Satu Hari 5 Bab... bantu saya untuk terus berkarya😎😎
Di Kota Xiang, seorang jenius muda bernama Xiao Ba pernah dipuja sebagai harapan terbesar Keluarga Xiao karena memiliki Akar Spiritual Suci Tingkat 9, bakat langka yang bahkan sulit ditemukan dalam seribu tahun. Namun semuanya berubah ketika akar spiritualnya hancur secara misterius, membuatnya jatuh dari langit ke dasar kehinaan dalam semalam.
Dulu dipuji, kini dihina.
Dulu didekati, kini dijauhi.
Bahkan keluarga yang pernah memohon perjodohan dengannya datang untuk memutuskan hubungan sambil mempermalukannya di depan semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DafToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tebasan Penembus belenggu
Melihat zirah keemasan yang membentengi tubuh Xiao Ba, keangkuhan di wajah Tetua Gu runtuh seketika. Sisa-sisa energi pantulan dari Zirah Langit Abadi masih membuat tulang-tulang di pergelangan tangannya berderit ngilu. Udara di sekeliling pemuda itu tidak lagi terasa dingin oleh kabut lembah, melainkan bergetar panas oleh tekanan energi murni yang seolah turun langsung dari kubah langit.
"Utusan! Bocah ini... dia menggunakan teknik sihir kuno! Ini bukan Qi dari wilayah selatan!" teriak Tetua Gu panik, suaranya melengking tinggi memecah kesunyian lembah.
Namun, Xiao Ba tidak memberinya waktu untuk mendapatkan bantuan.
Langkah kakinya bergeser. Langkah Bayang Langit berpadu dengan kekuatan bintang kedua yang baru saja bangkit. Dalam satu hentakan, tubuh Xiao Ba melesat maju, meninggalkan serangkaian bayangan emas yang membelah kegelapan altar.
Syuuutt—!
"Sialan! Tembok Gerhana!" Tetua Gu meraung, buru-buru menyilangkan kedua tangannya yang menghitam di depan dada. Energi Qi kematian dalam tubuhnya diperas habis-habisan, membentuk dinding pertahanan dari asap hitam pekat yang meliuk-liuk seperti perisai daging.
BUM!
Pedang tua Xiao Ba menghantam dinding hitam itu tanpa ampun. Kilatan cahaya keemasan dari bilah abu-abu kusam itu mengoyak asap kematian seperti pisau panas memotong mentega. Tidak ada ledakan yang tersebar luas; seluruh fokus energi tebasan (Jian Qi) Xiao Ba terkonsentrasi pada satu titik yang sangat presisi.
KRAK!
Perisai asap hitam itu pecah menjadi serpihan spiritual yang layu. Bilah pedang Xiao Ba terus melaju, memotong kedua lengan bercakar milik Tetua Gu sebelum akhirnya bersarang dalam di pundak kanan pria tua itu. Darah hitam beracun menyembur, namun langsung menguap begitu menyentuh lapisan pelindung keemasan di sekeliling tubuh Xiao Ba.
"Aaakh! Lenganku! Bajingan cilik!" Tetua Gu jatuh berlutut, wajahnya yang keriput berkerut menahan rasa sakit yang luar biasa. Jalur meridian di sekujur tubuhnya terasa kacau, terbakar oleh sisa energi bintang yang menyusup melalui luka tebasan.
Xiao Ba berdiri di depannya, menatap ke bawah dengan mata keemasan yang agung dan dingin. "Dua belas tahun lalu, saat ayahku terluka, apakah dia juga meminta belas kasihan pada kalian?"
"Kamu..." Tetua Gu mendongak dengan bibir bergetar, melihat bayangan kematian yang nyata di sepasang mata pemuda itu.
"Mati."
Sret—Blas!
Dengan satu ayunan horizontal yang bersih, kepala Tetua Gu terpisah dari tubuhnya sebelum ia sempat mengeluarkan kutukan terakhirnya. Tubuh tanpa kepala dari pemimpin Karavan Hitam itu tumbang ke tanah berbatu, mengakhiri rezim kekejamannya di perbatasan Wuhe.
Di puncak altar, sang Utusan Pusat dari Sekte Gerhana Abadi yang sedari tadi menyaksikan pertarungan akhirnya tidak bisa mempertahankan ketenangannya lagi. Wajah tampannya kini dipenuhi oleh garis-garis ketegangan yang nyata.
Membunuh seorang ahli Ranah Inti Bumi Tahap Awal dengan begitu mudah... bahkan di sekte utama, hanya murid-murid inti paling berbakat yang bisa melakukannya.
