"Dasar gadis nakal"
~Adriano Zergio Alviano Gerald~
.
.
.
.
.
"Enak aja, saya itu bukan gadis nakal yha Pak"
~Alana Dirgantara~
***
Cerita tentang perjodohan antara putra tunggal keluarga Gerald dan putri tunggal keluarga Dirgantara yang telah lama direncanakan oleh kedua keluarga tersebut.
Adriano yang ditugaskan Daddynya menjadi seorang dosen di universitas ternama untuk mengawasi calon menantunya. Sayangnya di hari pertamanya menjadi seorang dosen Adriano harus mengalami kesialan. Pertemuannya dengan Alana, gadis cantik pilihan orang tuanya. Alana yang ingin memukul temannya malah salah sasaran dan malah memukul wajah Adriano. Bagaimanakah akhir dari kisah cinta mereka, yang diawali dengan pertemuan yang terduga. Apakah akan berakhir bahagia ataukah berakhir dengan perceraian? Tetap stay tune di novel ini guys
Happy reading guys🖤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hoshinomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Siapa Wanita Itu?
...Happy Reading Guys🖤...
.......
.......
.......
.......
.......
*Alana Pov On
Setelah kelas Pak Adrian aku langsung pulang karena sudah tidak ada kelas lagi sedangkan Pak Adrian memiliki satu jadwal mengajar lagi. Sebenarnya Alana masih memiliki satu kelas lagi setelah kelas matkul statistika tapi karena berhubung dosennya berhalangan hadir maka kelas sore itu dibatalkan dan Alana memilih untuk pulang ketimbang harus disuruh untuk lanjut merekap nilai-nilai adik tingkatnya tersebut
"Guys gue pulang dulu" ujarku
"Lo mau langsung pulang nih, gk mau nongkrong dulu di kantin bareng kita-kita?" Tanya Bella
"Pengen sih, tpi gue males" Balasku
"Tumben, biasanya lo yang paling semangat kalo diajak nongkrong" balas Bella
"Sebenernya gue pengen banget ikut nongkrong bareng kalian, tapi masalahnya Pak Adrian malah nyuruh gue buat lanjutin ngrekap. Berhubung gue males banget kalo harus lanjutin tuh rekapan jadi gue buat alesan kalo gue mau pulang karena ada acara keluarga. Nanti kalo gue ikut kalian nongkrong terus gk sengaja ketemu pak Adrian, yang ada gue malah dimarahin panjang lebar dan gue males kalo harus dengerin ceramahannya" jelasku dengan setengah berbohong
"Ekhem-ekhem, ada yang PDKT nih" ledek Arka
"PDKT pala lo" seruku sembari memukul kepala Arla menggunakan buku yang kubawa
"Akkhhh" rintih Arka sembari mengusap kepalanya
"Dahlah, gue mau pulang dulu bye" ucapku sembari berjalan pergi
Setelahnya Alana pergi ke parkiran untuk mengambil motornya, kemudian dengan kecepatan tinggi Alana mengendarai motornya meninggalkan area kampus.
Alana tidak langsung pulang, ia motoran mengelilingi perkotaan dan berhenti di pantai. Ia memarkirkan motornya dan setelahnya ia pergi ke tepi pantai.
"Huft...huuuu" Alana menghirup panjang udara lalu menghembuskannya secara perlahan
"Pantai memang tempat yang cocok sih kalo buat nenangin pikiran dari tugas-tugas kampus" ucapku sembari berjalan ke arah sebuah ayunan
Alana duduk di ayunan tersebut sembari menutup matanya dan menikmati setiap hembusan angin pantai yang sangat menyejukkan. Ada banyak anak-anak yang berlarian di tepi pantai, sungguh pemandangan yang sangat indah.
......................
Sembari menunggu jam makan malam tiba, Alana duduk di ayunan yang ada di halaman belakang rumah sembari memainkan ponselnya, tak lama setelahnya terdengar suara mobil berhenti di depan.
