NovelToon NovelToon
SENIOR,I LOVE YOU!

SENIOR,I LOVE YOU!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:292
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Di usianya yang menginjak 30 tahun, Arini hanya ingin fokus pada kariernya sebagai Manajer Pemasaran dan menghindari drama kehidupan. Namun, ketenangannya terusik sejak kedatangan Rian (24 tahun), staf baru dari generasi Gen Z di timnya.

Berbeda dengan anak muda lain, Rian adalah cowok yang efisien: kerjanya selalu satset, santai, hasilnya rapi, tapi sikapnya super dingin dan kaku kepada Arini. Rian bahkan secara terang-terangan menunjukkan prinsip hidupnya yang kaku: "Not love at work"—baginya, mencampuradukkan pekerjaan dan perasaan adalah hal konyol.

Sikap dingin dan misterius Rian justru membuat Arini penasaran setengah mati. Arini tidak tahu bahwa di balik wajah datarnya, Rian sengaja membangun benteng tinggi demi menutupi debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan sang manajer. Rian tahu risiko profesional di kantor mereka, namun pesona dewasa Arini perlahan meruntuhkan logikanya.

Akankah Rian melanggar prinsipnya demi Arini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nomor Baru dan Pesan yang Mengejutkan

Hari Minggu siang, matahari Garut menggantung tepat di atas kepala, memancarkan terik yang cukup menyengat namun diredam oleh embusan angin tebing yang tak pernah habis. Di area perkemahan Puncak Guha, suasana mulai lengang. Rian dan Bagas bergerak gesit melipat tenda dome mereka, memasukkan matras yang telah dikempeskan, serta menyusun kembali peralatan memasak portabel ke dalam tas carrier.

Mereka sengaja bersiap pulang sejak siang hari. Perjalanan dari Garut menuju Jakarta menggunakan sepeda motor bukanlah hal yang bisa disepelekan. Rian dan Bagas tahu betul, jika mereka menunda kepulangan hingga sore, mereka akan terjebak macet parah di jalur arteri atau kawasan puncak, dan baru akan tiba di ibu kota tengah malam. Sebagai budak korporat, Senin besok adalah hari yang sakral. Mereka tidak ingin performa kerja di kantor terhambat hanya karena tubuh kecapekan setelah agenda healing.

Setelah memastikan semua barang bawaan terikat kencang di jok belakang motor matic Bagas, Rian membenahi posisi jaket parkanya. Pandangannya beralih ke arah tenda sebelah. Rombongan Tiara sepertinya masih santai, beberapa temannya bahkan baru berniat memesan kelapa muda di warung dekat tebing.

Rian menarik napas panjang, mencoba memantapkan hatinya sebelum melangkah menghampiri tenda Tiara. Tujuannya satu: berpamitan, sekaligus mengeksekusi sebuah niat yang sejak semalam berkecamuk di dalam kepalanya.

"Ra," panggil Rian pelan saat mendapati Tiara sedang duduk di kursi lipatnya sambil memainkan ponsel.

Tiara mendongak, lalu tersenyum manis begitu melihat Rian sudah rapi dengan jaket dan helm yang dicantolkan di siku tangan. "Eh, Rian. Udah mau balik ya?"

"Iya, Ra. Biar gak kemalaman sampai Jakarta. Senin besok kan udah harus masuk kerja lagi," jawab Rian. Ia mendadak merasa gugup. Tangannya yang bebas bergerak gelisah, berseliweran sebelum akhirnya mendarat di belakang kepala, menggaruk rambutnya yang tidak gatal sama sekali.

"Euh, Tiara... boleh minta nomor kamu uang baru gak?" tanya Rian dengan suara yang agak ragu-ragu dan patah-patah. Ia berdehem kecil untuk mengusir rasa canggung yang tiba-tiba menyerang. "Euh... ini, barangkali aja kamu butuh bantuan aku atau... ya, butuh aku lain kali di Jakarta."

Tiara sempat tertegun sesaat mendengarnya. Sepasang matanya menatap Rian dengan binar yang sulit diartikan, namun sedetik kemudian senyuman hangat kembali merekah di wajah manisnya. Tiara bangkit berdiri dari kursi lipat.

"Oh, iya Yan. Sini hp kamu," ucap Tiara sambil menjulurkan telapak tangannya ke arah Rian, meminta ponsel cowok itu agar ia bisa mengetikkan nomornya sendiri.

Dengan cekatan, Rian merogoh saku celananya dan menyerahkan ponselnya yang layarnya sudah sedikit retak di bagian sudut. Tiara menerima ponsel itu, jemarinya bergerak lincah di atas layar selama beberapa detik, lalu menyerahkannya kembali kepada Rian.

