Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.
Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.
Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.
Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.
Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. COSPLAY JADI MUMI
"Maafin Saga, Ma..."
Saga berdiri tepat di sisi pembaringan Erina, sudut-sudut bibirnya melekuk muram dan ekspresinya seperti anak kecil yang tertangkap basah habis maling mangga tetangga.
Erina berhenti menulis dan meletakkan pulpennya dengan jemari sedikit gemetar. Ia mendongak dan menatap putra sulungnya dengan lembut.
"Minta maaf buat apa?"
Saga membuang napas panjang.
"Saga harusnya nggak pulang terlambat malam itu... andai Saga nggak bikin Mama panik dan cemas..."
"Ooh, soal itu," Erina kembali menunduk dan membuka-buka lembaran buku tulis yang sudah terisi tulisan cakar ayamnya. "Kamu udah minta maaf soal itu kemarin, dan kemarinnya lagi, dan kemarinnya lagi... Mama catat semua lho di sini."
Saga mengerjap, sementara Erina menggaruk dagunya dengan ujung pulpen yang runcing dan bertinta.
"Mama nggak catat sih Mama bilang 'nggak perlu minta maaf, nak, bukan salahmu' atau 'iya deh mama maafin, tapi jangan minta maaf lagi' atau semacam itu... tapi Mama yakin Mama pasti bilang begitu ke kamu, iya, kan?"
"Ya, tapi Ma... stop! Mama nyoret muka Mama sendiri tuh!" Saga maju dan mencekal pergelangan tangan Erina yang memegang pulpen dan terus mencoreng dagunya sendiri tanpa sadar.
"Oh..."
Erina menatap ujung pulpennya dan tertawa, namun ekspresinya berubah agak merana.
"Mama bahkan nggak ingat yang mana ujung pulpen yang ada tintanya... semenyedihkan ini Mama sekarang..."
"Mama nggak menyedihkan," Saga mengambil sehelai tisu basah dan menyeka noda tinta di dagu Erina dengan lembut. "Mama lagi sakit... kata dokter juga wajar kalau Mama gampang lupa dan capek sekarang. Please jangan maksain diri lagi ya, Ma... banyakin istirahat aja... apalagi habis ini Mama bakal di-radioterapi dan kemo..."
"Mama nggak maksain diri kok... Mama harus rajin mencatat biar nggak gampang lupa lagi," bantah Erina. "Seenggaknya Mama nggak bingung lagi sekarang hari apa, tadi udah ngapain aja, habis ini harusnya ngapain... sekarang hari Kamis, kan? Eh, kenapa kamu di sini, Ga? Kok nggak sekolah?"
Saga berusaha keras tidak menepuk jidatnya sendiri.
"Tadi Saga udah bilang, Saga sengaja izin nggak masuk hari ini, karena mau nemenin Mama kemo dan radioterapi untuk pertama kalinya..."
"Oooh, ya, ya... Mama ingat. Tadinya Mama mau catat itu, tapi kamu keburu minta maaf lagi, jadinya Mama nggak fokus dan lupa deh," gumam Erina seraya menepuk-nepuk jidatnya sendiri.
"Nggak masalah, Ma," Saga kembali menahan tangan ibunya supaya tidak membuat jidatnya sendiri membiru.
"Bu Erina."
Seorang perawat tua berambut pendek dan berkacamata masuk dan menyapa ramah.
"Sudah waktunya, Bu. Sebentar lagi kita mulai radioterapi pertama, ya."
Erina tanpa sadar menarik Saga dan menempel di belakang punggungnya--tingkahnya persis anak kecil yang takut dimarahi orangtua karena nilai ujiannya merah semua.
"Sakit nggak, Tante?" Erina bahkan bertanya dengan kekanakan.
Perawat itu tersenyum sabar.
"Radioterapinya sendiri tidak sakit..."
"Oh...," Erina mengerjap linglung. "Berarti lebih sakit nggak punya duit ya... atau ditinggal pas lagi sayang-sayangnya?"
Perawat itu tak bisa lagi menahan tawa.
"Kurang lebih begitu," sahut perawat di sela tawanya. "Mari, Bu, saya antar ke Ruang Onkologi Radiasi. Adik Bu Erina bisa tunggu di sini saja, ya..."
"Saya anaknya!" protes Saga dengan muka sebal.
"Oh? Saya kira adiknya. Soalnya wajah Bu Erina masih muda dan cantik sekali, nggak kelihatan seperti ibu-ibu yang punya anak remaja... maaf ya..."
Ekspresi Erina seketika berseri-seri, bahkan cekikikan sendiri.
"Ah, Nurse bisa aja... saya kan jadi senang dengarnya."
Perawat itu pun tertawa.
"Saya senang kalau Bu Erina senang. Mari, Bu."
Perawat itu membantu Erina duduk di kursi roda, lalu mendorongnya keluar kamar perawatan dan menyusuri lorong-lorong panjang sebelum mencapai Ruang Onkologi Radiasi.
"Selamat siang, Bu Erina."
Seorang lelaki berperawakan besar dan bercambang lebat yang berdiri di ruangan itu menyapa datar.
"Siang... Pak Dokter," balas Erina gugup.
"Saya bukan dokter. Saya radiation therapist--yang bertugas melaksanakan prosedur radioterapi di sini," kata lelaki itu tanpa basa-basi. "Bu Erina silakan berbaring di sini ya, saya akan bantu kenakan masker termoplastik khusus ini supaya posisi kepala Ibu tidak berubah selama proses penyinaran."
