Novel ini mendapatkan hadiah kooperatif di event air mata pernikahan 3.
Rangga sengaja menikahi Cinta untuk membalaskan dendam atas kematian adiknya. Rafael, adik Rangga, memilih bunuh diri karena ditolak oleh Cinta.
Selama pernikahan, Cinta hanya mendapatkan kekerasan fisik maupun psikis. Semua itu, Rangga lakukan untuk memenuhi misi balas dendamnya.
Sampai kapankah Rangga melakukan KDRT pada Cinta? Apakah Cinta akan tetap bertahan dalam rumah tangga yang seperti neraka itu?
Jangan lupa tekan favorit sebelum lanjut baca. Terima Kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Ibu Menyusul Ayah
Cinta masih saja terus menangis. Saat ini dia sedang menunggu Rangga mengurus kepulangan jenazah ayahnya. Wanita itu masuk ke ruang rawat ibu. Dia menggenggam tangan ibunya yang masih belum sadar dan membuka mata.
"Ibu, aku akan mengurus jenazah ayah. Ibu jangan kuatir jika aku tinggalkan. Aku pasti akan kembali. Ibu harus tetap berjuang. Aku akan menunggu hingga Ibu sadar. Aku tidak akan pergi. Nanti setelah sembuh, aku akan minta izin Rangga agar Ibu bisa ikut bersamaku." Cinta bicara dengan air mata terus tumpah membasahi pipinya.
Setelah cukup lama bicara dengan ibunya, Cinta keluar dari ruangan. Di dalam juga tidak diizinkan untuk lama.
Rasanya telah banyak air mata yang Cinta keluarkan, hingga matanya bengkak. Namun, masih saja air mata itu tumpah, seakan tidak mau kering. Rangga datang menghampiri istrinya. Cinta langsung berdiri, ingin tahu tentang kehilangan ayahnya.
"Bagaimana, Mas? Apa jenazah ayah telah bisa di bawa pulang?" tanya Cinta sendu.
"Semua telah beres. Kamu mau tetap di sini atau ikut mengurus penguburan jenazah ayah?" tanya Rangga.
"Aku ikut pulang, Mas. Ibu juga belum sadar."
"Kalau gitu, cepatlah! Jenazah akan segera di bawa pulang."
"Mas, aku pamit dengan ibu dulu." Cinta minta izin pada perawat yang menjaga ibunya.
Cinta duduk di samping tempat tidur ibu. Menggenggam tangan wanita itu yang tampak sudah berkerut.
"Bu, aku pamit dulu. Ibu jangan takut. Aku pasti akan segera kembali setelah penguburan Bapak selesai. Ibu cepat sadar, ya. Hanya Ibu yang aku miliki saat ini. Kuat ya, Bu." Setelah mengucapkan itu, Cinta mengecup dahi ibunya.
Di luar Rangga menunggu dengan gelisah. Saat melihat Cinta yang keluar dari ruangan dengan langkah pelan, pria itu tampak geram.
"Apa kamu tidak bisa melangkah lebih cepat. Jenazah ayah akan segera dipulangkan. Dokter itu banyak kerjaan lain. Bukan hanya menunggu kamu!" ucap Rangga dengan sedikit emosi.
"Maaf, Mas." Hanya itu yang Cinta ucapkan. Dia mengikuti langkah suaminya. Jenazah ayah telah dimasukkan ambulan. Rangga dan Cinta mengikuti mobil ambulans yang berjalan menuju ke rumah.
Sampai di rumah, telah banyak pelayat menunggu. Rangga telah menghubungi kepala desa dan meminta mengurus semuanya. Dia yang akan membayar semua biaya.
Salah seorang sahabat Cinta yang bernama Triana, langsung memeluk tubuhnya saat wanita itu baru keluar dari mobil.
"Tri, ayah telah pergi. Ayah meninggalkan aku. Padahal dia janji akan bersamaku hingga aku tua," ucap Cinta sambil menangis dalam pelukan sahabatnya itu.
"Sabar, Cinta. Kamu harus mengikhlaskan kepergian ayah. Mungkin ini yang terbaik bagi ayah. Dia tidak merasa sakit lagi," ucap Triana.
