Aku belum pernah bertemu atau pun berbicara dengan Komisaris di kantorku. Sampai kami bertemu di Pengadilan Agama, dengan posisi sedang mengurus perceraian masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perbincangan ala cafe
“Iya, itu rumah mantan istri,” desis Pak Felix saat kami di restoran pagi ini. Restoran ini masih berada di area gedung, tapi letaknya di lantai paling atas. Lantai 35 di cuaca yang cerah berawan seperti ini, terasa menakjubkan. Aku sangat jarang menginjakkan kaki di rooftop. Pemandangan kota Jakarta bagaikan maket yang sering dipajang di pameran apartemen.
Rumah dan mobil di bawah sana hampir-hampir tak terlihat namun di sekitar kami juga terdapat gedung-gedung tinggi, bahkan beberapa gedung tampak lebih tinggi dari gedung kami.
Kota Jakarta yang angkuh, namun memikat.
Hampir sama seperti... laki-laki di depanku ini.
Pemikirannya yang tidak terduga, sifatnya yang agak egois, sedikit menyebalkan, mau menang sendiri, namun di saat yang bersamaan menawan dengan caranya sendiri. Orang sering kali membicarakannya di belakang, namun orang masih akan tetap mendekatinya.
“Apakah tidak apa-apa Bapak berbuat begitu? Mantan istri tahu dong mengenai rencana ini?”
“Tahu, tidak mungkin tidak. Tapi mereka butuh dana untuk mempermanis laporan keuangan mereka. Sementara saya butuh cuan. Di lihat dari mana pun ini bisnis yang menguntungkan kedua belah pihak,”
“Mempermanis laporan keuangan...” desisku sinis. Aku tahu arahnya ke mana ini. Semakin banyak hutang Bank, semakin sedikit Pajak Penghasilan yang akan mereka bayarkan ke negara.
“Klausulanya kamu buat untuk investasi kan? Non Revolving kan?”
“Ya Pak, pencairan sekaligus 35 miliar,”
“Hehe,” ia hanya terkekeh dengan mata berkilat. “Tunggu setahun, saya akan mendapatkan rumah itu. Ia tidak mungkin menjual usahanya. Jalan satu-satunya adalah aset terkecil duluan yang ia relakan,”
“Kenapa bapak mengincar sebuah rumah di perumahan elit yang bapak bisa beli sendiri pakai uang bapak? Saya tahu kalau dengan lelang Bank, nilainya akan lebih murah, tapi apakah tidak bisa diperoleh dengan cara lain?”
“Saya ingin mereka malu. Mereka bisa apa tanpa saya? Yang biasanya mengatur keuangan mereka adalah saya. Saya mau lihat sejauh apa mereka bisa bertindak kalau tanpa saya,”
“Kalau mereka bisa, bagaimana Pak?”
“Setidaknya saya tetap untung dengan pembayaran bunga,”
Dasar otak bisnis...
“Gagal bayar cicilan, walau pun sebulan saja, kolektibilitas 2, sudah merupakan warning bagi OJK dan Menteri Perdagangan kalau usaha mereka dalam kondisi mengkhawatirkan,” Ada seringai licik di bibir Pak Felix. Kepercayaan dirinya sangat tinggi.
Kudengar, itu juga sebabnya dia direkrut oleh Garnet Grup. Secara khusus, Pak Dimas bahkan ‘menjemputnya’ untuk menduduki posisi Komisaris. Pak Felix meninggalkan bisnisnya di Amerika, perusahaan Finance dan Asuransi, lalu berkarier di Indonesia.
Dalam 3 tahun, saham Garnet Grup langsung meningkat mengalahkan tiga raksasa bisnis lain, yaitu Yudha Mas dan Beaufort. Luar biasa.
Juga kudengar, ada banyak saudara-saudara Pak Felix yang lain yang juga mulai menduduki posisi-posisi krusial di bisnis negara ini. Konon, keluarga Ranggasadono ini kaya raya karena bisnis emasnya. Dari sana mereka merambah ke properti, lalu ke finance dan asuransi. Belakangan mereka mulai merambah ke bisnis transportasi.
