NovelToon NovelToon
Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mantan,dan Reaksi Singa Betina

Nayla tidak menyangka akan disuguhi pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat,dan yang membuat darah Nayla mendadak berdesir panas adalah posisi mereka.

Wanita itu sedang mengalungkan kedua lengannya di leher Gibran, tubuhnya menempel rapat pada tubuh sang CEO.

Gibran sendiri tampak memegang pinggang wanita itu, dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan terkejut, namun tidak langsung mendorongnya menjauh.

"Gibran, I missed you so much! Kamu jahat banget ya, selama aku di London kamu sama sekali enggak pernah balas email-email aku. Dan apa-apaan gosip murahan tentang pernikahan kamu itu? Kamu pasti cuma mau bikin aku cemburu, kan?" suara wanita itu terdengar manja, melengking dengan aksen kebarat-baratan yang dibuat-buat.

Nayla merasakan ada sesuatu yang berdenyut kencang di dalam dadanya.

Bukan rasa sedih, melainkan rasa panas yang membakar sebuah emosi purba bernama cemburu yang datang tanpa permisi dan tanpa bisa dikendalikan oleh akal sehatnya. Kontrak baru baru saja ditandatangani tadi pagi, dan sekarang suaminya sudah berada di dalam pelukan wanita lain?

Gunawan yang berdiri di sebelah Nayla langsung berdeham sangat keras, mencoba memperingatkan bosnya. "Ehem! Pak Gibran, maaf mengganggu. Ada ... Ibu Nayla datang."

Mendengar nama itu disebut, Gibran langsung menyentak tubuh wanita di depannya hingga pelukan mereka terlepas seketika.

Mata elang Gibran melebar saat melihat Nayla berdiri di ambang pintu dengan wajah yang datar, namun matanya memancarkan kilatan tajam yang sanggup menguliti orang hidup-hidup.

"Nayla?" Gibran melangkah maju dengan tergesa-gesa, mengabaikan wanita berbaju merah yang kini mendengus kesal karena kemesraannya diganggu.

Wanita berbaju merah itu berbalik, melipat tangannya di dada sambil menatap Nayla dengan pandangan meremehkan yang sangat kentara. "Oh ... jadi ini perempuan kampung yang digosipkan itu? Gibran, are you serious? Selera kamu jatuh drastis dari aku ke ... mahluk domestik seperti ini?"

Nayla menarik napas dalam-dalam. Mengingat semua pelajaran harga diri yang ia pertahankan mati-matian di depan Baskoro dua hari lalu, ia menolak untuk terlihat lemah atau terintimidasi oleh wanita kota yang bergaya jetset ini.

Ia menegakkan bahunya, mengangkat dagunya tinggi-tinggi, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang sangat anggun dan tenang, mengabaikan Gibran yang mencoba meraih tangannya.

Nayla berjalan melewati Gibran, langsung menuju ke arah wanita berbaju merah itu. Ia meletakkan tas kain berisi kotak bekalnya di atas meja kerja Gibran dengan dentuman yang sengaja dibuat agak keras.

"Permisi, Mbak berbaju cabai merah," kata Nayla, suaranya terdengar sangat tenang namun dingin, meniru gaya bicara Gibran jika sedang mengintimidasi bawahannya. "Kalau Mbak mau peluk-peluk patung manekin atau pajangan, di mal sebelah gedung ini banyak sekali yang gratis. Tapi ini suami saya, mahluk hidup, bernapas, dan sudah terikat kontrak,maksud saya, terikat pernikahan sah dengan saya. Jadi, dia bukan properti pajangan yang bisa Mbak peluk sesuka hati."

Wanita itu melotot, wajahnya yang penuh riasan tebal memerah karena tidak menyangka akan diserang se-terang-terangan ini oleh seorang gadis yang ia anggap remeh.

"Apa kamu bilang? Kamu tahu siapa aku? Aku Valeria! Mantan kekasih Gibran, dan keluarga kami adalah pemegang saham terbesar kedua di perusahaan ini! Kamu itu cuma gadis oportunis yang beruntung, jangan berlagak seperti nyonya rumah ya!"

Nayla tertawa kecil sebuah tawa renyah yang terdengar sangat menjengkelkan di telinga Valeria. "Oh, mantan toh? Berarti sudah lewat masanya, ya? Di kampung saya, barang yang sudah jadi mantan itu biasanya dibuang ke tempat loak atau dijadikan pupuk kompos, Mbak. Lagipula, setahu saya, pemegang saham terbesar nomor satu tetap keluarga Mahardika, dan kebetulan ... saya yang memegang hati pemilik saham terbesar itu sekarang."

Nayla membalikkan tubuhnya, menatap Gibran yang kini berdiri mematung di tengah ruangan. Bukannya marah karena ruang kerjanya dijadikan arena adu mulut, Gibran justru sedang menahan senyum sekuat tenaga. Matanya berkilat penuh kekaguman melihat betapa lihainya "singa betina"-nya mengeluarkan taring untuk melindunginya.

"Benar kan, Mas Gibran?" tanya Nayla, melemparkan pandangan tajam berkekuatan voltase tinggi yang seolah berkata: ("Kalau kamu berani membantah, malam ini tidur di luar rumah!")

Gibran berdeham pelan, merapikan letak dasinya dengan gestur tubuh yang sangat tenang. Ia berjalan mendekati Nayla, lalu tanpa ragu melingkarkan tangan kanannya di pinggang Nayla, menarik tubuh istrinya itu merapat ke sisinya di depan mata Valeria yang hampir keluar karena syok.

"Benar," jawab Gibran pendek, suaranya berat dan tegas. Ia menatap Valeria dengan pandangan dingin yang biasa.

