Andai Hugo mencintainya, Ana akan memilih untuk tetap bertahan dan tinggal di rumah besar itu bersamanya. Tapi Hugo tak mencintainya, pria itu membencinya karena menganggap Ana telah menipunya hingga terpaksa harus menikahinya.
Ana memilih pergi setelah menandatangani surat gugatan cerai dari Hugo. Dengan sisa uang yang di milikinya, Ana memulai kehidupan barunya di kota lain seorang diri.
Tiga tahun berlalu, kabar mengejutkan datang dari salah satu kerabat Hugo yang tanpa sengaja bertemu dengannya. Ana dihadapkan pada satu pilihan sulit, hingga pada akhirnya Ana memutuskan datang menghadiri pemakaman mantan papa mertuanya.
Pertemuannya kembali dengan Hugo memberinya kesadaran baru, bahwa jarak dan waktu tak mampu mengikis rasa cintanya pada pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonAden119, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Mendadak pulang
Sarapan bersama, itu yang Ana lakukan bersama Hugo pagi harinya. Hubungan mereka yang semula kaku, mengalami banyak perubahan sejak peristiwa mati lampu semalam. Tentu saja hal itu membuat Ana senang. Seterusnya Ana berharap hubungan mereka akan membaik.
“Berapa lama Kau akan menetap di sini, Ana?” Tanya Hugo setelah menghabiskan kopinya.
Ana mengunyah pelan rotinya, menunggu beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Hugo padanya. Ia minum terlebih dahulu, menaruh kembali cangkir tehnya ke sisi kiri meja lalu menautkan kedua tangannya ke atas meja.
“Tadinya Aku berencana pulang setelah pemakaman papa.” Ana melayangkan pandangannya tepat ke manik mata Hugo, ia tersenyum penuh rasa ingin tahu. “Tapi sepertinya Aku harus menunda kepulanganku, karena kehadiranku masih dibutuhkan di sini.”
“Oh, ya?” Hugo menautkan alisnya, lalu teringat pada wasiat papanya. Ia bisa menebak maksud ucapan Ana padanya.
“Aku menyukai rumah ini. Begitu banyak kenangan yang terjadi di sini. Aku berharap papa mewariskannya untukku.” Mata Ana tampak berbinar, ia lupa sedang berhadapan dengan Hugo yang menatapnya dengan kening berkerut dalam.
“Kalau Kau suka tinggal di rumah ini, Kau boleh memilikinya.”
Ana ingat papa pernah mengatakan itu padanya, saat ia menemani papa berjalan-jalan di taman belakang rumah. Waktu itu Ana hanya tertawa menanggapinya. Tapi sepertinya papa serius dengan ucapannya.
“Aku tak akan menarik ucapanku padamu. Kau pemilik rumah ini nanti.”
“Rasanya Aku sudah tak sabar ingin mendengar syarat apa yang akan diajukan papa untukku, demi mendapatkan aset yang sudah dijanjikannya padaku.” Senyum di wajah Ana semakin mengembang. Tidak lama lagi ucapan papa waktu itu akan segera terbukti.
Apa yang diucapkan Ana bukan sekedar alasan, apalagi setelah kedua pengacara Mayapada mengatakan pada mereka bahwa Ana adalah salah satu penerima warisan sesuai dengan nama yang diwasiatkan papa Fitra. Ia berharap rumah besar itu diwariskan papa padanya, seperti ucapannya waktu itu. Membayangkannya saja membuat Ana kembali tersenyum bahagia.
Hugo balas menatap Ana tajam. Terlihat sekali kalau wanita itu sangat menginginkan harta warisan papanya. Tadinya ia pikir sarapan pagi kali ini akan sangat menyenangkan, tapi ternyata ia keliru. Ia tak suka dengan sikap Ana yang penuh kepura-puraan. Menangis sedih karena kehilangan, tapi tersenyum bahagia saat akan mendapatkan warisan papanya.
“Apa yang sudah Kau lakukan untuk papa hingga ia bersedia mewariskan hartanya untukmu? Apa kalian melakukan perjanjian rahasia di belakangku? Katakan, Ana!” Hugo mulai tak sabar dan terpancing emosi.
“Aku tidak melakukan sesuatu yang buruk seperti yang Kau sangkakan!” Ana tersadar dan sedikit gugup, dan Hugo tahu itu. Mendadak suasana menjadi tegang, Ana merasakan aroma permusuhan kembali hadir pada diri laki-laki itu. “Aku wanita terhormat, tak akan melakukan hal buruk yang akan mencoreng nama baik orang-orang yang sudah berlaku baik padaku selama ini.”
“Wanita terhormat katamu?” Hugo menatapnya sinis. “Wanita terhormat tidak akan berlaku buruk dengan menjual harga dirinya. Menipu dan menjebak laki-laki yang diinginkannya atas dasar tuduhan perbuatan asusila, demi bisa menikah dengannya. Faktanya, apa yang dituduhkannya pada laki-laki itu sama sekali tidak pernah terjadi.”
Ana benar-benar malu diingatkan kejadian malam itu. Wajahnya memerah, matanya mulai memanas. Dipalingkannya wajahnya menatap ke arah lain, luka di hatinya yang dengan susah payah ia obati kembali terbuka. “Kau datang dalam keadaan mabuk berat, bagaimana mungkin Kau bisa mengingat kejadian malam itu?”