Pria muda itu melompat turun dari puncak altar, jubah sutra hitamnya berkibar pelan saat ia mendarat lima langkah di depan Xiao Ba. Di tangannya kini memancarkan cahaya ungu tua, menggenggam sebilah bendera kecil berlambang gerhana matahari yang memancarkan aura kutukan yang sangat pekat.
"Aku harus mengakui, garis darah Xiao Tian memang menghasilkan monster kecil yang merepotkan," ucap sang Utusan, suaranya ditekan rendah hingga memancarkan getaran spiritual yang menusuk jiwa. "Aku adalah Utusan Ketujuh, Mo Yan. Dan di hadapan Bendera Pemanggil Jiwa milik Sekte Gerhana, kultivasimu yang aneh itu tidak akan berguna!"
Mo Yan menghentakkan gagang bendera kecil itu ke tanah batu.
Wuuushhh!
Kabut abu-abu di seluruh Lembah Tengkorak Putih mendadak bergolak hebat seperti air mendidih. Dari dalam tanah berbatu, terdengar raungan-raungan tanpa wujud. Ratusan roh penasaran dan jiwa-jiwa kultivator yang mati di lembah ini selama ratusan tahun bangkit, membentuk pusaran hantu kelaparan yang terbang berputar-putar di atas altar, siap mengoyak jiwa siapa saja atas perintah Mo Yan.
Para tawanan yang berada di bawah altar menjerit histeris saat merasakan jiwa mereka seolah ditarik keluar dari ubun-ubun akibat daya hisap dari bendera kutukan tersebut.
Xiao Ba merasakan lautan kesadarannya bergetar ringan. Namun, ribuan bintang di dalam kepalanya justru memancarkan dengungan yang terdengar seperti kemarahan seorang kaisar yang dihina oleh semut. Energi hitam dan roh terkutuk mencoba mendekati tubuhnya, namun langsung hancur menjadi abu begitu menyentuh radius satu meter dari Zirah Langit Abadi.
"Jiwa-jiwa yang terikat..." Xiao Ba menggumam pelan, menatap ribuan roh yang menangis di atasnya. "Kalian telah dikurung terlalu lama di tempat gelap ini."
Xiao Ba mengangkat pedang tuanya tegak lurus di depan wajahnya. Dua bintang di lautan kesadarannya berputar serentak, menyatukan kecepatan Langkah Bayang Langit dan ketahanan Zirah Langit Abadi ke dalam bilah pedangnya. Cahaya keemasan yang memancar dari tubuhnya kini kian membesar, membubung tinggi ke langit malam seperti pilar cahaya dewa yang menembus badai salju.
"Tebasan Bintang: Pemutus Belenggu!"
Xiao Ba mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah, lurus ke arah Mo Yan dan Bendera Pemanggil Jiwanya.
Sebuah gelombang energi keemasan raksasa berbentuk bulan sabit melesat maju. Tebasan ini tidak membawa hawa membunuh yang kotor, melainkan membawa energi kemurnian langit yang mutlak. Ketika tebasan itu lewat, pusaran roh penasaran di udara tidak hancur tersiksa, melainkan belenggu kutukan hitam yang mengikat mereka putus seketika. Ratusan roh itu perlahan berubah menjadi bintik-bintik cahaya putih yang damai, tersenyum ke arah Xiao Ba sebelum akhirnya lenyap menuju siklus reinkarnasi yang sesungguhnya.
"Apa?! Kamu... kamu memurnikan formasi jiwaku?!" Mo Yan berteriak histeris, matanya membelalak horor saat melihat senjata andalannya retak dari ujung hingga gagangnya.
PRANG!
Bendera Pemanggil Jiwa itu hancur berkeping-keping. Gelombang sisa tebasan emas Xiao Ba terus melaju, menghantam dada Mo Yan hingga pelindung Qi Ranah Inti Bumi Tahap Pertengahannya hancur seperti kaca yang dipukul palu.
BUM!
Tubuh Mo Yan terlempar ke belakang, menabrak pilar batu altar hingga hancur berkeping-keping, sebelum akhirnya jatuh berguling di tangga batu dengan zirah sutranya yang robek dan dada yang bersimbah darah murni.
Lembah Tengkorak Putih mendadak menjadi sangat sunyi. Kabut beracun yang selama belasan tahun menyelimuti tempat ini mulai menipis secara drastis, tersapu oleh sisa energi pemurnian dari pedang Xiao Ba.
Xiao Ba berjalan menaiki tangga altar, langkah demi langkah, hingga ia berdiri di atas tubuh Mo Yan yang tengah sekarat, terengah-engah mengais sisa napasnya.
"S-siapa... siapa kamu sebenarnya...?" Mo Yan berbisik serak, darah terus mengalir dari mulutnya. "Sekte utama... tidak akan... melepaskanmu..."
