DISARANKAN SUDAH CUKUP UMUR UNTUK MEMBACA CERITA INI. HARAP BIJAK MEMILIH BACAAN!!!
"Jangan terluka, karena aku bukan orang yang pantas untuk membuatmu terluka"
~ Shakti Ing Djagat
Shakti, dokter muda yang berniat menolong seorang gadis yang hendak dilecehkan oleh pacarnya, justru berakhir dengan menjadi tersangka pelecehan. Dan harus bertanggung jawab menikahi Zia, si gadis manja yang berstatus pelajar SMA.
Awalnya, Shakti menolak pernikahan itu. Karena merasa tidak bersalah. Dan yang lebih utama, karena dia memiliki janji terhadap kekasihnya. Namun, demi menyenangkan mamanya disetujuinya juga pernikahan tanpa cinta itu.
Apakah Zia mampu membantu Shakti untuk jatuh cinta padanya dalam ikatan pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps.8 Musuh Lama
Jam setengah empat tepat, Zia keluar dari gerbang sekolah. Dia mengedarkan pandangannya mencari sosok suaminya. Zia menemukan sosok yang dia cari sedang duduk diatas motor sportnya di bawah pohon beringin di depan sekolahnya.
"Gue duluan ya," pamit Zia pada Dara.
"Laki lo yang mana?" tanya Dara.
"Itu," tunjuk Zia ke arah cowok berhoodie yang duduk di atas motor sport.
"Gila ... ganteng banget laki lo. Nggak ada niat buat ngenalin ke gue?" goda Dara.
"Eng-gak!!!" jawab Zia menekan setiap suku kata.
"Kenapa? kan gue sohib lo." protes Dara.
"Gue takut!" balas Zia.
"Takut apa?" teriak Dara.
"Oh ... gue tau, lo takut laki lo kepincut sama gue," lanjut Dara seolah mengerti akan ketakutan yang di maksud Zia.
"Bukan Shakti yang gue takutin, tapi lo! kalau gue kenalin, entar lo naksir lagi sama laki gue," jawab Zia sambil tertawa.
"Sialan!!! gue tau diri kali. Mana yang boleh gue pancing, dan mana yang enggak. Dan satu hal yang perlu lo inget, gue nggak suka mancing ikan dalam ember, karena gue tahu, kalau ikan yang di ember udah punya orang. Gue lebih suka mancing ikan di lautan."
Zia tertawa saja menanggapi celotehan temannya itu. Dara ini orangnya memang cantik, tapi sedikit somplak gitu, kalo ngomong asal jeplak saja. Tapi dia bisa jadi bijak banget di saat-saat tertentu, seolah dia sudah berpengalaman. Seperti waktu Dara nyuruh Zia untuk mengambil inisiatif terlebih dahulu dalam hubungan pernikahannya. Dia bicara seolah pengalamannya sudah mumpuni, padahal dia sama saja seperti Zia. Zero pacaran. Dara juga kena imbas wejangan Papi Andra untuk tidak sembarangan berteman dengan cowok, apalagi dengan mudahnya menjalin hubungan percintaan.
Masih mending Zia kan, paling tidak pernah ngerasain yang namanya pacaran. Walaupun pacarannya tidak seperti remaja pada umumnya. Gaya pacaran Zia itu ya cuma pergi nonton atau sekedar jalan untuk makan, habis itu harus pulang tepat waktu sesuai jam malam yang ditetapkan Papi Andra.
Tidak boleh ada kontak fisik dengan pacar, karena pacar belum tentu menjadi suami. Jadi sebagai anak gadis harus pandai-pandai menjaga diri sendiri. Terutama kehormatan, itu adalah hal yang paling wajib untuk dilindungi. Dan mungkin gaya pacaran yang seperti itulah yang membuat Martin merasa bosan hingga ia menerima tawaran taruhan itu. Dan berbuat nekat dengan memasukkan obat perangsang ke minuman Zia demi memenangkan taruhan.
"Kapan-kapan aja deh gue kenalin, atau, nanti lo boleh main ke apartemen gue," kata Zia akhirnya.
"Ok ... gue pamit dulu ya," Zia melambaikan tangannya.