Cinta menumpahkan tangisnya dalam pelukan sahabatnya itu. Dari tadi ini yang Cinta butuhkan. Pelukan hangat dari seseorang. Setelah melihat Cinta puas menangis, Triana mengajak wanita itu masuk.
Baru saja Cinta akan duduk, dia dihampiri Rangga. Memintanya kembali ke rumah sakit.
"Kamu di minta segera ke rumah sakit. Ibu kritis," ucap Rangga.
Tubuh Cinta makin terasa lemas mendengar ucapan dari suaminya. Beruntung Triana langsung memeluknya.
"Tri, ibu pasti sembuh 'kan? Ibu tidak akan meninggalkan aku 'kan?" tanya Cinta dengan terbata.
"Berdoa saja pada Tuhan. Hanya itu yang dapat kita lakukan saat ini. Aku temani kamu ke rumah sakit," ujar Triana.
Di antar supir, Cinta dan Triana kembali ke rumah sakit. Wanita itu memohon pada Rangga untuk dapat mengurus penguburan jenazah ayah.
Sampai di rumah sakit, Cinta kaget melihat semua alat yang melekat di tubuh Ibu sedang di buka perawat. Tentu saja wanita itu tidak bisa terima.
"Kenapa kalian membuka semua alat kesehatan di tubuh ibuku. Aku akan membayar berapa pun biayanya. Tolong pasangkan lagi," ucap Cinta memohon.
Dokter yang kebetulan ada diruangan itu menghampiri Cinta. Wajahnya tampak sedih. Dia menghirup napas dalam, sebelum bicara. Cinta menunggu dengan tidak sabar.
"Dok, katakan apa yang terjadi? Kenapa alat bantu kesehatan untuk ibu dicopot semuanya?" tanya Cinta.
"Maaf, Bu. Ibu anda telah meninggal sepuluh menit yang lalu. Kami ikut berduka cita. Semoga ibu tabah menghadapi semua ujian ini. Ibu harus mengikhlaskan semuanya." Dokter itu bicara pelan dan hati-hati. Cinta langsung memeluk tubuh ibunya.
"Ibu, ini pasti bohongkan. Ibu tidak mungkin meninggalkan aku. Nanti aku sama siapa, Bu. Bangunlah, Bu. Jika ibu dan ayah pergi, tolong bawa aku juga. Aku tak mau sendirian. Ibu bangunlah!" ucap Cinta dengan terisak. Triana memeluk tubuh sahabatnya itu. Air matanya juga tidak bisa dibendung membasahi pipi.
"Aku hanya bisa menyesali kegagalan yang aku alami. Aku yang seharusnya bisa menjadi seseorang yang kalian banggakan, justru mengecewakan kalian. Hanya kata maaf yang bisa aku ucapkan atas kegagalanku untuk membahagiakan kalian. Beribu kata maaf yang aku ucapkan kepada kalian, tidak akan pernah bisa menghapus segala kesalahan yang pernah aku lakukan. Aku yang selama ini sibuk dengan dunia sendiri, hanya bisa menyesali apa yang telah aku lakukan selama ini. Aku lupa bahwa ada yang lebih penting dibandingkan kebahagiaan diriku sendiri yaitu kebahagiaan kalian berdua. Ayah dan Ibu, maafkan anakmu ini."
**
Akhirnya jenazah ibu juga dibawa pulang. Penguburan akan dilakukan serempak dengan jenazah ayah. Cinta meminta kedua orang tuanya berada dalam satu liang lahar. Tidak ada lagi yang bisa Cinta ucapkan. Air matanya juga terasa kering. Lidahnya kaku. Hanya dapat memandangi orang-orang yang melakukan penguburan untuk jenazah ayah dan ibunya.
Semua pelayat telah pulang termasuk Rangga suaminya. Hanya tersisa Cinta dan sahabatnya beserta tetangga dekat saja.
Cinta duduk di samping kuburan Ayah dan Ibu, dengan air mata berlinang di pipinya. Ia merasa kesepian dan hampa tanpa kehadiran kedua orang tuanya yang begitu dicintainya.
