Selalu dianggap jelek dan dihina oleh suami dan keluarganya, bahkan hingga diceraikan. Membuat Nadi Djiwa membalaskan dendamnya dengan merubah penampilannya, ia ingin membuat mantan suaminya menyesal karena telah menceraikannya, dan ia pun ingin merebut kembali perusahaan yang ia rintis dari nol.
Akankah Nadi berhasil membalaskan dendamnya? Cerita selengkapnya hanya ada di novel Beauty - NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Nadi dan Aaron sepakat menjalani masa penjajakan. Aaron ingin hubungan yang terjalin antara Alyssa dan Nadi berjalan secara alami tanpa ada yang di paksakan.
Malam itu Nadi berdandan cantik, dan mengenakan balutan dress hitam tanpa lengan dengan belahan rok yang tinggi, memperlihatkan kaki mulusnya yang jenjang. Ia sudah tidak sabar melihat reaksi mantan ibu mertua dan ipar-iparnya melihat perubahan penampilannya, ia ingin memperlihatkan bahwa dirinya pun bisa tampil cantik dan bukan beruang besar, ejekan yang di sematkan oleh mereka kepada Nadi.
Nadi beranjak dari meja riasnya ketika bel di kediamannya berbunyi, ia menyambut kedatangan Aaron dengan senyuman manis di wajahnya. Aaron terdiam untuk beberapa saat, ia menikmati keindahan yang ada di hadapannya. "Wow, kamu cantik sekali, Die," Aaron meraih tangan Nadi, kemudian menciumnya.
"Terima kasih." Sejak kepulangannya dari Korea, ia sudah terbiasa menerima pujian atas penampilan dan kecantikannya dari lawan jenis, sehingga Nadi tidak lagi tersipu malu atau GR atas pujian tersebut. "Bisa kita berangkat sekarang?"
"Tentu saja sayang," Aaron membukakan pintu mobilnya untuk Nadi, barulah ia memutar dan masuk ke mobilnya.
Uhuukk...
Bintang, sang mantan adik ipar yang dulu sering mengejek Nadi beruang besar, terbatuk ketika melihat Nadi masuk ke venue menggandeng Aaron Sakya Dharmananda. Ia berlari menghampiri kakaknya yang tengah asik menikmati lagu yang di lantunkan oleh biduan pengisi acara pernikahan Surya.
"Kak Senja..." Bintang menarik kakaknya menepi dari kerumunan. "Aku punya informasi penting."
"Apaan sih kamu ini," Senja hampir saja keseleo setelah di tarik paksa oleh adiknya. "Mengganggu kakak saja."
"Aku punya informasi yang lebih penting dari dangdutanmu itu."
"Apa?"
Bintang menunjuk ke arah Nadi dan Aaron yang tengah mengantri untuk bersalaman dengan Surya dan Cindy sembari mengobrol hangat dengan rekan bisnis mereka.
"OH.." Senja tercengang tak percaya melihat penampilan Nadi yang begitu cantik dan anggun. "Tidak, tidak. Mataku pasti salah lihat," Senja mengucek-ngucek matanya berharap kali ini penglihatannya salah, namun tak ada yang salah dengan penglihatannya, di seberang sana memang betul-betul Nadi yang pernah menjadi adik iparnya. "Pasti dia sedot lemak dan operasi wajah hingga bisa secantik itu!"
"Aku tidak peduli dia mau sedot lemak atau sedot ginjal. Yang membuatku kesal adalah dia datang bersama Pak Aaron, CEO Global Group," ucap Bintang dengan kesal.
"Kamu tahu dari mana jika pria yang di gandeng beruang besar itu CEO Global Group."
Bintang semakin kesal terlampau kurang update. "Aku pernah magang di sana kak. Kak Senja ini kudet sekali sih!!" ia memegang bahu Senja dan mengguncang-guncangkan tubuh kakaknya. "Aku sudah mengincar pak Aaron sejak lama, kenapa justru beruang itu yang berhasil menggandeng Pak Aaron? Aku benci dengannya kak, aku benci."
