Ahimsa Radeya Sanjaya adalah kandidat Presdir dari kerajaan bisnis milik kakeknya. Salah satu syarat yang harus dia penuhi sebelum menjadi seorang Presdir pilihan adalah menikahi perempuan pilihan kakeknya. Sevim Zehra Mahveen adalah perempuan yang harus dia nikahi.
Awalnya Ahimsa menyetujui syarat tersebut hanya untuk mendapatkan posisi sebagai Presdir. Namun, akhirnya dia jatuh cinta kepada Sevim. Sayangnya, meskipun saling mencintai, tapi mereka seringkali dibuat salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pp_poethree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Power of Grandpa
Kantor pusat Sanjaya grup gempar, mereka dikejutkan dengan calon presdir muda yang datang dengan seorang perempuan cantik nan sexy. Yang lebih membuat mereka terkejut karena perempuan yang datang bersama Ahimsa adalah Sevim, sekretaris pribadi pam Adiguna. Mereka datang berdua dengan tangan Ahimsa yang menggandeng erat tangan Sevim. Ahimsa memang sengaja ingin menunjukkan pada pegawainya jika Sevim adalah calon istrinya. Entah ini bentuk dari usaha Ahimsa untuk mencuri hati kakeknya. Atau, karena Ahimsa ingin membuka hati dan mencoba hubungannya dengan Sevim. Entahlah, yang jelas sikap Ahimsa sukses membuat pipi putih Sevim merona karena malu. Sedari tadi dia menjadi pusat perhatian pegawai yang ada disana.
" Him..tolong lepasin , aku malu.."
" Kenapa? Cepat atau lambat juga mereka tau kok"
Ya, Ahimsa benar. Sekarang atau nanti, sama saja baginya. Pegawainya juga pasti akan tau calon pendamping Presdir pilihan kakek adalah Sevim. Gadis cantik yang sedari awal sebenarnya telah berhasil mencuri perhatian Ahimsa.
Mereka berdua langsung dipersilahkan Rani untuk masuk ke dalam ruangan pak Adiguna, karena sedari tadi beliau memang telah menunggu cucu dan calon cucu menantunya.
" Kalian dari mana?"
" Sarapan di Cafe kek", jawab Ahimsa.
" Kalian sudah bicara? Apa jawaban kalian? "
" Himsa dan Sevim setuju untuk menikah kek", jawab Himsa lagi.
" Bagus..sebenarnya kakek juga nggak memerlukan persetujuan kalian. Mau terima atau tidak kalian tetap harus terima. Orang tua kalian sudah berjanji sama kakek, ini waktunya kakek tagih janji mereka.."
" Iya Himsa tau kek..mau menolakpun percuma ",
" Segera tinggalkan perempuan nggak jelas pilihan kamu itu. Perempuan yang ada disamping kamu ini, hanya dia yang pantas mendampingi kamu.."
" Iya kek..",
" Vim, kenapa kamu diam? Himsa berbicara kasar sama kamu ?", tanya kakek dengan nada bicara yang lembut, berbeda ketika berbicara dengan Himsa tadi, sangat tegas.
" Nggak kek..",
" Kakek akan menyerahkan perusahaan ini kepada Ahimsa tapi setelah kalian mempunyai anak nanti.."
" Hah..anak?"ucap Sevim .
" Anak Himsa kek?"
" Ya, anak kalian",
" Tapi kakek cuma memberikan syarat untuk nikahi Sevim"
" Orang menikah itu salah satu tujuannya adalah meneruskan keturunan. Kalian bisa saja menerima pernikahan ,tapi hanya pernikahan pura-pura, sekedar hitam di atas putih"
" Kakek nggak percaya sama kita?"
" Kakek percaya sama Sevim, tapi nggak sama kamu. Kakek sudah kenal kalian dari kecil. Kakek akan terus mengawasi kalian, jangan coba-coba menipu kakek dengan pernikahan konrtak . Jangan harap kalian bisa membodohi kakek"
Ahimsa diam, dengan begini sepertinya kesepakatan yang di buat dengan Sevim tidak akan berjalan sesuai rencananya.