“Kenapa kalian harus pergi secepat ini? Aku akan sangat merindukan kalian.Apakah aku akan sanggup menjalani hidup ini tanpa kalian, ayah dan ibu,” gumam Cinta dengan suara gemetar.
Cinta memandang foto kedua orang tuanya yang terpajang di depan kuburan. Mereka terlihat bahagia, tersenyum lebar, dengan mata yang penuh kasih sayang. Cinta merasa sedih, karena dia tidak akan pernah bisa melihat mata itu lagi.
"Ayah, ibu …,” lirihnya sambil menghela napas.
Kemudian, dia meraba-raba sakunya dan mengambil kotak kecil berwarna biru. Cinta membuka kotak itu dan mengeluarkan gelang perak yang pernah dibuatkan oleh Ayahnya. Cinta memandang gelang itu dan ingat betapa senangnya dia saat menerima hadiah itu dari Ayahnya.
“Aku selalu akan memakai gelang ini di pergelangan tanganku, sebagai tanda cintaku untuk kalian,” kata Cinta dalam hati.
Triana memeluk sahabatnya Cinta. Dapat dia rasakan kesedihan wanita itu.
“Mereka tidak akan kembali lagi,” kata Cinta. “Aku merindukan mereka, Triana. Aku tidak tahu bagaimana hidupku akan berlanjut tanpa mereka.” Teman Cinta merangkulnya erat.
“Ayah dan Ibu selalu akan memandangimu dari langit dan menemanimu dalam setiap langkahmu,” kata Triana sambil mengelus kepala Cinta.
Hujan turun membasahi bumi, tapi Cinta tidak mau beranjak dari kuburan. Triana tetap menemani. Keduanya hanya duduk di samping kuburan. Tanpa suara, dan hanya mendengarkan deraan hujan yang berdengung di sekeliling mereka. Seiring waktu, Cinta mulai mengingat kenangan indah dengan kedua orang tua yang dicintainya.
Mereka pernah mengunjungi pantai dan berenang bersama di sana, mengunjungi rumah saudara di pedesaan, merayakan ulang tahun Cinta walau hanya sederhana dan masih banyak lagi momen bahagia yang akan selalu teringat di ingatannya.
“Mereka selalu di hatiku,” gumam Cinta sambil mengusap air matanya.Triana memeluk Cinta erat dan menghiburnya dengan kata-kata yang penuh kasih sayang.
“Aku akan selalu di sini. Aku akan menemani kamu, Cinta. Kamu tidak akan pernah sendirian.”
Walaupun sedang berduka dan kehilangan kedua orang tua tercinta, Cinta merasa sedikit lega dengan kehadiran Triana.
“Terima kasih, Triana,” kata Cinta setelah sekian lama. “Aku merasa lebih baik sekarang.” Triana tersenyum dan meregangkan jemarinya yang menyatu dengan Cinta.
“Sudah waktunya kita pergi, Cinta. Hujan sudah berhenti dan rasanya kamu butuh istirahat.”
Mereka berdiri dan menyalami satu sama lain dengan tetangga yang masih setia menemani. Cinta memandang kembali ke arah kuburan Ayah dan Ibu dan mengucapkan selamat tinggal sebelum berjalan pergi.
Meskipun bencana datang dan merusak hidupnya, Cinta tidak mungkin terus larut dalam kesedihan. Dia tahu bahwa di mana pun Ayah dan Ibu berada sekarang, mereka akan senantiasa mengawasinya dan menuntun langkah-langkahnya. Tanpa kedua orang tua yang dicintainya, Cinta mungkin akan merasa kosong dalam hidupnya, tapi dia akan selalu ingat pesan ayahnya untuk menjadi wanita kuat.
...----------------...
arimbi:dibentak,diumban pelan,didorong sedikit lembut,dicium,disiram,lalu dibebas..walopun kekasihnya brsalah tetap dibalas sedikit lbh lembut drpda istri yg x bersalah
bukan nya td diawal cerita arimbi dibawa rangga ke rumah?? brt ini bukan pertemuan pertama donk...
cuma tetep ngga mau liat mm'pp mak ninggalin mak duluan 😭😭😭