Erina melongo beberapa detik saat melihat benda di tangan lelaki itu--yang di matanya tampak seperti topeng maling aneh sebab hanya menyisakan lubang di bagian hidung.
"Kok aneh gitu bentuknya?" ceplos Erina. "Ini terapi kanker atau perawatan wajah khusus? Atau jangan-jangan saya mau direkrut jadi anggota Avengers yang baru?"
Radiation Therapist itu memutar bola matanya, namun ia tetap menghadapi keabsurdan Erina dengan sabar.
"Bu Erina sudah dijelaskan prosedur radioterapi seperti apa, dan masker ini sudah dibuatkan khusus sesuai bentuk wajah Ibu sejak beberapa hari lalu... Ibu lupa, ya?"
"Eh...," Erina meremas kedua tangannya dengan gugup. "Saya harus lihat buku catatan saya dulu... tapi bukunya ada di kamar..."
"Tak usah, Bu. Tak masalah kalau Ibu tak ingat... nanti prosedurnya akan dijelaskan kembali," kata Perawat. "Sekarang Ibu berbaring ya... izin kami pakaikan maskernya juga. Rileks saja, Bu."
Erina tak punya pilihan selain patuh saja pada instruksi yang diberikan. Sensasinya sungguh aneh saat tubuhnya dikunci di meja khusus itu, kemudian masker khusus dipasangkan di kepala dan wajahnya--rasanya seperti cosplay jadi mumi yang digeletakkan dalam peti mati terbuka.
(gambar hanya ilustrasi, supaya Lovely Readers ada bayangan seperti apa prosedur radioterapi untuk mengatasi kanker 😌)
"Rileks ya Bu Erina. Bernapas seperti biasa saja," ujar si Radiation Therapist yang langsung mengambil posisi di ruang kendali, dan bicara melalui interkom.
Ya kalau nggak napas... aku beneran jadi mumi nanti, bukan cosplay lagi, gerutu Erina dalam hati.
"Oke, Bu, sebentar lagi terapinya dimulai. Jangan bergerak, ya..."
Erina tak tahan lagi melontar tanya di balik maskernya.
"Kalau jidat saya gatal gimana?"
"Tahan, Bu," sahut Radiation Therapist tegas.
"Kalau saya pengen bersin?"
"Usahakan jangan."
"Kalau saya mendadak kepengen boker?"
"Saya mulai sekarang, ya, biar Ibu bisa boker sepuasnya habis ini," cetus Radiation Therapist, nyaris habis sabar.
"Eeh...!"
"Diam dan jangan bergerak, Ibu! Tiga, dua, satu!"
Mesin radioterapi mulai bergerak perlahan mengelilingi kepala Erina. Seketika ia memejamkan mata dan mengatupkan geligi rapat-rapat, bersiap merasakan serangan kekuatan yang mengejutkan dan melarakan di sekujur muka dan kepalanya.
Detik demi detik menitik--tak ada sensasi apapun yang menghampiri.
Tak ada rasa panas.
Tak ada sengatan.
Sama sekali tak ada gelombang yang menyakitkan.
Hanya ada dengung mesin mengetuk gendang telinganya secara berkala.
Oh... jadi seperti ini ya rasanya...
Erina tak bisa mencegah batinnya bergumam dalam sunyi. Isi kepalanya pun perlahan mulai dikelebati sosok-sosok yang paling dicintai--Saga. Nala.
Momen-momen menakjubkan sejak mereka berwujud janin hingga lahir dan tumbuh besar kembali berputar dalam benaknya. Keduanya sungguh menyerupai malaikat-malaikat terindah yang pernah ada dalam hidupnya.
Anak-anakku sayang...
Air matanya menetes tanpa suara di balik masker.
Mama sangat ingin menemani dan merawat kalian sampai besar... karena itu Mama di sini, berjuang untuk kalian... tapi jika takdir berkata lain...
Perih itu akhirnya hadir, menikam tepat di inti hati, namun bukan karena efek radioterapi.
Tidak... aku tak akan menyerah begitu saja! Akan kulakukan segala cara agar anak-anakku tetap hidup dengan baik dalam doa dan cintaku! Penyakit dan kematian sekalipun tak akan bisa menghalangiku memberikan yang terbaik bagi mereka, sampai kapan pun... termasuk...
Asa paling rapuh, bahkan mungkin paling mustahil--yang datang dari kecemasan terdalam sekaligus pikiran terabsurdnya--nyaris mewujud dalam satu sosok yang diam-diam tak henti menggetarkan hati, ketika tiba-tiba dengung dan gerakan mesin berhenti, dan Radiation Therapist berkata, "Sudah selesai, Bu."
HAH?!
Erina masih terpaku bahkan bengong ketika Perawat mendekat dan membebaskannya dari masker serta kuncian di meja.
"Beneran udah selesai?" Erina akhirnya menemukan kembali napas dan suaranya begitu Perawat mendudukkannya kembali di kursi roda.
"Iya, Bu," Perawat itu mengangguk.
"Saya belum sempat flashback masa kecil," gumam Erina bingung. "Bahkan belum sempat lihat cahaya putih..."
Perawat itu tertawa.
"Oh soal itu Ibu jangan khawatir--bisa dilanjut besok lagi, Bu."
Erina terperangah.
"Oh? Saya harus cosplay jadi mumi lagi?"
Perawat itu mengangguk dan tersenyum.
"Ya, Bu. Sampai kurang lebih tiga puluh kali."
Netra dan mulut Erina seketika terbuka kian lebar.
"TIGA PULUH KALI?! ITU TERAPI APA CICILAN MOTOR?!"
***