" Kakek juga akan melakukan tes DNA, ",
" Kek..tapi kalau Sevim yang nggak bisa jamil gimana?" ucap Sevim.
" Masih bisa menggunakan bayi tabung, kakek pengen kamu yang melahirkan generasi penerus Sanjaya"
" ,Kalau kakek percaya sama Sevim, kenapa harus tes DNA?"tanya Himsa
" Kakek cuma ingin memastikan itu benar anak kalian atau bukan, kakek nggak mau kecolongan. Bisa saja kan Him, kamu menyuruh Sevim pura-pura hamil lalu menggunakan bayi orang lain"
Ahimsa dan Sevim diam. Kakek Adi tidak sebodoh yang mereka kira. Bahkan, sudah mengantisipasi sejauh itu.
" Kakek yakin kalian akan bahagia. Kalian itu pasangan serasi. Cucu kakek tampan, calon cucu menantu kakek juga sangat cantik "
Ahimsa dan Sevim kembali tertohok oleh ucapan kakek . Kini, rencana Ahimsa dan Sevim hanya tinggal rencana saja. Kakek sudah memberikan ultimatum sebelum Ahimsa dan Sevim menjalankan rencana mereka. Merasa shock, Sevim lebih memilih keluar dari ruangan Presdir. Bisa gila jika dia memikirkan pernikahannya bersama Ahimsa nanti. Bukan pernikahan hitam di atas putih yang dia sempat dibayangkannya, tapi pernikahan sesungguhnya.
" Apa masih ada yang ingin anda katakan pak? kalau tidak, saya permisi keluar..", izin Sevim.
" Silahkan.."
" Himsa juga mau ke ruangan kek..ada berkas yang harus Himsa periksa"
" Hmmm, kerja yang bener"
Ahimsa berjalan mengekor di belakang Sevim. Ahimsa terpana dengan apa yang dilihatnya, di depannya Sevim yang mengenakan pakaian ala kantor, terlihat sangat sexy . Setelan rok press body yang memperlihatkan lekuk tubuh Sevim. Ahimsa meneguk kasar salivanya, jika calon istrinya saja se sexy ini, apa iya dia sanggup menolaknya? Apalagi, ucapan kakek barusan sepertinya memberikan keuntungan lebih untuknya. Tentu saja, jika Sevim masih bersedia menerima perjodohan ini.
Sevim bingung, pernikahan yang sejatinya hanya sekedar pernikahan hitam di atas putih, nyatanya harus berubah menjadi pernikahan yang sesungguhnya. Kakek menginginkan adanya anak diantara Ahimsa dan dirinya. Dia sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini, namun disatu sisi dia juga sangat membutuhkan bantuan dari Ahimsa. Dan, laki-laki itu hanya mau membantunya jika Sevim juga mau membantunya. Apa yang harus Sevim lakukan?
" Se.., are you okay?"
" Not okay..",
" Kita perlu bicara lagi.., nanti jam pulang, kamu tunggu aku ya..",
" Iya.."
" Se..."
" Hmmm...", jawabnya sambil melepaskan pandangannya dari layar laptop didepannya. Sevim beralih memandang Ahimsa yang membungkukkan setengah badannya. Hingga posisi wajah mereka sangat dekat.
" Apa?"
" Kamu sexy..", ungkapan jujur Ahimsa langsung mendapatkan pukulan di kepala Ahimsa. Sevim memukulnya menggunakan buku agenda yang kebetulan di pegang oleh Sevim.
" Aw....sakit..",
" Bohong, cuma ditimpuk pelan aja ngaku sakit.."
" Hehehe, kalau lagi jutek gini kamu makin cantik loh.."
" Gombal.."
" Ya udah, aku balik dulu. Mau makan siang bareng nggak.."
" Nggak, aku sama mbak Rani aja..", ucapnya sambil menggelengkan kepala "
" Aku juga kayaknya nanti mau ketemu sama klien. Bye..Se.."