Ada satu orang seperti Pak Felix saja Garnet Grup sudah dimanjakan. Bayangkan bagaimana jika ada Pak Felix yang lain...?
Tapi orang ini, cukup unik. Dia lebih memilih menjadi Komisaris.
“Bapak kenapa tidak menjadi Direktur? Kan enak bisa ikut memutuskan suatu strategi di perusahaan sendiri,”
“Saya percaya Dimas bisa mengatur semuanya,” kata Pak Felix sambil menekan tombol waiter di ujung meja setelah dia menentukan sarapannya dari buku menu, “Saya tinggal santai saja menikmati hasilnya. Tapi ada beberapa perusahaan yang saya ingin ikut andil dalam keputusannya, itu kalau saya tidak percaya dengan CEO mereka. Seperti di Beaufort dan Amethys,”
“Kenapa dengan CEO mereka Pak?”
“CEO Beaufort terlalu muda dan labil, CEO Amethys terlalu licik,”
Aku berdehem.
Enak saja dia mengata-ngatai orang lain segamblang itu.
“Posisi saya sebagai Direktur Muda di sana, saya ikut andil dalam setiap keputusan yang mereka ambil,”
“Baik Pak...” jawabku.
Aku sedikit banyak tahu mengenai hubungan pengusaha-pengusaha ini. Hubungan persaudaraan mereka sangat erat, sebenarnya. Makanya mereka main ejek di depan umum, itu sudah biasa.
“Bagaimana dengan kemarin?” tanya Pak Felix setelah waiters datang dan mencatat pesanan kami.
“Sesuai rencana, saya bilang semua ke pengacara, saya beberkan semua bukti ke polisi, dan selanjutnya pengacara yang urus,”
“Kamu butuh apa?”
Aku tidak enak ditanyai begini, “Tidak butuh apa pun, saya sudah cukup menerima,”
“Jujur saja, Bu Cin... kamu butuh apa?” ia mulai malas mendengar kata-kataku yang pura-pura kuat.
Aku menatap pemandangan di luar jendela. Aku enggan bilang padanya. Aku merasa ada maksud tersembunyi dalam setiap tindakannya. Kalau dia bilang ini demi kepuasannya dalam menghukum pengkhianat pernikahan, aku tidak terlalu percaya.
“Bapak tidak mencari calon istri lagi?” iseng aku bertanya.
Ia tersenyum tipis, “Ini lagi nyari,”
Entah kenapa jantungku langsung mencelos. Aku tidak ingin salah sangka, tapi semua situasi ini terlalu naif kalau dibilang hanya kebetulan.
Akhirnya karena tidak ingin menduga-duga, dan kupikir aku sudah cukup akrab dengannya, aku pun memutuskan untuk apa adanya saja, “Bukan saya kan kandidatnya?” gumamku pelan.
“Malah kamu satu-satunya kandidat,”
Rasanya seluruh tubuhku bagaikan tersengat listrik. Apa selama ini dia membantuku karena ada maunya? Bagaimana kalau aku tak bisa menerima perasaannya? Ini semua terlalu cepat dan tiba-tiba untukku.
Apa yang harus kulakukan?
“Jangan menduga-duga dulu Bu Cin, saya memberi semua bantuan bukan karena perasaan. Saya juga masih trauma dengan pernikahan,”
Ia bilang begitu setelahnya.
Ya wajar sih, ia kehilangan hampir semuanya karena perceraian itu.
“Tapi ya... berkat kamu saya tidak terlalu anti perempuan. Tadinya saya berpikir semua wanita itu sama saja ‘drama queen’ nya. Setelah saya bertemu kamu, entah kenapa saya jadi gemas sendiri karena nasib kamu lebihmengenaskan,”
Aku mengernyit mendengarnya. Dia memang menyebalkan. Tapi dia benar. Aku malah bingung mau benci padanya atau malah suka padanya.
