Sania adalah seorang gadis cantik yang kaya. karena kekayaan keluarganya Sania menjadi sombong, Ia suka menghina dan meremehkan orang lain. Orang yang paling sering ia hina adalah Arlan, supir pribadinya sendiri. Hampir setiap hari Sania mencaci maki Arlan, walaupun begitu Arlan tidak pernah berpikir untuk berhenti bekerja karena diam diam Arlan sudah jatuh cinta pada Sania. Duniapun berputar berkat kerja kerasnya Arlan berhasil menjadi seorang yang sukses dan kaya sedangkan keluarga Sania jatuh miskin karena mereka mengalami musibah. Akankah Sania jatuh cinta pada Arlan setelah Arlan berubah menjadi kaya dan apakah Arlan masih mencintai Sania mengingat perlakuan buruk Sania dimasa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nety purbasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit hati
Sania ingin sekali menangis dan berteriak hidup terasa begitu cepat berubah. rasanya baru kemarin ia merasa menjadi orang yang beruntung karena ia memiliki segalanya, tapi sejak ayahnya meninggal semuanya berubah dengan cepat.
Bagi Sania hidupnya bagai sebuah mimpi, tak pernah terpikir olehnya bahwa seorang Sania anggara akan mengemis ngemis minta dinikahi oleh Arlan, mantan supirnya sendiri.
Karena taman itu adalah tempat umum, Sania tidak bisa berteriak seperti yang ia inginkan, Sania hanya bisa menangis tanpa suara. sesekali ia menghapus air matanya.
Dengan batin yang lelah Sania lalu kembali kedalam rumah sakit. Sania sampai didepan pintu kamar, tempat dimana neneknya dirawat. Sania melihat neneknya sedang berbaring sambil bicara dengan ibu Sania.
"Dimana Sania? apa dia tidak mau melihat keadaanku? anakmu itu benar benar keras kepala." Gerutu nenek Sania, meskipun sedang sakit nenek Sania masih bisa marah marah.
"Sania ada dirumah sakit ini juga bu, sekarang dia sedang bicara dengan Arlan. ibu, aku ingin menanyakan sesuatu."
"Tanya apa?" Nenek Sania berusaha untuk duduk.
"Kenapa ibu setuju Arlan menikah dengan Sania?"
"Karena aku yakin, Arlan bisa membahagiakan Sania." Ucap nenek Sania penuh keyakinan.
Bahagia apanya? belum menikah saja Arlan sudah membuat aku menangis. Batin Sania ketika ia mendengar ucapan neneknya.
"Kenapa ibu bisa seyakin itu?" Ibu Ranti tidak mengerti kenapa Nenek Sania begitu percaya pada Arlan.
"Kamu masih ingat? beberapa tahun yang lalu saat Arlan berhenti menjadi supir Sania. Sania terlihat berubah, dia jadi pendiam. aku juga sering melihatnya melamun, tapi saat Arlan datang kerumah kita. aku merasa Sania sudah kembali seperti dulu. Sania yang cerewet dan suka melawan, tadi saja Sania membentakku sampai aku jantungan dan hampir mati. Sudah lama sekali aku tidak melihat Sania yang galak." Nenek Sania menceritakan apa yang ia pikirkan.
"Ibuu..Sania itu berubah bukan karena Arlan, tapi karena dia bukan gadis remaja lagi. Sania sudah mulai dewasa."
"Karena Sania sudah dewasa kita nikahkan saja dia." lagi lagi nenek Sania mengungkit ungkit masalah pernikahan.
"Nenek.. mama... " Tidak ingin neneknya membahas lagi tentang pernikahan Sania segera masuk kedalam kamar itu.
"Nenek, aku senang nenek sudah sadar." Sania duduk disamping neneknya lalu ia memeluk neneknya dari samping.
"Bukannya kamu lebih senang? Kalau nenekmu ini mati." Ucap nenek Sania mengejek.
"Nenek jangan berkata begitu. nek, aku punya berita bahagia buat nenek. aku akan menikah dengan Arlan."
"Benarkah? apa semua ini karena nenek? Sania maafkan nenek. neknek tidak beemaksud memaksamu untuk menikah dengan Arlan, nenek hanya tidak ingin kamu merasa kehilangan segalanya. kalau kamu menikah dengan Arlan, kamu tidak usah repot repot mencari rumah kontrakan lagi, Nenek tidak mau melihatmu dan ibumu tinggal dirumah yang sempit karena kalian sudah terbiasa tinggal dirumah itu." Nenek Sania mendadak menjadi sedih.