“Tatap mataku saat bicara denganku, Ana!” geram Hugo.
Ana berusaha keras mengumpulkan keberaniannya demi melawan kekuatan Hugo, karena sudah tak ada papa lagi yang akan membelanya di rumah ini. Ia nyaris berdiri menantang di hadapan Hugo. “Apa Kau sudah selesai bicara tuan muda Hugo Denis yang terhormat?”
“Kau pikir Kau bisa menutupi semuanya dariku. Kau salah besar! Aku bukan anak ingusan yang bisa Kau bodohi.” Hugo belum selesai bicara. Ia menumpahkan kekesalan hatinya atas sikap diam Ana dan apa yang terjadi selama ini padanya. Ana bungkam, tak juga mau bicara mengungkapkan kejadian sebenarnya dan terkesan melindungi papanya. Meski Hugo mencecarnya dengan kata-kata pedas.
Ayolah, Ana! Bicara yang sebenarnya, dan Aku akan mendengarnya.
“Aku harap Kau betah tinggal di sini. Jangan takut, Aku tak akan mengusikmu. Nikmati saja harimu dengan baik.”
Hugo pergi meninggalkannya setelah mengingatkan Ana untuk datang siang nanti di kantor pengacara Mayapada. Ana terduduk lemas, ia mengira Hugo telah berubah. Ternyata laki-laki itu masih tetap membencinya.
“Sabar, Non.” Bik Ani muncul dati arah dapur, berdiri di belakang Ana sambil mengusap lembut bahunya.
Ana tertawa sumbang, ia sadar diri kalau sikapnya tadi sudah berlebihan. Tak seharusnya ia mengatakan apa yang menjadi impiannya di saat Hugo sedang berduka. Ia seperti perempuan yang gila harta. Makam papa belum kering sepenuhnya, tapi ia dengan entengnya membahas soal warisan.
“Bukan salah Hugo, Bik. Aku yang salah, sengaja memancing keributan.” Ana menangkup tangan bik Ani, lalu beranjak dari kursinya. “Aku ke kamar dulu ya, Bik.”
“Silakan, Non.” Bik Ani menatap iba pada Ana yang melangkah gontai menuju anak tangga ke lantai dua kamarnya. Ia berharap Ana mendapat kebahagiaan dalam hidupnya meski tak lagi bersama Hugo.
Ana merebahkan tubuhnya di atas ranjang, matanya menatap langit-langit kamar dengan pikiran menerawang. Ia tak berdaya saat diingatkan tentang kejadian memalukan malam itu, saat dirinya bersama Hugo. Lelaki itu menyentuh bagian tubuhnya yang tertutup meski tak sampai melakukan hal di luar batas, Hugo keburu pingsan.
Harusnya tadi mereka berbincang akrab seperti yang terjadi semalam. Lelaki itu bahkan membiarkan Ana menyentuhnya, memeluk dan menempel ketat padanya. Tapi pagi ini mereka kembali ribut, seperti yang sudah-sudah setelah Hugo dulu mengetahui kalau dirinya ternyata masih suci.
Aarghk! Ana mengacak rambutnya hingga berantakan. Mengusap kasar wajahnya dan berlanjut dengan menendang guling hingga terlempar mengenai meja rias, membuat beberapa benda yang ada di sana ikut terjatuh.
Tak lama terdengar suara ponselnya bergetar, dengan langkah malas Ana turun dari ranjang dan meraihnya. Matanya membulat sempurna begitu melihat banyak notifikasi dan pesan yang masuk.
“Kila? Ada apa menelponku dari tadi?” banyak panggilan tak terjawab dari Kila yang baru terbaca olehnya. “Hhah? Gak salah, ini anak telpon dari jam 6 pagi?”
Ana, please angkat telponnya!
Ana, tolong segera hubungi Aku secepatnya.
Anaaaa!!!
Ana terus menggeser jarinya ke atas, membaca pesan dari Kila. Baru saja ia ingin menghubungi sahabatnya itu, ponselnya berdering. Ana segera mengangkatnya, dan Ana terkejut bukan main begitu mendengar Kila menangis terisak.
“Anaa, cepat pulang. Kafe kebakaran, Aku gak mau sendirian di sini. Aku mau Kamu pulang sekarang.”
“A-pa? Kebakaran?!”
“Buruan balik sekarang, Ana. Aku butuh Kamu.”
“Iy-ya. Aku balik sekarang. Kamu tenang, ya. Aku balik sekarang.”
Tanpa pikir panjang Ana langsung berkemas, segera turun menemui bik Ani dan berpamitan tanpa menjelaskan alasan kepergiannya. Ia terburu-buru hingga tidak sempat meninggalkan pesan apa pun pada Hugo, pikirannya hanya tertuju pada Kila dan apa yang terjadi di sana.
Ana melupakan janjinya bertemu dengan pengacara Mayapada dan Hugo yang menunggu kedatangannya dengan tak sabar. Sampai batas waktu yang ditentukan pertemuan mereka terpaksa ditunda, karena pembacaan wasiat papanya harus dihadiri oleh mereka berdua.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎
karya ini mengandung rasa cinta dan kasih 🌹