Menikah terlalu muda, dengan emosi yang belum stabil, Niken dan Raja akhirnya malah bercerai. Keduanya menikah saat kuliah, dan belum lulus sudah berpisah.
Waktu kemudian mempertemukan keduanya, di tempat dan situasi yang sangat jauh berbeda. Keduanya bekerja di satu perusahaan yang sama. Bagaimana kisah dan aksi kocak Raja dan Niken menyembunyikan fakta pada rekan kerja mereka, bahwa mereka pernah menikah? Saksikan keseruan kisah romantis komedi mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Keluarkan Di Dalam
Godaan Mantan, Bagian 8
Oleh Sept
"Datang-datang nyusahin!" gerutu Niken sambil menekan tombol air hangat di dispenser. Ia mengerut kesal seperti ibu-ibu kehabisan uang belanja.
Raja kini sedang berbaring di kamarnya. Tadi pas dia heboh sendiri melihat Raja yang lemas di mobilnya, kebetulan ada tetangga yang lewat. Maka dibantulah Raja masuk ke rumah. Dan malah berakhir di kamarnya.
Sudah disuruh taruh di sofa saja, malah sang mama meminta ditaruh kamar Niken saja. Karena kamar tamu sudah jadi gudang. Sedangkan kurang elok kalau di kamar mantan mertua.
Mungkin bagi mama Reni masih pantes kalau di kamar mantan istri, sepertinya tidak apa-apa. Padahal, Niken mukanya langsung ditekuk seperti cucian kusut.
KLEK
Dengan wajah ogah-ogahan, Niken memutar knop pintu. Niken membuka pintu kamarnya, kemudian membiarkannya terbuka lebar. Sengaja, karena tidak nyaman.
"Nih, Mama yang kasih," ucap Niken pada sang mama. Niken mengulurkan gelasnya pada mamanya.
Mama Reni kemudian mengambil gelas air hangat itu, memegangnya saja lalu tangan satunya mengoles minyak ke bawah hidung Raja.
"Ini tadi kenapa? Kok bisa begini?" tanya mama Reni yang penasaran. Bagaimana bisa Raja jadi lemas begitu.
"Mana Niken tahu, Ma. Kan Niken juga baru pulang tadi. Tahu-tahu dia dah begitu." Niken agak jutek. Terlihat cuek tidak prihatin sama sekali.
"Badannya panas banget, Ken."
Saat Niken tak acuh, sang mama kelihatan lebih manusiawi. Lebih memanusiakan manusia dan merasa empati. Dia tidak menyimpan dendam atau benci pada mantan menantunya itu.
"Gak, dia emang suhunya segitu," kata Niken yang masih inget, jika pegang tangan Raja, pasti kerasa anget. Dan itu sejak dulu.
"Kamu ada termometer?" tanya sang mama sambil melihat sekeliling.
"Mama ... usah deh. Anak Mama itu Niken! Bukan Raja. Lagian sudah gede begitu. Paling juga kecapekan. Mending kita bawa ke klinik dekat sini. Biar diurus keluarganya," celetuk Niken. Dan membuat mamanya langsung menatap marah.
"Niken! Dia ini juga mantan suami kamu. Meskipun kalian sudah pisah dan cerai, harusnya sedikit saja kamu peduli." Sang mama kelihatan tidak suka karena sikap Niken yang kelewat benci. Dia tidak pernah mengajarkan anaknya membenci orang seperti itu. Apalagi memendam dendam yang berlarut-larut. Yang sudah ya sudah, memaafkan jauh lebih baik. Itu yang mama Reni pikir. Akan tetapi, lain orang lain isi kelapa.
Niken malah menarik napas panjang. "Ya sudah, Mama saja yang urus. Itu kan mantan menantu kesayangan Mama!" ketus Niken lalu keluar.
Mama Reni memejamkan mata sesaat, kemudian geleng-geleng kepala. Ini anaknya tetap saja seperti dulu. Suka cemburuan kalau lebih perhatian pada Raja. Benar-benar kekanak-kanakan.
Mama Reni kemudian menatap wajah Raja, dilihatnya paras yang kelihatan lelah tersebut.
Perceraian mereka memang sangat disayangkan, karena sebenarnya mereka berdua ini saling sayang, dan mungkin karena terlalu muda, sehingga keduanya masih sama-sama belum bisa mengontrol emosi. Ada masalah sedikit langsung meluap-luap dan berapi-api. Hingga berakhir di persidangan.
Pernikahan yang tadinya indah, seketika berubah jadi bencana. Karena keduanya jadi status duda dan janda di usia yang sangat muda
***
Di teras rumah.
