan, setelah sekian lama kematian Wen Xia, dia masih sangat terobsesi dengan sosok Wen Xia.
"Tunggu, dulu .... Jika Jonathan Li sampai berubah sifat menjadi seperti iblis dan bagai orang gila yang suka berbicara dengan patung ... pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan kematian Wen Xia," aku bicara pada diri sendiri.
Aku lantas membolak-balik lembaran-lembaran kertas yang ada di tanganku. Aku berharap dapat menemukan riwayat kematian Wen Xia. Setelah membaca cepat beberpa lembar yang aku anggap tidak penting, akhirnya aku menemukan halaman kertas yang berisi data kematian Wen Xia.
Mataku terbelalak dan tangan kiriku membekap mulutku erat. Wen Xia, ternyata dia mati terbunuh oleh salah satu musuh Jonathan Li. Aku benar-benar tidak menyangka, orang seperti Jonathan Li, masih ada yang berani bermusuhan dengannya.
Tok ... Tok ... Tok ....
Seseorang mengetuk pintu kamarku.
"Maaf, Nona Liu, bolehkah saya masuk?" suara Paman Wu terdengar dari luar kamar.
"Sialahkan, Paman Wu."
"Nona Liu, apa Anda sudah mulai membaca data tentang Nona Wen Xia?" tanya Paman Wu setelah masuk ke kamarku.
"Saya sudah membacanya sebagian, Paman."
"Nona, saya ingin mengingatkan. Di dalam berkas itu ada nama orang-orang penting yang harus Anda hafal. Mereka adalah relasi, keluarga, dan beberapa orang yang sering berhubungan dengan Tuan Muda maupun Nona Wen. Di situ juga sudah kusertakan siapa saja orang-orang yang harus Anda waspadai. Apa Anda mengerti?"
"Iya, Paman. Saya mengerti. Saya akan berusaha secepat mungkin menghafal nama-nama tersebut."
"Tuan Muda memberi Anda waktu selama satu minggu untuk beradaptasi Nona. Setelah seminggu, Anda harus sepenuhnya berperan sebagai Nona Wen Xia. Ingat dan perhatikan baik-baik semua kebiasaan Nona Wen yang telah saya tuliskan. Terutama dalam bersikap dan berpakaian."
"Tentu, Paman Wu. Saya tidak yakin, tapi saya akan mencobanya."
"Apa maksud Anda dengan mencobanya, Nona Liu? Ingatlah, Anda tidak memiliki pilihan di sini. Seharusnya Anda bersyukur karena Tuan Muda meminta Anda mengantikan posisi Nona Wen. Itu adalah pengabdian Anda sebagai balas budi atas kebaikan Tuan Muda yang telah menyelamatkan Anda, Nona. Itu juga menjadi keberuntungan Anda. Di luar sana, begitu banyak wanita yang ingin dekat dengan Tuan Muda Li, tapi tidak pernah bisa. Anda, karena memiliki wajah yang mirip dengan Nona Wen, bisa dengan mudah mendapatkan posisi itu."
"Saya mengerti maksud Anda, Paman Wu. Sayang saya tidak memilihi pilihan, jika saya memiliki pilihan, saya lebih memilih untuk menjadi diri saya sendiri. Jadi, saya rasa ini bukanlah keberuntungan untuk saya. Ini lebih tepat jika disebut sebagai kemalangan atas ...."
"Nona Liu, sebaiknya Anda menjaga ucapan Anda," potong Paman Wu dengan cepat. Seperti dia sangat tidak suka dengan kalimat yang baru saya lontarkan.
"Nona, Anda harus ingat. Meski Anda bisa menggantikan posisi Nona Wen di depan publik, tapi Tuan Muda tahu dengan benar bahwa Anda bukanlah Nona Wen Xia. Anda tidak memiliki kasih sayang Tuan Muda seperti halnya Nona Wen Xia. Jika Anda salah berucap, Tuan Muda Li tidak akan segan pada Anda. Luka di wajah Anda pasti masih terasa, sekiranya itu cukup menjadi pengingat untuk Anda."
"Maaf, Paman Wu. Saya tidak akan pernah lupa bagaimana kedudukan saya yang sebenarnya di sini. Saya hanyalah gadis yang mengabdikan dirinya untuk Tuan Muda Li sebagai balas budi. Saya tidak akan berharap lebih kecuali untuk tetap bisa bertahan hidup. Anda tidak perlu khawatir jika saya lupa diri, Paman."
"Bagus jika Anda mengerti akan hal itu, Nona Liu. Selama Anda bersikap baik dan penurut, Anda akan selalu aman. Cong He maupun keluarga Anda tidak akan bisa menjangkau Anda. Bahkan, pada saatnya kelak, Anda bisa membalaskan dendam Anda pada mereka sesuai cara yang Anda inginkan," papar Paman Wu.
"Benarkah itu, Paman? Tapi apa gunanya saya membalas dendam? Tidak ada hal yang ingin saya perjuangkan lagi dalam hidup ini," sahutku.
"Terlalu awal untuk berkata seperti itu, Nona Liu. Anda bisa selamat dari insiden itu, tentu takdir memiliki maksud untuk kehidupan Anda yang baru."
"Mungkin saja, Paman. Jika itu benar, kelak saya tentu harus lebih berterima kasih pada Tuan Muda Li. Hanya saja, siapa yang bisa menjamin saya masih hidup untuk waktu yang lama? Jika saya berbuat kesalahan, Tuan Li pasti tidak akan segan untuk mencekik saya lagi, atau bahkan meledakkan kepala saya."
"Sekali lagi, saya peringatkan agar Anda menjaga ucapan Anda. Lebih baik juga jika Anda berpikir tentang hal-hal positif .... Baiklah, Nona Liu, sebentar lagi akan ada yang mengantar makan malam Anda. Untuk malam ini, sebaliknya Anda tidak bertemu lagi dengan Tuan Muda. Emosinya belum stabil. Saya khawatir beliau belum bisa mengendalikannya diri. Saya permisi."
"Silahkan, Paman. Terima kasih untuk perhatian Anda."
"Itu sudah menjadi tugas saya, Nona. Jangan lupa juga meminum obat Anda sebelum tidur nanti. Kepala Anda sepertinya masih belum sepenuhnya pulih," ujar Paman Wu seraya berjalan menuju pintu kamarku, hendak keluar.
"Tentu, Paman Wu," jawabku sebelum menutup kembali pintu kamar, Paman Wu telah beranjak. Aku kembali sendiri, merenungi nasib yang terasa semakin menyediakan.
sdh membuat kisah yg sll kereeeennnnn..
ditunggu kelanjutan kisah sean yaa..juga kisah yg lainnya.
mangaaaattttt...
luuuuvvvvv....puuuuullll.
😁 baru nyampe sini... nyicil ya bacanya..
aku lanjut dulu...