Zia menghampiri Shakti yang sudah menunggunya.
"Udah lama ya nunggunya," tanya Zia saat sampai di tempat Shakti menunggu.
"Enggak kok." Shakti langsung mengulurkan helm kepada Zia.
Zia yang menerimanya langsung memakainya.
"lo ada tujuan nggak setelah ini?" tanya sakti saat Zia sedang memakai helmnya.
"Enggak, memangnya kenapa?"
"Hari ini gue mau ke bengkel sebelum pulang, lo nggak keberatan, kan?" tanya Shakti lagi.
Zia menggeleng tanda tidak keberatan dengan ajakan Shakti.
¤¤¤¤
Disinilah mereka sekarang, di bengkel milik Shakti. Bengkel yang ia rintis sejak dia masih SMA. Shakti memang menyukai otomotif sejak dulu. Berawal dari seringnya ikut balap liar dan gabung sama geng motor. Shakti jadi menyukai dunia otomotif. Shakti memang bukan anak rumahan yang penurut dan sukses menjadi dokter di usia matangnya.
Semua itu terbukti dari banyak nya tato di tubuhnya, dia pernah menjalani masa remaja dengan bergaul di jalanan. Geng motor, tawuran, bahkan sampai narkoba pernah ia jajal. Dari mana dia mengenal semua itu, tentu saja dari kakaknya, Panca. Awalnya, waktu Shakti masih Sekolah Menengah Pertama, dia sering diajak kakaknya menonton balap liar. Sama seperti Shakti, Panca pun menyukai dunia balap.
Dari balap itu, Shakti memiliki banyak teman hingga membentuk geng motor. Tadinya untuk seru-seruan, tapi lama-kelamaan jadi seperti lingkaran setan. Tawuran bahkan menjadi seperti agenda harian, dan tidak bisa dihindari karena rasa setia kawan.
Tidak sampai di situ, Shakti juga menjajal yang namanya narkoba. Di saat itulah, Panca menyesal mengenalkan Shakti pada dunia jalanan. Adiknya keluar dari jangkauannya, tidak lagi seperti harapannya menyalurkan hoby. Mamanya bahkan sering menangisi kelakuan adiknya itu, dan itulah yang membuat Panca semakin merasa bersalah karena merasa telah merusak adiknya.
Sekarang, Shakti tak lagi sama seperti dulu. Dia benar-benar berubah. Menjadi manusia yang berbeda, yang bermanfaat untuk banyak orang. Tak lagi membuat luka, tapi menjadi penyembuh. Semua keburukannya ia tinggalkan, dari balap liar, dia pindah ke arena sirkuit balap yang legal. Dari tawuran, yang mana dulu sering melukai orang, dia memilih menjadi dokter. Dan, dari narkoba, dia sendiri yang meminta untuk di rehabilitasi agar sembuh dari ketergantungan obat terlarang itu.
Dari semua keburukan itu, hanya bengkel inilah yang menjadi bukti hal positif yang dia lakukan. Dia membangunnya dengan pinjaman modal dari papanya. Tentu saja, papanya mendukung waktu itu. Karena Shakti memang menampakkan minat di bidang otomotif. Dengan adanya bengkel itu Shakti belajar bertanggung jawab atas usahanya, karyawannya dan finansialnya.
Bukankah dengan begitu seperti melatih Shakti untuk berbisnis, dan memang papanya menginginkan Shakti kelak menjadi penerus bisnisnya selain Panca. Semua keburukan di masa lalu dia tinggalkan, dan bengkel serta tato di tubuhnya lah yang tersisa sekarang.
Shakti tidak mengelola bengkel ini sendiri. Sejak memutuskan untuk rehabilitasi, dan mengambil kuliah kedokteran, Shakti menyerahkan tanggung jawab bengkel ini kepada Adam. Dia adalah teman sejak Sekolah Menengah Pertama dulu, juga teman satu geng motor. Hanya sesekali dia mengunjungi bengkel untuk melihat perkembangan bengkel. Sedangkan soal laporan keuangan, biasanya Adam akan mengirimnya via surel.
Meskipun sekarang, Shakti tidak bisa mengelolanya, tapi dia tidak berniat menjualnya. Karena bengkel ini adalah usaha pertamanya dan hal yang membuat papanya bangga.