"Udah pulang tuh orang ternyata" gumamku
Setelahnya gue masuk ke dalam rumah dan pergi ke kamar, saat gue membuka kamar terlihat pak Adrian yang sedang tiduran di atas ranjang dengan lengan baju yang sudah disingkap hingga siku, dasi yang sudah tidak pada tempatnya alias sudah ada dilantai juga jasnya yang berada tak jauh dengan dasinya. Tangan kanan berada di atas menutupi sebagian wajahnya sedangkan tangan kirinya berada di atas perutnya
"Bisa cape juga nih orang ternyata, kirain gk bisa" gumamku
"Pak bangun, atau kalo emang mau tidur mandi dulu pak biar gak ada kuman yang ikut nempel" ucapku sembari menepuk pelan tangannya namun tidak ada pergerakan sama sekali
"Pak bangun astaga, katanya kalo abis dari luar harus bersih-bersih dulu ini malah langsung tidur. Bapak sendiri loh yang bilang, ayo bangun pak"ucapku sembari menepuk tangannya dengan lebih keras
"Hm"balasnya dengan deheman
Setelahnya pak Adrian bangun dari tidurnya dan berjalan ke arah kamar mandi namun sebelum itu pak Adrian sempat berbalik dan meminta gue buat nyiapin baju gantinya
"Oiya siapin baju saya, taruh saja di atas ranjang. Nanti biar saya ambil sendiri" ucap Pak Adrian lalu kembali berjalan ke arah kamar mandi
"Iya pak" balasku
gue pergi ke arah lemari dan memilihkan beberapa bajunya setelah semuanya siap, gue pergi turun ke ruang makan dan menunggunya di sana.
Setelah menunggu sekitar 20 menit pak Adrian akhirnya turun setelahnya kami makan malam dengan tenang, setelah selesai menghabiskan makanan pak Adrian pergi ke ruang kerjanya sedangkan gue kembali ke kamar untuk menyelesaikan tugas makalah yang akan dikumpulkan besok lusa
*Kamar
gue mulai menyalakan laptop dan membuka beberapa modul untuk mencari referensi yang cocok untuk materi tambahan di makalah. Hampir tiga jam gue memandangi laptop dan mata gue mulai lelah karena terlalu lama berhadapan dengan sinar radiasi dari laptop.
"Okey Al semangat, gue harus semangat" ucap gua untuk menyemangati diri gue sendiri
Di saat gue udah mulai kembali fokus belajar, terdengar suara pintu terbuka. Reflek gue nengok ke arah pintu dan ternyata itu adalah pak Adrian, dan seketika semangat gue hilang entah kemana setelah ngeliat wajah datarnya pak Adrian.
"Kenapa?" tanya pak Adrian
"Apanya pak yang kenapa?" tanyaku balik karena tidak tahu apa yang pak Adrian maksud
"Hufft..." pak Adrian menghela nafas berat
"Lah napa nih orang" ucapku di dalam hati
"Maksud saya, kenapa dengan raut wajah kamu itu" ucap pak Adrian sembari menunjuk ke arah wajahku menggunakan jari telunjuknya itu
"Hah? wajah saya emang kenapa? Orang wajah saya baik-baik saja gini lho" ucapku sembari melihat pantulan wajahku dari pantulan layar ponsel
"Huuffftt..." sekali lagi pak Adrian menghela nafas beratnya kali ini lebih panjang
"Lah nih orang sebenernya kenapa sih? udah aneh dari awal sekarang malah nambah aneh aja" ucapku di dalam hati
"Muka kamu kenapa cemberut aja dari tadi?" tanya pak Adrian
"Dih mana ada saya cemberut, nggak ada yha" elakku, sejujurnya gue emang rada kesel sih sama nih orang gara-gara nunjuk gue buat jadi PJnya
"Nggak cemberut apanya, orang dari saya lihat kamu aja muka kamu udah cemberut gitu. Kamu emang lagi kesel sama orang?" ucap Pak Adrian
"Nggak pak, saya itu nggak cemberut dan saya gk marah sama siapapun. Bapak khawatir yhaa sama saya" ucapku
"Nggak, ngapain saya harus khawatir sama kamu. Saya cuma mau bilang muka kamu itu udah jelek dan sekarang malah sok-sokan dibikin kayak gitu yang ada muka kamu tambah jelek Al" ucapnya dengan santainya
gue yang mendengarnya pun seketika naik pitam, gue mengambil guling yang ada di samping gue dan melemparnya ke arah pak Adrian.