Xiao Ba mengarahkan ujung pedangnya ke tenggorokan Mo Yan. Matanya menatap lurus ke arah bagian terdalam lembah, di mana sebuah celah tebing yang dipenuhi rantai segel raksasa kini terlihat jelas setelah kabut menipis. Di balik sana, ia bisa merasakan sebuah denyutan energi yang sangat lembut, hangat, dan sangat ia rindukan sejak kecil.
Energi ibunya.
"Katakan pada sektemu," ucap Xiao Ba datar, suaranya bergema di seluruh lembah yang kini mulai diterangi cahaya bintang yang asli di langit malam. "Anak dari Xiao Tian telah kembali. Dan aku akan menghancurkan setiap matahari hitam yang berani menghalangi jalanku."
Sret.
Nyawa sang Utusan Pusat berakhir malam itu di atas altar yang runtuh. Xiao Ba membalikkan badannya, menatap ke arah para tawanan yang kini memandang dirinya dengan tatapan pemujaan seolah melihat dewa yang turun dari langit.
Perjalanan di perbatasan Wuhe telah usai, namun gerbang menuju sarang musuh yang sesungguhnya di wilayah utara yang luas kini telah terbuka lebar di depan matanya.
Bab: Gerbang Kabut yang Merona
Darah Utusan Mo Yan mengalir lambat di sela-sela ukiran batu hitam Altar Gerhana, mendingin dengan cepat di bawah terpaan angin perbatasan. Kematian dua tokoh penting dalam satu malam—Tetua Gu dan seorang Utusan Pusat—seketika mengubah atmosfer Lembah Tengkorak Putih dari tempat jagal yang mengerikan menjadi sebuah teater keheningan yang mencekam.
Di bawah altar, puluhan tawanan masih bersujud. Rantai besi penekan Qi yang mengikat tubuh mereka tidak lagi terasa seberat sebelumnya, karena runtuhnya Bendera Pemanggil Jiwa telah melonggarkan kutukan yang mencengkeram area tersebut.
Gadis muda yang diselamatkan Xiao Ba perlahan mendongak. Matanya yang sembab menatap punggung tegap pemuda jubah hitam itu. Baginya, dan bagi semua orang di sana, pemuda ini bukan lagi sekadar seorang kultivator pengembara; ia adalah anomali yang membelah kegelapan.
Xiao Ba tidak berbalik untuk menerima tatapan penuh rasa syukur itu. Sepasang matanya yang masih menyisakan pendaran keemasan tipis tetap terkunci pada celah tebing di ujung utara lembah.
Di sana, di balik puing-puing altar yang hancur, berdiri sebuah gerbang alami yang dibentuk oleh dua tebing batu raksasa yang saling mendekat di bagian atas, menyerupai rahang bawah yang menganga. Kabut abadi yang tadi sempat menipis karena tebasan pedangnya, kini mulai menggulung kembali di area tersebut. Namun, kabut itu tidak lagi berwarna abu-abu pekat, melainkan sedikit merona kemerahan—sebuah pertanda bahwa ada formasi pembatas lain yang jauh lebih kuno dan berbahaya di dalamnya.
“Kultivator Ranah Inti Bumi Tahap Pertengahan pun tidak berani mengejarnya ke dalam...”
Kata-kata Lin Sha terngiang kembali di kepala Xiao Ba. Ibunya, Fu Qing, telah berada di balik gerbang kabut itu selama dua belas tahun. Hidup atau mati, terjebak atau bertapa, hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.
Xiao Ba melangkah turun dari altar. Setiap ketukan sepatunya di atas tangga batu terdengar seperti detak jam pasir takdir. Ia berhenti di depan para tawanan yang masih ketakutan.
"Rantai kalian sudah melemah," ucap Xiao Ba, suaranya jernih dan tenang, mengalirkan rasa aman yang aneh ke hati orang-orang di sekitarnya. "Gunakan sisa Qi kalian untuk menghancurkannya. Jalur selatan menuju Kota Wuhe sekarang kosong. Karavan Hitam telah runtuh. Pergilah sebelum fajar menyingsing."
"T-Tuan Penyelamat..." seorang kultivator paruh baya yang menjadi tawanan memberanikan diri berbicara, suaranya serak. "Bagaimana dengan Anda? Di balik gerbang itu adalah Wilayah Kabut Darah Kuno. Itu adalah tempat di mana bahkan indra spiritual pun bisa membusuk."
Xiao Ba tidak menjawab. Ia hanya berjalan melewati mereka. Pertanyaan itu tidak memerlukan jawaban, karena tujuannya sudah melampaui rasa takut akan kematian fisik.