“Jadi perselingkuhan itu tidak ada hubungannya dengan Gender, ya Pak?” kataku smbil menyeruput teh manisku.
“hm, saya kini mengakui hal itu. Selingkuh itu penyakit yang bisa menyerang siapa saja. Tidak ada ungkapan laki-laki lebih banyak berselingkuh atau apa lah itu, zaman sekarang wanita juga bisa flirting dengan yang bukan pasangan,”
Aku hanya tersenyum menanggapinya.
“Kamu tahu nggak mengenai fakta kalau Para pengunjung yang mengonsumsi video melalui perangkat mobile ternyata lebih banyak yang berjenis kelamin perempuan ketimbang laki-laki?”
“Masa sih Pak?!” seruku tak percaya.
“Ini situsnya sendiri loh, mereka melihat dari data traffic penggunaan ponsel. Itu berarti untuk masalah seksual, kondisi jaman sekarang sudah berubah tidak seperti dulu lagi. Wanita lebih ekspresif saat ini,”
“Itu bagus atau buruk?”
“Tidak keduanya, bagus atau buruknya kan tergantung situasi kondisinya,”
“Mungkin mereka nonton karena sedang mencari cara untuk meningkatkan gairah karena ingin memuaskan pasangannya?” kataku. Karena aku masih tak percaya dengan fakta ini.
“Memangnya begitu cara kamu memuaskan pasangan? Nonton dulu, gitu?”
Aku mengerutkan tubuhku,”Ya tidak sih,” gumamku.
Obrolan ini sudah lebih privat judulnya.
“Mantan saya bilang dia sering kesepian karena saya jarang ada di rumah. Saya yang malah bingung. Saya sudah ajak dia ke Amerika, dia menolak. Alasannya ingin dekat dengan orang tuanya. Tapi dia juga minta jatah bisnis di USA. Begitu saya pulang karena kangen, ada saja alasannya. Ya capek lah, ya lagi haid lah. Begitu saya diam-diam saja karena saya berusaha memahami kondisinya, dia malah menuduh saya ke spa plus-plus untuk menumpahkan hasrat. Akhirnya saya putuskan pindah saja ke Indonesia karena ingin dekat dengan keluarga, saya malah diomeli habis-habisan karena cuan berkurang.”
Penjelasannya ini memang tipikal berbau-au perselingkuhan. Sayang sekali wahai mantan, jenis yang family Man begini malah di sia-siakan.
“Memangnya Pak Felix nggak pernah pakai orang lain selain istri untuk ‘keluar’?” aku penasaran dengan yang ini. Laki-laki kan harus rutin mengeluarkan cairan privat mereka.
“Hehe, banyak jalan menuju Roma, kali. Saya punya tangan, dan kini alat gituan dijual bebas tuh di internet. Bahkan boneka juga mirip banget sama manusia loh. Udah gitu nggak cerewet pula,” katanya.
Aku langsung tertawa geli.
Aku tidak tahan untuk tidak tertawa mendengar penuturannya yang apa adanya.
“Memangnya puas Pak pakai boneka? Lebih enak pakai orang beneran kan?”
“Resikonya lebih besar kalau pakai orang beneran. Bisa-bisa terbawa perasaan. Dulu saya tipe yang menilai wanita dari keuntungannya. Apalagi saya konglomerat. Wanita mendekat untuk kekayaan saya. Tidak jarang teman-teman saya difitnah oleh wanita-wanita club yang iseng mereka jadikan selingan, malah dijadikan bahan untuk tuntutan ke pengadilan. Banyak kasusnya. Jenis pria seperti kami ini kerap jadi incaran gold digger, tidak bisa lagi pakai metode yang ‘bayar terus selesai’.”
Aku mengangguk mengerti, juga karena terkesima dengan kenyataan yang ada. Kalau begitu kondisinya, miris sekali bukan sebenarnya hidup mereka ini?
salah satu dari mininovel madam yg paling aku suka.. 😍
sesuka itu aq pada karyamu thor