Senja menghempaskan tangan Bintang. "Berhentilah merengek Bintang!! Pria itu paling kena guna-guna dari si beruang, seperti abangmu dulu. Tidak lama lagi pria itu akan sadar dan menendang si Beruang. Lagi pula sekelas CEO mana mau dengan seorang janda mandul seperti dia. Lebih baik kau pepet saja terus agar pelet si beruang hilang."
"Benar juga ya. Pak Aaron tidak akan mau dengan beruang mandul seperti dia," gumam Bintang, ia mulai menyusun rencana untuk merebut Aaron dari Nadi. 'Acara ini kesempatan besar untuk mempermalukan beruang itu.'
Tak hanya Bintang dan Senja saja yang terkejut dengan kedatangan Nadi, Mentari dan Surya pun terkejut dengan kedatangan Nadi dan Aaron ketika mereka berdua hendak mendekat ke arah pelaminan. Surya sama sekali tak tahu menahu soal kedatangan Nadi, sebab Cindy-lah yang mengundng Nadi ke pesta pernikahannya. "Apa kau yang mengundang mereka?" bisik Surya.
Cindy mengangguk. "Tidak ada salahnya mengundang kompetitor dan kolega bisnis bukan?"
"Kenapa kau tidak izin dulu denganku?" Surya mengepalkan tangannya, matanya tertuju pada tangan Aaron yang melingkar di pinggang Nadi dengan mesra. Keduanya berbisik kemudian tertawa, Nadi terlihat bahagia berada di dekat Aaron.
'Brengsek! ternyata kau benar-benar wanita gatal dan matre,' gumam Surya, ia terus menyumpah-nyumpah sembari menatap tajam ke arah Nadi dan Aaron yang kian mendekat ke arahnya.
Sementara Mentari sendiri terkejut dengan perubahan penampilan Nadi, ia membuang wajahnya ketika Nadi mengulurkan tangannya untuk memberikan uncapan selamat. Mentari mendekat ke arah Cindy dan mengelus perut menantunya. "Apa kau capek sayang? Ibu hamil tidak boleh kecapean, kasihan cucuku di dalam sini jika ibunya kelelahan."
Nadi mengerutkan keningnya, baru kali ini ia menemukan seseorang yang dengan bangganya memamerkan kehamilannya dari hasil berzina. "Kita turun saja yuk," bisik Aaron, ia menggandeng tangan Nadi turun dari pelaminan dan bergegas keluar dari venue.
Langkah mereka terhenti ketika secara sengaja Bintang menabrakan dirinya ke tubuh Nadi, hingga minuman yang di pegangnya tumpah ke baju Nadi. "Ohh maaf, aku tidak sengaja," Bintang berpura-pura hendak membantu Nadi membersihkan pakaiannya, jemudian ia mendongak menatap Nadi. "Oh my God, kak Nadi. Apa kabar? Sudah lama sekali kita tak jumpa."
Nadi berusaha untuk tersenyum meski ia tahu, bahwa mantan adik iparnya inintengah berpura-pura. "Tidak, apa-apa Bintang. Ini hanya basah sedikit, aku baik-baik saja."
Aaron membuka jasnya dan menaruhnya di bahu Nadi. "Kita pulang yuk!" ajak Aaron, belum sempat Nadi menjawab Bintang sudah menyambar terlebih dahulu. "Whoooa.. Ada Pak Aaton juga. Apa kabar Pak?" Bintang memegang lengan Aaron dengan manja. "Sudah lama kita tak jumpa, aku yang pernah magang di perusahaan Bapak dengan laporan kinerja yang memuaskan. Pak Aaron masih ingatkan? Bisakah aku masuk lagi dan bekerja di tempat bapak?"
Aaron menyingkirkan tangan Bintang dari lengannya. "Kau bisa menghubungi bagian HRD, aku tidak mengurusi lowongan pekerjaan. Permisi." Aaron menarik Nadi keluar dari gedung.
Bintang melotot ke arah Nadi. "Benar-benar janda gatal, beraninya merebut gebetanku. Lihat saja nanti, aku akan membuat perhitungan kepadamu!!"