" Hmmm ",
Sepanjang perjalanan Ahimsa di koridor, Sevim menatap punggung lelaki yang menjadi calon suaminya. Tampan memang, tapi sayangnya Sevim tidak cinta. Sesungguhnya Sevim masih ingin menikmati masa mudanya, bekerja keras mengumpulkan uang sampai dia rasa cukup untuk mewujudkan cita-citanya.
" Vim..ada yang mau kamu ceritain nggak? ", tanya Rani. Saat ini mereka sedang menikmati makan siang di kantin. Dan...., lagi-lagi Sevim menjadi pusat perhatian. Pegawai lain yang juga sedang menikmati istirahat , mereka juga nampak memandangi Sevim sambil berbisik-bisik. Sepertinya mereka bergosip tentang Sevim .
" Ceritain apa mbak?"
" Jangan pura-pura, aku sudah tau. Tadi pagi pergi bareng sama mas Himsa, semalem habis makan malam kan?"
" Hah.."
" Iya kan? udah..nggak usah kamu tutupin. Pegawai disini udah tau semua. Di grup udah rame.."
" Mana? ponselku adem ayem.."
" Iyalah, kan kamu udah di kick dari grup sama mbak maya.."
" Hah.., bentar-bentar ", ucapnya sambil mengusap ponselnya.
Rani memperhatikan raut muka Sevim yang berubah menjadi serius.
" Loh..iya mbak.."
" Kamu kan calon mas Himsa, jadi dikeluarin dari grup. Mana berani kita ghibah tapi ada anggota keluarga Sanjaya. Mau cari mati?"
" Mbak..maaf aku nggak bermaksud bohong. Aku baru tau semalem kalo memang aku yang jodohin sama Himsa.."
" Kok bisa.."
" Papaku sama Mami Himsa punya janji sama pak Adi mbak..untuk jodohin aku sama Himsa"
" Aku seneng dengernya. Kapan nikahnya?"
" Dua bulan lagi..mbak Rani nggak tanya aku terima apa nggak perjodohan ini?"
" Nggak..aku tau jawabannya pasti nggak kan? tapi sayangnya kamu nggak bisa nolak.."
" Mbak Rani kok tau?"
" Aku kan tadi nggak sengaja denger Himsa ngomong waktu aku nganter minuman buat kalian?"
" Oh iya...terus menurut mbak Rani, aku harus gimana?"
" Mau nggak mau kan kamu harus terima, jadi..jalanin aja. Cinta ada karena biasa.."
" Dih..mbak Rani udah kayak mama ku aja"
" Usiaku itu 5 tahun di atas kamu, jadi yang pasti aku lebih dewasa dari kamu.."
" Hmmm, tapi aku belum bisa buka hati mbak. Takut, ini pengalaman pertamaku "
Uhuk..uhuk..
Rani tersedak mendengar ucapan Sevim barusan.
" Maksudnya? Kamu belum pernah jatuh cinta Vim? "
Sevim menggeleng sambil tersenyum kecut.
" Kenapa? Atau jangan-jangan...kamu nggak suka laki-laki Vim?"
" Enak aja.., aku masih normal mbak. Aku nggak pernah punya temen mbak. Mereka takut, kemana-mana aku kan dibuntuti sama Bodyguard. Tapi, semenjak kerja disini udah nggak.."
" Sampe segitunya ya Vim.."
" Iya..lagipula setiap punya temen, mereka kayak manfaatin aku aja mbak. Jadi aku juga harus hati-hati. Mau cari temen yang tulus.."
" Kamu percaya sama aku Vim?"
" Percaya, setiap yang deket sama pak Adi, pasti udah lulus kualifikasi kan",
" Iya betul, pak Adi juga pasti tau backgroundku kayak apa. Jangan khawatir, aku tulus temenan sama kamu"
" Iya mbak, makasih ya.."
Sevim sepertinya harus memutar otaknya kembali. Nanti saat berbicara kembali dengan Ahimsa, dia harus memperoleh solusi yang tentu saja memberikan keuntungan baginya. Tapi, bagaimana dengan anak? Apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia menjalani pernikahan sesungguhnya dengan Ahimsa?
semoga ad kelanjutan season 2nya
Selamat ya Sevim untuk kelahiran baby girl