Niken duduk seorang diri sambil menikmati coklat hangat. Matanya kosong menatap pagar rumahnya. Saat melamun begitu, tiba-tiba masa lalunya muncul kembali. Saat awal-awal pernikahan yang manis dan indah.
Saat di mana hanya ada canda tawa, bukan tangis derita dan rasa sakit, sampai membuatnya menyerah dan kalah.
Niken mengusap wajahnya dalam-dalam, kemudian kembali membantahnya masa lalunya.
Flashback
Sebulan setelah menikah.
Mereka baru bisa menikmati liburan sekaligus bulan madu tipis-tipis setelah banyak tugas kuliah yang numpuk. Keduanya baru pulang dari Labuan Bajo, dan langsung pulang ke rumah orang tua Niken, karena papanya kangen.
Niken ini anak papa banget, anak kesayangan karena sama seperti Raja, mereka sama-sama anak tunggal.
"Paaa ... Niken bawain kaos bagus buat Papa." Niken langsung memeluk dan tidur di pangkuan papanya.
Sedangkan Raja, laki-laki itu sibuk membuka koper. Memilih oleh-oleh yang kemarin mereka beli.
"Ini Buat Mama ... Ini buat Papa."
Raja masih muda, sering senyum, dan kelihatan seperti bocah.
"Ngapain repot-repot, kalian senang-senang saja. Kok bawa oleh-oleh segala."
Mama Reni keluar dari dapur sambil membawa banyak kue di nampan.
"Lain kali kita ke sana, Ma ... Mama pasti suka," Niken beranjak, kemudian mengelayut di lengan sang suami yang kini duduk di sebelahnya.
"Ya kan, Ayangg? Kapan-kapan kita ajak Mama sama Papa."
Raja mengangguk, tangannya mengusap pipi Niken gemas.
Melihat anaknya harmonis, sang papa pun bisa tersenyum lega. Mereka berempat bercerita, menyelipkan kisah-kisah lucu saat Niken kecil dulu.
"Udah, Pa! Jangan buka aib Niken di depan suami Niken, nanti kalau Raja ilfil bagaimana? Siapa dong yang mau sama Niken?" canda Niken.
"Tenang, Papa sudah sumpahin tu Raja. Kalau macam-macam, habis dia sama Papa. Iya kan, Raja?"
Raja hanya tersenyum nyengir bak unta Arab.
"Tenang Raja, kalau Niken aneh-aneh, bilang Mama ... Nanti Mama yang belain," celetuk Mama Reni.
"Mama ini bagaimana sih, anak Mama itu Niken, tau!" protes Niken, rapi dengan nada bercanda.
Benar-benar suasana kekeluargaan yang harmonis dan hangat. Raja saja betah kalau nginep di rumah tersebut.
***
Sudah malam, mereka pun berangkat tidur. Raja yang terbiasa kamar luas, agak gimana gitu karena kamar Niken tidak seluas kamarnya.
KLEK
Niken baru keluar dari kamar mandi, dari aroma kesegaran mint yang terasa, pasti istrinya habis gosok gigi.
Niken dengan santai duduk di meja rias, lalu mulai skincare an. Sementara itu, Raja duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan istrinya itu.
"Mau tidur kenapa pakai bedak segala?"
"Bukan bedak ini, Ayang ... ini serum, biar aku kelihatan glowing," kata Niken tanpa menoleh. Ia fokus pada cermin di depannya.
"Mau tidur kok ribet, sini ... ayo."
"Bentar."
"Udah ... nanti keburu ngantuk."
Niken langsung berbalik.
"Lah ... memangnya mau apa? Mau tidur kan?"
Raja sudah rebahan, dan terlentang.
"Idih ... Ayang gak ada capek-capeknya ya? Kemarin kan udah sampai siang malam. Aku capek banget ini ..."
"Terus ini diapain?" Raja menatap antenanya.
"Tidurin lagi aja," jawab Niken santai lalu kembali duduk di meja riasnya. Karena memang belum selesai.
"Oh ya, lagian ... itu ... balonnya abis," kata Niken kemudian.
"Cih."
Raja mencebik.
"Keluarin di luar, yuk ..."
"Nggak ... Capek loh badan aku. Suerr."
Raja tidak menyerah, ia langsung turun dari ranjang dan membopong istrinya itu.
"Ayang ... eh ... Yang ..."
"Huussst. Nanti mereka denger," bisik Raja. Seketika Niken menutup mulutnya sendiri.
Ketika sudah direbahkan di tengah ranjang, maka dia tidak akan bisa menghindar. Kalau Raja mau, dia harus siap dimangsa.
"Janji ... keluarin di dalam."
Raja mengangguk.
...
...
...
"Sayang ... tarik ..." Niken panik, ia merasakan semburan hangat.
..