" Hai bos, tumben kesini," sapa Adam yang langsung menyambut Shakti dengan salam gentleman.
"Iya, gue lagi libur, makanya nyempetin kesini. Gimana rame nggak?" tanya Shakti.
"Ya, masih ok sih bos. Tapi ada berita baru bos."
Shakti menatap penuh tanya.
"Kita masuk yuk, masak ngobrol sambil berdiri gini," ajak Adam mempersilahkan sang empunya bengkel untuk masuk terlebih dahulu.
Shakti menoleh ke arah Zia dan mengajaknya masuk dengan menggandeng tangannya.
"Siapa bos, nggak pernah lihat?" tanya Adam yang melihat Shakti bersikap manis kepada Zia.
"Kenalin, ini istri gue," jawab Shakti datar dan melepas tangan Zia agar bisa bersalaman dengan Adam.
"zia."
"Adam."
Zia langsung mengikuti Shakti masuk ke dalam bengkel, di sana ada ruangan seperti kantor yang menurutnya itu adalah ruangan Shakti.
Sementara Adam masih terdiam di tempatnya, menimang-nimang perkataan bosnya. Apakah tadi dia salah dengar, tapi rasanya tidak? dia memang mendengar bosnya itu menyebut gadis berseragam SMA itu adalah istrinya.
"Woy!!! ditungguin malah bengong di sini." Shakti menepuk pundak Adam untuk menyadarkannya.
Sebelumnya Shakti menyuruh Zia beristirahat di ruangannya dan baru menghampiri Adam kembali karena dia tidak mengikutinya masuk ke dalam.
" Bos, lo nggak salah ucapkan, dan gue nggak salah denger kan?" kata Adam meminta penjelasan. "Tadi lo bilang cewek itu istri lo," lanjut Adam tidak percaya.
"Pendengaran lo masih bagus kok, gue memang bilang kalau dia istri gue." jawab Shakti.
"Kok bisa?" tanya Adam lagi masih dengan raut tidak percaya.
"Ya bisa lah, gue nikahin dia, terus sekarang dia jadi istri gue." jawab Shakti santai.
"Ya nggak gitu juga kali bos jawabnya, maksud gue itu kok bisa lo nikah tapi nggak kasih tahu gue dan nggak ngundang gue gitu,"
"Lo nggak hamilin dia, terus disuruh tanggung jawab kan, bos?" tebaknya asal.
"Ya enggak lah! gue nikahin dia karena gue emang pengen nikahin dia. Gue nikah dua hari yang lalu. Kenapa gue nggak ngundang lo, karena lo bukan orang penting dalam hidup gue," jawab Shakti tak kalah ngasal.
"A*jir ... sadis amat jawaban lo."
"Udah nggak usah bahas soal pernikahan gue, katanya tadi ada berita baru. Ada berita apa memangnya?" tanya Shakti.
"Jadi kemarin, Raja kesini nyariin lo bos, dia udah bebas," jelas Adam tak santai.
Shakti terdiam mendengar nama Raja disebut, pasalnya Raja adalah orang yang menganggap Shakti sebagai musuh.
"Tapi lo tenang aja bos, gue nggak ngasih tahu kok tentang lo. Kayaknya dia juga nggak tahu kalau sekarang lo itu seorang dokter."
"Ok ... bantu gue selidiki untuk apa Raja masih nyari gue, dan kenapa dia bisa bebas secepat ini bukannya vonisnya 15 tahun?"
"Kalau udah ada info, lo langsung kasih tahu gue,"
"Ok."
Shakti kembali ke ruangannya, tadinya dia ingin mengajak Zia pulang.Tapi istrinya itu malahan tertidur di sofa.Karena tak tega membangunkannya Shakti mendudukkan dirinya di sofa yang lainnya berniat menunggu Zia sampai bangun.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya like...komen...favorite...dan vote juga ya...bintang lima nya boleh jug
tengkyu❤❤❤sayang hee
pasti ad sesuatunya tuh di susunya🙈
apalagi Zia
pass banget
keren Thor 👍👍
jadi mau ngakak....boleh doong Thor...?