//Bugh
"Akhh" Rintih pak Adrian kala guling tersebut mendarat dengan sempurna di wajah pak Adrian
"Nah lo mampus haha, salah lo sendiri pake nyebut kalo gue ini jelek" ucapku di dalam hati
"Kamu.."ucap pak Adrian sembari menunjuk ke arahku dengan jari telunjuknya
"Apa?!" tantangku
"Berani kamu sa-"Belum sempat pak Adrian menyelesaikan perkataannya, gue lebih dulu memotong perkataannya itu
"Dih yha berani dong, ngapain coba saya harus takut sama bapak. Lagian nih pak kita itu sama-sama makan nasi, jadi nggak ada yang perlu saya takutin dari bapak" ucapku
"Dan satu lagi nih pak, ini itu salahnya bapak. Makanya saya sampe lempar bapak pake guling" imbuhku
"Kenapa jadi saya yang disalahin?" tanyanya sembari mengangkat sebelah alisnya
"Iya dong salah bapak, disaat semua orang selalu bilang kalau saya itu gadis yang sangat cantik bak bidadari yang turun dari langit hehehe"ucapku sambil terkekeh
"bapak malah dengan seenaknya nyebut saya ini jelek" lanjutku sembari memasang wajah datar
Pak Adrian menatapku seolah-olah bahwa ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang ku katakan
"Kalo bapak nggak percaya coba deh tanya sama orang-orang saya cantik atau nggak, mereka pasti bakal jawab kalo saya itu cantik. Dan mereka pengen punya putri kaya saya atau kalau nggak mereka pengen punya menantu cantik kaya saya" ucapku dengan tersenyum bangga
"Saya ingetin nih, mending kalo bermimpi jangan tinggi-tinggi takutnya kalo kamu nanti jatuh terus nggak ada yang nangkep kan sakit" ucapnya
"Dih yang bermimpi juga siapa sih pak, lagian itu nyata kok soalnya udah banyak yang bilang kaya gitu ke saya. Palingan juga mata bapak yang rusak, masa gadis secantik saya malah di bilang jelek"ucapku dengan nada kesal
"Bukan mata saya yang rusak, tapi mata mereka karena nggak bisa bedain mana yang cantik mana yang jelek" ucap pak Adrian
"Lah, berarti mommy sama daddy matanya rusak juga dong, karena milih saya buat nikahin bapak" ucapku
"Iya, mata mereka juga rusak karena gk bisa bedain mana yang cantik dan yang jelek. Nih kalo kamu pengen tau siapa gadis cantik menurut saya" ucap Pak Adrian sembari menunjukkan ponselnya ke arahku
"Dih tampang kaya badut aja disebut cantik, emang mata bapak rusak nih. Masih cantikkan saya mana kalo dia make up'an tebelnya setebal dinding china" ucapku setelah melihat foto itu
"Btw itu siapa pak? Kok dia foto bareng bapak?" imbuhku
"Kamu tidak perlu tau dia siapa, dan satu hal lagi jangan pernah sebut dia seperti badut jika kamu memang tidak bisa menyaingi dirinya" Ucap pak Adrian dengan penuh penekanan, setelahnya ia pergi meninggalkan kamar
"Dih kok marah, dasar orang aneh" ucapku sembari mematikan laptopku dan membereskan beberapa modulku karena gue udah gak mood buat ngelanjutin belajar. Setelah semuanya rapi Alana mulai membaringkan tubuhnya dan perlahan-lahan pergi ke alam mimpi
*Alana Pov Off
...****************...
*Adrian Pov On
Setelah mengatakan hal itu kepada Alana Adrian pergi meninggalkan Alana dan pergi ke ruang kerjanya.
"Sh*t, kenapa aku bisa sampai kelepasan seperti itu." ucapku dengan perasaan menyesal karena telah membentak Alana
"Tidak seharusnya aku mengatakan hal itu padanya.Memang tidak seharusnya aku menunjukkan foto ini, aku benar-benar menyesal telah mengatakan itu. " imbuhku sembari melihat foto itu
Adrian terus memaki dirinya-sendiri sembari ia mengerjakan pekerjaan kantornya. Karena perasaan bersalah itu Adrian memilih untuk tetap di ruang kerjanya dan tidur di sana hingga pagi
*Adrian Pov Off
.
.
.
.
.
----------------------------------------*----------------------------------------
Hai hai...
Saya kembali lagi nih hehe. Oiya mohon maaf yha guys kalo banyak typo atau kata-kata yang tidak sesuai dengan KBBI, soalnya saya masih belajar hihi😁🙏🏻
Btw jan lupa vote dan tinggalin komen guys
Biar Alana tau penyebabnya dan gak ngambek lagi 😣😣😣😣😣
btw2 lama bet pada bucin nya
kapan datang nya ini mh Adrian junior 😅