Suasana haru menyelimuti ruangan itu,Mereka tidak tahu kalau Arlan sudah berdiri didepan pintu dan mendengar pembicaraan Sania dan neneknya.
"Arlan, kenapa berdiri disitu? ayo masuk." ucap nenek Sania yang melihat Arlan berdiri didepan pintu.
Mau apa dia kesini? Sania memutar bola matanya malas, ia masih kesal pada Arlan
Arlanpun masuk keruangam itu yang disambut senyum oleh Nenek Sania dan ibu Sania.
"Sejak kapan kamu berdiri didepan pintu?" Tanya Sania dengan nada suara lembut, walau sebenarnya ia masih kesal dan ingin sekali memaki maki Arlan.
"Aku baru saja datang." Arlan bohong, ia tidak mau Sania dan keluarganya tahu kalau ia sudah mendengarkan pembicaraan Sania dan neneknya.
"Besok aku dan Sania akan menikah?" ucap Arlan membuat Sania dan keluarganya terkejut.
"Besok?" Nenek Sania mengulang ucapan Arlan.
"Iya nek, Besok." Arlan menegaskan.
"Apa ini tidak terlalu buru buru?" Tanya Ibu Sania seakan tak percaya.
"Lebih cepat, lebih baik. Aku ingin segera tinggal dirumah itu jadi aku harus cepat cepat menikahi Sania." Sebenarnya itu hanya alasan Arlan, Arlan mempercepat pernikahan karena ia takut kalau Sania berubah pikiran.
"Sania itu cucu nenek satu satunya, nenek ingin melihat pernikahan Sania. lagi pula,dokter bilang nenek harus istirahat dirumah sakit ini selama beberapa hari." Nenek Sania sepertinya tidak setuju dengan keputusan Arlan, itu membuat Sania tersenyum senang.
"Kita juga belum membuat undangan pernikahan, padahal mama ingin mengundang teman teman mama." Ibu Sania juga tidak setuju."
"Nenek sama mama jangan khawatir. aku akan menikah dirumah sakit ini supaya nenek bisa melihat pernikahanku, nanti setelah nenek benar benar sembuh kita baru mengadakan resepsi pernikahan." Penjelasan Arlan membuat nenek Sania senang.
"Kalau begitu nenek setuju." Ucap Nenek Sania membuat Sania menghela napasnya.
"Mama juga setuju." Karena nenek Sania setuju, ibu Ranti jadi ikut setuju.
"Tapi.. kita belum melakukan persiapan apa apa." Sania akhirnya menyatakan keberatannya, ia berusaha mencari alasan agar pernikahannya dengan Arlan ditunda.
"Kamu tenang saja semua sudah aku siapkan. Kamu dan mama cukup datang kerumah sakit ini, biar aku yang urus semuanya." Arlan terlihat bersungguh sungguh dengan ucapannya.
Ada apa dengan Arlan? tadi dia menolak menikah denganku sampai aku harus memohon mohon padanya, sekarang dia ingin buru buru menikah. apa dia sudah tidak sabar ingin membuatku menderita? Sania menatap Arlan dengan penuh rasa curiga.
"Gaun pengantinnya bagaimana?" Tanya Sania.
"Aku sudah siapkan."
"Penggulunya?"
"Aku juga sudah mengurusnya, besok dia akan datang."
Arlan tahu Sania akan bertanya lagi, karena itu Arlan buru buru bicara sebelum Sania bertanya lagi padanya.
"Aku kan sudah bilang, semuanya sudah aku urus."
Kalau sudah begitu Sania hanya bisa pasrah mungkin sudah menjadi nasibnya menikah dengan Arlan, laki laki yang tidak ia cintai.
Sania ingin menemani neneknya dirumah sakit, tapi neneknya melarang Sania. nenek Sania ingin Sania beristirahat dirumah karena besok Sania akan menikah dengan Arlan.
Dengan berat hati Sania akhirnya pergi meninggalkan rumah sakit itu, sementara ibu Ranti menemani nenek Sania dirumah sakit. Sania bertambah kesal karena neneknya meminta Arlan untuk mengantar Sania pulang.
Sania terpaksa menuruti keinginan neneknya, dulu Sania sudah terbiasa diantar Arlan, tapi saat itu Sania sedang tidak ingin berdekatan dengan Arlan
Didalam mobil Sania hanya diam, Arlan juga tidak tahu harus berkata apa. mereka berduapun diam membisu.
Ditengah perjalanan tiba tiba ada kucing yang lewat didepan mobil Arlan, karena tidak ingin menabrak kucing itu Arlan kemudian menghentikan mobilnya secara mendadak.