Saat ia berjalan mendekati gerbang kabut, ia merogoh kantong penyimpanannya dan mengeluarkan benda terakhir yang ia miliki: Inti Roh Samudra yang ia bawa dari Kota Beira. Batu permata biru laut itu berkilau kontras di tengah kegelapan lembah yang pekat.
Krak.
Xiao Ba meremuk Inti Roh Samudra itu dengan telapak tangannya. Energi spiritual elemen air yang sangat murni dan masif meledak keluar, namun alih-alih membiarkannya terbuang, Xiao Ba memandu energi tersebut menggunakan kontrol Qi-nya yang luar biasa. Energi laut yang segar menyelimuti permukaan Zirah Langit Abadi, menciptakan lapisan perlindungan ganda: kekuatan bintang di dalam, dan kesegaran samudra di luar. Ini adalah persiapannya untuk menghadapi kabut korosif yang menanti di depan.
Ia berdiri tepat di ambang Gerbang Kabut yang Merona.
Dari jarak sedekat ini, lautan kesadarannya bergetar lebih hebat. Ribuan bintang warisan Kaisar Langit tidak lagi berputar dalam mode bertarung, melainkan berdenyut dalam ritme yang sedih dan penuh kerinduan. Getaran itu berasal dari denyutan energi yang sangat halus dari dalam kabut—sebuah gema garis darah yang tidak bisa dipalsukan oleh teknik sihir mana pun di dunia.
"Ibu..." Xiao Ba menggumamkan kata itu untuk pertama kalinya setelah dua belas tahun hanya menyimpannya di dalam hati.
Tanpa ragu-ragu lagi, ia melangkah maju. Tubuh jubah hitamnya seketika ditelan oleh gulungan kabut merona yang pekat.
Begitu ia masuk, dunia di luar lembah seolah-olah terputus sepenuhnya. Indra penglihatan Xiao Ba langsung memendek hingga hanya tersisa tiga langkah di depannya. Udara di sini sangat berat, menekan dadanya seolah-olah ia sedang berjalan di dasar samudra yang paling dalam. Suara angin badai dari luar lenyap, digantikan oleh kesunyian yang begitu mutlak hingga ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri dan aliran darah di dalam pelipisnya.
Sssss...
Kabut merona itu mulai menyerang lapisan pelindungnya. Asap kemerahan itu mencoba mengikis energi Inti Roh Samudra yang menyelimuti tubuhnya. Suara desisan korosif terdengar terus-menerus, memicu penguapan energi spiritual yang konstan.
Xiao Ba tidak mempercepat langkahnya. Ia mengatur napasnya dengan metode meditasi Kaisar Langit, memastikan bahwa setiap helai Qi yang terbuang untuk pertahanan langsung digantikan oleh pemulihan energi dari bintang kedua yang baru bangkit di dalam jiwanya.
Ia terus berjalan menembus labirin batu yang dipenuhi kabut, mengikuti tuntunan denyutan spiritual yang semakin lama semakin terasa jelas.
Hingga akhirnya, setelah berjalan selama waktu yang terasa seperti beberapa jam, kabut di depannya mendadak terbelah secara vertikal. Xiao Ba melangkah keluar dari koridor batu dan mendapati dirinya berada di sebuah ruang gua raksasa yang tersembunyi di dalam perut bumi.
Di langit-langit gua tersebut, terdapat celah alami yang memperlihatkan langit malam perbatasan yang dipenuhi ribuan bintang asli. Sinar bulan perak jatuh lurus ke tengah ruangan, menerangi sebuah pemandangan yang membuat napas Xiao Ba tertahan di tenggorokan.
Di tengah gua, di atas sebuah batu giok putih yang besar, duduk seorang wanita dengan pakaian jubah putih yang telah usang dan robek di beberapa bagian. Rambutnya hitam panjang, terurai hingga menyentuh lantai batu. Meskipun wajahnya tampak pucat dan kurus akibat kurungan belasan tahun, garis-garis kecantikan dan keanggunan seorang kultivator agung masih terpancar jelas dari rahang dan alisnya.
Di sekeliling batu giok tempat wanita itu duduk, tertancap sembilan bilah pedang perak yang membentuk formasi lingkaran. Energi dari sembilan pedang itu membentuk jaring cahaya transparan yang menahan kabut darah korosif agar tidak menyentuh tubuh sang wanita.
Mendengar suara langkah kaki yang asing, kelopak mata wanita itu bergerak perlahan.
Ketika ia membuka matanya, sepasang manik mata yang memiliki bentuk dan kedalaman yang sama persis dengan milik Xiao Ba menatap lurus ke arah pemuda jubah hitam yang berdiri di ambang kabut.
pertahankan👌