"Valeria, perkenalkan secara resmi, ini Nayla Mahardika. Istri saya. Dan seperti yang istri saya katakan tadi ... masa lalu sebaiknya tetap berada di belakang. Untuk urusan bisnis, kita bisa bahas di ruang rapat bersama tim legal besok pagi. Tapi untuk sekarang, waktu istirahat siang saya adalah milik istri saya."

Valeria menghentakkan kaki jenjangnya yang mengenakan sepatu hak tinggi merk desainer ternama. "Gibran! Kamu keterlaluan! Kamu bakal menyesal karena sudah membela perempuan ini!" teriaknya histeris sebelum menyambar tas mewahnya dan berjalan keluar dari ruangan sambil membanting pintu dengan sangat keras.

Begitu pintu tertutup dan menyisakan keheningan di dalam ruangan kerja yang luas itu, Nayla langsung menyentak tangan Gibran dari pinggangnya. Ia melangkah mundur satu langkah, menatap suaminya dengan napas yang agak memburu karena sisa emosi tadi.

"Kenapa dilepas? Tadi di depan Valeria performanya bagus banget padahal," goda Gibran, melangkah mendekat sambil menatap wajah Nayla yang kembali cemberut.

"Mas Gibran sengaja ya? Sengaja membiarkan perempuan itu memelukmu supaya aku lihat?" tuduh Nayla kesal.

"Katanya CEO hebat, masa didatangi mantan langsung pasrah begitu saja seperti pasrah ditilang polisi!"

Gibran tertawa renyah, sebuah suara tawa lepas yang sangat jarang terdengar di lantai 45 ini. Ia meraih kedua tangan Nayla yang mengepal di dada, menggenggamnya dengan lembut meski Nayla sempat mencoba memberontak. "Dia masuk tiba-tiba tanpa permisi, Nay. Gue baru mau dorong dia saat Gunawan ketuk pintu. Sumpah, demi apa pun, gue enggak ada rasa apa-apa lagi sama dia. Lagipula, lu tadi lihat sendiri kan? Kulkas ini cuma bisa dicairkan sama omongan pedas lu."

"Tau ah! Menyebalkan!" Nayla membuang muka, namun rona merah di pipinya kembali muncul, mengkhianati rasa kesalnya. "Itu makanan di meja dimakan. Buatan Mama Renata sama aku. Kalau tidak habis, jangan harap ada pelukan sepuluh detik untuk satu minggu ke depan!"

Gibran melirik kotak bekal di meja, lalu kembali menatap Nayla dengan binar jenaka yang tak tertahankan di matanya.

"Wah, ancamannya berat banget ya. Lebih seram daripada ancaman dicabut jabatan dari Direktur. Oke, nyonya Mahardika, mari kita habiskan bekalnya sekarang."

Nayla diam-diam mengembuskan napas lega di dalam hatinya. Kembalinya sang mantan mungkin adalah awal dari badai baru di dunia bisnis mereka, tetapi melihat bagaimana Gibran memilih untuk berdiri di sisinya tanpa ragu, Nayla tahu bahwa kontrak aneh seumur hidup yang mereka sepakati pagi tadi ... mungkin bukan lagi sekadar tulisan di atas kertas putih.

1
Shinta Apriyani
🥰
Shinta Apriyani
sehat² Bumil n calon Debay🥰
Shinta Apriyani: sama²🥰
total 2 replies
Rio Mario
cerita nya bagus banget.... semangat ka othor nulis nya
MayAyunda: siap kak terimkasih
total 1 replies
Shinta Apriyani
Alhamdulillah selamat Nay
Shinta Apriyani: sama²☺️..ttp semangat ya👍
total 2 replies
gibran salamun
makin seru aja jalan ceritanya Nayla gak bisa diremehkan biar dari keluarga sederhana
MayAyunda: terimkasih🙏
total 1 replies
Shinta Apriyani
bhsnya ganti Ghibran jgn gw lo lg ya
MayAyunda: siap kak
total 1 replies
Shinta Apriyani
Akhirnya...haaah ikut lega👍☺️
MayAyunda: he he 😄🙏
total 1 replies
M. T🌻
semngat Thor, jangan lupa mampir yar😊
MayAyunda: siap.terumkasih kak
total 1 replies
M. T🌻
semngat Thor💪
Rio Mario
kok cerita nya kaya ngulang ya ?? bknnya seharusnya momen bapaknya minta maaf Nayla dihadapan banyak orang,,🤔
MayAyunda: maaf ..uthornya lagi kurang AQua🙏😁😁
total 1 replies
Preic
kenapa bab ini kayak bab awal2 ya pembicaraan mereka, pleasw thor untuk kembangkan kembali ceritannya.. sudah mulai menarik padal
sory ya thor 🙏
MayAyunda: siap kak .terimakasih sarannya 🙏🙏
total 1 replies
Shinta Apriyani
🤭😄
Shinta Apriyani
Bagus ceritanya..Ringan..menghibur g bikin hari esmosi
Shinta Apriyani
lanjutttt👍
Shinta Apriyani
👍👍🙂
mbaa An
selamt pagi thor,mumpung ini hari minggu apa ga pengen thor kasih doubel up😄🤭😍 trimaksih kak,sehat slalu dan tetap semangat😍
MayAyunda: di usahakan kak ..tapi kadang otak nggk mampu kak soalnya nggak cuma satu buku disambi buruh kak 😀😀🙏🙏
total 1 replies
Shinta Apriyani
ehemmm
MayAyunda: hai kak terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Shinta Apriyani
Bagus ceritanya..sy suka..sy suka👍👍👍👍🙂
MayAyunda: terimakasih 🙏🙏
total 1 replies
Shinta Apriyani
👍👍
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!