Sania tidak siap ketika Arlan mengerem mobilnya secara mendadak. karena itu tubuhnya terhuyung kesamping, tempat dimana Arlan.
Kepala Sania bersandar tepat didada Arlan membuat jantung Arlan dan Sania berdebar debar.
Kenapa jantungku berdebar debar. Sania mendongakan kepala keatas dilihatnya Arlan sedang menatapnya.
Ditatap seperti itu membuat Sania jadi salah tingkah, Sania ingin menjauhkan dirinya dari Arlan namun Arlan malah menarik pinggang Sania.
Wajah mereka begitu dekat hingga memudahkan Arlan untuk mencium Sania. mereka saling berpandangan, lalu tanpa berkata apa apa Arlan mencium bibir Sania.
Sania membulatkan matanya saat Arlan mencium bibirnya. Sania ingin sekali mendorong dada Arlan kemudian menampar pipinya, tapi tidak tahu kenapa Sania justru tidak melakukan apa apa. tangannya seakan kaku dan tubuhnya seakan sulit untuk digerakan.
Sania menbiarkan saja Arlan mencium bibirnya, Sania bahkan memenjamkan matanya dan membalas ciuman Arlan.
Arlan melepaskan ciumannya, sambil tersenyum ia mengucapkan sesuatu yang menyakiti hati Sania.
"Murahan." Arlan masih tersenyum sinis.
Dihadapan Sania Arlan terlihat seperti sedang merendahkannya, namun dalam hatinya Arlan sangat senang karena Sania tidak menolak saat ia menciumnya.
Sania sakit hati mendengar ucapan Arlan, baginya itu suatu penghinaan. Sania hanya diam, ia tidak membalas kata kata pedas Arlan, Sania memilih menyandarkan kepalanya dikursi mobil.
Sania memejamkan matanya. Sania ingin menangis, tapi ia mencoba untuk menahan air matanya. Sania tahu kalau ia membalas ucapan Arfi, mereka akan bertengkar dan Arfi bisa saja membatalkan pernikahan mereka karena itu Sania memilih untuk diam.
Arlan jadi merasa tidak enak karena Sania diam tidak membalas kata katanya karena Sania diam Arlanpun ikut diam.
Sesampainya dirumah Sania masih tetap
tetap diam, ia keluar dari mobil Arlan begitu saja.
Saat Sania masuk kedalam rumah arlan mengikutinya.
"Sania tunggu!" Panggil Arlan ketika Sania ingin berjalan kekamarnya.
"Siapkan kamar untukku, malam ini aku mau tidur disini." Perintah Arlan, ia duduk santai dibangku ruang tamu.
"Apa katamu?" Sania terlihat kesal.
"Kenapa? lupa kalau sekarang ini rumahku?"
Lagi lagi Arlan menunjukan kekuasaannya pada Sania.
Kalau bukan karena nenek aku pasti sudah pergi dari rumah ini, aku tidak sanggup dihina terus terusan.
Sania tidak menggubris ucapan Arfi, ia lebih memilih untuk berjalan kearah kamarnya karena berjalan terburu buru Sania terjatuh, kakinya tersandung vas bunga besar yang ada didepannya.
Pas itu jatuh berantakan dan Saniapun ikut terjatuh.
"Aduh.... " Sania sedikit berteriak.
Arlan berjalan mendekati Sania, bukannya menolong Sania, Arlan malah berdiri didepan Sania sambil melipat kedua tangannya.
"Makanya, kalau jalan liat liat." Ucap Arlan sambil tertawa.
Dengan susah payah Sania akhirnya bisa berdiri sendiri, ia baru ingin melangkah ketika Arlan kembali memberikan perintah untuknya.
"Cepat siapkan kamar untukku, kalau tidak.." Arlan berjalan mendekati Sania.
"Kalau tidak kenapa?"
"Kalau tidak, aku akan tidur dikamarmu." Goda Arlan sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Sania.
Wajah Sania memerah, Sania buru buru membalikan badannya agar Arlan tidak melihat wajahnya. Dengan cepat Sania berlari kedalam kamarnya, Sania segera mengunci pintu kamar itu.
Ciuman pertamaku, kenapa harus dengannya? Sania mengusap usap bibirnya.
Karena lelah Saniapun langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, Ia tidak memperdulikan Arlan yang masih berada dirumah itu.
Malam itu Sania tidak bisa tidur. Sania membayangkan saat tadi Arlan menciumnya,Sania juga teringat bagaimana Arlan menghinanya. Hati Sania sangat sakit dan tanpa terasa pipinya sudah basah oleh air mata.