"Udh ya, aku save namaku," kata Tiara lembut.

Rian menerima kembali ponselnya. Di layar, tertera nama 'Tiara' dengan sebuah emoji senyum kecil di belakangnya. Seketika itu juga, senyuman lebar yang tulus terbit di wajah Rian. Ada rasa lega yang luar biasa mengalir di dadanya. Rian berharap dalam hati, nomor telepon ini bukan sekadar deretan angka digital biasa, melainkan sebuah lembaran baru. Sebuah awal yang segar agar dirinya bisa benar-benar lepas dari bayang-bayang pesona Bu Arini yang selama ini membuatnya merasa kerdil dan tak sepadan.

Setelah berpamitan dengan teman-teman kantor Tiara yang lain, Rian kembali ke motor di mana Bagas sudah siap memanaskan mesin. Mereka pun melaju, meninggalkan keindahan Puncak Guha yang damai dengan tebing-tebing hijaunya yang megah, bergerak kembali menuju kota metropolitan yang bising, egois, dan penuh dengan tekanan pekerjaan.

Perjalanan pulang ternyata jauh lebih menguras tenaga daripada yang mereka perkirakan. Jalur berkelok-kelok khas Garut ditambah kemacetan yang mulai mengular di beberapa titik menjelang masuk daerah Bandung dan jalur komuter membuat waktu tempuh membengkak. Setelah hampir enam jam terombang-ambing di atas aspal dengan bokong yang terasa mati rasa, mereka akhirnya tiba di kostan mereka di daerah Jakarta Selatan.

Begitu pintu kamar kost terbuka, Rian bahkan tidak repot-repot melepas jaketnya secara utuh. Ia langsung melemparkan tas carrier-nya ke lantai dan merebahkan tubuhnya yang terasa rontok ke atas kasur busa tipis miliknya. Rian memejamkan mata, menghela napas panjang merasakan nikmatnya permukaan kasur setelah perjalanan panjang yang melelahkan itu.

Berbeda dengan Rian yang sudah seperti mayat hidup, Bagas justru masih terlihat memiliki sisa energi. Begitu melepas sepatu, Bagas langsung duduk bersila di lantai, menyandarkan punggungnya ke dinding, dan sibuk mengotak-atik ponselnya. Jemarinya dengan lincah memilah-milah foto estetik hasil jepretannya selama di Puncak Guha tadi untuk segera diunggah ke media sosial.

"Woy Yan, gila ini foto lu cakep bener!" seru Bagas tiba-tiba, memecah keheningan kamar kost yang pengap. Ia mengarahkan layar ponselnya ke wajah Rian yang masih merem. "Siluet lu pas di depan api unggun semalem dapet banget estetiknya. Mau gua editin kagak? Biar makin kelihatan kayak anak senja yang penuh misteri gitu."

Rian membuka satu matanya dengan malas, lalu mendengus kesal. "Besok-besok napa, Gas... gak capek lu ngesirkuit di tikungan-tikungan Garut tadi? Gue yang dibonceng lu aja, capek pake banget ini," keluh Rian dengan nada suara yang serak dan jengkel karena waktu istirahatnya diganggu.

Bagas terkekeh mengejek. "Lemah lu! Makanya fisik tuh dilatih, jangan cuma jempol doang yang dilatih buat nge-game."

Rian tidak membalas lagi. Ia membalikkan posisinya menjadi telentang, menatap langit-langit kamar kost yang mulai berjamur.

Pikirannya perlahan melayang kembali ke momen siang tadi saat Tiara memberikan nomor teleponnya. Rian tersenyum tipis. Setidaknya, rasa lelah fisiknya malam ini sedikit terobati dengan perasaan bahwa dia tidak lagi berjalan di tempat yang salah. Dia sudah kembali ke dunianya yang nyata.

Namun, ketenangan malam itu mendadak hancur berkeping-keping.

TING!

Sebuah bunyi notifikasi pesan masuk terdengar nyaring dari ponsel Rian yang tergeletak di samping bantalnya. Rian awalnya mengira itu mungkin pesan dari Tiara yang mengabarkan kalau rombongannya sudah sampai di Jakarta, atau mungkin hanya pesan dari grup WhatsApp kantor yang tidak penting.

Dengan gerakan malas, Rian meraih ponselnya dan menyalakan layar. Begitu matanya membaca nama sang pengirim pesan yang tertera di panel notifikasi, jantung Rian rasanya seperti berhenti berdetak seketika. Seluruh otot tubuhnya yang tadi lemas mendadak menegang kaku.

Pesan itu datang dari aplikasi WhatsApp. Dan nama pengirimnya adalah: Bu Arini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!